Hati yang Bimbang *

Oleh : Andika Budiman

30 Oktober 2011, agenda Komunitas Aleut! adalah makan-makan, mendoakan Indra, mendoakan Indra dan Icha, serta sedikit bercerita tentang film dan buku kesukaan masing-masing.  Kebetulan beberapa minggu lalu saya menamatkan Salah Asuhan (1928). Tokoh favorit saya bernama Corrie, gadis keturunan Eropa centil, periang, dan berlebihan yang digambarkan Abdul Moeis dengan piawainya. Berikut salah satu bagian kesukaan saya:

Semalam-malaman itu Corrie tidak merasai tidur nyenyak. Setiap saat ia bertanya dalam hatinya, cintakah ia kepada Hanafi, tapi senantiasa didengarnya pula sahutan, “Oh! Anak Belanda dengan orang Melayu, bagaimana boleh jadi!” Tapi seketika itu juga berbunyi pula suara: “Orang Melayu boleh disamakan haknya dengan orang Eropa!”

Lalu dihadapkannya ke muka angan-angannya akan diri Hanafi, lahir dan batin. Rupanya, molek, kulitnya tidaklah hitam bagai Bumiputera kebanyakan. Hanafi sendiri ada benci pada bangsanya, Bumiputera. Pelajarannya, tingkah lakunya, perasaannya, semua sudah menurut cara Barat. Kalau ia tidak tinggal bersama ibunya yang sangat kampung, tentang tabiat dan perasaannya tak akan adalah yang menyangka Hanafi orang Melayu. Sebab bencinya pada bangsanya sendiri, sudah tentu ia suka minta disamakan dengan bangsa Eropa, tentu tak ada lagi batasnya pangkat yang boleh dijabatnya.

Tapi—tapi, meskipun demikian, Corrie boleh memastikan, bahwa ia tidak dapat membalas percintaan Hanafi, sebab … ya, sebab … ? Sebab ia tidak cinta!

Hanafi dipandang sebagai seorang sahabat saja yang dibawa bergaul di waktu bertemu saja. Dari kecil ia sudah berkenalan, sudah sama-sama bermain-main, meskipun Hanafi ada tiga tahun lebih tua dari dia. Dahulu, semasa di sekolah rendah di Solok, ia memandang Hanafi seolah-olah saudara tuanya; dan acap kali Hanafi melindungi jika ada seseorang anak laki-laki yang hendak menganiayanya. Waktu datang ke Betawi, ia masih mendapati Hanafi di kota itu, enam bulan sesudah itu baharulah Hanafi pulang ke Sumatera Barat. Tapi dalam enam bulan itu, hanya dua-tiga kali ia berjumpa dengan kawan itu, sedang selama ia di asrama Salemba, tidak pula berkirim-kiriman surat dengan dia. Hanya tiap-tiap vakansi mereka bertemu di Solok, sedangkan pergaulan tetap cara biasa: sebagai kakak dan adik. Secara orang bersaudara, banyak benar timbul pertikaian pikiran antara keduanya, dan tiap-tiap bersahut-sahutan itu, ada jualah salah seorang yang marah. Jika yang seorang sudah bermuka merah, yang lain lalu mengalah. Demikian saja dilakukan oleh mereka berganti-ganti, hingga persahabatan antara keduanya bisa kekal.

Hanya Corrie sudah merasai menjadi gadis, setelah ia masuk sekolah H.B.S.; terutama di negeri kecil dijaganyalah benar namanya, supaya jangan menjadi sebutan.

Oleh karena itu hanya sekali-sekali ia datang ke rumah Hanafi, begitu juga tidak pernah seorang diri, melainkan membawa kawan juga. Dan jika ia berjalan-jalan dengan Hanafipun ia membawa salah seorang kawan. Buat dirinya sendiri ia tidak terlalu peduli, tapi yang dijaganya hanyalah perasaan orang. Hanafi dipandangnya seolah-olah saudaranya: jadi seharusnya ia tidak perlu berhati-hati benar, hanya Hanafi itu memang orang Melayu; dan di dalam adat orang Melayu memang banyak benar pantangan bagi anak gadis. Jika sekiranya di Betawi Hanafi membawanya ke tempat permandian di pinggir laut dengan tidak membawa seorang kawan, akan tidaklah ia berkeberatan, karena—Hanafi dipandangnya sebagai saudaranya benar.

Yang sudah-sudah, Hanafipun berlaku sebagai seorang saudara pula kepadanya, hanya di dalam vakansi sekali ini, dan terlebih pula sehari tadi, perangainya sudah lain. Sudah menjadi kebiasaan bagi keduanya berpegang-pegangan tangan, dengan tidak ada gelinya, tapi waktu tadi siang Hanafi meraba lalu mencium tangan Corrie, bukan saja Corrie terkejut karena kedatangan tuan dan nyonya Brom, melainkan sebenar-benarnya ia terkejut sebab dicium tangannya itu. Dan itupun sudah luar biasa, karena antara kakak dengan adik tak usahlah terkejut pasal bercium-ciuman tangan itu. Tapi Corrie sudah terperanjat, segala darah sudah naik ke kepalanya, dan jantungnya pun berdebar-debar.

Itulah suatu tanda baginya, bahwa dari pihaknya sifat-sifat ‘bersaudara’ itu sudah berubah. Hati berahinya sebagai gadis sudah timbul pada saat itu. Dan mulai dari itu yakinlah ia akan bahaya percampuran laki-laki dengan perempuan. Dahulu disangkanya bahwa seseorang gadis akan bisa bercampur gaul dengan bujang sebagai saudara sejati; bebas dari perasaan lain yang tidak layak bagi orang bersaudara. Persahabatan yang suci antara gadis dengan bujang disangkanya boleh berlaku dengan sesuci-sucinya. Jika ia bergaul dengan bujang-bujang, maka disangkanya adalah ia bergaul dengan sahabat, yang tidak memandang ia sebagai perempuannya, melainkan sebagai sahabat saja, serupa dengan kepada sahabat laki-laki.  Itulah sebabnya Corrie sudah menertawakan sekalian bujang, yang segera saja menulis surat ‘lamaran’ menyatakan cinta yang tidak berhingga kepadanya, setelah bertemu dua-tiga kali di tempat bermain tenis atau di tempat keramaian. Laku serupa itu jauh dari menimbulkan berahi si gadis itu, melainkan menimbulkan bencinya, hingga inginlah ia hendak mempermain-mainkan orang yang serupa itu.

Dalam persangkaan Corrie, pergaulannya dengan Hanafi selama ini hanya dibangunkan di atas rasa persahabatan dan persaudaraan saja. Memang sayanglah ia pada Hanafi, tetapi sebagai sayang kepada saudara.

Tapi nyatalah bahwa perasaan dari kedua belah pihak sudah berubah. Hanafi sudah cinta padanya, bukan lagi kepada adiknya, melainkan kepada seorang perempuan yang dikehendakinya buat menjadi istrinya. Perasaan Corrie terhadapnya sudah berubah pula, tapi cintakah ia pada Hanafi? Itulah suatu pertanyaan besar, yang sedang membimbangkan hatinya, yang mengganggu kesenangannya sampai ke tempat tidurnya. Senantiasa wajah Hanafi sudah terbayang-bayang dalam pandangannya, meskipun ia memicingkan mata. Meskipun perangai Hanafi sudah kebelanda-belandaan, tapi adalah juga sifat ketimuran yang belum hilang sama sekali padanya, yaitu malu-malu sopan orang Timur masih ada dikandungnya; dan sifat yang sebuah inilah yang menarik hati si gadis itu.

Sejurus lamanya termenunglah Corrie. Maka dihitungnya pada buah baju kimononya, seolah-olah meramal-ramali, “Cinta—tidak—cinta—tidak—cinta!” Stop, lima bilangan buah kimono, kesudahannya jatuh pada ‘cinta’.

“Oh,” kata Corrie, “tentu saja disudahi dengan ‘cinta’, karena buah kimono itu memang lima. Sekiranya kumulai menghitung dengan ‘tidak’, tentu ‘tidak’ pula kesudahannya.”

“Tokek!”

“Ha!” kata Corrie pula dalam hatinnya. “Tokek itu jarang bohongnya. Mari kita lihat … tidak–“Tokek!” cinta–”Tokek!” tidak–”Tokek!” cinta–”Tokek!” tidak–”Tokek!” cinta.

“Oh, tokek celaka, biasanya ia berbunyi lima kali, sekarang enam! Pendeknya aku tak cinta pada si Hanafi si gila – bah! Orang Melayu!”

Corrie mencoba menghilangkan segala kenang-kenangan yang berhubungan dengan Hanafi. Kepalanya sudah berasa berat, telinga mendesing-desing.

Sejurus lamanya terlayanglah ia, lalu tertidur. Seketika juga wajah Hanafi sudah nampak pula dimukanya, sambil senyum simpul dengan sapanya. Corrie sudah diganggu oleh mimpi yang bukan-bukan. Rasanya Hanafi meninggalkan dia, pergi mengembara ke negeri jauh, Maka pada saat perceraian, menjeritlah Corrie sekuat-kuatnya, menyeru nama Hanafi, kekasihnya …

“Corrie! Corrie!” kata suara ayahnya di muka pintu kamarnya, “Engkau bermimpi Sadarlah!”

Bukan buatan sungut Corrie, demi ia sadar dan mengingat akan mimpinya. Oh, ia, Corrie du Busée, akan menjerit bila bercerai dengan Hanafi? Orang Melayu! Oh, oh, apakah sangka ayahnya, kalau mendengar seruan Hanafi itu?

Seketika itu timbullah gundah-gulananya yang tidak terkira-kira, mengingatkan keadaan Hanafi. Ia menyalahkan orang itu, karena sudah membimbangkan pikirannya. Dipandangnya sebagai saudara benar dari kecilnya. Dipercayakannya dirinya kepada ‘saudara’ itu. Sekarang inilah jadinya. Tidak patut Hanafi menggoyangkan hatinya sampai serupa itu, merusakkan kesenangannya sama sekali!

Jika ia esok datang ke rumah Hanafi, antara seorang dengan seorang, hendak dinyatakannya kemasygulan hatinya tentang itu. Ia hendak berkata kepada Hanafi, tidak patutlah Hanafi merusakkan kepercayaan Corrie yang diberi selama ini kepadanya, tidak layak mempergunakan kelemahan anak gadis buat mencapai maksudnya.

Tapi—dibalik-balik pula dipikirkan—kalau Corrie sendiri tidak cinta kepadanya, apakah yang buat disusahkan? Kalau ia memang tidak cinta, dengan sepatah kata ia dapat mencegah segala gangguan itu; dan amanlah pula dalam hatinya. Ya – memang sesungguhnya ia tidak cinta kepada Hanafi; dan hal itu hendak diceritakannya esok petang dengan selesai, dengan pendek. Supaya Hanafi mengetahui benar-benar, bahwa ia tidak usah mengharap-harap lagi. Tapi—kasihan, kalau diceritakan pula sekalian itu; alangkah sedih hati Hanafi! Tali persaudaraan yang sekian teguhnya, ditimbulkan dari zaman masih kanak-kanak, tentu akan putus.

Dalam memikirkan yang serupa itu, ia sudah bangkit dari berbaring, lalu membukakan pintu kamarnya.

“Oh, Pa,” demikian ia berkata kepada ayahnya, yang masuk ke dalam kamarnya. “Tadi Corrie sangat riang di tempat bermain tenis. Hanafi sudah mempertakut-takuti dengan keluang, yang banyak bergantungan di pohon ketapang di tempat itu; dan jatuh seekor karena ditembak oleh seorang anak dengan senapan angin. Keriuhan yang tadi siang, sampai terbawa ke dalam mimpi!”

Tuan du Busée melihat dengan bimbang pada air muka anaknya yang merah-merah padam itu.

“Engkau sangat gembira, Corrie! Rupanya seluruh urat sarafmu sedang tergoyang. Minumlah satu tablet bromural. Marilah ayah ambilkan.”

Sejurus lamanya tuan  du Busée meninggalkan anaknya, lalu datang kembali membawa sebuah botol kecil di tangannya.

Setelah dikeluarkannya sebuah tablet, maka dituangkannya air dingin dari karaf ke dalam gelas yang ada di meja toilet, lalu diberikannya air dan tablet itu kepada anaknya.

“Telanlah ini, anakku! Segera juga darahmu akan surut, tidurmu akan nyenyak. Selamat malam!”

Dengan cepat Corrie menurut perintah ayahnya, lalu berbaring pula tidur kembali. Pukul empat sudah berbunyi. Tidak lama setelahnya, tidur nyenyaklah ia.

Hanafipun tak hilang-hilang juga dari kenang-kenangannya. Di dalam tidur nyenyak itu, bermimpilah ia, bahwa ia sudah meramal-ramal pula dari strip kelambu, yang ada pada tumpuan kakinya. Strip itu antara dua puluh sentimeter renggangnya, jadi banyak sekali bilangannya. Rasanya ia sudah mulai menghitung dari ‘tidak’, karena sesungguhnya ia tidak cinta. Tidak – cinta – tidak – cinta – tidak … akhirnya jatuh kepada ‘cinta’ juga!

Sangat masygul hatinya, setelah ia sadar dari tidurnya, melihat matahari sudah tinggi dan teringatlah ia akan mimpinya itu.

“Oh, mimpi itu bohong!” katanya, sambil memperbaiki kain selimutnya, seolah-olah hendak menyambung tidur, meskipun pukul tujuh sudah lama terdengar berbunyi.

Maka memandanglah ia ke kelambu yang ada pada tumpuan kakinya. Banyak benar strip-strip itu, lebih dari tiga puluh. Mari dicoba-coba buat penghabisan. Haruslah dimulai dengan ‘tidak’, sesuai dengan keadaan yang sebenarnya.

“Tidak – cinta – tidak – cinta – …”

Tiga puluh kali berganti-ganti antara ‘tidak’ dengan ‘cinta’ kebetulan pada strip yang merapat benar pada tiang tempat tidur, berhenti pulalah bilangan itu dengan ‘cinta’.

“Barangkali aku kena guna-guna!” kata Corrie, sambil merentak bangkit dari tidurnya. “Aku sesungguhnya tidak cinta pada orang itu! Tidak, tidak, tidak! Meramal-ramal itu permainan kanak-kanak, tahayul orang Melayu, sepuluh kali hendak dikatakan cinta, sore hendak kuperlihatkan benar-benar, apa yang kukandung dalam hatiku kepada orang itu. Memang sayang sekali, bila perbuatanku akan memutuskan tali persahabatan dan persaudaraan yang sekukuh itu, tapi apa boleh buat. Oh, oh, sungguhkan tak boleh jadi, pergaulan laki-laki dengan perempuan suci dari perasaan yang bukan-bukan itu?”

Yang sangat dimasygulkan pada Hanafi ialah, karena ialah laki-laki yang pertama kali dapat menimbulkan gelombang yang sehebat itu dalam kalbunya, sehingga urat-urat sarafnya sudah tergoyang, tidur tak lelap, sedang makannyapun sudah tak enak.

Tapi sementara itu gusar pulalah ia pada dirinya sendiri, karena waktu menjelang pukul lima itu berasa amat panjang olehnya, hingga ia hampir-hampir tak sabar menantikan hari petang.

“Tentulah aku ingin buru-buru hendak menyatakan perasaanku kepadanya, buat menyurutkan hatinya jangan sampai berharap-harap,” demikian Corrie sudah memberi keterangan atas halnya tidak sabar menanti hari petang itu. “Lebih dari itu tidak. Mustahil aku resah menentikan waktu, sekadar buat berpandangan dengan dia saja! Mustahil!”

Dan sehari-harian itu sudah pula ia melakukan suatu perbuatan, yang tidak pula dapat diterangkannya apa sebabnya ia berbuat demikian. Peti tempat menaruh ‘surat-surat lamaran dari yang gila-gila di Betawi’ sudah dikeluarkannya dari taruhan, lalu dibawanya sekalian surat-surat itu ke dapur dan dibakarnya. Sambil tersenyum, berkatalah ia dalam hatinya:

“Nah! Mudah-mudahan malam ini mereka akan mendapat wahyu, kemana jalannya surat-surat mereka itu. Supaya jangan membuang-buang perangko juga!”

*) Kalau tidak salah, itulah judul bab ini.

Iklan

Satu pemikiran pada “Hati yang Bimbang *

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s