Metamorfosis si Bale Nyungcung

Mesjid Agung Bandung merupakan salah satu bangunan tertua di Bandung, dibangun tahun 1811/1812 seiring dengan pembangunan Negorij Bandong yang dipindahkan dari Krapyak. Bangunan asli sudah tidak ada karena renovasi sering dilakukan terhadapnya. Sejak bangunan awal yang hanya terbuat dari kayu dan bambu saja, kemudian tahun 1825 sempat diperkokoh dengan kayu, Perubahan besar dilakukan ketika bangunan ini direnovasi pada tahun 1850 oleh Bupati Wiranatakusumah IV (1846-1874). Ketika itu bangunan ini sudah mulai menggunakan tembok sebagaimana diiliustrasikan dalam buku Rambles of Java karya Charles Walter Kinloch.

Masjid Agung sempat mengalami berbagai renovasi lagi di abad 20, dan istilah Bale Nyuncung mungkin baru dipakai tahun 1905 ketika sang Masjid menggunakan atap bertumpang tiga dan berujung lancip khas masjid Nusantara.

Sejak tahun 1955, Masjid ini mulai meninggalkan arsitektur khasnya, yaitu ketika Soekarno memasang kubah bawang di atasnya menggantikan atap “nyungcung”. Sejak saat itu pesona masjid agung mulai memudar, hingga bentuk sekarang yang terhalang oleh keramaian alun-alun Bandung….

Oleh : M.Ryzki Wiryawan
Iklan

Satu pemikiran pada “Metamorfosis si Bale Nyungcung

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s