Kaulinan Urang

Oleh: Ihsan Nurul Fauzi (Bedu)

Setelah absen beberapa kali buat main bareng Komunitas Aleut  karena kesibukan di kampus (ngerjakeun Tugass Akhir). Akhirnya tanggal 6 februari kemaren bisa ngAleut! lagi.. #hore. NgAleut! kali ini berbeda dari yang pernah urang ikuti sebelum-sebelumnya, kali ini lebih ke sharing-sharing. Acara ini bertempat di Saung Icha  di kampung Derwati.

Waktu kecil dulu, banyak banget permainan yang dimainin bareng temen-temen sekomplek, dari main kartu gambar sampai maen bola. Tapi yang paling seru, ada permainan namanya Jibeh (beunang hiJI beunang kaBEH, kena satu kena semuanya -b.sunda,red-) dan Bancakan.

JIBEH

Jibeh adalah sejenis permainan seperti petak umpet yang dimainkan oleh 2 kelompok yang terdari dari 5-10 orang, namun jika semakin banyak akan semakin seru!.

Dimulai dengan Hompimpa untuk menentukan siapa yang menjadi “ucing” (berperan sebagai pencari teman-temannya yang bersembunyi). Si “ucing” ini nantinya akan  berbalik sambil berhitung, biasanya dia menghadap tembok, pohon atau apa saja supaya dia tidak melihat teman-temannya bergerak untuk bersembunyi. Setelah hitungan selesai (hitungan yang telah disepakati bersama) dan setelah teman-temannya berlari dan bersembunyi, mulailah si “ucing” beraksi untuk mencari teman-temannya tersebut.

Berbeda dengan petak umpet, jibeh tidak memerlukan tempat jaga seperti yang terdapat pada petak umpet (tempat jaga pada petak umpet ini memiliki sebutan yang berbeda di setiap daerah, contohnya di beberapa daerah di Jakarta ada yang menyebutnya INGLO, di Riau dengan sebutan Tonggak dingin, di daerah lain menyebutnya BON dan ada juga yang menamai tempat itu HONG).

Kelompok yang dicari bisa saja bersembunyi di suatu tempat atau bergerak agar tidak ketahuan oleh si “ucing”. Jika si “ucing” menemukan temannya, ia akan berteriak JIBEH! sebagai tanda sudah ketahuan. Dan si “ucing”pun mendapatkan giliran untuk bersembunyi.

Permainan ini biasanya dilakukan pada malam hari pada bulan puasa (kanyahoan teu taraweh).

BANCAKAN

Bancakan adalah salah satu permainan anak tradisional Jawa Barat sejenis petak umpet dengan memakai sebuah batu sebagai tempat jaga dan genteng sebanyak jumlah pemain yang disusun bertumpuk, dan keduanya ditempatkan dalam dua buah lingkaran berdampingan.

Sebelum permainan dimulai, peserta melakukan pengundian dengan cara hompimpa atau suit. Yang kalah harus menjadi petugas penjaga atau kucing (ucing).

Ucing bertugas menyusun genteng secara bertumpuk sebagai benteng selagi para pemain bersembunyi, kemudian setelah susunan genteng telah berdiri secara sempurna, Ucing mulai menjaga susunan genteng agar tidak dirobohkan sembari mencari para pemain.

Apabila pemain terlihat atau ditemukan, Ucing harus menyebutkan nama pemain kemudian menginjak batu sembari berteriak BANCAKAN! sebagai tanda bahwa persembunyian pemain telah terbongkar dan pemain diharuskan keluar dari tempat persembunyiannya, sampai semua pemain ditemukan.

Pemain selain harus bersembunyi dari si “Ucing”, pemain juga diharuskan menyerang tumpukan genteng untuk ditoker sampai ngalayah sebagai tanda bahwa benteng telah dirobohkan dan Ucing wajib mempertanggungjawabkan kekalahannya dengan menjadi ucing lagi dalam ronde berikutnya sampai Nu Jadi Ucing sukses dalam menjalankan tugasnya sebagai penjaga.

sumber:

http://id.wikipedia.org/wiki/Petak_umpet

http://id.wikipedia.org/wiki/Bancakan

Iklan

2 pemikiran pada “Kaulinan Urang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s