Cinta dan Inggit

Oleh : Nita Apryanti

Ngaleut hari ini tgl 30 januari, ceritanya mah menelusuri jejak2 percintaan antara Soekarno n Inggit Garnasih…

Seperti biasa, ngaleut penuh dengan teman baru, cerita baru, seu2rian, papanasan, moyokan batur, hehehehe resep tapi… o iya, yg paling lucu itu adalah julukan mbok Bariah dari Pa Tito… Siapa itu mbok Bariah, hanya Komunitas Aleut yg tau… wkwkwkwkwk…

Ngumpul di gedung merdeka, lanjut jalan ke dalem kaum. Sebenernya dalem kaum itu adalah nama julukan buat Raden Adipati Wiranatakusumah II setelah dia meninggal, dalem biasanya dikasih buat menak priangan setelah meninggal, trs karena makamnya terletak di daerah kauman, jadi aja disebut dalem kaum.

Lanjut lagi ke jalan Balong Gede, yg ada di belakang pendopo. Konon, di sebelah pendopo itu ada kolam besar yg banyak berisikan ikan ( jigana Wiranatakusumah nguseup wae….). Lanjut lagi ke jalan Sasak Gantung, dan berakhir di jalan inggit garnasih yg dulu disebut Ciateul…. Disinilah banyak cerita sejarah tentang ibu Inggit Garnasih.

 

Banyak orang yang tidak begitu kenal dengan Inggit Garnasih, termasuk saya yg hanya mengenal beliau sebatas istri kedua dari Soekarno. Ternyata, peran beliau begitu besar buat Soekarno. Awalnya Inggit Garnasih adalah istri dari H. Sanusi (dia adalah seorang politisi). H. Sanusi melihat bahwa sosok Soekarno itu sangat membutuhkan figur seorang wanita, dan beliau meminta Soekarno untuk menikahi Inggit Garnasih yg saat itu masih istrinya sendiri ( saya mah ga habis pikir, ko ada ya suami yg merelakan istrinya buat orang lain, fiuh….). Lalu diceraikanlah Inggit, dan Soekarno pun menikahinya. Disaat Inggit menjadi istri Soekarno, beliau begitu setia mendampingi suaminya. Dari pernikahannya itu, mereka tidak dikaruniai anak dan akhirnya mengangkat anak. Singkat cerita, Soekarno bertemu dengan Fatmawati, dan meminta izin kepada Inggit agar Soekarno bisa menikah dengan Fatmawati dengan alasan ingin memiliki keturunan. Karena Inggit tidak mau dimadu, akhirnya diceraikanlah Inggit. Lalu Inggit kembali kepada H. Sanusi, dan diterima dengan baik, tapi hanya sebatas hubungan persaudaraan saja.

 

Mungkin saya cuma bisa bilang SUBHANALLAH…. Betapa besar pengorbanan Inggit…. Dia rela mengorbankan hatinya sendiri untuk orang lain. Padahal mungkin di hati yg paling dalam, dia sangat sakit. Tapi hanya Inggit yang tau bagaimana hatinya saat itu.

 

Adakah wanita2 saat ini yang bisa seperti Inggit, mungkin saya hanya bisa meniru kesetiaan beliau, selebihnya?

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s