Perjalanan Sang Walikota

Oleh : M.Ryzki Wiryawan

Di Suatu sore yang cerah, sang Walikota Bandung tengah dihadapkan pada draft rancangan Perda kawasan Cagar. Sambil nyuruput kopi item manis, Pak Walikota lalu ngomen dalam hati,”Wah banyak banget  ini daftar cagar budayanya, bener gak nih ?!”

“Kalo gini keadaanya saya kudu terjun langsung ke lapangan nih, liat langsung kondisi Bandung tempo dulu, biar nanti bikin Perdanya gak salah…”

Setelah beberapa menit termenung, sang walikota langsung manggil ajudannya. “Ajudaaaann.. tolong pesen tiket Garuda ke Amerika secepatnya, atur kunjungan ke Houston USA, saya mau studi banding tentang kawasan tua kota Bandung !”

“Lha, emangnya Bandung dulunya di Houston ya Pak ?” Tanya ajudan

“ Nah ini dia ajudan katrok, makanya kalo maen internet jangan buka twitter atau fb-an doang, tau gak kalo ilmuwan AS sono udah nemuin terowongan waktu, saya mau ke sana!”

Nah, singkat kata, Pak Walikota udah nyampe di Houston.  Di sana sang walikota tidak sulit mendapatkan Lokasi Proyek Terowongan Waktu berkat bantuan pejabat setempat. Semuanya bisa lancar karena sang walikota tidak lupa mengirim sajen kepada pejabat setempat, berupa  rokok mahal di Amerika, yaitu 1 slof Rokok Dji Sam Soe !

Di sana Sang Walkot menghadap sang operator mesin. Setelah liatin surat sakti, sang walikota langsung ditanya tujuan masa waktu mana yang mau dikunjungi. Langsung dijawab oleh Pak Walkot “Bandung tahun 1929  !”

“Oh kalo itu tidak perlu terowongan waktu pak, cukup ke Bandung Heritage atau Komunitas Aleut aja. Masa waktu terlalu deket. Saya kira mau ke masa waktu manusia Pawon !”

“Gua udah jauh2 gini masa mau balik lagi. Tar aja pulang dari sini saya maen dulu ke sekre Aleut deh buat ngobrol2, sekarang jalanin aja mesinnya !”

Daripada dengerin pak Walkot mencak-mencak, sang operator langsung nyalain itu mesin terowongan waktu. Whussss… Tiba-tiba sang Walikota sudah berada di depan Bale Nyungcung yang sekarang mesjid agung Bandung. Di tengah alun-alun  itu masih ada dua pohon beringin “Juliana” dan “Wilhelmina” Boom. Para pejalan kaki laki-laki dan perempuan dengan pakaian putih-putih bersliweran di jalanan. Mojang-mojang dengan gaya rambut Gelung Chiyoda tampak sangat menawan. Tambah sexy dengan bawahan sarong yang ketat dan kolom geulis sehingga menghasilkan Lenggang Bandung yang khas. Mata sang Walikota sudah mulai jelalatan. Tapi orang2 malah balik merhatiin setelan sang Walikota. Beliau memakai kaos Polo, celana  Jeans, dan sepatu Adidas.

“Ini orang jatohan mana? Jahitan celana keliatan dari luar, bajunya kasar gitu? Komedi jalanan ya? Perasaan perayaan ulang tahun sang Ratu tanggal 30 April  masih lama? ujar seorang warga yang kebingungan.

“Saya bukan mau komedi jalanan, saya ini walikota Bandung ! Ini baju polo, dan ini namanya celana jeans, dapet beli di Cihampelas !”

“Punteng kang, setau saya di Cihampelas mah teu aya jin, ayana oge Zwembad pemandiannya orang-orang Walanda?”

Gak mau debat, Pak walkot kemudian menyusuri jalan Groote postweg ke arah timur. Di jalanan ini pak Walkot  sempat memperhatikan mobil-mobil yang lalu-lalang, model terakhir dengan lampu yang menonjol dari spatbord, suaranya berisik dan mengeluarkan asap secara terus menerus, jalannya gak lebih dari 40 KM/Jam, membuat debu-debu beterbangan. Mobil-mobil ini tampaknya dibeli di toko Fuch en Rens di Bragaweg. Sambil jalan menyusuri Grootepostweg, Pak Walkot menikmati pemandangan kota yang sangat apik. Bangunan2 anggun : Perusahaan Escompto, NILMIJ, Jajaran Bioskop-bioskop Elita, Pistren Varia dan Oriental, Perusahaan Listrik Gebeo, dan yang paling menarik perhatian adalah Societeit Concordia.  Tempat orang-orang Belanda totok dansa dansi, minum-minum, nonton tonil hingga main bilyar tiga bola. Sedang memperhatikan bangunan itu, ia kaget ditegur :

“He kowe orang apa? Berani dekat-dekat sini !”

“Saya walikota, Pak, Oom!”

“Apa kowe bilang? Aku bukan kau punya bapa! Aku politie, ndoro politie !”

“Saya walikota bandung, ndoro politie”

Sebelum ndoro Politie itu bertindak lain, pak Walkot langsung ngacir ke arah jalan Bragaweg. Sang walkot baru paham kalo waktu itu tidak sembarang orang bisa deket2 rumah bola Concordia itu, Cuma kalangan elit saja yang bisa masuk atau keliaran di daerah sana. Di pintunya bahkan bertuliskan “verboden voor honden en inlanderpribumi dan anjing dilarang masuk. Sang walkot agak kesel juga sambil berpikir untuk memasang tulisan yang sama di kantornya dengan mengganti kata Inlander menjadi Hollander !

Sadar bahwa celana dan bajunya bakal mempersulit perjalanan sang Walkot, maka ia bermaksud untuk mendapatkan pakaian sehari-hari masyarakat. Sang walkot berjalan cepat-cepat ke  arah Bragaweg mengetahui bahwa di daerah itu banyak baju-baju bagus dijual. Baru beberapa langkah beliau dihadapkan pada dua toko baju ternama “Au Bon Marche” dan “Onderling Belang”. Kedua toko ini sangat mahsyur di Bandung. Au Bon Marche merupakan toko fashion (FO) yang berkiblat pada mode di Prancis, sedangkan Onderling Belang saingannya berkiblat ke Belanda. Beliau memilih masuk ke toko Onderling Belang, karena melihat beberapa pribumi masuk ke toko ini. “Kalo ada orang Indonesianya pasti ini toko harga barangnya murah-murah nih” pikir Pak Walkot. Setelah milih-milih baju dan jas serta pantalon putih. Pak Walkot pun bermaksud membayar ke kasir seorang pribumi. Beliau pun menyodorkan  uang untuk membayar, tapi yang ada si kasir malah kaget.

“Ini uang dari mana pak, kok ada gambarnya Soekarno segala ?

“Ini uang resmi pemerintah, nilainya Rp. 100.000,- dan itu gambar presiden pertama Indonesia yang ngusir Belanda !”

“Bapak gila ya? Uang segitu banyak bisa untuk beli ini toko ! Lagipula berani amat  ngomongin Sukarno, beliau sama temen-temennya kan lagi diincer pemerintah. Hati-hati Pak, Di sini pager, tembok, ubin, genteng semuanya punya kuping, bisa-bisa nasib bapak berakhir di Sukamiskin  !”

Pak Walkot langsung buru-buru keluar, tidak jadi beli baju. Beliau jalan lagi dikit ke arah Naripanweg lewat Denisbank yang megah, di sana ketemu sekelompok orang, pribumi dan indo yang lagi rame-rame di depan suatu bangunan. Ternyata itu adalah gedung Ons Genoegen, tempat mangkalnya orang-orang pribumi kaya dan indo yang tidak cukup layak  untuk memasuki Societeit Concordia. Disinilah tempat Soekarno dkk. hang out bersama teman-temannya.

Lagi asik menikmati pemandangan tersebut, Seseorang pemuda berpakaian putih-putih rapih  mengangetkan pak Walkot dengan kata-kata :

“Raden cari siapa di sini?”

“Saya bukan Pak Raden, saya walikota Bandung ! Emangnya saya mirip tokoh film Unyil ?!”

“ Oh baiklah pak meneer Walikota Unyil,  lagi apa bapak di sini?”

Pak walikota langsung dongkol disebut Unyil, tapi gak ada gunanya memperpanjang masalah nama. Beliau langsung menjawab,”Saya lagi studi banding keadaan kota Bandung di tahun 1929 ini, saya liat kota ini cukup rapih, siapa sih yang sekarang lagi mengelola kota ini?”

Kalo ngomongin siapa yang ngelola kota ini, walikota Bandung sekarang adalah Ir. J.E.A. van Wolzogen Kühr, beliau itu guru besar dari Technische Hoogeschool, baru beberapa bulan menjabat setelah menggantikan tuan B. Coops. Keadaan kota ini bisa seperti sekarang berkat jasa tuan Coops yang sangat memperhatikan keadaan kotanya. Bahkan tiap pagi beliau “sarapan” koran supaya tau kritik-kritik dari masyarakat. Pernah suatu kali seorang pelajar MULO mengalami kecelakaan karena menabrak suatu monumen pahlawan, secepat kilat beliau langsung memerintahkan pemindahan monumen itu supaya kecelakaan tidak terulang.” Ujar si Pemuda. Sang walkot yang mendengar pernyataan itu tidak habis pikir bagaimana seorang pribumi bisa bangga atas karya walikotanya yang seorang Belanda. Tapi gak mau kalah beliau langsung menanggapi.

“Ah maklum saja beliau tanggap menata kota ini, wong nanti di tahun 2011 pasti beliau juga angkat tangan menghadapi keadaan kota Bandung saat itu yang jauh lebih luas dari sekarang dengan jumlah penduduk yang lebih banyak”

Sambil tersenyum sang pemuda pun menjawab, ”Saya sih tidak akan khawatir, bukankah pak Walikota nanti memiliki banyak pegawai terampil yang akan membantu bahkan hingga tingkat terendah? Lagipula walikota di tahun 2011 nanti pasti lebih pintar soalnya kan sudah belajar dari walikota-walikota yang terdahulu”

Sang Walikota langsung terdiam malu. Walau ingin ngobrol banyak, Waktu studi banding  Pak Walkot ternyata sudah habis. Operator Time tunnel di Houston ternyata tidak mempan disogok Djie Sam Soe untuk memperpanjang waktu kunjungan. Sang walikota pun kembali ke tahun 2011. Tanpa basa-basi beliau langsung memanggil sang Ajudan “Daaann !!! Tolong anter saya ke sekre Aleut, saya pengen ketemu sama koordinatornya si Indra Pratama atau dengan Pak Ridwan Hutagalung, sepertinya saya perlu belajar lagi tentang kota Bandung ini”

“Ke sekre aleut pak ? Itumah rumah saya atuh…” Ujar sang ajudan dalam hati…

Nb : Tulisan ini terinspirasi dan diadaptasi dari karya Pak Umar Noor yang berjudul “Yogya Tahun 1927”

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s