Komunitas Aleut : every little thing is precious

Oleh : Naluri Bella Wati

Beberapa waktu lalu, saya mendaftar di sebuah konferensi lingkungan di Jakarta. Ketika mengisi formulir pendaftaran, saya kebingungan menuliskan komunitas lingkungan apa yang saya ikuti. Komunitas Aleut-komunitas yang selama ini saya ikuti- adalah komunitas berbasis sejarah. Tidak ada unsur lingkungannya sama sekali. Saya pun mencantumkan nama Aleut di dalam formulir tersebut. Ah, biar deh! Daripada nggak diisi sama sekali, pikir saya.

 

Kemudian datanglah berita itu. Di suatu Minggu, pegiat Aleut datang ke sebuah tempat bernama arboretum di kawasan Jatinangor. Saya sangat senang sekaligus terharu. Ini Bukan kali pertama Aleut menyusuri kawasan alam. Namun ngaleut kali ini sungguh berbeda karena ada misi di dalamnya. Para pegiat bukan hanya jalan-jalan, melainkan mendapat pengetahuan soal tanaman. Tak hanya itu, kami juga diberi berbagai petuah soal pentingnya menjaga lingkungan oleh dosen Biologi Unpad, Pak Prihadi dan Pak Joko, yang menjadi narasumber ahli perjalanan tersebut.

 

Setelah melakukan perjalanan yang penuh inspirasi itu, pegiat Aleut kembali melakukan ngaleut “save our environment” di minggu ini. Kami menyusuri beberapa taman yang ada di Bandung. Menyusuri taman bukan rute baru bagi kami. Namun segalanya menjadi lebih menarik karena kali ini kami tak hanya berbagi soal sejarah berdirinya taman. Lebih jauh dari itu, kami mencoba untuk mengenali ekosistem yang ada di dalam taman tersebut. Bersama Nara sebagai narasumber, kami diajak masuk ke dunia tumbuh-tumbuhan. Kami jadi tahu bahwa lumut kerak yang menempel di pepohonan dapat menjadi indikator tingkat polusi sebuah kota. Kami jadi tahu bahwa Pohon Kersen satu familie dengan Mawar dan Sakura. Dan siapa sangka bahwa Taman Ganeca dan Liceum adalah arena sosialisasi sekaligus representasi kebudayaan pop di zamannya.

 

Pesan singkat yang ditulis koordinator untuk membawa tang dan trash bag ketika ngaleut juga semakin menunjukkan keseriusan Aleut untuk menyelamatkan lingkungan. Saya senang sekaligus bangga. Menurut saya, Aleut semakin berkembang. Bukan berarti komunitas ini melenceng dari visi misi awalnya. Wajar bila dalam komunitas ada pembaharuan. Fleksibilitas. Perkembangan. Menurut saya, visi “save our environment” yang mulai digalakkan Aleut adalah sebuah pencapaian besar. Lagipula, seperti kata seorang pegiat, isu lingkungan bukan sekedar milik LSM atau departemen pemerintah yang terkait. Isu ini harus diselesaikan bersama-sama, meskipun penyelesaiannya dilakukan berbeda sesuai porsi dan kapasitas masing-masing.

 

Belakangan, saya mulai aktif di dunia lingkungan. Orang bisa bilang saya sok idealis atau ikut-ikutan karena isu ini sedang mutakhir. Kalaupun ikut-ikutan, memang kenapa? Toh dari ikut-ikutan ini kita bisa belajar. Kita jadi tau seperti apa fenomena yang sesungguhnya. Dari sana, barulah kita memutuskan sikap seperti apa yang akan dilakukan. Tak ada salahnya ikut-ikutan dalam konteks yang positif. Saya sendiri menganggap konsep “save our environment” sebagai bentuk tanggung jawab pribadi. Kewajiban sebagai manusia yang ‘nebeng’ di bumi. Bumi dan segala isinya telah menopang hidup saya. Saya bebas menghirup oksigen yang dihasilkan pepohonan. Masa tega memperlakukan mahluk yang telah ‘menghidupi’ kita seenaknya? Seperti kata Pak Prihadi, tidak ada yang gratis di muka bumi ini. Maka kita pun harus membayar apa yang telah lingkungan berikan. Caranya tak usah muluk-muluk. Kita tidak perlu membangun TPA yang super canggih atau memikirkan bagaimana mengurangi emisi karbon global dan menggantinya dengan energi solar. Saya sendiri tidak pernah berpikir sejauh itu. Saya hanya melakukan hal yang sesuai porsi diri. Mencabut paku yang tertancap di pohon, mengurangi penggunaan plastik,atau membuang sampah pada tempatnya sudah merupakan aksi hebat bagi saya. Every little thing that we do to save this earth is worth it. Please do believe that every little thing is precious. Percayalah, setiap hal kecil yang dilakukan secara terus-menerus akan menjadi hal besar di kemudian hari.

 

Sambil mengudap waffle dan yoghurt di Makan-makan ( sebuah cafe yang bertempat di sebuah rumah tua milik Bapak Arsitektur Bandung, Wolf Schoemaker ) kami mengakhiri perjalanan ini dengan diskusi ringan. Lebih dari setahun saya bergabung di Komunitas Aleut. Dan saya baru sadar kalau saya masuk di komunitas yang tepat. Saya mendapat banyak inspirasi dari komunitas ini. Bahkan lelucon dan kelakuan pegiatnya yang kadang sinting pun memberi semacam kekuatan. Kekuatan yang membuat komunitas ini terus hidup dan penuh kehangatan.

Thanks for always giving me lotta inspirations.

 

 

Ps :

Ternyata saya nggak salah masukkin Komunitas Aleut ke formulir pendaftaran konferensi lingkungan itu :p

Ohya, saya juga berencana memasukkan komunitas ini ke dalam bakal calon novel saya. Doakan !

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s