Naik Sepur Sepanjang Bandung – Cicalengka

Oleh: Vecco Suryahadi Saputro (@veccosuryahadi)

All aboard! The Night Train! (James Brown – Night Train)

Ibu saya pernah menceritakan pengalamannya saat naik kereta api ekonomi ke Kebumen. Dalam ceritanya, gerbong kereta yang dinaiki ibu dipenuhi oleh penumpang dan barang bawaannya. Saking penuhnya, ibu saya yang masih berumur 10 tahun kerap tersenggol hingga jatuh. Selain oleh penumpang, penjual jajanan dan mainan ikut meramaikan gerbong dengan lapaknya!

Cerita ibu saya tidak selesai di gerbong yang penuh oleh manusia. Ibu menceritakan juga kondisi gerbong kereta api ekonomi. Saat dia masih berdiri di gerbong, ibu sering menginjak sampah basah yang berserakan di lantai. Selain sampah, dia pernah beberapa kali menginjak air minuman yang tumpah ke lantai gerbong.

Dari cerita ibu, bayangan banyaknya penumpang, lantai gerbong yang kotor, dan lapak penjual edan di gerbong kereta memenuhi pikiran saya saat hendak naik atau memilih jenis kereta api. Selain itu, karena cerita ibu juga, saya menjadi enggan bahkan anti naik kereta api ekonomi karena tidak mau berdesak – desakan di dalam gerbong.

***

Tapi pada hari minggu (18/10/2015), saya dengan terpaksa harus menaiki kereta api ekonomi jurusan Bandung – Cicalengka. Saat itu, saya naik kereta api bersama kawan – kawan Komunitas Aleut yang sedang Ngaleut Spoorwagen. Imajinasi saya mulai kembali ke bayangan buruk tentang kereta api ekonomi saat menunggu kereta api datang.

Kereta api ekonomi Bandung - Cicalengka

Kereta api ekonomi Bandung – Cicalengka

Setelah kereta api datang, saya tidak bisa langsung masuk ke gerbong kereta karena masih banyak penumpang yang turun. Saya akhirnya masuk ke kereta api setelah seluruh penumpang turun.

Saat menginjakkan kaki di gerbong, saya seperti anak kecil yang kegirangan karena mendapat angpao. Angpao yang saya dapat saat itu adalah tidak ada sampah berserakan di lantai gerbong. Sehingga lantai gerbong yang berwarna hijau muda terlihat terang dan mengkilat! Bayangan lantai gerbong yang kotor hilang dan lenyap dari pikiran saya saat melihat lantai ini.

Tapi, masih ada dua bayangan yang teringat oleh saya yakni banyaknya orang – orang dan pedagang di gerbong. Setelah beberapa menit, penumpang mulai memasuki gerbong dan memilih bangku – bangku yang menurut mereka nyaman. Tapi saya tidak menemukan pedagang yang membawa dagangan ke dalam gerbong. Selain itu, saya tidak merasa berdesakan saat para penumpang menaiki gerbong. Mereka sangat tertib!

Saat kereta berjalan, saya sempat bertanya ke beberapa penumpang yang telah menjadi pelanggan kereta. Mayoritas penumpang yang saya tanya tinggal di Cicalengka tapi bekerja di pusat kota Bandung. Karena hal itu, tiap hari mereka menaiki kereta api ekonomi yang memiliki tiket murah (hanya 4 ribu). Selain itu, mereka berbagi cerita pengalaman mereka menaiki kereta api ini. Menurut mereka, kondisi kereta api ekonomi sekarang jauh lebih bagus sehingga mereka merasa nyaman.

Komunitas Aleut di gerbong kereta api

Komunitas Aleut di gerbong kereta api

Selesai berbincang – bincang, saya mulai berkelana di dalam gerbong sembari mengisi bayangan tentang kereta api ekonomi. Ternyata setiap gerbong memiliki satu tempat sampah yang terbuat dari plastik. Selain tempat sampah, bagi manusia modern yang memiliki kebutuhan primer baru yakni stopkontak, sekarang setiap gerbong memiliki banyak stopkontak yang berfungsi.

Tapi lepas dari kebutuhan primer baru dan tempat sampah, ada hal baru yang mengingatkan saya akan anime yakni tempat duduk. Jika dalam anime seperti Yakitate Japan! atau Daily Live of Highschool Boy, kita akan menemui tempat duduk memanjang seperti di angkot.Nah, tempat duduk di gerbong kereta api ini memiliki hal serupa yakni tempat duduk memanjang.

Setelah satu jam perjalanan, kereta api akhirnya sampai di Stasiun Cicalengka dengan banyak pengalaman dan bayangan baru. Pertama, saya merasa bahagia dan ketagihan untuk menaiki kereta api ekonomi rute ini karena pemandangan alam yang disajikan selama perjalanan. Kedua, kondisi gerbong yang bersih dan tanpa sampah di lantai. Ketiga, banyak stopkontak yang berfungsi di gerbong. Keempat, tempat duduk yang nyaman mengingatkan saya dengan anime dan manga Jepang. Terakhir, ketepatan waktu kereta api yang luar biasa.

 

Sumber foto : Komunitas Aleut

 

Tautan asli: https://catatanvecco.wordpress.com/2015/10/28/catatan-perjalanan-naik-sepur-sepanjang-bandung-cicalengka/

Iklan

Perpisahaan, Topi, dan Kereta Api

Oleh: Kedai Preanger (@KedaiPreanger)

“Akhirnya peluit pun dibunyikan
Buat penghabisan kali kugenggam jarimu
Lewat celah kaca jendela
Lalu perlahan-lahan jarak antara kita
Mengembang jua
Dan tinggallah rel-rel, peron dan lampu
Yang menggigil di angin senja.”
—Elha

Entah, bagi saya kereta api selalu identik dengan perpisahan. Tak hanya kereta sebetulnya, namun alat transportasi lain pun kerap menyuguhkan satu episode itu; memisahkan seseorang dengan orang-orang terkasihnya. Kereta api dan moda transportasi lainnya, menjadi perantara kepergiaan dan perpisahan.

Lebih dari  setahun yang lalu, saya pernah mengalami perpisahan. Walau tak sedramatik perpisahan seperti pada puisi yang saya kutip di pembuka catatan ini. Jika puisi digunakan untuk menerangkan majas personifikasi, perpisahan yang saya alami mungkin bisa ditasbihkan sebagai contoh majas hiperbola.

Anggaplah saya terlalu membesar-besarkan kejadian itu, karena perpisahaan yang terjadi bukanlah dengan kekasih pujaan hati atau orang-orang tersayang, namun “hanya” dengan sebuah topi. Ya, sebuah topi yang dibeli dari upah sebagai joki semester pendek saat kuliah dulu. Topi dari sebuah band kegemaran,  juga koleksi topi mula-mula–sebagai minat yang saya rawat dengan sepenuh hati.

Perpisahaan itu terjadi saat ngaleut bersama kawan-kawan Komunitas Aleut ke Cimahi. Untuk mencapai salah satu kota yang bertetangga dengan Kota Bandung tersebut, kami menggunakan Kereta Rel Diesel (KRD). Di atas  kereta jurusan Cicalengka-Padalarang itulah “bencana” terjadi. Baca lebih lanjut