Gunung Putri, Bertukar Ingat dengan Lupa

Oleh: Hevi Fauzan (@hevifauzan)

IMG-20160807-WA0013

Berbagi waktu dengan alam, kau akan tau siapa dirimu sebenarnya

Hanya sepotong bait lagu OST-nya film Soe Hok Gie yang melintas saat saya menaiki Gunung Putri, sebuah bukit di sekitaran Lembang. Sabtu malam, 6 Agustus 2016, setelah kekalahan Persib dari Perseru 1-0.

Tanggal tersebut bertepatan dengan Hari Keantariksaan. Kami, dari Komunitas Aleut, pada awalnya ingin melihat apa yang terjadi di langit malam itu. Apa daya, polusi cahaya Lembang dan Kota Bandung tidak memungkinkan untuk itu. Ditambah lagi, langit tertutup awan, walau tidak sampai hujan.

Sore sebelumnya, saya mengalami kejadian absurd yang gak lucu sama sekali. Sudah puluhan kali saya menjadi admin untuk live tweet pertandingan Persib Bandung. Saya pernah live berdasarkan laporan via voice dan text, apalagi, live tweet berdasarkan pertandingan di TV adalah hal yang biasa. Namun di sore itu, saya buta dengan jalannya pertandingan karena memang tidak disiarkan secara langsung, baik di TV maupun radio. Alhasil, saya mendapat info dari akun official. Baca lebih lanjut

Persib dan Literasi Bal-balan

Oleh: Arif Abdurahman (@yeaharip)

Saat rehat babak pertama laga tandang Persib yang melawat Persiba, saya menulisi akun @simamaungdengan pertanyaan retoris sok puitis: Kenapa sepi dan rindu diciptakan? Hanya tinggal mengklik tombol tweet, beruntungnya saya bukan makhluk yang kelewat iseng. Sebenarnya, enggak masalah sih sedikit jahil dengan salah satu media daring paling akrab di telinga bobotoh ini, hitung-hitung meredakan ketegangan skor kacamata di malam itu–malam Minggu yang niscaya akan jadi jahanam jika tanpa puisi dan Persib.

Sepakbola bukan cuma sebuah permainan, bukan hanya olahraga, ini adalah satu agama, sabda seorang Diego Maradona. Meski enggak tertulis di data KTP, tapi mayoritas warga Bandung sudah bisa dipastikan beragama Persib. Menonton Persib, baik berjamaah ke stadion atau di tempat nobar, atau sendiri-sendiri di rumah masing-masing, adalah ibadah fardlu bagi bobotoh. Maka dalam kegiatan rutin Kelas Literasi Komunitas Aleut! yang rutin diadakan hari Sabtu itu mengundang kawan-kawan pesohor dari @mengbal,@stdsiliwangi, @panditfootball, kang @riphanpradipta, dan kang @dumbq_ berbagi pengalaman, ide, dan informasi seputar sepakbola Bandung dan pengelolaan situs daring yang mereka jalankan.

“Saya lahir di Kediri, dan pernah tinggal di Malang, lalu sekarang tinggal di Bandung. Jadi saya sudah juara tiga kali,” ujar seorang penulis sepakbola yang hadir sore itu, yang kemudian disambut tawa oleh kawan-kawan lainnya. “Dari pengalaman saya itu, budaya sepakbola Bandung masih yang terdepan. Di sini sangat terbuka, kritik adalah hal yang bisa terjadi setiap hari. Di Bandung warga berderet di pinggir jalan menyambut bobotoh, sesuatu yang bahkan di Malang pun tidak terjadi.” Baca lebih lanjut