#PojokKAA2015: Aku Pun Bersolek

Oleh: Deris Reinaldi

Menjelang perhelatan yang sangat bergengsi, yaitu Peringatan 60 Tahun Konferensi Asia-Afrika, tetangga-tetanggaku disepanjang Jl. Asia Afrika nampak bersolek diri seraya ingin terlihat cantik. Mereka menampakkan diri akan kebersolekkannya, seakan-akan ingin terlihat oleh khalayak ramai dan mengeksiskan diri. Tapi aku, Mesjid Raya Provinsi Jawa Barat atau terkenal dengan sebutan Mesjid Agung, pun ingin bersolek sama seperti tetanggaku. Masa saat nanti ada tamu-tamu dari luar negeri aku tampil kucel, malu rasanya, mau ditaruh di mana harga diri aku sebagai rumah ibadah ini?

deris1Aku tidak mau menampakkan diri akan kebersolekkanku, aku tidak mau dikatai riya, karena itu perbuatan tercela. Tentulah jikalau aku tampil mempesona, anggun dan rupawan maka siapa yang akan bangga? Jelaslah Kota Bandung, provinsi Jawa Barat serta negaraku tercinta Republik Indonesia. Kalau aku cantik tentunya menjadi bahan perbincangan diantara tamu-tamu peringatan KAA ke-60 tahun. Aku bangga menjadi mesjid di kota ini, aku sudah tua berada di Kota Kembang ini. Dahulu ketika pertama kali KAA di Bandung, aku sudah tegak berdiri disini, aku menjadi saksi bisu di peristiwa itu. Begitu pun ketika peringatan KAA ke-50 tahun, aku pun kembali menjadi saksi bisu, meskipun aku tidak seperti 50 tahun yang lalu.

Dari tanggal 13 Maret 2015 aku mulai bersolek diri. Tukang cat, tukang pasang ubin, dan tukang-tukang lainnya telah berada disini. Mereka bekerja pagi-siang-malam tanpa lelah bekerja untukku agar aku cantik di hari yang akbar nanti. Cuaca dan waktu yang menjadi kendala tidaklah mengganggu pekerjaan bersolek ini. Kubahku sudah selesai pertama dengan di cat berwarna emas. Wahai warga Bandung, tengoklah aku yang sedang mempercantik diri ini,. Silakan kalian berfoto sepuasnya agar terkesan kekinian.

Hingga hari ini, yaitu H-10, pekerjaan ini sudah 60 % selesai. Kalau menurut Teteh Syahrini, ini “sesuatu” karena belum sampai satu bulan tetapi pekerjaan sudah lebih dari 50 %. Setiap hari, angka itu teruslah naik. Hari ini ubin-ubin di toilet dan tempat wudhu belum terpasang, tempat wudhu ditambah, agar cukup untuk para tamu istimewa ketika beribadah sholat di sini dan tembok dalam mesjid sedang di cat. Pekerjaan ini ditarget harus selesai pada tanggal 17 April 2015. Semoga para tukang tetap sehat selalu agar bisa mengerjakan pekerjaan yang sangat penting ini.

Deris2Apapun persiapan yang sedang dilakukan untukku ini merupakan dana dari Bank Jabar Banten (BJB) dan Pemerintah Provinsi Jawa Barat. Pemerintah pusat belum memberikan dana untuk keperluanku ini. Aku berharap pemerintah pusat yang notabene pemilik hajatan akbar ini bisa membantu untuk keperluanku agar terlihat cantik rupawan.

Ketika perhelatannya di Bandung pada tanggal 24 April 2015, para tamu istimewa akan menunaikan salat Jum’at di mesjid agung. Para jema’ah akan diatur oleh protokoler negara, sehingga sangat mungkin bahwa beliau ini akan menempati shaf terdepan terlebih dahulu. Apabila warga Bandung ingin ikut beribadah shalat Jum’at silahkan saja datang, aku sangatlah senang jikalau warga Bandung shalat Jum’at disini. Meskipun untuk warga, shalat Jum’at menempati shaf belakang atau sesuai aturan protokoler. Dalam rangka acara peringatan KAA ini, khatib shalat Jum’at dipilih oleh negara. Aku hanya menyiapkan serta memberikan beberapa calon kahtib kepada negara.

Di hari yang akbar itu aku berharap keamanan dapat mengantisipasi adanya aksi pencurian. Aku takut sepatu para tamu istimewa yang karasep dicuri dengan alasan untuk kebanggaan bisa memiliki sepatu tamu istimewa. Aku tidak mau apabila ada aksi ricuh karena melihat orang asing apalagi ada yang menjerit-jerit histeris, Pokoknya katakan tidak terhadap hal-hal buruk. Semoga aku tetap berada dalam karunia Tuhan yang Maha Kuasa, aku hanya berserah diri kepada-Mu supaya aku diberikan kelancaran dalam kegiatan peringatan KAA ke-60 tahun. Aamiin…

#PojokKAA2015: KAA dan Transformasi Atap Mesjid Agung Bandung

Oleh: Hani Septia Rahmi (@tiarahmi)

Istilah Bale Nyungcung, bagi generasi muda Kota Bandung bukan lagi menjadi istilah familiar untuk merujuk Mesjid Agung Bandung yang kini memiliki nama resmi Mesjid Raya Provinsi Jawa Barat sekarang. Hal yang wajar karena bentuk atap mesjid tersebut sudah lagi tidak “nyuncung” melainkan kubah setengah bola.

Atap Mesjid Agung Bandung tahun 1930-an

Atap Mesjid Agung Bandung tahun 1930-an

Perubahan atap mesjid yang bernama Mesjid Raya Provinsi Jawa Barat ini terjadi sekitar 60 tahun yang lalu, menjelang Konferensi Asia Afrika tahun 1955. Atas gagasan Presiden Soekarno, mesjid Agung Bandung mengalami perubahan besar-besaran terutama pada bagian atap. Bentuk atap Mesjid Agung Bandung yang nyungcung bertranformasi menjadi kubah persegi empat bergaya timur tengah seperti bawang. Selain itu menara pada bagian kiri dan kanan masjid serta pawestren berikut teras depan dibongkar sehingga ruangan masjid hanyalah sebuah ruangan besar dengan halaman masjid yang sangat sempit. Baca lebih lanjut