Lost In Manteos Dina Hiji Waktos

Oleh: Irfan Noormansyah (@fan_fin)

_mg_8721

“Kalau Jerman dulu ngeruntuhin Tembok Berlin, kita malah bangun Tembok Berlin sendiri di kampung”, begitu cerita Kang Edi dari Manteos. Manteos ini bukanlah sebuah daerah di dataran latin sana, nama ini merupakan sebuah kampung yang letaknya hanya sekitar 5 menit berkendara dari Jl. Dago Bandung. Memang di kawasan tersebut terdapat sebuah tembok besar dan memanjang membentengi salah satu bagian kampung. Bedanya, bila Tembok Berlin di Jerman berfungsi untuk memisahkan, Tembok Berlin di Manteos justru berfungsi untuk mempersatukan. Tempat ini merupakan ruang publik yang sering digunakan warga dan anak-anak untuk beraktivitas. Tembok Berlin yang ikonik ini menjadi satu dari sekian banyak hal menarik yang saya temukan saat berkunjung ke Kampung Manteos. Sedikit meminjam branding campaign yang sering disuarakan National Geographic yaitu “let’s get lost”, menjelajahi dan menyesatkan diri pada setiap lekuk dari Kampung Manteos yang bagaikan labirin memberikan sebuah pengalaman tak terlupakan.

Perkampungan kota di Bandung tentunya bukan hanya Manteos saja, sebelumnya saya bersama dengan Komunitas Aleut pernah juga mengunjungi Cikapundung Kolot yang hilang, Blok Tempe yang revolusional, serta Cibuntu yang ternama. Namun tentu setiap kampung yang kami kunjungi memiliki keunikan yang membawa cerita baru dalam setiap episodenya. Keunikan Kampung Manteos ini terletak dari struktur perkampunganya yang didirikan di Lembah Sungai Cikapundung, sehingga dari kejauhan kampung ini akan terlihat seperti rumah yang bertumpuk. Tampilannya sering digambarkan sebagai Rio De Janeiro-nya Kota Bandung, atau mungkin boleh saja kalau kita sebut Rio De Janeiro Van Bandoeng. Baca lebih lanjut

Manteos, Kampung Seribu Tangga di Lembah Ci Kapundung

Oleh: Anggi Aldila Besta (@anggicau)

Anak-anak Kampung Manteos (dok: Komunitas Aleut)

Anak-anak Kampung Manteos (dok: Komunitas Aleut)

Entah beberapa orang dari seluruh warga Kota Bandung yang mengenal nama Manteos,  apalagi kalau ternyata Manteos ini adalah nama sebuah kampung di Kawasan Bandung Utara. Bagi saya, sebenarnya nama ini pun masih asing setidaknya dua tahun ke belakang. Padahal jarak dari rumah ke kampung ini tidak sampai 11 km apabila ditarik garis lurus. Kampung ini memiliki lorong-lorong gang sempit dilengkapi dengan undakan-undakan  tangga kecil yang terhubung satu sama lain, menjadikan Manteos seperti labirin yang berada di sebuah lembah. Tapi siapa sangka kalau kampung ini menyimpan banyak cerita menarik, cerita yang selalu disampaikan orang tua ke generasi berikutnya. Terutama cerita soal Ci Kapundung.

Nama Manteos sendiri berasal dari nama Matius, seorang tuan tanah warga Belanda yang mempunyai tanah di kawasan Kampung Manteos saat ini. Akan tetapi ada juga warga yang bilang kalau Manteos itu berasal dari kata Main House, karena dulunya di sekitar kampung ini ada penginapan milik orang Amerika yang sekarang menjadi gedung di komplek Dinas Psikologi Angkatan Darat. Namun sepertinya pendapat ini diragukan karena gedung tersebut dulunya dikenal sebagai Villa Mei Ling. Villa ini dulu dimiliki oleh orang Tiong Hoa yang juga seorang pedagang beras bernama Ang Eng Kan.

Secara wilayah, Kampung Manteos berada di Kelurahan Dago, Kecamatan Coblong. Sangat dekat sekali posisinya dari Kantor Kecamatan maupun Polsek Coblong. Di kampung ini, masyarakat asli dan pendatang sudah berbaur. Apabila disimpulkan secara kasar, bagian bawah kampung banyak dihuni oleh pendatang, sedangkan bagian atasnya masih banyak penduduk asli yang telah bermukim sejak lama, seperti yang Pak Edi (tokoh pemuda setempat) bilang, “Saya itu diproses di sini, sampai sekarang punya anak masih tetap di Manteos”. Baca lebih lanjut