Kampung Mahmud dan Sisa Kearifan Lokalnya

Oleh: Z. Puteri Syahadah (@PuteriZS)

Put01

Mendengar kata kampung adat, terutama kampung adat Sunda, yang ada di benak saya adalah rumah panggung dan suasana lingkungan asri yang jauh dari jangkauan teknologi. Adapun definisi dari kampung adat menurut saya sendiri adalah suatu lingkungan yang memiliki dan juga masih mempertahankan adat istiadat, hukum, dan aturan yang telah ditetapkan oleh leluhur dari tempat tersebut. Walaupun begitu, sekarang ini ada beberapa kampung adat yang sudah mulai menerima masuknya teknologi, seperti kampung adat yang baru saja saya kunjungi bersama teman-teman dari Komunitas Aleut yaitu Kampung Mahmud yang berada di Desa Mekar Rahayu, Kecamatan Margaasih, Kabupaten Bandung.

Dengan menaiki angkot, saya dan teman-teman bergegas menuju Kampung Mahmud. Alangkah kagetnya saya ketika sampai di Kampung Mahmud. Saya melewati sebuah jembatan yang menebarkan aroma tidak sedap. Aroma tidak sedap itu berasal dari Sungai Ci Tarum yang kini sudah dipenuhi sampah dengan air yang berwarna hitam disebabkan oleh limbah pabrik industri yang dibuang ke Sungai Ci Tarum.

Put02

Tak jauh dari jembatan Ci Tarum Baru, terdapat gerbang Kampung Adat Mahmud. Saya dan teman-teman segera masuk ke Kampung Mahmud sambil sesekali memperhatikan dan memotret lingkungan sekitar. Menurut cerita Haji Syafei, salah satu sesepuh Kampung Mahmud, Eyang Abdul Manaf yang merupakan penyebar agama Islam pertama di Bandung, ketika itu beliau sedang bertafakur kepada Allah di Kampung Mahmud di Mekkah. Kemudian beliau mendapatkan “wangsit” yang menyuruhnya untuk mengambil segenggam tanah dari Kampung Mahmud untuk dibawa ke tanah air dan ditebar di sekitar rawa-rawa Sungai Ci Tarum. Karena itu nama kampung ini pun Kampung Mahmud. Eyang Abdul Manaf menjadikan kampung ini sebagai pusat penyebaran ajaran Islam pertama di wilayah Bandung. Eyang Abdul Manaf adalah keturunan ke-7 dari Syarif Hidayatullah. Dalam menyebarkan ajaran islam sehingga dapat meluas di luar wilayah Bandung, beliau tidak sendirian, melainkan beliau berjuang bersama kedua muridnya yaitu Eyang Agung Zainal Arif dan Eyang Abdullah Gedug.
Put03
Tak hanya itu, Kampung Mahmud dijadikan sebagi kawasan “haram”, artinya Kampung Mahmud tidak boleh dikunjungi atau diinjak oleh seseorang yang tidak beragama Islam. Sekitar 150 m dari makam Eyang Abdul Manaf ke arah timur terdapat sebuah tugu. Tugu ini dibangun oleh Eyang Abdul Manaf untuk menandai bahwa kawasan Kampung Mahmud merupakan daerah “suci” seperti halnya Mekkah dan Madinah.

Pada saat awal pendirian Kampung Mahmud, banyak aturan yang tidak boleh dilakukan oleh masyarakat Kampung Mahmud seperti tidak boleh membuat sumur, tidak boleh membuat rumah permanen dan menggunakan kaca pada jendela, tidak boleh memelihara kambing dan angsa, serta menggunakan alat-alat musik termasuk bedug. Masyarakat dilarang membuat sumur karena untuk memenuhi kebutuhan air yang dipakai masyarakat Kampung Mahmud berasal dari Sungai Ci Tarum yang bersih dan jernih, sedangkan larangan membangun rumah permanen dikarenakan rumah panggung merupakan simbol dari kesederhanaan dan pemasangan kaca di jendela rumah ditakutkan akan membuat masyarakatnya menjadi sombong. Selain itu, larangan memelihara kambing dan angsa ditakutkan akan membuat kebisingan di Kampung Mahmud yang tentram dan damai itu.

Meskipun tidak ada aturan tertulis, masyarakat begitu mempercayai aturan dari para leluhur tersebut. Karena apabila aturan itu dilanggar, maka orang yang melanggar tersebut akan mengalami musibah berupa kehidupan rumah tangga yang hancur, kesulitan ekonomi, atau berupa sakit yang tak kunjung sembuh.

Tidak dapat dipungkiri bahwa peran Eyang Abdul Manaf sebagai tokoh penyebar ajaran islam pada saat itu sangat dihormati. Ini dibuktikan dengan banyaknya orang yang mengunjungi Kampung Mahmud untuk berziarah ke makam beliau. Hampir setiap harinya ada saja masyarakat Kampung Mahmud atau masyarakat luar Kampung Mahmud dari berbagai golongan mendatangi makam Eyang Abdul Manaf. Mereka datang untuk mendoakan leluhur yang dikeramatkan, namun tidak sedikit pula dari mereka yang datang dengan tujuan tertentu. Banyaknya orang yang mengunjungi Kampung Mahmud, kampung ini dimanfaatkan sebagai tempat wisata dan kegiatan ekonomi lainnya. Ini terlihat dari banyaknya pedagang di sepanjang jalan Kampung Mahmud yang menjajakan berbagai kebutuhan ibadah dan kebutuhan perut.

Seiring dengan perkembangan jaman dan terjadinya pergeseran nilai di tengah masyarakat Kampung Mahmud, larangan itu kini sudah mulai ditinggalkan. Arus modernisasi yang terjadi sekarang membawa dampak bagi Kampung Mahmud. Berbagai adat dan aturan yang dulu sangat dipegang oleh masyarakat Kampung Mahmud dengan teguh perlahan mulai melonggar. Adapun perubahan lingkungan yang tidak bisa dihindari seperti berubahnya Sungai Ci Tarum yang menjadi tidak bersih dan jernih, mendorong warganya untuk membuat sumur masing-masing.

Selain itu, masuknya teknologi modern merusak suasana Kampung Mahmud yang sarat akan adat dan tradisi. Kini hampir setiap rumah memiliki televisi. Masyarakat Kampung Mahmud sekarang terbiasa dengan tontonan yang menayangkan kehidupan para selebritis yang mewah sehingga mengakibatkan berubahnya pola pikir dan gaya hidup kampung Mahmud. Nilai-nilai kesederajatan dan kesederhanaan kini mulai sedikit berkurang seiring banyaknya aturan yang dilanggar seperti mulai berdirinya rumah-rumah yang bertembok lengkap dengan kaca.

Meskipun Kampung Mahmud sudah mengalami banyak perubahan dan menerima pengaruh dari luar setidaknya ada kebiasaan yang tidak berubah seperti kebiasaan berziarah. Tidak hanya itu, masyarakat Kampung Mahmud berusaha keras untuk tetap mempertahankan keaslian dan keasrian Kampung Mahmud. Hal itu terlihat dari masih adanya bangunan-bangunan seperti rumah, mesjid, atau komplek makam yang dibuat dengan menggunakan bahan kayu serta berdinding bilik. Itulah Kampung Mahmud, kampung adat yang tetap berusaha memelihara adat-istiadatnya dan penghormatan kepada leluhur.

Kunjungan Singkat ke Kampung Adat Cireundeu

Oleh: @mooibandoeng

Hari ini (19 Oktober 2013), senang sekali berkesempatan melaksanakan salah satu rencana lama bersama @KomunitasAleut, yaitu berkunjung ke Kampung Adat Cireundeu di Cimahi.

Seminggu lalu, dua rekan @KomunitasAleut, Tony dan Yudhis, sudah melakukan pendahuluan mendatangi kampung itu dan mendapatkan izin untuk kunjungan pada hari Sabtu, 19 Oktober 2013 ini.

Pagi ini di Taman Otten, sebrang RSHS, sudah siap beberapa motor untuk menuju Cireundeu. Kami mengambil jalan pintas melalui Gunungbatu dan sekitar 45 menit kemudian kami sudah berada di gerbang masuk kampung.

Awalnya agak heran karena perkampungan dengan jalan2 utama berupa jalan gang yang di semen ini sama sekali tak menampakkan suasana perkampungan tradisional. Hampir semua bangunan yang ada adalah bangunan permanen dan modern.

Keterangannya akan kami dapatkan kemudian dari Kang Jajat, salah satu warga yang seharian ini akan menemani seluruh perjalanan kami di Cireundeu. Begitu masuk ke sebuah lapangan olahraga tempat kami parkir motor, langsung terlihat bangunan utama di kampung ini, yaitu Bale Saresehan. Di sebrang bale sedang ada kegiatan pembangunan sebuah panggung permanen untuk kegiatan warga. Di sini kami diterima oleh Kang Jajat.

Dari obrolan dengan Kang Jajat kami dapatkan bahwa rupanya adat di Cireundeu tidak terlalu ketat dalam hal penampakan fisik, mereka membolehkan banyak hal mengikuti perkembangan zaman, rumah modern, pakaian, kendaraan bermotor, atau gadget modern, samasekali tidak dimasalahkan. Namun dalam hal bermasyarakat, masih diberlakukan aturan2 adat secara turun temurun. Cara hidup ini bertolak dari filosofi hidup bermasyarakat di sini, yaitu Ngindung ka waktu, mibapa ka jaman.

Image

Bale Saresehan Kampung Adat Cireundeu.

Untuk berbagai aturan adat ini, tak ada bahan tertulis yang dapat dijadikan acuan, semua berlangsung dan diturunkan secara lisan antarpemuka-adat. Berbagai masalah dalam hubungan kemasyarakatan selalu dirundingkan di Bale Saresehan ini.

Aturan adat yang masih dipegang teguh tentu bukanlah hal dapat langsung terlihat oleh mata. Orang luar perlu tinggal beberapa lama agar dapat mengalami keberadaan aturan2 ini.

Lalu, selain aturan adat, apa lagi yang menarik dari kampung ini? Pemandangan dan suasana kampung yang sangat biasa dan mirip dengan kampung2 modern lainnya tentu memunculkan pertanyaan ini.

21 Februari 2005 terjadi sebuah peristiwa mengejutkan di kawasan Leuwigajah, Cimahi. Sebuah ledakan besar terjadi di lokasi pembuangan sampah yang timbunannya mencapai jutaan meter kubik. Ketinggian timbunan sampah sampai 30 meter. Akibat ledakan terjadi longsoran dahsyat yang menimpa permukiman di sekitarnya, paling tidak 81 rumah tertimbun dan 139 jiwa manusia menjadi korban oleh longsoran itu. Kerusakan terbanyak terjadi di Kampung Cilimus, Desa Batujajar (sekarang Kab. Bandung Barat) dan di Kelurahan Leuwigajah, Kota Cimahi. Konon peristiwa ini menjadi tragedi sampah terburuk nomor dua di dunia setelah kejadian serupa di Filipina pada tahun 2000.

Keramaian peliputan tragedi inilah yang kemudian membawa sejumlah wartawan menemukan keberadaan sekelompok warga di dekat lokasi bencana yang secara tradisional mengonsumsi singkong sebagai makanan pokoknya. Kemudian diketahui kelompok warga ini berasal dari sebuah kampung yang masih kuat mempertahankan adat-istiadat lama mereka, yaitu Cireundeu. Sejak itu kampung unik ini sering menjadi pemberitaan.

Kampung adat Cireundeu diyakini didirikan oleh seorang tokoh yang bernama Haji Ali. Makam tokoh ini masih dapat ditemukan di halaman belakang perkampungan ini. Menurut cerita Kang Jajat, Pada tahun 1918 Haji Ali menyarankan agar warga kampung mulai mencoba makanan lain sebagai pengganti beras sehubungan dengan krisis pangan saat itu. Kemudian tahun 1924, Ibu Omah Hasmanah (menantu Haji Ali), menemukan dan merintis pemanfaatan singkong sebagai bahan makanan utama dan sejak itulah warga Kampung Cireundeu mulai menjadikan singkong sebagai makanan pokok mereka.

Image     Image

Penampakan rasi mentah dan yang sudah ditanak.

Singkong diolah secara tradisional menjadi aci (sagu) yang biasanya mereka jual dan beras nasi atau rasi. Rasi sebetulnya adalah ampas hasil penggilingan singkong untuk membuat aci, ampas ini dijemur lalu dijadikan bahan pangan utama seperti beras bagi kelompok masyarakat lain. Semua bahan lauk dan sayur bisa saja serupa dengan yang kita ketahui sehari-hari, yang membedakan warga Cireundeu adalah rasi sebagai pengganti nasi.

Setiap kepala keluarga di Cireundeu memiliki lahan singkong dengan luas berbeda-beda. Selain ditanam untuk keperluan sendiri, warga juga memiliki lahan garapan bersama untuk keperluan kampung atau dibagi antarsesama penggarap. Pola penanaman diatur berdasarkan jeda waktu, agar panen singkong dapat berlangsung terus tanpa terputus sehingga kebutuhan makanan pokok dapat selalu terpenuhi.

Image

Pergunungan yang mengelilingi kampung Cireundeu. Di kejauhan sebelah kiriadalah Gunung Kunci, agak di bawahnya Pasir Panji, dan yang terdekat di sebelah kanan adalah Gunung Gajahlangu dengan hutan larangannya.

Lahan singkong dengan mudah ditemui di kawasan pinggiran kampung hingga ke lereng2 gunung yang mengelilingi, yaitu Gunung Cimenteng, Gunung Kunci, dan Gunung Gajahlangu. Yang terakhir ini sekaligus berfungsi sebagai hutan larangan bagi adat Kampung Cireundeu. Tidak sembarang orang atau sembarang waktu bisa memasuki hutan ini. Hutan kecil ini menjadi penyangga utama lingkungan hidup warga Kampung Cireundeu. Kebutuhan air utama di kampung ini juga didapatkan dari mata air di lereng gunung Gajahlangu selain dari beberapa mata air lain di gunung sekitar kampung.

Kembali ke Haji Ali, beliau sempat bertemu dengan pendiri ajaran Sunda Wiwitan (dulu sering disebut Agama Jawa-Sunda), Haji Madrais, di Cigugur, Kuningan. Ajaran Madrais melalui Haji Ali ini yang masih dipegang teguh oleh warga kampung Cireundeu sampai sekarang.

Minimal dalam satu kunjungan singkat kemarin, sudah ada beberapa hal unik yang kami dapatkan dari Kampung Adat Cireundeu. Adat-istiadat, makanan pokok, dan sistem kepercayaan. Tapi buat sementara, ini dulu yang saya catatkan.