Irfan Pradana

- Pieter Eeftinck Schattenkerk
- (Sumber: Arsip Henk de Bie)
Setidaknya dua kali saya menemukan nama ini. Pertama kali yakni saat membaca buku “Braga: Jantung Parijs Van Java”, karya Ridwan Hutagalung dan Taufany Nugraha. Sementara yang kedua, saat membaca buku “Semerbak Bunga di Bandung Raya”, karya kuncen Bandung, Haryoto Kunto.
Pada kedua buku tersebut, nama Schattenkerk sama-sama ditempatkan dalam bab penceritaan seputar toko De Vries. Dituliskan bahwa Schattenkerk adalah dokter satu-satunya di kota Bandung yang menjadi pelanggan toko De Vries. Ia kerap membeli obat-obatan dan beragam alat kesehatan di sana.
Sebutan sebagai dokter satu-satunya yang disematkan kepadanya memantik rasa penasaran akan sosok ini. Sebab buku Braga maupun Semerbak hanya menuliskan nama “Schattenkerk” saja, tanpa menyebutkan nama depan, apalagi kisahnya lebih lanjut. Setelah berkasak-kusuk mencari informasi melalui internet, saya menemukan bahwa nama lengkap dokter ini adalah Pieter Eeftinck Schattenkerk.
Kisah Hidup Pieter Eeftinck Schattenkerk
Pieter Eeftinck Schattenkerk (Pieter) lahir pada tahun 1839 di kota Alphen aan den Rijn dari pasangan Jean Charles Philippe Eeftinck Schattenkerk (JCP) dan Pieternella Kwakernaak. Di kota Alphen aan den Rijn keluarga ini termasuk ke dalam jajaran keluarga elit. Sang Ayah juga merupakan seorang dokter terkemuka di kotanya. Bahkan JCP pernah menjabat sebagai Dewan Kota. Berkarir di dunia medis seolah sudah menjadi jalan nasib keluarga ini, sebab sang kakak dari Pieter yang bernama Philip, lalu pamannya, Charles (adik JCP), juga berprofesi sebagai dokter.
Pieter menempuh pendidikan medis di Klinische School, sejenis pendidikan tingkat vokasi (HBO) dan memiliki status yang lebih rendah dibandingkan Universitas Leiden di Rotterdam. Ia kemudian melanjutkan pendidikannya di Universitas Leiden pada tahun 1862. Pada tahun itu juga ia berhasil mendapatkan izin untuk berpraktik sebagai ahli bedah dari Komisi Medis Provinsi di Den Haag.
Menuju Hindia Belanda
Dalam koran Rotterdamsche Courant bertanggal 1 Januari 1864 dituliskan bahwa Pieter berangkat menuju Jawa dengan kapal Hendrikus Gerardus. Awalnya, tujuan Pieter bukanlah langsung untuk menetap di Hindia Belanda, melainkan ke Dejima, Jepang. Namun pada bulan November 1864 ia harus kembali ke Belanda karena belum memenuhi syarat administratif untuk menjadi dokter di Hindia Belanda.

Rotterdamsche Courant 1 Januari 1864
Ia kemudian pulang untuk melengkapi kualifikasinya sebagai dokter kandungan dan melakukan kerja magang sebagai dokter di Krimpen aan de Ijssel, sebelum memutuskan untuk kembali ke Hindia Belanda pada akhir 1867.
Tiba di Hindia Belanda, Pieter diberikan izin guna menjalankan praktik kedokteran, bedah, dan kebidanan di wilayah Bojonegoro yang saat itu menjadi bagian dari Karesidenan Rembang. Di sana ia diberi tugas untuk menjalankan layanan medis sipil dan pengawasan vaksin.
Pada 3 Desember 1867, ia menikah dengan Gualthera Mathilde Constancia Boers, putri dari mantan Residen Rembang, J.W. Boers dan A.E.J. Mooyaart. Kemudian pada bulan April 1868, ia meninggalkan Rembang dan berpindah penugasan ke wilayah perkebunan Pamanoekan & Tjiasemlanden, yang saat itu termasuk dalam Karesidenan Karawang. Penempatan ini membawanya ke lingkungan perkebunan kolonial yang letaknya terpencil dan jauh dari pusat kota, dengan kondisi kesehatan yang menantang baik bagi penduduk lokal maupun bagi diri dan keluarganya sendiri.
Di tengah tugas barunya itu, keluarga ini mengalami rentetan kemalangan. Misalnya pada bulan Desember 1869, di Pamanoekan, lahirlah putra pertama mereka, Jean Charles Phillippe Schattenkerk (1869–1870), yang sayangnya meninggal dunia segera setelah terlahir. Tragedi serupa kembali terjadi pada tahun berikutnya. Pada tahun 1870, ketika mereka berada di pedalaman Jawa Barat, tepatnya di Cianjur, seorang anak kembali dilahirkan tanpa sempat bertahan hidup. Geneanet mencatat anak ini dengan nama/keterangan “Kind”
Masa-masa awal kehidupan keluarga ini di Hindia Belanda memang diwarnai oleh kehilangan beruntun. Hal ini merupakan cerminan tingginya risiko kesehatan dan keterbatasan medis di wilayah perkebunan pada masa itu. Namun kemudian, beberapa anak mereka berhasil bertahan hidup, meskipun tidak semuanya mencapai usia dewasa. Putra berikutnya, Jean George Philippe George Schattenkerk (1871–1878), lahir kemungkinan masih dalam masa penugasan di Jawa Barat, tetapi meninggal dunia pada usia sekitar tujuh tahun, yang kembali menjadi pukulan bagi keluarga tersebut.

Pasangan Pieter Eeftinck Schattenkerk dan Gualthera Mathilde Constancia Boers bersama Jean George Philippe (Sumber: Arsip Henk de Bie)
Bertugas Di Bandung
Pada tahun 1871 Pieter pindah tugas ke Bandung, ia menerima tanggung jawab besar sebagai dokter pelayanan sipil dan pengawas vaksinasi di (wilayah administratif) Bandung, Tjiandjoer (Cianjur), dan Limbangan (Keresidenan Priangan). Baru pada masa inilah, Pieter dan Gualthera mulai memiliki keturunan yang mencapai usia dewasa.
Robbert Eeftinck Schattenkerk (1874–1939) lahir dan kelak menjadi salah satu juragan perkebunan di Pasuruan dan Malang. Diikuti oleh saudara-saudaranya, yaitu Anna Petronella Mathilda Schattenkerk (1876–1930) dan Kitty (Ketthij) Amelia Wendelina Mea Schattenkerk (1877–1966), yang keduanya berhasil melewati masa kanak-kanak dan hidup hingga usia dewasa. Kehadiran anak-anak ini menandai stabilitas yang lebih layak dalam kehidupan keluarga Pieter, setelah periode awal yang penuh dengan kehilangan di tengah kerasnya kehidupan kolonial di pedalaman Jawa.
Dicopot dari Jabatan
Masa-masa indah dan stabil itu dirasakan Pieter dalam waktu yang sangat singkat, sebab pada akhir tahun 1876, mendadak ia dicopot dari jabatannya. Pencopotan dilakukan secara tiba-tiba yang kemudian menimbulkan banyak spekulasi.
Pertama, ia diduga melakukan malpraktek. Dugaan ini muncul seiring gangguan depresi yang dialaminya. Ia disebut mengalami fase binge drinking, yaitu kebiasaan minum alkohol berlebihan saat depresinya kambuh. Namun di luar itu, ia dikenal sebagai sosok yang sadar sepenuhnya dan kompeten dalam pekerjaan. Ia tidak akan melayani pasien saat depresinya sedang kambuh. Maka argumen bahwa ia melakukan malpraktik patut dipertanyakan. Kenapa?
Kecurigaan ini semakin kuat karena tidak adanya bukti pendukung yang kuat. Jika memang terjadi kesalahan medis yang fatal atau tindakan tercela selama bertugas, seharusnya terdapat catatan medis resmi, laporan evaluasi dari rekan sejawat yang lebih senior, atau setidaknya data statistik kematian pasien yang menunjukkan penurunan kinerja. Namun, semua bukti tersebut tidak pernah ditemukan.
Sebaliknya, pemecatan yang dilakukan secara mendadak itu juga memunculkan kecurigaan adanya intrik politik. Diduga ada pihak tertentu yang sengaja ingin menjatuhkannya, entah karena ada dokter lain yang mengincar posisinya, atau akibat adanya perselisihan pribadi antara Pieter dengan Residen Preanger saat itu, Pahud de Mortanges. Semua spekulasi alasan pencopotan itu tidak pernah terdokumentasikan.
Membuka Praktik Pribadi
Usai pencopotan, Pieter tetap berada di Bandung dan diizinkan membuka praktek pribadi. Namun sayangnya rumor yang kadung menyebar menggerus reputasinya sebagai dokter. Sehingga ia hanya sebentar saja membuka praktek di Bandung dan memilih hengkang ke Padang untuk mencari peruntungan baru. Kabar kepergiannya ke Padang tercatat dalam surat kabar Java Bode, 14 Mei 1877.

Lelang Perabotan Pieter (Java-Bode, 14 Mei 1877)
Selama di Padang ia berpraktik di rumah seorang bernama Tuan Hennebert yang berada di daerah bernama Goerong. Dokter Pieter membuka layanan setiap hari pada pukul 7 hingga 9 pagi. Informasi ini didapat dari Sumatra-courant edisi 9 Juni 1877.

(Sumatra-courant 9 Juni 1877)
Sayangnya karir Dokter Pieter di Padang pun hanya bertahan 2 bulan saja. Pencopotannya di Bandung berdampak panjang hingga ia kembali harus menghentikan prakteknya di Padang. Akhirnya ia memutuskan kembali ke Jawa, kali ini ke Batavia. Koran Bataviaasch handelsblad edisi 30 Juli 1877 memberitakan daftar penumpang kapal dari Padang tujuan Batavia. Nama Dokter Pieter tertulis menjadi salah satu penumpangnya.
Peruntungan Terakhir
Pencopotan jabatan Dokter Pieter dari jabatannya sebagai pengawas medis di Bandung nampaknya benar-benar mempengaruhi karirnya sebagai petugas medis. Percobaannya membuka praktek sendiri di Bandung maupun Padang menemui kegagalan. Batavia sepertinya akan menjadi peruntungan terakhir untuk mengembalikan karirnya sebagai dokter.

(Java Bode, 6 Agustus 1877)

(Bataviaasch handelsblad, 2 November 1877)
Di Batavia, Dokter Pieter kembali membuka praktek pribadi. Lokasi tempat prakteknya yang pertama berada Gang-Tenga, hoek Passer Baroe. Selang 3 bulan kemudian ia pindah ke Gang Mendjangan, Passer Senin.
Di tengah usaha untuk mengembalikan pamornya sebagai dokter, Pieter kembali harus kehilangan anaknya. Jean George Philippe George Schattenkerk wafat pada 28 Februari 1878 usai jatuh sakit. Di tengah kemalangan ini pun belum ada tanda-tanda kebangkitan karir Pieter.
Berbagai kesulitan yang dihadapi akhirnya memaksa istri Pieter, Gualthera, berangkat ke Belanda, meminta pertolongan pada ayah mertuanya. Kurang lebih satu tahun, Gualthera bersama Robert, Anna, dan Mea menetap di rumah Jean Charles. Kelak setelah satu tahun, barulah mereka kembali lagi ke Jawa.
Puncak Kemalangan
Kemalangan demi kemalangan seolah tak mau pergi dari Pieter. Puncak dari semua kesialan yang menimpanya tiba pada pertengahan 1881. Koran De locomotief edisi 22 Juni 1881 mengabarkan berita pencabutan sertifikat praktek kedokteran milik Pieter. Belum cukup sampai di situ, pada Desember 1881 hubungan pernikahannya dengan Gualthera resmi berakhir (Geneanet).
Menurut Henk de Bie dalam blognya, Schattenkerk bermaksud pulang ke Belanda pada akhir September 1882, namun hal itu tidak pernah terjadi. Justru sebulan kemudian, pada 8 Oktober 1882, Pieter keburu mangkat di Buitenzorg pada usia cukup muda, 42 tahun.
Rumah dan Tempat Praktek di Bandung
Kita sudah mengetahui bagaimana perjalanan hidup Dokter Pieter Eeftinck Schattenkerk, mulai dari masa kecil hingga pasang surut karirnya sebagai dokter di Hindia Belanda. Namun jika kembali merujuk klaim Haryoto Kunto lewat “Semerbak Bunga di Bandung Raya” yang menyebut Pieter sebagai dokter satu-satunya di Bandung, tentu akan sangat menarik jika kita dapat menemukan di mana tempatnya tinggal dan membuka praktek.
Singkatnya masa-masa ia membuka praktek pribadi di Bandung, menyulitkan saya dalam menemukan di mana ia tinggal maupun berpraktek. Sebab tidak ada satu pun baris iklan yang menyebutkan lokasi di Bandung. Pieter nyatanya baru mengiklankan rumah prakteknya ketika sudah berada di Padang dan Batavia.

(Java-Bode, 5 Agustus 1882)
Informasi seputar tempatnya tinggal barulah didapatkan dalam halaman iklan Java Bode edisi 5 Agustus 1882. Iklan itu mengabarkan tentang akan diadakannya lelang publik pada hari Kamis, 17 agustus 1882, pukul 10 pagi, di aula dan di hadapan kantor lelang (vendukantoor) di Bandung. Aset yang akan dilelang berupa sebidang tanah dengan dua rumah tinggal beserta bangunan tambahan non permanen yang semuanya beratap genteng.
Lokasinya terletak di ibukota Bandung, di jalan besar sepanjang kampung Kadjaksaan Girang, berhadapan dengan sekolah guru (Kweekschool), dengan nomor surat pajak (verpondingsnummer) 15. Lelang ini dilakukan demi kepentingan pemegang hipotik dan menjadi beban pemiliknya, yaitu P. Eeftinck Schattenkerk.

(Peta Bandoeng en Omstreken, 1910. KITLV)
Jika melihat peta Bandung tahun 1910 di atas, kampung Kadjaksaan Girang bersimpangan dengan Boengsoeweg (sekarang Jalan Veteran) dan Jalan Tamblong. Jadi di manakah letak persis rumahnya? Aleutians ada yang tahu? ***