Gunung Lumbung: Benteng Terakhir Dipati Ukur

Menuju puncak Gunung Lumbung. Foto: Reza Khoerul Iman.

Ditulis oleh: Aditya Wijaya (@adityanism)

Selang seminggu dari Momotoran Tendjonagara, akhirnya saya dan teman-teman dapat kesempatan mengunjungi Gunung Lumbung. Gunung yang menjadi tempat pertahanan terakhir Dipati Ukur, bertahan dari serangan Mataram.

Hari Minggu, 6 Februari 2021. Matahari seperti enggan muncul hari itu, hanya sekumpulan awan hitam yang berkumpul di atas langit Cililin. Sepanjang perjalanan saya berharap cemas, bisa ga yah naik ke Lumbung, “bahaya nih kalau hujan gede.” Benar saja, hujan turun di Ciminyak, untungnya cuma sebentar saja hehe.

Berbekal informasi dari catatan perjalanan Aleut beberapa tahun lalu ketika berkunjung ke Gunung Lumbung, kami parkir di warung yang sama ketika Aleut berkunjung ke sini. Ketika kami berbincang dengan warga perihal jalan menuju ke puncak Lumbung untuk melihat arca, mereka tampaknya tidak familiar dengan nama Lumbung. Mereka lebih familiar menyebut puncak Lumbung dengan sebutan tempat arca. Menurut warga sekitar, setiap malam Senin sering ada yang menginap di puncak Lumbung untuk berdoa.

Jalan yang direkomendasikan menuju puncak Lumbung lewat samping garasi. Foto: Ariyono Wahyu Widjajadi

Ada beberapa jalan untuk menuju tempat arca atau puncak Gunung Lumbung. Jalan paling yang mudah dan direkomendasikan itu melalui samping garasi warga, garasi ini berfungsi untuk menyimpan alat dan hasil kebun.

Saat itu kami tidak melewati jalan ini. Kami melewati jalan yang berada di depan SD Lembang. Kata warga sih lebih enak lewat sini, jalannya bagus cuman jauh. Dan ternyata, wah parah sih jalannya haha.

Jalan yang kami lalui awalnya sih bagus sudah diaspal. Tapi lama-lama kok masuk hutan ya? Saat itu yang jadi petunjuk kami hanya arah puncak sama dengan ke arah ketinggian, tidak bisa tanya warga, karena tidak ada yang lewat.

Oh iya kalau masuk hutan seperti ini harus siap-siap bawa lotion anti nyamuk. Perlahan tapi pasti kami melewati hutan Gunung Lumbung. Jalan becek dan berlumpur karena hujan menemani perjalanan ini. Tak lama berjalan, kok terus semakin nanjak ya? Dengkul ketemu dengkul ini mah nanjak banget.

Sudah satu jam berjalan, kami baru bertemu orang, A Uyung. Beliau seorang pekerja kebun yang hendak pulang ke rumahnya. Beliau menunjuk ke arah gunung yang berada di belakang kami. Gunung Gedogan namanya dan rumah beliau berada di kaki gunung tersebut. “Walah, jauh pisan itu mah” ucap saya dalam hati. Selain Gunung Gedogan ada juga Gunung Sintalangu yang bentuknya kerucut seperti piramida.

Bertemu A Uyung yang tinggal di Kampung Gedogan. Foto: Inas QA

Dari A Uyung ini kami tahu bahwa sebenarnya jalan yang bagus dan enak buat ke puncak Gunung Lumbung itu bukan lewat sini, tapi lewat jalan garasi tadi. Masyarakat sekitar pernah mencoba mengembangkan jalan menuju puncak, selama tiga hari sekitar 300 orang membersihkan jalan menuju puncak.

Lokasi lembah, terlihat sawah dari kejauhan serta gambaran pot dan bejana. Foto: Inas QA dan Muller 1855

Tak lama berselang kami melihat lembah yang cukup dalam, di lembah ini beberapa petaknya dijadikan sawah. Mungkin tempat ini yang digambarkan oleh Van Oort dan Muller dalam buku Verhandelingen van het Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen yang terbit tahun 1836. Mereka bercerita setelah dari puncak Lumbung pergi ke arah timur dan tiba di sebuah sawah kecil yang mengering. Di sini terdapat beberapa pecahan panci, mangkuk porselen cina, pot, dan bejana pecah yang berserakan. Dulu, seorang wanita tua yang suaminya baru saja meninggal dan sekarang menghuni puncak gunung ini, memberi Van Oort dan Muller koin tembaga serta toples batu bundar kecil yang ditemukannya saat bekerja di sawahnya.

Dari lembah ini jalur jalan menuju puncak tidak cukup jelas, tidak ada informasi apapun yang bisa membantu kami menuju puncak. Berbekal petunjuk bahwa puncak itu menuju ke arah ketinggian, ya sudah deh cari saja jalur yang bisa ditapaki untuk menuju ketinggian. Akhirnya kami tiba juga di puncak Gunung Lumbung. Total perjalanan yang harus kami tempuh dari bawah itu sekitar dua jam jalan santai.

Kondisi kebun di sekitar puncak Lumbung, tampak tidak terlihat adanya teras persegi. Foto: Reza Khoerul Iman

Menurut catatan Van Oort dan Muller sesampainya di puncak Lumbung mereka menemui beberapa teras persegi dan gundukan yang diduga merupakan sisa-sisa dari tempat perlindungan terakhir Dipati Ukur. Namun sayang ketika kami tiba ternyata tidak menemukan apa-apa yang disebutkan oleh Van Oort dan Muller. Hanya ada beberapa petak kebun yang tampaknya tidak terawat dan sebuah saung semi permanen yang didirikan di dekat arca dan lingga.

Oya, Van Oort dan Muller juga bercerita bahwa arca dan lingga ini tidak mungkin datang dari zaman Dipati Ukur, tapi dari masa yang lebih tua, ketika para Brahmana menyembunyikan diri di Gunung Lumbung.

Tampak terlihat arca dan lingga di puncak Gunung Lumbung. Foto: Reza Khoreul Iman

Menurut Over Eenige Oudheden Van Java En Sumatra yang ditulis Muller tahun 1855, arca ini sudah tidak dalam keadaan baik. Yang masih bisa dikenali itu ada bentuk yang seperti burung merak, ini mengingatkan kepada Saraswati istri Brahma atau Kartikeya putra Siwa dewa perang. Ada pula sebuah mata di tengah dahi yang kemudian bisa menjadi tanda dari pemujaan Shaivism. Entahlah, tapi rasanya semua yang diceritakan itu tidak kami lihat.

Dalam buku Ceritera Dipati Ukur karya E. Suhardi Ekadjati ada disebut bahwa sebelum ke Gunung Lumbung, Dipati Ukur dan para pengikutnya sempat bersembunyi di Gunung Pongporang lebih dahulu. Ketika Ki Bahureksa bersama pasukan Mataram beranjak menyerang Pongporang, barulah Dipati Ukur mundur ke Gunung Lumbung di Batulayang.

Sungguh perjalanan yang luar biasa bisa berkunjung dan melihat langsung Gunung Lumbung. Luar biasa pula belakangan ini kami dapat sedikit mengenal jejak-jejak Dipati Ukur dan mengetahui lewat catatan-catatan tua bahwa di tanah Priangan ini mungkin masih banyak sisa jejak-jejak peradaban Hindu. Ya udah deh, ada umur bisa berkunjung ke sini lagi dan menelusuri jejak peradaban lama lebih banyak lagi. Dadah.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s