Legenda Lagu Anak Sunda Mengkritik Kekuasaan

Oleh: Irfan Teguh Pribadi (@irfanteguh)

Lagu yang memuat kritik sosial yang, salah satunya, menyindir kekuasaan bukan baru di Indonesia. Jauh sebelum lagu-lagu kritik Iwan Fals menjadi populer, di tatar Sunda telah hadir lagu “Ayang-ayang Gung”. Lagu ini, meski menjadi pengiring permainan anak-anak dengan cara didendangkan bersama-sama dan dibawakan secara ceria, namun sejatinya adalah sindiran keras terhadap pejabat yang haus kuasa sehingga menjilat kaum kolonial.

Menurut catatan Mikihiro Moriyama dalam Semangat Baru; Kolonialisme, Budaya Cetak, dan Kesastraan Sunda Abad ke-19, yang mula-mula memperkenalkan lagu ini adalah  R. Poeradiredja (ketua editor untuk bahasa Sunda pada kantor Volkslectuur atau Balai Pustaka) dan M. Soerijadiradja (guru bahasa Sunda dan Melayu di Opleidingsschool atau Sekolah Pelatihan di Serang) dalam makalah yang berjudul “Bijdrage tot de kennis der Soendasche taal” yang dipresentasikan pada Kongres Pertama Bahasa, Geografi, dan Etnografi Jawa pada 1919. Berikut lirik lengkapnya:

“Ajang-ajang agoeng—goeng / goeng goengna ramé—mé / ménak ki Mas Tanoe—noe / noe djadi Wadana—na / naha mana kitoe—toe / toekang olo-olo—lo / loba anoe giroek—roek / roeket ka koempeni—ni / nijat djadi pangkat—kat / katon kagoréngan—ngan / ngantos Kangdjeng Dalem—lem / lempa-lempi-lempong / ngadoe pipi djeung noe ompong”

“Dua orang berjalan bahu-membahu / sebuah gong berbunyi keras / seorang bangsawan, Tuan Tanu / dia menjadi Wedana / mengapa dia begitu? / dia adalah seorang penyanjung / banyak orang tidak suka kepadanya / dia dekat dengan pemerintah kolonial / tujuannya ingin menjadi pejabat tinggi / kejahatannya terbongkar / dia menanti Bupati / lempa-lempi-lempong / saling mengadu pipi dengan orang ompong”

Siapa sebenarnya Tuan Tanu dalam lirik tersebut? Dalam Sejarah Kota-kota Lama di Jawa Barat karya Nina Lubis, dkk., dijelaskan bahwa Tuan Tanu atau Letnan Tanujiwa adalah orang yang menyertai Scipio (seorang peneliti Belanda) melakukan ekspedisi ke daerah hulu Cisadane sekira tahun 1680-an. Ia yang waktu itu berkedudukan di Kampung Baru Cipinang (Jatinegara), ketika menemani Scipio, memimpin pasukan pekerja (werktroep) yang dipencar menjadi beberapa kelompok kecil untuk membuka perladangan.

Tahun 1687, Tanujiwa mendapat perintah dari Gubernur Jenderal VOC, Joanes Camphuijs, untuk membuka hutan bekas Kerajaan Pajajaran. Ia akhirnya berhasil mendirikan sebuah perkampungan di Parung Angsana yang kemudian diberi nama Kampung Baru (sekarang Tanah Baru). Kampung inilah yang menjadi cikal bakal tempat kelahiran Kabupaten Bogor. Dari Kampung Baru Cipinang, Tanujiwa kemudian pindah ke tempat ini.

Dari perannya tersebut, terlihat bagaimana dekatnya hubungan Tanujiwa dengan kekuasaan VOC. Dalam versi lain yang kerap dinyanyikan anak-anak, lirik “Ayang-ayang Gung” dipungkas oleh kalimat “Jalan ka Batawi ngemplong” (Jalan Ke Batavia terbuka lebar). Hal ini menyiratkan bahwa jalan menuju kekuasaan (pusat VOC di Batavia) menjadi mudah.

“’Ayang-ayang Gung’ adalah nyanyian yang bersumber dari khasanah lagu permainan anak. Teks yang asli sebetulnya merupakan pengkisahan secara kritis terhadap tokoh feodal yang bernama Ki Mas Tanu, seorang antek Kolonial Belanda. Dia (Ki Mas Tanu) menjadi prototipe kesewenang-wenangan kekuasaan, dan menjadi sindiran juga guyonan di kalangan orang-orang Sunda, termasuk anak-anak,” tulis Budi Susanto, S.J. dalam Politik & Postkolonialitas di Indonesia.

Budi Santoso menambahkan bahwa “Ayang-ayang Gung” adalah kritik kesadaran kelas yang terobsesi pikiran kolonial, pikiran feodal,  atau warisan pendahulu yang menganggap bahwa rakyat adalah presentasi hierarki dunia bawah dan pelengkap dunia atas. Rakyat adalah abdi, pelayan, dan berposisi bukan pada level elite politik penguasa atas melainkan sebaliknya.

Narasi feodal dan kedekatan tokoh pribumi dengan kaum kolonial dalam “Ayang-ayang Gung”, menurut M.A. Salmoen dalam buku Raden Hadji Muhammad Musa adalah sindiran untuk Hofd Penghulu Limbangan, yaitu Muhammad Musa. Tokoh ini dikenal dekat dengan lingkaran kekuasaan kolonial, terutama persahabatannya yang melegenda dengan Karel Frederik Holle: seorang pengusaha perkebunan, pendorong budaya cetak dalam literasi Sunda, yang sekaligus penasehat kehormatan pemerintah Hindia Belanda untuk urusan pribumi.

“Musa dianggap oportunis dan ambisius; fakta menunjukkan bahwa ia begitu sering tunduk kepada Belanda dan itu dilihat sebagai suatu aib. Beredar rumor bahwa pemerintah kolonial telah memberi ganjaran atas pelayanannya yang setia dalam banyak hal, antara lain, sampai tujuh keturunannya kemudian menjadi bupati,” tulis M.A. Salmoen.

Salah satu keturunan Muhammad Musa, yaitu R.A.A. Musa Suriakartalegawa yang menjadi pemimpin Partai Rakyat Pasundan kemudian terkenal karena pernah memproklamasikan Negara Pasundan, juga dikenal dekat pemerintah kolonial. “Selama perang kemerdekaan, ia didukung sepenuhnya oleh pemerintah Belanda,” tambahnya.

Pendapat M.A. Salmoen ini sejalan dengan temuan Mikihiro Moriyama ketika melakukan wawancara dengan salah satu narasumber untuk keperluan penyusunan bukunya. Wawancara yang dilakukan pada 1994 tersebut menyebutkan bahwa “Ayang-ayang Gung” sebenarnya merupakan hasil gubahan Muhammad Musa sendiri. Hofd Penghulu Limbangan tersebut merasa khawatir anaknya akan dikalahkan oleh salah satu lawan politiknya, yaitu seorang lelaki yang bernama Tanu. Ia kemudian menggubah “Ayang-Ayang Gung” sebagai senjata untuk menyerang Tanu. Namun senjata tersebut, terutama menjelang Perang Dunia II pecah, malah berbalik kepada dirinya.

“Kemampuan Tanu dipertanyakan, kelicikannya diejek, tetapi tak pernah terlintas dalam pikirannya Musa bahwa lagu yang dikarangnya akan dikaitkan dengan dirinya sendiri: rupanya senjata makan tuan,” tulis Moriyama.

Di luar beberapa versi yang mengidentifikasi tokoh Tanu, dalam keseharian di tatar Sunda, “Ayang-ayang Gung” cukup populer dan di beberapa daerah masih melekat sampai sekarang. Tahun 1984, ketika Moriyama tinggal di desa Cikalong Wetan di dekat Cianjur, ia mendengar “Ayang-ayang Gung” dinyanyikan anak-anak. Sementara di kampung halaman saya di pesisir selatan Sukabumi, sampai media 1990-an awal, “Ayang-ayang Gung” juga masih sering terdengar didendangkan anak-anak ketika bermain.

Anak-anak ini umumnya bernyanyi dengan riang dan bertepuk tangan dalam lingkaran sambil meneriakkan kata-kata yang berima. Kisah tentang wedana licik dinyanyikan di tengah permainan yang gembira.

“Kebanyakan orang tidak lagi tahu nama Musa, tetapi segelintir orang tua Sunda bercerita kepada penulis bahwa sebetulnya lagu itu tentang Musa sendiri, yang menjadi teman Belanda, seorang lelaki pembohong dan licik,” tulis Moriyama. (tirto.id – irf/zen)

***

Dimuat pertama kali di Tirto.id pada 9 April 2017

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s