Sungai, Sneakers, dan Jalur Menanjak Itu: Perjuangan Mencapai (dan Pulang Dari) Sanghyang Heulut

Oleh: Chika Aldila (@chikaldila)

Sepatu sneakers sudah menjadi bagian dari hidupku. Dari jaman masih duduk di bangku SD sampai dengan lulus kuliah, sepatu sneakers tidak pernah hilang dari rak sepatu (ya of course beli baru setiap 1-2 tahun sekali). Pergi ke sekolah, kampus, mall, tempat-tempat wisata lainnya, sepasang sneakers selalu menemani; well, walaupun kehadirannya seringkali tergantikan oleh flat shoes dan heels di beberapa acara tertentu. Buatku, memakai sneakers bahkan lebih nyaman daripada memakai running shoes. Karenanya, sneakers selalu jadi pilihanku ketika melakukan perjalanan jauh-dekat, basah-kering, menanjak-menurun.

Di hari Minggu 14 Agustus 2016 silam, aku dan rekan-rekan dari Komunitas Aleut melakukan perjalanan menuju Sanghyang Heuleut yang berada di daerah PLTA Saguling, Rajamandala, Kab. Bandung Barat. Di rumah aku sempat terdiam barang 10 menitan, memikirkan alas kaki apa yang harus kupakai hari itu. Aku sama sekali tidak tahu kondisi jalanan seperti apa yang akan aku hadapi. Hmm.. sandal gunung atau sneakers? Tapi nanti kaki gosong karena momotoran, sneakers aja deh. Ya, hanya karena alasan takut kaki gosong kepanasan, aku pilih sneakers. Pathetic.

Perjalanan hari itu lumayan panas. Dalam hati aku bersyukur karena memakai sneakers. Alhamdulillah, at least kaki gak gosong, pikirku sambil memandang lokasi pertama perjalanan kami, Sanghyang Tikoro. Yap, untuk mencapai Sanghyang Heuleut, ada dua lokasi shanghyang-shanghyang yang kami lewati. Sanghyang Tikoro ini, shanghyang pertama, merupakan sebuah gua yang di dalamnya mengalir sungai menuju bawah tanah. Sanghyang Tikoro seringkali dikaitkan dengan legenda Danau Bandung Purba. Terlepas dari benar atau tidaknya perihal tersebut, Sanghyang Tikoro layak untuk dikunjungi. Coba deh ke sana dan perhatikan mulut gua tersebut. Seperti mulut orang yang menganga lebar dengan aliran sungai yang seperti air minum, masuk ke tenggorokan dan pergi entah ke mana.

Puas mendengarkan pemaparan tentang Sanghyang Tikoro dari Pak Abang, aku dan teman-teman meneruskan perjalanan ke Sanghyang Heuleut. Setelah sebelumnya ngobrol-ngobrol dengan para pedagang sekitar, muncullah keyakinan bahwa lokasi tujuan dapat ditempuh kurang lebih 1,5 jam saja. Terlena dengan jalanan aspal yang membentang di depan mata, aku kira jalanan menuju Sanghyang Heuleut memang akan selalu semulus itu. Kan jadi ingin ketawa ya…

Memasuki kawasan belakang pipa besar PLTA Saguling, kami mulai berjalan di pinggiran melawan arus sungai. Jalanan tentu saja tidak beraspal dan semulus tadi. Tanah, bebatuan, dan rumput menjadi pemanis wajib jalanan yang kami lewati. Wajar tentunya, tapi karena semalam hujan, ada beberapa titik yang licin dan tergenang air. Cukup untuk membuatku loncat-loncat kecil demi menghindari sepatu basah atau kotor kena lumpur. Nah, setelah kurang lebih berjalan sejauh 1KM di tengah udara panas ngaheab, kami bertemu dengan Sanghyang Poek, sanghyang yang kedua.

Sanghyang Poek merupakan sebuah gua purbakala yang terbentuk di kawasan batu gamping. Bentuknya landscape miring-miring gimana gitu, jadi ketika kami masuk ke dalamnya, seringkali kami harus berjalan sambil menunduk. Di dalamnya, terdapat stalakmit dan stalaktit yang buricak burinong kayak berlian… Berkelap-kelip indah, apalagi ketika terkena sinar lampu/senter. Gua ini gelap, banget, dan licin, banget. Terhitung tiga empat kali aku tergelincir ketika berjalan di dalam gua. Ya tas berat, ya harus pegang senter, ya sneakers licin… Mulai timbul penyesalan mengapa tadi pagi tidak pada sandal gunung saja… Ah, tapi banyak juga kok yang tergelincir. Berarti bukan masalah sepatunya, emang bebatuannya saja yang licin.

Di ujung gua, cahaya matahari menerobos, menyesuaikan mata dengan pemandangan sungai dan bebatuan yang menakjubkan. Yah, sayang sekali kemarin malam hujan, jadi air tidak begitu jernih. Tapi tetap saja, buatku pemandangan seperti ini baru bisa kunikmati setelah 22 tahun lamanya hidup di dunia. Tak lama menikmati pemandangan aliran sungai, beberapa orang di depan memanggil untuk turun ke bawah, ke sungai. Yap, ke sungai. Ternyata, untuk mencapai Sanghyang Heuleut, kami harus melewati sungai ini.

Loncat sana sini, menghindari air sana sini, menapaki batu sana sini, semuanya aku lakukan dengan penuh debaran. Bebatuan licin karena semalam hujan. Aliran air pun terlihat lebih deras dari biasanya. Aku takut tergelincir, takut jatuh. Kalau nanti jatuh, terus basah, terus sakit, terus benjol, gimana? Kalau sneakersku basah, gimana? Aku tidak membawa sandal, karena itu dag-dig-dug rasanya sepanjang perjalanan. Tapi memang dasar namanya Chika, sehati-hati apapun, pasti jatuh juga. Bukan rasa sakit atau malu yang aku rasakan; lucu. Saking lucunya, saat terbangun dari jatuh, aku dan Akay malah tertawa keras. Duh, memang dasar olegun.

Tenang, aku tidak akan menyalahkan siapapun untuk rute perjalanan luar biasa menuju Sanghyang Heuleut ini. Seharusnya, berdasarkan pengalaman miris sebelumnya, aku harus siap sedia memakai sandal gunung di setiap perjalanan. Gak usahlah sok tampil kece dengan sneakers. Toh ujung-ujungnya berlumpur, ujung-ujungnya basah, ujung-ujungnya pulang dimarahin mamah. So, untuk para pembaca yang mau mencapai Sanghyang Heuleut dari Sanghyang Poek, gunakanlah alas kaki terbuka dan anti selip, yah. Budayakan sandal gunung!

“Berapa puluh menit lagi kira-kira, Bang?”, tanyaku sambil mencuci sepatu di pinggiran sungai untuk kali pertama seumur hidup, sementara yang lain beristirahat di sebuah warung.

“Yah sekitar 20-30 menit lagi lah dari sini.” Katanya, terdengar menenangkan dan meyakinkan. Ah, tapi memang dasar, seharusnya aku tahu perjalanan tidak akan secepat dan semudah yang dikatakannya. Lebih dari 40 menit kami berjalan, mendaki, melewati hutan, bebatuan, aliran sungai, aliran keringat, aliran keluhan dan sumpah serapah… sampai pada akhirnya kami melihat sebuah tempat yang dipenuhi orang-orang lengkap dengan warung di pinggirannya. Ah, Sanghyang Heuleut!

Jadi, Sanghyang Heuleut ini merupakan sebuah danau kecil indah yang tersembunyi di antara gunung di kawasan PLTA Saguling. Legendanya sih, ini adalah danau tempat dayang sumbi dan bidadari-bidadari lainnya mandi tuh… Karena keindahannya, banyak orang yang sengaja mau capek-capek datang kemari. Itu tuh, traveller gaul di Instagram kan banyak yang posting foto Sanghyang Heuleut yang indah banget itu… Sayangnya, kami datang setelah hujan cukup deras semalam. Karena itu, kami harus cukup puas hanya dengan bermain air dan bercengkrama melepas rasa lelah dari perjalanan tadi.

Karena hari sudah semakin sore, kami memutuskan untuk segera pulang sebelum jalanan menjadi gelap. Berat rasanya untuk meninggalkan Sanghyang Heuleut. Well,berat rasanya menapaki kembali jalanan jahanam itu. Rasanya tenaga terkuras habis hanya dengan memikirkan perjalanan pulang. Untungnya, kami sepakat untuk melalui jalan kedua (tidak melewati sungai) untuk kembali ke parkiran. Jalanannya melintasi gunung, katanya. Aku tersenyum memandang sneakersku, kamu ga akan kotor dan basah lagi, Alhamdulillah. Bye sungai dan bebatuan jahanam~

Kutarik lagi ucapan syukur yang sebelumnya aku ucapkan. Perjalanan pulang kami lebih mengerikan dari perjalanan perginya! Jalanan menanjak yang tak ada habisnya harus kami lewati sepanjang perjalanan. Naik, naik, naik, dan terus naik sampai keringat dan nafas habis. Yang muda dan berbadan kecil terus berada di depan, yang sudah berumur dan jarang olahraga tertinggal jauh di bawah. Rasa lelah perjalanan pergi yang masih tersisa 50% bertambah 150% karena jalan menanjak itu. Mengingatnya saja membuatku lelah dan pegal…

Keluar dari jalur pendakian, kami berada jauh di atas pipa-pipa besar PLTA. Kemiringan 45o yang membuat kepala pusing luar biasa harus aku tahan supaya tidak jatuh terguling. Oleng sedikit, bisa gawat. Kelompokpun terbagi dua, mereka yang pergi melalui jalur ke atas, dan mereka yang ambil cepet menuju jalur bawah… Sebagai anak muda yang tak boleh takut akan hal baru, aku coba jalur bawah. Dah hasilnya?? Mual. Capek, mual, pusing, haus, berkeringat, kaki lecet karena pake sneakers basah tanpa kaos kaki, tas berat… Ya ampun Chika, jadi anak kota gini-gini amat sih.

Well,

Setelah perjalanan parkiran-Sanghyang Heuleut-parkiran yang mengenaskan itu, walaupun sudah 2 minggu lamanya berlalu, masih terbayang setiap langkahnya di pikiran. Licinnya, gelapnya, panasnya, jauhnya, menanjaknya, basahnya, pusingnya, jatuhnya, keindahannya, kesegarannya, segalanya.

Ketika mendengar pengalaman perjalananku, teman-teman sering bertanya, “Kok kamu bisa sih kayak gitu, Chik?? Aku sih ga akan kuat da mau pulang aja.” Yah, akupun tidak tahu. Kadang merasa diri ini bego dan olegun. Tapi tanpa perjalanan seperti itu, hidup sepertinya akan sarat akan kenangan. Tidak akan ada hal yang dikenang dan ditertawakan bersama teman seperjalanan.  Tidak akan ada teguran khawatir dari mamah yang hariwang setiap aku pulang ke rumah dalam keadaan mengenaskan. Tidak akan ada cemberut sambil nyikat sneakers yang semakin hari warnanya semakin luntur karena keseringan dicuci.

Yang jelas, tanpa perjalanan dan kenangan itu, tidak akan ada tulisan dan pengalaman untuk dibagikan. Karena perjalanan-perjalanan si anak kota yang penuh kebodohan itulah, blog ini ada dan terus hidup.

 

Tautan asli: http://anakotastory.blogspot.co.id/2016/08/sungai-sneakers-dan-jalur-menanjak-itu.html

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s