Kicauan di Kampung Blekok

Oleh: Hendi “Akay” Abdurahman (@akayberkoar)

DSC_0035

Burung-burung di Kampung Blekok yang hendak bersiap mencari makan

Kampung Ranca Bayawak atau yang sekarang saya kenal dengan nama Kampung Blekok adalah nama daerah yang berada di Bandung Timur, tepatnya di Kelurahan Cisaranten Kidul, Kecamatan Gedebage. Saya harus sedikit berhati-hati melafalkan nama kampung ini. Jauhi ngomong Kampung Blekok ketika kamu sedang mengunyah sesuatu di mulutmu, kalau kamu masih bandel, bersiaplah kacaletot yang tentunya akan mengubah arti. Hehehe…

Saya berkunjung ke kampung tersebut bersama teman-teman dari Komunitas Aleut. Berangkat dengan 12 motor dari Jl. Solontongan, kami melewati rute Jl. Buah Batu, Soekarno Hatta lalu menuju ke arah Gedebage. Jalanan yang masih terlampau sepi pagi itu membuat kami bisa dengan nyaman mengendarai motor hingga sampai di Kampung Blekok.

Apa yang menarik dari kampung ini? Kamu bisa melihat beberapa jenis burung yang sedikit kurang familiar seperti Burung Blekok, Burung Kuntul Kerbau dan Burung Kuntul Putih. Ujang Safaat, ketua RW 02 di Kampung Ranca Bayawak menuturkan bahwa sekitar tahun 1970-an burung-burung tersebut sudah berada di daerah ini. Dari ketiga burung tersebut, hanya burung Blekok-lah yang keberadaannya sudah hampir punah dibandingkan Burung Kuntul Kerbau dan Burung Kuntul Putih. Beliau memaparkan saat ini yang tersisa hanya sekitar 500 sampai 700 ekor Burung Blekok yang menetap di kampungnya.

Sudah banyak beberapa wisatawan dan juga beberapa peneliti yang datang ke Kampung Blekok ini. Tercatat sudah 86 negara melalui Lions Club yang datang untuk meneliti. Pak Ujang selaku ketua RW menceritakan keprihatinannya terhadap pihak-pihak terkait yang dirasa belum memberikan upaya maksimal terhadap kampungnya. Kampung yang tidak terlalu luas ini rencananya akan dijadikan tempat wisata, namun sampai sekarang belum ada lagi pembicaraan ke arah sana.

DSC_0207

Teman-teman dari Komunitas Aleut ketika berkunjung ke Kampung Blekok

Kampung Blekok hanya memiliki lahan sekitar 3000 meter. Perbatasan Kampung di sebalah kanan dan kiri sudah dikuasai oleh pengembang. Penawaran dari pengembang untuk Kampung Blekok pun sudah banyak, tapi warga menolak. Mereka merasa sudah betah dan tak ingin pindah. Warga terlampau mencintai kampungnya, terbukti dengan kesamaan suara dari warga untuk tidak menjual wilayahnya kepada pengembang.

Saya begitu khidmat mendengarkan penjelasan Pak Ujang sambil sesekali melihat Burung Kuntul Kerbau terbang mengepakkan sayapnya. Kampung Blekok memiliki 46 rumah, 68 KK (Kepala Keluarga) yang jika ditotalkan dengan penduduk yang ngontrak menjadi 83 KK (Kepala keluarga), dan total warga  berjumlah 228 jiwa. Karena kecilnya wilayah, Kampung yang hanya memiliki 3 RT ini relatif bersahabat dengan para tetangganya. Mengakibatkan interaksi sosial antar warga bisa terjalin dengan akrab.

“Burung Blekok, Burung Kuntul Kerbau, dan Burung Kuntul Putih, lebih taat dari PNS. Mereka mencari makan di pagi hari sekitar jam 6 atau jam 7, lalu pulang di sore hari sekitar jam 4 atau jam 5. Ketika pergi mencari makan, mereka pergi ke empat penjuru mata angin, lalu pulang bergerombol.” – Ujang Safaat

Cita-cita kampung ini menurut penuturan Pak Ujang tidak muluk-muluk. Beliau ingin, setiap pengunjung yang datang ke Kampung Blekok ini bisa berbaur bersama warga. Dalam artian, ketika datang wisatawan, warga Kampung Blekok ingin ikut terlibat. Suatu saat, ketika para pengunjung yang ingin menyaksikan kepergian dan kedatangan Burung Blekok, warga dilibatkan dengan meyediakan tempat tinggal (penginapan) untuk yang akan menginap atau menyediakan makanan khas warga Kampung Blekok.

Pais kurusuk, cobek cau manggala, opor jantung, dan bangkerok adalah makanan-makanan khas yang Pak Ujang sebutkan. Nama-nama makanan yang saya pikir sangat aneh, namun di situlah keunikannya: makanan yang tidak akan didapatkan di tempat lain. Seperti yang beliau terangkan mengenai bangkerok, makanan yang terbuat dari sejenis ketan seperti martabak dengan permukaan atas dan bawahnya berwarna kuning. Beliau menambahkan, jarang yang bisa bikin makanan bernama bangkerok tersebut, satu diantaranya yang masih bisa membuatnya adalah ibu dari Pak Ujang.

Bandung yang kita kenal sebagai kota wisata dengan beragam jenis objek wisatanya tentu saja mengundang banyak orang luar yang ingin datang untuk menjamah keindahan kota ini. Kelak, Kampung Blekok ini salah satunya. Pak Ujang mempunyai keinginan, ketika banyaknya wisatawan berkunjung ke daerah wisata yang terpusat di kota, Kampung Blekok bisa menjadi alternatif pilihan wisatawan untuk menikmati pemandangan Burung Blekok.

Harapan-harapan Pak Ujang yang mewakili suara warganya mungkin adalah harapan yang sederhana, bagaimana sebuah kampung yang tidak terkenal, dengan adanya komunitas Burung Blekok dan Burung Kuntul di kampungnya, bisa menjadi tempat wisata yang mungkin bisa menjadi penghasilan tambahan selain menjadi buruh tani. Ingat ya, buruh tani, bukan petani.

Kicauan Pak Ujang dan kicauan Burung Blekok adalah harapan bersama tentang keselarasan, tentang keberpihakan peran pihak-pihak terkait agar ekosistem di Kota Bandung, khususnya di kampung Blekok bisa tetap terjaga.

Hayu ah urang jaga babarengan!

 

Tautan asli: https://blogakay.wordpress.com/2016/08/07/kicauan-di-kampung-blekok/

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s