#PernikRamadhan: Masjid Sepi, Ke Mana Anak-anak?

Oleh: Anggi Aldilla (@anggicau)

Siang tadi entah kenapa pengen banget Jum’atan di mesjid Al -Manar yang berada di sekitaran Jalan Puter. Jaman SD dulu, saya sering sholat Jum’at di sini bersama teman-teman sehabis atau saat akan ke sekolah. Bangunannya tidak banyak berubah dibandingkan saat saya TK dan SD (kebetulan TK saya berada satu komplek dengan masjid, kemudian di lanjut ke SD Tikukur yang tidak jauh dari sana). Di sinilah kesenangan pergi ke masjid dimulai.

Kesenangan ini bukan untuk ibadah, tapi untuk heureuy. Bukan berarti saya tidak beribadah, tapi ada kesenangan tersendiri ketika Jum’atan. Ketika khotib sedang khotbah, kita malah rame dan sibuk sendiri main “Gagarudaan” atau main “stum, tombak, cakar, banteng” (agak susah juga sih jelasin gimana permainan nya). Pada saat sholat pun tak lepas dari heureuy, minimal ngobrol lah.

Berhubung sekarang lagi bulan Ramadhan, saya jadi teringat tulisan Zen RS tentang “ibadah adalah piknik”. Ya bagaimana tidak, tiap malam kita bisa bertemu teman seumuran yang kadang sulit untuk ketemu di siang hari.

Manggiw

Bulan Ramadhan saya selalu menghabiskan waktu di Masjid Al-Bayinah yang berada tak jauh dari rumah. Kami yang pada waktu itu masih menjadi murid TPA (Taman Pendidikan Al-Quran) seperti biasa ngaji sebelum berbuka puasa. Ada yang berbeda saat ngaji di bulan Ramadhan ini, karena selain kita ditarget hafalan surat-surat Al-Qur’an, ada target lain yang paling utama yaitu berburu ta’jil yang disediakan pihak DKM. Kan lumayan bisa makan gorengan gratis sepuas nya, atau minum sirup yang pada saat itu masih jadi barang mewah. Dulu sih baru bisa minum sirup sepuasnya di rumah itu cuma pas lebaran.

Selepas buka puasa kami kembali lagi ke masjid untuk ikut Tarawehan dengan senang sekaligus tapi sekaligus terpaksa. Senang karena bisa bertemu teman untuk bermain lagi, bisa pulang malam tanpa dimarahi orang tua, dan yang paling utama adalah bisa nyumputkeun alas kaki punya teman. Momen terpaksanya sih karena harus mengisi buku kegiatan Ramadhan, yang entah kenapa kalau menurut saya sih itu cuma sekedar buat menambah kebohongan kita. Ya, soalnya demi menambah nilai kita bisa mengarang isi ceramah atau mengarang saat mengisi kolom kegiatan ibadah lain seperti sholat dan ngaji. Belakangan saat saya di bangku sekolah menengah saya tahu kalau buku itu ga pernah diperiksa serius, makanya banyak yang asal isi.

Beberapa waktu lalu saya coba kembali ke masjid itu hanya untuk ikut sholat Maghrib. Ada hal aneh yangs saya temukan: masjid sepi dari aktifitas bermain seperti yang saya rasakan dulu. Kebanyakan sehabis mendapat ta’jil, anak–anak langsung pulang meski sholat maghrib belum dimulai, alih-alih bermain sama teman sebaya seperti yang saya laukan dulu. Bisa jadi karena orang tua sekarang terlalu banyak melarang ini-itu, atau memang anak-anak ini punya permainan lain yang lebih modern dan bisa bikin asik sendiri.

Entah kapan masjid itu akan ramai lagi oleh keceriaan anak-anak yang berisik saat khotib naik mimbar. Entah kapan ada anak-anak yang melakukan hal-hal bodoh yang kami lakukan dulu yang bisa membuat tertawa terpingkal-pingkal. Saya sih yakin pasti kawan-kawan juga akan tertawa sendiri saat mengingat keceriaan di mesjid saat bulan Ramadhan tiba karena ada hal lain yang tidak bisa dilakukan di luar bulan Ramadhan.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s