Catatan Perjalanan: Kerkhof Kebon Jahe

Oleh: Vecco Suryahadi Saputro (@veccosuryahadi)

dia yang pulang dan tak akan kembali

Menyambung dengan tema ngaleut Komunitas Aleut yakni Basa Bandung halimunan. Dalam buku Basa Bandung Halimunan, Us Tiarsa menceritakan kenangannya di salah satu kerkop di Bandung. Kerkop tersebut adalah Kerkhof Kebon Jahe.

Makam, Kerkhof dan Bandung tempo doeloe

Sebagai pengenalan, kata Kerkhof berasal dari bahasa Belanda tua yang berarti pemakaman. Ada beberapa sumber yang mengatakan bahwa Kerkhof berarti dibelakang gereja atau pekarangan di belakangan gereja.

Ada suatu masa yang menjuluki Bandung sebagai kinderkerkhof. Bandung mendapat julukan demikian karena tingkat kematian balita yang tinggi saat itu. Balita yang meninggal biasanya dikubur di pekarangan atau kebun. Hal tersebut terjadi sebelum lahirnya bouwverrordening van Bandoeng atau undang – undang pembangunan kota Bandung.

Setelah ada undang – undang pembangunan kota Bandung, warga Bandung tidak boleh memakamkan kerabatnya di pekarangan atau kebun. Pemerintah menyediakan kuburan baru atau Astana Anyar untuk warga Bandung dan Karang Anyar untuk menak Bandung. Lalu Kerkhof tertua berada di Jalan Banceuy.

Setelah perluasan kota Bandung, Kerkhof di Jalan Banceuy mulai dibagi menjadi dua. Makam – makam orang Tionghoa dipindahkan ke Babakan Ciamis. Sedangkan makam – makam orang Eropa dipindahkan ke Kerkhof Kebon Jahe yang sekarang menjadi GOR Padjadjaran.

Kerkhof Kebon Jahe dalam kenangan

Dalam buku Basa Bandung Halimunan, Us Tiarsa menyediakan satu bab khusus yang menceritakan Kerkhof Kebon Jahe. Pada bab tersebut, Us Tiarsa menceritakan mengenai kenangan masa kecilnya di kerkop tersebut. Selain kenangan masa kecil, Us Tiarsa menceritakan kondisi dan keadaan sekitar di Kerkhof Kebon Jahe dalam bukunya.

Kerkhof Kebon Jahe yang berlokasi di Jalan Padjadjaran termasuk Kerkhof yang luas di Bandung. Sama seperti orang Pribumi dan Tionghoa, terdapat pembagian status dalam Kerkhof Kebon Jahe. Pembagian tersebut menjadi tiga kelas. Kelas satu berada di utara kerkop. Kelas dua berada agak selatan dari kelas satu. Kelas tiga berada paling selatan kerkop.

Dikarenakan berfungsi sebagai pemakaman orang Eropa, kesan rapi dan bersih masih bisa dilihat di Kerkhof Kebon Jahe. Walaupun mayoritas orang Belanda dan Eropa telah pulang ke negaranya, Kerkhof Kebon Jahe masih dirawat dan dibersihkan oleh penjaganya. Saking rapinya, Kerkhof Kabon Jahe sering dipakai oleh warga sekitar Kebon Kawung dan Wastukencana sebagai tempat bersantai.

Mausoleum Ursone di Pandu

Khusus untuk anak kecil, Kerkhof Kebon Jahe sering dipakai untuk tempat bermain. Beberapa anak kecil akan bermain petak umpet atau kejar – kejaran di Kerkhof Kebon Jahe. Selain menjadi tempat bermain, biasanya anak – anak akan memungut marmer – marmer yang lepas dan dijadikan kelereng. Marmer – marmer yang dipungut tersebut kemudian digiling oleh palu untuk menjadi bubuk marmer yang akan dipakai untuk kerajinan anak – anak tersebut.

Jika anak kecil menjadikan Kerkhof Kebon Jahe sebagai tempat bermain, orang dewasa menjadikan Kerkhof Kebon Jahe menjadi tempat bersantai. Kita akan menemukan orang dewasa yang bermain catur atau bersantai di Kerkhof Kebon Jahe. Bahkan kita bisa menemukan orang berpacaran di Kerkhof Kebon Jahe.

Dalam buku Basa Bandung Halimunan, Us Tiarsa menceritakan bahwa ada mandor yang menjaga Kerkhof Kebon Jahe. Mandor tersebut bernama Mandor Atma. Mandor Atma tinggal di dalam kerkop, dekat pintu masuk kerkop. Dikarenakan bertugas sebagai mandor, Mandor Atma terkenal sering menangkap anak kecil yang merusak kerkop.

Kerkhof Kebon Jahe tempo kini

Sayang seribu sayang, tempo kini, kita tidak bisa melihat Kerkhof Kebon Jahe dalam bentuk pemakaman yang besar. Pada tahun 1973, Kerkhof Kebon Jahe digusur dan dijadikan GOR Padjadjaran. Penggusuran tersebut tidak dilakukan secara sistematis. Oleh karena itu, banyak nisan – nisan yang hilang di Kerkhof Kebon Jahe.

Nisan Elisabeth di Jalan H. Mesrie

Jika kita ingin melihat beberapa nisan Kerkhof Kebon Jahe, kita bisa menemukannya di dua tempat. Kita akan menemukan nisan Elisabeth Adriana Hinse di sekitaran Ciguriang, Jalan H. Mesrie dan nisan  Anna Maria de Groote di Museum Sri Baduga.

Sebagai penutup tulisan, saya mulai menyadari bahwa melalui makam, kita bisa menelusuri eksistensi seseorang dan mengetahui perkembangan tata kota. Jika kita mulai melihat penempatan pemakaman yang mulai acak – acakan, saat itulah kita mengetahui bahwa tata kota sudah mulai diabaikan.

Sumber Bacaan :

Basa Bandung Halimunan karya Us Tiarsa

Wadjah Bandoeng Tempo doeloe karya Haryoto Kunto

mooibandoeng.wordpress.com

aleut.wordpress.com

Sumber Foto :

@komunitasaleut

media-kitlv.nl/all-media

 

Tautan asli: http://catatanvecco.wordpress.com/2014/09/29/catatan-perjalanan-kerkop-kebon-jahe/

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s