Catatan Perjalanan: Ngaleut Kontribusi Bandung untuk Indonesia

Oleh: Deris Reinaldi

Pada hari minggu, 21 September 2014 yang sangat cerah dengan udara yang segar saya tiba di Gedung Merdeka (Jl. Cikapundung Timur) untuk ngaleut pada hari itu. Setelah menunggu teman lainnya berkumpul, dimulailah ngaleut ini. Dimulai di Gedung Merdeka, bahwa di gedung ini pernah terjadi perhelatan akbar yaitu Konferensi Asia Afrika pada 18-24 April 1955. Konferensi ini bertujuan untuk menyelamatkan bangsa Asia maupun Afrika untuk bebas dari segala bentuk kolonialisme dan imprealisme, perwakilan bangsa bangsa Asia dan Afrika pun hadir di gedung Merdeka. Konferensi ini bertempat di Gedung merdeka untuk memperlihatkan kepada dunia bahwa bangsa Asia maupun Afrika bisa masuk di Gedung Merdeka bisa masuk ke gedung ini, karena gedung ini di masa kolonial Belanda dijadikan tempat berkumpulnya orang-orang Belanda dan orang orang Pribumi dilarang keras masuk ke gedung itu. Gedung Merdeka juga pernah dijadikan gedung Majelis Permusyawaratan Rakyat Sementara (MPRS) pada tahun 1960, pada tahun 1980 Gedung Merdeka dijadikan Museum Konferensi Asia Afrika.

Setelah itu, perjalanan dilanjutkan ke Tugu ‘Nol’ KM Bandung yang bertempat di Dinas Bina Marga Dan Pengairan Provinsi Jawa Barat Jl. Asia Afrika. Pada masa pemerintahan Daendles (1808-1811) pembangunan jalan raya pos dimulai. Pembangunan ini dibuat dengan alasan untuk mempermudah membawa hasil perkebunan agar ekonomi di pulau Jawa semakin lancar. Pegawainya adalah kaum pribumi dengan peralatan tradisional. Pembangunan jalan raya pos ini banyak menelan korban jiwa yang meninggal dunia karena terlalu lelah. Sebelum diaspal, jalan ini masih bebatuan. Pada tugu ‘nol’ Km ini terdapat stoom tua yang dijadikan monumen. Stoom ini bukan merupakan stoom yang dipakai untuk pembuatan jalan raya pos ,karena jalan raya pos dibangun dengan peralatan tradisional. Stoom ini dijadikan monumen disitu dikarenakan gedung itu merupakan Dinas Bina Marga Dan Pengairan Provinsi Jawa Barat.

Berikutnya perjalanan berlanjut ke Bank BJB di Perempatan Braga-Naripan. Gedung ini dahulunya merupakan bank dengan sistem hipotek pertama di Bandung. Selain itu kita melihat reruntuhan Sarinah. Dahulu Sarinah merupakan tempat berbelanja serba ada. Nama Sarinah ini dinamakan oleh Ir. Soekarno yang berasal dari nama pengasuh Soekarno ketika kecil. Nama sarinah ini dijadikan sebagai identitas wanita Indonesia. Di seberang Gedung Bank BJB terdapat Gedung Yayasan Pusat Kebudayaan yang dulunya pun pernah menjadi perusahaan media cetak pertama di Indonessia yang menggunakan bahasa Melayu dengan nama NV. Medan Priyayi.

Perjalanan berlanjut ke Balaikota tepatnya ke Taman Dewi Sartika. Di sana terdapat babancong yang merupakan tempat untuk menampilkan pementasan musik. Kemudian kita berjalan kembali ke Taman Lalu-Lintas atau lebih dikenal Taman Ade Irma Suryani Nasution di Jl. Belitung. Nama itu diambil untuk menghormati Ade Irma Suryani Nasution yang meninggal akibat tertembak oleh pasukan G 30 S PKI pada 1965, ia merupakan putri dari Jend. TNI. Abdul Haris Nasution. Taman Lalu lintas ini ketika masa kolonial Belanda dijadikan tempat latihan baris berbaris tentara, dan pernah juga dijadikan tempat belajar untuk pemuda-pemudi untuk berlalu lintas karena waktu itu pemuda-pemudi Bandung masih semrawutan dalam berlalu lintas. Taman Ade Irma Suryani Nasution merupakan Taman Lalu Lintas pertama di Indonesia bahkan Asia Tenggara.

Lalu perjalanan berlanjut kembali ke Gedung Jaarbeurs di Jl. Aceh. Sekarang gedung ini merupakan kantor TNI Angkatan Darat. Dahulu gedung ini dijadikan tempat pekan raya sepeti Pekan Raya Jakarta. Kala itu jalanan ditutup karena dipenuhi stand. Ke arah utara sedikit tepatnya Jl. Banda kita menemukan Gereja St. Albanus, bangunannya kurang terawat, lebih mengkhawatirkan ketika melihat rumah di sebelahnya itu sudah ditutupi seng. Gereja ini sekarang berfungsi menjadi tempat kursus Bahasa Belanda.

Perjalanan kita berakhir di Taman Lansia, di sana kita melakukan sharing serta tanya jawab. Semua peserta wajib sharing atau bertanya mengenai perjalanan tadi atau juga apapun mengenai sejarah Bandung. Kegiatan ini di akhiri dengan foto bersama.

 

Tautan asli: https://www.facebook.com/notes/deris-reinaldi/ngaleut-kontribusi-bandung-untuk-indonesia/10152689584567418

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s