Catatan Perjalanan: Ngaleut Tjimahi!

Oleh: Vecco Suryahadi Saputro (@veccosuryahadi)

Berjalan adalah cara terbaik dalam berwisata!

Penetapan Cimahi sebagai garnisun

Pada abad 19, pemerintah Hindia Belanda merencanakan pemindahan ibukota Hindia Belanda ke Bandung. Dalam upaya pemindahan tersebut, pemerintah membangun fasilitas–fasilitas yang akan dipakai. Jika rencana pemindahan ibukota berhasil, kelak fasilitas–fasilitas tersebut akan menopang Bandung sebagai ibukota.

Di antara banyaknya fasilitas yang dibangun, garnisun atau tempat kedudukan tentara adalah fasilitas yang paling penting. Hal itu terlihat dari fungsi garnisun sebagai benteng utama ibukota dan pemerintahan.

Sebagai tempat kedudukan tentara, lokasi garnisun harus sesuai dengan syarat–syarat. Beberapa syarat tersebut adalah wilayah tersebut harus memiliki hawa sejuk dan garnisun harus dilewati jalur kereta api. Cimahi dipilih menjadi lokasi garnisun Hindia Belanda karena memenuhi kedua kriteria tersebut.

Rumah sakit Militer di Cimahi tahun 1900an

Cimahi harus memiliki fasilitas–fasilitas militer yang memadai untuk dijadikan sebagai garnisun. Fasilitas militer tersebut yakni rumah sakit militer, rumah tahanan militer, fasilitas pelatihan tentara, dan fasilitas logistik militer. Sampai sekarang, kita masih bisa melihat bangunan–bangunan yang pernah menjadi fasilitas militer tersebut.

Selain fasilitas militer, kita akan menemui beberapa fasilitas yang terkait dengan kenyamanan tentara–tentaranya. Fasilitas tersebut antara lain perumahan militer dan tangsi. Bagi tentara pribumi yang berpangkat rendah, mereka mendapat kamar di kamp atau tangsi. Tentara Belanda yang berpangkat tamtama, bintara, dan bintara tinggi dapat tinggal di rumah dinas yang disewakan seharga 10 – 12% dari gaji mereka. Oleh karena itu, kita akan menemukan delapan tingkat perumahan sesuai dengan pangkatnya.

Kantin militer di Cimahi

Pemerintah Hindia Belanda juga membangun fasilitas yang memenuhi kebutuhan pangan tentara, yakni pabrik roti, kantin militer, dan rumah pemotongan hewan. Dengan fasilitas tersebut, tentara KNIL di Cimahi sudah dipastikan memiliki kebutuhan pangan yang cukup.

Seperti orang Belanda di Bandung, orang Belanda di Cimahi memiliki tempat berkumpul yang disebut societeit. Soceiteit tersebut bernama Soceiteit Voor Officieren Tjimahi. Societeit ini dibangun dengan gaya Empire dan digunakan untuk tempat berkumpul orang Eropa. Sama seperti soceiteit di Bandung, soceiteit di Cimahi sering menyelenggarakan pesta dan parade.

Cimahi sebagai tempat berwisata

Seperti catatan perjalanan lainnya, saya selalu berusaha mengenalkan suatu tempat untuk menjadi tempat wisata. Kali ini, saya akan sedikit bercerita mengenai berwisata di Cimahi.

Banyak jalan yang bisa dipilih untuk menuju Cimahi. Jalan seperti memakai motor atau mobil, bersepeda, atau lebih ekstrim yakni berjalan kaki. Tapi dari semua jalan yang ada, kereta api adalah jalan menuju Cimahi yang paling menyenangkan dan murah. Dengan menggunakan KRD Patas, kita hanya mengeluarkan uang sebesar Rp 7.000 untuk mendapat tiket. Selain murah, kita akan disajikan pemandangan–pemandangan selama perjalanan ke Cimahi.

Komunitas Aleut di depan Stasiun Cimahi

Kembali kepada topik berwisata di Cimahi. Terdapat satu jalan yang menyenangkan untuk berwisata di Cimahi. Jalan tersebut adalah berjalan kaki. Dengan berjalan kaki, kita bisa menikmati keindahan bangunan–bangunan tua, pohon – pohon yang teduh, dan sejuknya udara Cimahi di pagi hari.

Sedikit berbeda dengan kota tua di Jakarta dan kawasan Braga di Bandung, Cimahi memiliki keunikannya sendiri. Jika di kota tua dan di Braga, kita bisa mengambil foto bangunan dengan mudah. Hal ini berbeda dengan di Cimahi. Cimahi adalah kawasan militer, sehingga mengambil foto bangunan adalah hal yang sulit dilakukan.

Komunitas Aleut di depan Soceiteit Voor Officieren Tjimahi

Meskipun demikian, kita masih bisa menikmati keindahan bangunan tua di Cimahi. Bangunan – bangunan tua di Cimahi masih dirawat dan tidak berubah banyak karena kepemilikannya kebanyakan berada di tangan PT KAI dan TNI.

Seperti di Bandung, Cimahi memiliki masalah yang sama: trotoar yang tidak layak. Trotoar yang sempit dan kadang – kadang putus di tengah jalan adalah masalah yang dialami saat berjalan kaki di Cimahi. Mungkin berjalan kaki sudah tidak menjadi tradisi orang Indonesia, sehingga trotoar pun bukan masalah utama yang harus diselesaikan.

Sebagai penutup tulisan yang sudah keluar dari jalannya, saya berharap Bandung akan merawat dan memperbaharui bangunan–bangunan tuanya. Bukan karena merawat kenangan era kolonial, tapi karena tanpa bangunan tua tersebut, generasi di bawah kita tidak akan mengetahui kenangan yang dialami keturunan di atasnya.

-Terimakasih-

Sumber Bacaan :

Bandung, Citra sebuah kota karya Robert P.G.A Voskuil

Produsen Ontbijt Walanda Bandoeng karya Sudarsono Katam

Semerbak Bunga di Bandung Raya karya Haryoto Kunto

Sumber Foto :

@komunitasaleut

@tesyaclalalaud

http://www.media-kitlv.nl/all-media

 

Tautan asli: http://catatanvecco.wordpress.com/2014/09/01/catatan-perjalanan-ngaleut-tjimahi/

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s