Catatan Perjalanan: Museum Mandala Wangsit Siliwangi

Oleh: Vecco Suryahadi Saputro (@veccosuryahadi)

Enjoy Bandung with museum!

Setiap museum memiliki tujuan yang sama yaitu memberikan edukasi melalui benda yang ditampilkan. Melalui benda yang dipajang, pengunjung akan diberikan wawasan baru. Wawasan baru ini kelak digunakan pengunjung untuk memperluas pemikiran mereka.

Jika kita melihat Bandung sebagai kota untuk beberapa museum, kita akan menemukan banyak museum yang tersebar di Bandung. Total museum yang terdaftar di Bandung sebanyak tujuh buah. Dikarenakan setiap museum memiliki tema yang berbeda dan menarik, museum bisa menjadi tempat berwisata yang menarik.

Sekilas Museum Mandala Wangsit Siliwangi

Komunitas Aleut di depan Museum Mandala Wangsit

Berbicara mengenai museum di Bandung, saya akan mengambil Museum Mandala Wangsit Siliwangi sebagai objek catatan perjalanan kali ini. Museum Mandala Wangsit Siliwangi berlokasi di Jalan Lembong. Tidak ada tiket masuk untuk berkunjung ke Museum Mandala Wangsit Siliwangi. Kita hanya mengisi daftar hadir di depan pos penjaga untuk memasuki museum ini.

Saat mengunjungi Museum Mandala Wangsit Siliwangi, kita akan menemukan pembagian museum berdasarkan waktu. Pembagian tersebut sebagai berikut:

1. Era Kerajaan

Pada bagian ini, kita akan diperlihatkan beberapa benda koleksi yang berhubungan dengan kerajaan di Jawa Barat. Benda koleksi tersebut antara lain beduk, keris, dan tombak. Selain itu, Museum Mandala Wangsit Siliwangi memperlihatkan lukisan Prabu Siliwangi yang merupakan raja terkenal saat itu.

2. Era Sebelum Kemerdekaan

Pada bagian ini, kita akan menemukan beberapa lukisan yang berhubungan dengan Indonesia sebelum merdeka. Beberapa lukisan menggambarkan kedatangan penjajah ke Indonesia dan lukisan lainnya menggambarkan perlawanan penduduk setempat kepada penjajah.

3. Era Perjuangan Setelah Kemerdekaan

Pada bagian ini, museum menyajikan lukisan–lukisan, miniatur perlawanan tentara Indonesia, dan peralatan yang dipakai saat perang. Satu hal yang menarik pada bagian ini adalah tangga bambu. Menurut pemandu, tangga bambu ini dipakai untuk mengangkat jenazah–jenazah korban perang ke ambulans.

4. Era Pemberontakan di Jawa Barat

Pada bagian ini, kita harus tahan dengan beberapa foto yang diperlihatkan museum. Kenapa tidak? Foto–foto koleksi museum di bagian ini berisi kekejaman para pemberontak seperti pembunuhan dan pembakaran. Selain foto, kita akan menemukan beberapa lukisan dan barang–barang yang dipakai oleh pemberontak.

Foto keluarga Komunitas Aleut di ruang persenjataan

Selain beberapa bagian yang telah disebut, kita akan menjumpai satu bagian yang berisi senjata–senjata dan peta. Pada bagian ini, kita diijinkan untuk mengambil foto bersama.

Sekitar Mandala Wangsit Pasca Kemerdekaan

Bandung pasca kemerdekaan bukanlah kota yang nyaman dan aman. Setiap malam dan siang hari, seringkali terjadi kebakaran dan perampokan di Bandung. Selain terjadi kebakaran dan perampokan, jalanan di Bandung menjadi medan perang antara tentara Sekutu dengan tentara Indonesia.

Upacara pergantian Bendera di Markas Siliwangi

Setelah penyerahan kedaulatan pada tanggal 27 Desember 1949 di Oude Hospitalweg (Jalan Rumah Sakit Lama, sekarang dikenal dengan nama Jalan Lembong) diselenggarakan pergantian bendera. Pergantian ini dilaksanakan oleh Jendral E. Engles dan Kolonel Sadikin di depan markas staf Divisi Siliwangi. Setelah pergantian bendera, Bandung kembali dikuasai oleh TNI dan Pemerintahan Indonesia.

Sayangnya setelah penyerahan kedaulatan, Bandung kembali tidak aman oleh kegiatan separatis. Kegiatan ini dilakukan oleh APRA (Angkatan Perang Ratu Adil) yang dipimpin oleh Raymond Westerling. Tentara yang berada di pihak APRA berasal dari korps pertahanan diri yang dibangun Westerling saat menjadi pengusaha angkutan.

Korban APRA di Jalan Braga

Singkat cerita, pada 23 Januari 1950, APRA melakukan serangan ke Bandung. Serangan ini dilakukan pada pukul 04:00 melalui Cimahi. Saat penyerangan di Cimahi, tentara Indonesia dengan cepat kocar–kacir dan melarikan diri. Baru di pusat kota Bandung, APRA mendapat perlawanan dari kesatuan Batalyon Siliwangi. Sayangnya, pada pukul 09:30, Markas Besar Siliwangi di Oude Hospitalweg dikuasai oleh APRA.

Pada saat penyerangan APRA, sebanyak 94 orang tentara Indonesia menjadi korban, termasuk Letnan Kolonel Lembong. Untuk mengenang Letnan Kolonel Lembong yang menjadi korban serangan APRA, nama Lembong dipakai untuk menggantikan nama Oude Hospitalweg. Selain dijadikan nama jalan, kita akan menemukan patung Letnan Kolonel Lembong di depan Museum Mandala Wangsit Siliwangi.

 

Sumber Bacaan :

Bandung awal revolusi karya John R.W. SMAIL

Bandung citra sebuah kota karya Robert P.G.A Voskuil, dkk

Selamat tinggal Hindia Belanda : Janjinya pedagang telur karya Pans Schomper

Sumber Foto :

Kitlv

Voskuil

Komunitas Aleut

 

Tautan asli: http://catatanvecco.wordpress.com/2014/08/17/catatan-perjalanan-museum-mandala-wangsit/

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s