Maclaine Pont dan Kisah ITB

Oleh : M.Ryzki Wiryawan (@sadnessystem)

Pada th. 1918, Maclaine Pont, seorang arsitek Belanda kelahiran Jatinegara (Meester Cornelis) mendapat undangan untuk merancang bangunan Sekolah Tinggi Teknik pertama di Hindia Belanda yang akan dibangun di Bandung (sekarang ITB). Pont dipilih karena selain fee-nya dianggap terjangkau, ia juga dianggap sebagai seorang arsitek yang paham akan perancangan bangunan tradisional setempat, yang menjadi salah satu kriteria perancangan bangunan baru tersebut.

Hasilnya adalah suatu bentuk arsitektur kombinasi dari struktur modern dari kayu lapis dengan bentuk atap arsitektur tradisional yang sangat harmonis. Arsitektur bangunan Aula Barat dan Aula Timur Technische Hogeschool (ITB) mengacu pada arsitektur tradisional bangunan khas Minangkabau (sunda besar), yang lapisan-lapisannya membentuk “lembaran bunga teratai”. Atap yang berlapis-lapis diadopsi dari tradisi ruang berpilar yang dilacak dari relief-relief candi abad kesembilan di Jawa Tengah. Bentuk ruangan yang luas mengadopsi arsitektur Pendopo Jawa.

Pont juga menggunakan teknologi tercanggih saat itu untuk bisa menghasilkan ruangan luas tanpa pilar di tengah ruangan, untuk itu ia menggunakan bentangan konstruksi rangka kayu dipasang menggunakan teknologi konstruksi busur kayu yang diikat cincin besi (patent laminated wooden arc construction parts – Emy System).

Mahakarya Maclaine Pont ini mendapat serangan dari sejawatnya, Prof. Wolff Schoemaker. Kritiknya antara lain, “Sekolah Tinggi Teknik dirancang dengan pemakaian contoh dari beberapa ciri khas bangunan Minangkabau, yang di Jawa berada di tanah asing”. Ia juga menyebut penggunaan atap khas Minangkabau sebagai ‘peniruan bentuk yang dibuat-buat’ dan suatu peniruan bentuk atap Sumatera, yang mengakibatkan kebocoran serius.

Bagaimanapun kritik yang dialamatkan pada Maclaine Pont, karya Pont berupa aula barat dan timur ITB terbukti dikenal sebagai salah satu karya arsitektur indis dengan bentuk tradisional yang sangat berhasil.

 

 

 

Iklan

2 pemikiran pada “Maclaine Pont dan Kisah ITB

  1. Ping balik: Ngaleut Institut Teknologi Bandung | Arip Blog

  2. Ping balik: Ngaleut Institut Teknologi Bandung | Dunia Aleut!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s