Kaulinan Tradisional

Oleh: Risman Budiman

Kami anak-anak pencinta pelangi “Pak ketipak ketipung mejikuhibiniu”

Kami kesekolah di antar pelangi ” Pak ketipak ketipung mejikuhibiniu”

Tema Aleut kali ini seperti “Mesin waktu” yang membawa kita kembali ke masa kecil, menjadi manusia tanpa obsesi dan permasalahan seperti sekarang yang sebenarnya sifat dan pembawaan semasa kecil tidak hilang sepenuhnya, karena kita tetap menjadi orang yang sama (angger resep ulin, resep jajan, resep ngahiji) walaupun bentuknya tidak sama.

Terpintas di pikiran kalau saja bisa kembali ke masa kecil dengan kapasitas pemikiran yang sekarang, pasti cerita hari ini akan berbeda. Bang Ridwan kemarin bilang kalau permainan tradisional tidak di ketahui persis akan membentuk watak dan pola prilaku seseorang setelah dewasa, tetapi setiap permainan tradisional punya filosofi yang masuk akal.

Setiap jenis permainan memiliki maksud tertentu dan ternyata penuh dengan filosofi pendidikan. Misalnya saja pada permainan sondah mandah, dimana bidang permainan dibuat dalam bentuk bangun persegi beberapa kotak dan diujungnya dibuat lingkaran besar. Menurut penelitian Kang Zaini, petak pertama media sondah adalah simbol dari bumi, sedangkan lingkaran besar di ujung adalah simbol dari surga.

Perjuangan para pemain sondah untuk mencapai tahap demi tahap permainan adalah simbol dari usaha di dunia ini. Ketika seorang pemain gigih bekerja keras, maka ia pun sedikit demi sedikit akan mendapat bintang di salah satu petak. Bintang itu sendiri adalah simbol kenikmatan duniawi. Jika satu kotak sudah ditandai bintang oleh satu pemain, maka pemain lain tidak boleh menginjaknya, tetapi harus melangkahinya. Hal itu adalah simbol dari aturan dalam menghormati hak milik seseorang di dunia ini. Semakin banyak seseorang pemain mendapat bintang ia semakin santai, dan sebaliknya pemain yang bintangnya sedikit ia pasti kerepotan karena harus melangkahi banyak petak orang lain untuk berjalan. Begitulah juga kehidupan di dunia nyata, bukan?

Filosofi lain yang tak kalah menarik adalah pada bintang yang diperoleh para pemain di lingkaran besar. Kalau pada petak permainan (dunia) para pemain dilarang meletakkan bintang di wilayah yang sudah dimiliki orang, namun berbeda dengan lingkaran di ujung itu (surga). Meskipun hanya satu area, tapi semua pemain boleh berbagi tempat meletakkan bintang di sana, tak peduli apakah pada petak permainan mereka punya banyak bintang (orang kaya) atau sedikit bintang (miskin). Sungguh filosofi yang menarik menurut saya.

Tahukah Anda permainan paciwit-ciwit lutung? entah di daerah lain selain Tatar Sunda bernama apa. Permainan itu adalah saling mencubit punggung tangan menumpuk ke atas. Lagu pengiringnya kalau di Tanah Sunda”Paciwit ciwit lutung si lutung pindah ka tungtung” (saling mencubit para lutung (monyet) si lutung pindah ke ujung). Maka tangan yang paling bawah akan pindah ke atas, mencubit tangan temannya yang lain. Begitulah terus-menerus sampai setiap tangan bergantian naik ke atas dan kemudian tergeser rotasi permainan kembali ke bawah dan seterusnya.

Katanya, permainan itu adalah juga simbol kehidupan dunia. Manusia itu tidak selamanya sengsara, dan tidak selamanya juga kaya raya; tidak selamanya mendapat berkah, tidak selamanya juga berada dalam kesusahan. Hal itu sepertinya untuk menyadarkan manusia agar tidak sombong saat berjaya dan juga tidak merasa rendah diri dan putus asa saat kondisi materil tidak terlalu memadai.

Ternyata kita bisa belajar kehidupan dari masa lalu, dan anak kecil.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s