Ngaleut Malam Tahun Baru Imlek 2563 KE/4709 HE

Asep Suryana.

Tahun Baru Imlek yang tahun ini bertepatan dengan 23 Januari 2012 adalah tahun ke 2563 KE (Kongzi Era) atau 4709 HE (Huangdi Era). Mengapa sampai timbul dua angka tahun tersebut? Tahun 4709 dihitung dari kelahiran Kaisar Huang Di atau Kaisar  Kuning yang membuat kalender tersebut. Sedangkan 2563 dihitung dari kelahiran Kong Hu Cu (551-479 SM). Beliau seorang filsuf yang sangat besar pengaruhnya terhadap peradaban Tiongkok. Ajaran-ajarannya disebarkan oleh murid-muridnya dan berkembang menjadi sistem kepercayaan tradisonal Tiongkok Konghucu (Rujiao).

 

Kalender Tionghoa (Imlek) adalah kalender luni-solar yang tahun barunya berubah antara tanggal 21 Januari – 20 Februari pada kalender Masehi. Salam yang sering diucapkan sekarang ini dalam perayaan tahun baru adalah “Gong Xi Fa Chai” (Selamat dan semoga banyak rejeki) dalam bahasa Mandarin.

 

Komunitas Aleut yang biasanya “ngaleut” pada hari Minggu pagi menjadi Minggu malam, karena hari Senin adalah Tahun Baru Imlek. Tujuan ngaleut kali ini adalah Kelenteng Hiap Thian Kiong (Xie Tian Gong) yang berada di Jl. Kelenteng atau dulu disebut Chinezen Kerkweg. Kelenteng ini didirikan tahun 1885 merupakan kelenteng tertua di Bandung. Awal dibangun namanya adalah Sheng Di Miao. Kelenteng atau klenteng adalah sebutan asli Indonesia, sedangkan di Tiongkok disebut “bio” atau “miao”. Salah satu pendapat mengatakan kelenteng berasal dari bunyi kata Kwan-Im Teng yaitu kelenteng pertama di Jakarta yang didirikan tahun 1650 oleh Letnan Kwee Hoen. Kwan-Im Teng artinya Paseban Dewi Kwan-Im. Jadi kelenteng ini dipersembahkan untuk Dewi Kwan-im (Dewi Welas Asih). Kelenteng digunakan untuk beribadah kepercayaan tradisional   Tionghoa yang dipengaruhi beberapa ajaran utama yaitu Konfusianisme, Taoisme, dan Budha Mahayana.

 

Foto keluarga Aleut di depan Kelenteng Hiap Thian Kiong Bandung (Foto oleh Priestanto Em, 22-01-2012)

 

Ritual utama kepercayaan tradisional Tionghoa adalah penghormatan dan bakti kepada orang tua, anggota keluarga yang dituakan, dan “tian” atau yang maha kuasa. Penghormatan juga dilakukan kepada tokoh sejarah yang perilakunya patut diteladani atau tokoh yang berjasa kepada masyarakat semasa hidupnya. Kelenteng Xie Tian Gong  terutama untuk menghormati Guan Yu disebut juga Kuan Kong, Guan Gong, atau Kwan Ie. Beliau adalah panglima perang yang terkenal dalam kisah Tiga Negri (Sam Kok) yang hidup tahun 160 – 219 M.

 

Patung Kuan Kong (Guan Yu) di depan Kelenteng Hiap Thian Kiong (Foto AS, April 2010)

 

Umur kelenteng di Bandung relatif lebih muda dibanding kota-kota lain seperti Jakarta, Banten, Semarang, Cirebon, dll. Hal ini disebabkan Priangan merupakan daerah tertutup untuk orang Eropa, Tionghoa dan orang asing lainnya berdasarkan Surat Perintah Gubernur Jenderal G.A. Baron van der Capellen tahun 1821. Tahun 1852 Bandung terbuka bagi suku/etnis lain. Segera saja Bandung berkembang cepat dari een kleine berg dessa (desa pegunungan nan mungil)  menjadi kota yang ramai. Apalagi setelah Sistem Tanam Paksa dihapuskan (1870) banyak dibuka perkebunan-perkebunan teh, kopi, kina, dll. di Priangan. Kemudian Bandung menjadi tempat strategis untuk menimbun hasil perkebunan sebelum dikirim ke tempat lain terutama Batavia (Jakarta) dan Cirebon untuk selanjutnya dikirim ke luar negeri.

 

Pustaka:

Kunto, Haryoto. Balai Agung di Kota Bandung, Granesia, 1996, Bandung

 

Kustedja, Sugiri. Makalah tentang “Klenteng Hiap Thian Kiong, Xie Tian Gong (1885)“, 2011, Bandung

 

http://id.wikipedia.org/wiki/Imlek

Iklan

Satu pemikiran pada “Ngaleut Malam Tahun Baru Imlek 2563 KE/4709 HE

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s