Aleut! : Ikhtiar Melawan Lupa

Oleh : Eka An Aqimuddin

Sebuah kota tidak lahir dalam semalam. Ada rangkaian cerita, kisah dan persitiwa yang membentuknya. Coba tengok kisah awal berdirinya kota Roma oleh dua bersaudara, Romulus dan Remus. Ada tragedi di sana. Romulus membunuh kembarannya itu, selepas mereka membangun sebuah kota, hanya karena berbeda pendapat. Jika terlalu jauh, mari alihkan perhatian kita sejenak ke pesisir pantai barat Sumatera. Terdapat sebuah kota kosmopolit yang tersohor dalam perdagangan internasional sejak abad ke-2 Masehi disebabkan oleh  kapur barus. Apakah nama kota itu? Ya betul, kota itu bernama Barus, diambil dari kekayaan alam yang dikandungnya.

Singkatnya, setiap kota memiliki sejarahnya masing-masing.

Bagaimana dengan Bandung? tentu saja ada sejarah dibaliknya. Julukan Parisj van Java, Ibu Kota Parahiangan atau Kota Kembang, sebagai sinonim Bandung, mungkin bisa jadi petunjuk untuk mengetahui sejarah Bandung. Namun, tulisan ini tidak berpretensi untuk mendedahkan ihwal sejarah Bandung, biarlah tugas itu dikerjakan oleh sejarawan dan komunitas Aleut! :). Tulisan ini cuma berisikan sejumput tafsir bebas atas kegiatan Aleut! dalam menyelidik dan menafsir sejarah Bandung. Tafsir di atas tafsir.

Sesekali cobalah buka laman komunitas Aleut! Di situ kita akan temukan cerita fragmen sejarah  Bandung yang beragam. Tulisan-tulisan itu menandakan bahwa sejarah tidak bersifat monolitik, ada kekayaan tafsir dalam memahami sebuah kota dari berbagai ruang. Uniknya, keragaman tafsir itu diperoleh tidah hanya sekedar mempelajari data, fakta dan cerita akan tetapi juga melalui kegiatan mengalami (Ngaleut!). Dengan demikian, sejarah Bandung tidak hanya dibicarakan dan diimajinasikan dalam nalar namun melibatkan pengalaman inderawi. Melalui mata, dapat disaksikan bagaimana gedung-gedung bersejarah di sepanjang Braga kini tidak terurus dan dengan berjalan, rute peristiwa Bandung Lautan Api coba dikonstruksi ulang.  Pendeknya, sejarah Bandung dipahami melalui proses mengalami walaupun dengan perbedaan rentang waktu yang jauh serta kondisi yang tidak persis sama.

Proses mengalami itu dapat membantu kita untuk mudah mengingat sejarah Bandung dan terhindar dari peliknya sejarah yang berliku dan rigid. Memahami Bandung lebih terasa ringan dan riang. Pada titik inilah saya menerjemahkan Aleut! sebagai ikhtiar melawan lupa. Berusaha untuk mengalahkan sisi ketidak-sadaran kemanusiaan kita. Bukankah lupa merupakan sesuatu yang manusiawi? iya, jika itu berkenaan dengan individu dan sesekali. Akan tetapi jika lupa menjadi modus kolektif dan terus menerus, bisa jadi pesan Rhoma Irama ada benarnya,”….kalau selalu lupa. itu mah disengaja.”

Upaya melawan lupa memang bukan kerjaan yang mudah. Milan Kundera bahkan pernah mengingatkan bahwa perjuangan melawan lupa sama sulitnya dengan menumbangkan sebuah kekuasaan. Dan sejarah di negeri ini sering dilupakan dan dimanipulasi melalui rekayasa kuasa yang bisa berasal dan berada dimana-mana. Padahal bangsa yang besar adalah bangsa yang ingat akan sejarahnya.

Ikhtiar yang telah dilakukan oleh Aleut! selama ini  bisa ditempatkan dalam bingkai melawan kuasa tersebut. Mungkin terdengar sangat spekulatif dan bombastis. Tapi minimal kita berusaha melawan kuasa atas diri masing-masing yang kerap enggan memahami sejarah kota dimana kita lahir, tumbuh dan besar atau bahkan sekedar singgah, Bandung.

eka_aa

tanbihat: sekedar tafsir bebas atas kegiatan aleut!. serupa dengan tulisan Unang Lukmanulhakim

Iklan

3 pemikiran pada “Aleut! : Ikhtiar Melawan Lupa

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s