Ngaleut cinta “Kuantar Ke Gerbang”

Oleh : Tatie Haryani

Ini kali pertama aku ikut acara Komunitas Aleut, sebenarnya sih udah lama pengen ikut acara-acara yang diselenggarakan Komunitas tersebut namun berhubung waktu yang tidak memungkinkan, jadinya baru bisa ikut minggu ini. Ngaleut kali ini tentu saja menjadi sangat special karena temanya adalah “Kuantar Ke Gerbang, Napak Tilas Romansa Inggit Soekarno di Bandung”. Acara ini diselenggarakan oleh Mooibandoeng plezier company ini bekerjasama dengan Bentang Pustaka, Goodreads Indonesia dan tentu saja Komunitas Aleut.

Acara yang dimulai pukul 08.00 WIB (tentu saja lebih) dimulai dari Gedung Merdeka (Museum KAA), Bekas Penjara Banceuy, Mesjid Agung, Pendopo, Mardihardjo, Gereja Rehoboth, Gedong Dalapan, Gang Jaksa dan terakhir adalah Rumah Bersejarah Inggit Garnasih di Jalan Ciateul sekaligus bedah buku dengan judul yang sama karya Ramadhan KH.
sambil nunggu foto-foto dulu yuuk…

Acara ngaleut kali ini di bagi 4 kelompok dan dibimbing oleh seorang pemandu (karena aku baru pertama kali ikut acaranya jadi yang aku tau (namanya) hanyalah Candra, sang Pemandu di kelompok kami yang diberi nama Kelompok Uci Sanusi – barangkali berawal dari simpati kami terhadap Pa Sanusi-mantan suami bu inggit- yang telah merelakan bu inggit di nikahi oleh Sukarno. Aku tidak hendak menuliskan kembali kisah cinta inggit dan sukarno, kalian semua bisa membeli bukunya *bukan promosi lho* aku sih mungkin hanya ingin menyimpulkan aja, jika temans berbeda pendapat, itu wajar, bukan sebuah kesalahan jika kita berbeda pendapat, so yang bisa aku simpulkan dari perjalanan hari ini adalah bahwa Inggit adalah perempuan yang hebat. Perempuan yang luar biasa karena sifat dan tindakannya, dan aku tidak pernah tahu ini sebelumnya.

Cinta memang begitu misteri, begitupun kehidupan. Kita tidak dapat menerka apa yang terjadi pada kehidupan kita yang akan datang, barangkali itu gambaran kisah cinta Inggit dan Sukarno. Sukarno yang pada waktu itu merupakan menantu dari HOS Tjokroaminoto yang berniat ke Bandung untuk melanjutkan sekolah di THS –ITB sekarang, mungkin tidak akan membayangkan kalo akhirnya dia akan menikahi Inggit sang induk semang, demikian pula Inggit yang telah bersuamikan Sanusi, tentu tidak berpikir untuk “selingkuh” kemudian menikah dengan Sukarno yang usianya terpaut jauh. Tapi begitulah hidup, terkadang kehidupan memberi kita pilihan yang sulit, memberi kejutan-kejutan yang tak pernah kita bayangkan, kadang pilihan yang kita ambil akan menimbulkan reaksi negative dari orang lain yang hanya melihat sesuatu dari sisi luar saja (mungkin begitu juga terhadap Inggit dan Sukarno), tapi hidup harus senantiasa berjalan, dan kita harus berusaha untuk istiqomah sesulit apapun resiko yang akan terjadi. Kekuatan, ketegaran, ketabahan dan cinta Inggit mendampingi Sukarno dalam masa sulit (masa-masa pembuangan dan penjara) telah memberi banyak inspirasi bagi kaum perempuan, Inggit memberikan peran terbaiknya sebagai istri, sebagai pendamping dalam setiap kegiatan politik Soekarno.

Bagiku Inggit adalah sosok perempuan yang luar biasa, dia bukan hanya sebagai kekasih, tetapi juga sebagai kawan dan ibu dari Sukarno (seperti yang diceritakan dalam buku). Tak banyak perempuan hebat semacam itu, barangkali tanpa Inggit, Sukarno takkan sehebat itu, seperti kata pepatah, laki-laki (suami) yang hebat (berhasil) adalah karena memiliki perempuan yang super (kuat, tegar, sabar), pun demikian ketika Sukarno memutuskan untuk menikah dengan Fatmawati, setelah kurang lebih 19 atau 20 tahun mereka menikah, Inggit memilih untuk bercerai, tidak bersedia untuk di madu, padahal jika saja Inggit mau tetap menjadi istri pertama Sukarno, Inggit memiliki kesempatan untuk menjadi Ibu Negara yang peranannya tentu akan lebih dihargai dan dihormati, bukan menjadi perempuan yang biasa yang “dilupakan”, disitulah aku menemukan Inggit sebagai sosok perempuan yang kuat, perempuan yang mampu berdaulat atas dirinya sendiri, perempuan yang memiliki prinsip dan sikap.

Begitulah… ngaleut pertama ini benar-benar sesuatu yang menyenangkan, sekaligus juga menyedihkan karena seperti pada umumnya tempat-tempat bersejarah di Indonesia, banyak tempat-tempat bersejarah yang seharusnya terjaga dan mendapat perawatan kini hanya menjadi tempat-tempat kumuh yang penuh sampah, bahkan sebagian sudah tidak ada, banyak yang sudah beralih fungsi menjadi pertokoan bahkan tempat pembuangan sampah. Sungguh miris melihat kondisi itu, padahal kita bisa belajar dari masa lalu, sebagaimana kata Bung Karno “JAS MERAH”, jangan sekali-kali melupakan sejarah. Tapi begitulah kita, kita tak pernah bisa menghargai peninggalan-peninggalan masalalu, kita sepertinya hendak dijadikan lupa dengan sejarah masa lampau, padahal jika kita mau belajar, masalalu adalah pelajaran berharga untuk masa depan.

Inilah rumah terakhir Inggit Garnasih, rumah ini terlihat “cukup bagus” karena mungkin baru direnovasi..
Di ruangan inilah Sukarno ditahan di Penjara Banceuy (yang kini telah beralih fungsi menjadi pertokoan)yang tersisa hanyalah ruangan bersejarah ini, dengan kondisi yang memprihatinkan..


Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s