Jadi Pemandu Wisata Kota Sendiri Yuk!

Oleh : Fadhli A.Sadar

Terbayang tidak,kalau suatu saat ada teman kita dari luar daerah, atau luar negri datang berkunjung ke kota kita? dan yang kita ceritakan paling tempat makan,minum, wisata, dan tempat hiburan lainnya. Akan sangat garing rasanya yang kita bicarakan hanya itu itu saja. Namun alangkah menariknya jika kita menceritakan tempat-tempat bersejarah yang ada di kota kita.

Nah dari gagasan tersebut komunitas Aleut ini, melaksanakan semacam pelatihan tour guide. Pelatihan tour Guide ini sebenarnya dilaksanakan untuk Aleutian,para pegiat komunitas Aleut, untuk menjadi pemandu acara-acara Aleut berikutnya nanti. Diharapkan Para Aleutian bisa membantu menjelaskan kepada peserta mengenai bangunan bersejarah sekitar Gedung Merdeka sampai ke Alun Alun kota Bandung, ujar Indra Pratama, koordinator komunitas ini.

Salah satu Aleutian, Pia Zakiyah, sedang melakukan simulasi menjadi seorang pemandu wisata di titik 0 kota Bandung (dok.fadhli)

Untuk jadi tour guide, haruslah memiliki wawasan yang baik mengenai kawasan yang akan kita terangkan nanti. Selain itu sopan santun dan wibawa sangat dibutuhkan dalam pemanduan agar,peserta tetap bisa menjaga sikap. penggunaan bahasa populer akan sangat membantu dalam menerangkan bangunan yang akan dikunjungi. Suara pemandu juga harus lantang supaya tidak ‘tenggelam’ dengan suara kebisingan lalu lintas.

Ketika suasana mulai dirasa membosankan, keluarkan candaan yang dapat mencairkan suasana. Satu lagi, terkadang peserta lebih senang jika ada cerita menarik yang unik dari kawasan yang akan dipandu. Misalnya,dulu pada saat Charlie Chaplin datang mengunjungi hotel Savoy Homann, banyak orang orang yang berkumpul mengerubuni depan hotel tepat di depan balkon ruangan hotelnya. Hal itu membuat sang bintang kesulitan untuk keluar dari hotel, dan akhirnya Charlie Chaplin pun mengakalinya dengan, menyewa aktor teater di sekitar Braga untuk berdandan seperti dirinya dan keluar untuk menyapa penggemar di balkon. Alhasil Charlie Chaplin, berhasil keluar melalui pintu belakang hotel,tanpa harus berhadapan dengan penggemarnya di Bandung.

Indiana Ayu, salah satu pegiat komunitas ini sedang melakukan simulasi pemandu wisata di depan Plakat Dasa Sila Bandung, depan Hotel Savoy Homan

Keuntungan jadi pemandu, selain menambah wawasan tentang sejarah kota Bandung, kita bisa memperluas jaringan kita, siapa tau ssalah satu peserta adalah seorang pemimpin perusahaan yang membutuhkan tenaga kita. Tertarik? kunjungi akun Facebook kita di Komunitas aleut, atau follow twitter kita di @KomunitasAleut

tulisan asli : http://fadhliakhmad.lokal.detik.com/2011/02/28/jadi-pemandu-wisata-kota-sendiri-yuk/

Berjalan, Belajar, Bersuka Ria bersama Komunitas Aleut!

Oleh : Ayu ‘Kuke’ Wulandari

Bandung pagi ini cerah. Sangat cerah! Sampai-sampai Biru Langit dan Awan-awan saling berlomba ambil tempat di sana-sini. Kebetulan pula hari Minggu ini ada kegiatan “Bandung Lautan Sepeda”. Semestinya menyenangkan. Tapi dampaknya tidak terlalu menyenangkan karena kegiatan entah-berapa pihak lain jadilah terpaksa kehilangan ketepatan waktu pelaksanaan. Salah satunya ya kegiatan ngAleut kali ini o_O Tapi apakah kehilangan keceriaan?? ^_^ tentu tidak! Kami semua tetap bersemangat, berusaha fokus di antara deraan hiruk-pikuk yang melintasi Gedung Merdeka di Asia-Afrika, tempat berkumpul Aleutian kali ini.

Para Peserta Bandung Lautan Sepeda melintasi Asia-Afrika
Para Peserta Bandung Lautan Sepeda melintasi Asia-Afrika

 

Dalam rangka menyambut si hari Minggu yang cerah, Komunitas Aleut! mengadakan Latihan Pemanduan. Sesi kali ini bisa dinyatakan sebagai Sesi Pembuka dari rangkaian pelatihan rutin yang sudah menanti di depan. Obyeknya jelas: Bandung! Jalur yang dilalui adalah “Jalur Kelahiran Kota Bandung“. Subyeknya pun jelas: Sejarah! . Namun karena Sejarah itu adalah sesuatu yang lebih sering dikenal sebagai si-pembuat-kerut-kerut, Aleutian dikenalkan dengan cara penyampaian yang lebih asyik. Bagi yang belum pernah merasakan jalan-jalan bareng Komunitas Aleut atau Plezier Gedong Merdeka tahun lalu pasti belum punya bayangan deh ^_^ Tidak tertarik untuk sekali-sekali mencoba bergabung?!

Apa sih tujuan dari Latihan Pemanduan ini? Kepentingan pribadinya sih ya untuk regenerasi dalam Komunitas Aleut! sendiri. Namun, atas nama “Kontribusi bagi Lingkungan Sekitar” (baca: setidaknya demi Bandung, tapi harapannya sih bisa meluas ke lebih-dari-sekedar-Bandung) Aleutian disiapkan pula untuk bisa berbagi dengan bagian luar komunitas. Bagaimanapun Pengetahuan itu milik Dunia kan?! Wajib hukumnya untuk disampaikan ^_^

berhenti di Jembatan Penyeberangan, berpose sebentar, lalu menyimak kembali kisah tentang Swarha dan misteri angka 4 yang ditulis IIII di Jam Menara Mandiri
berhenti di Jembatan Penyeberangan, berpose sebentar, lalu menyimak kembali kisah tentang Swarha dan misteri angka 4 yang ditulis IIII di Jam Menara Mandiri

 

Oh iya, apa sih itu “Jalur Kelahiran Kota Bandung”?? Spot mana saja yang dikunjungi?? Apa saja ceritanya??

Wah wah wah ^_^ baiklah! Sebagian besar cerita lengkap dari masing-masing spot tersebut dipaparkan dalam blog Komunitas Aleut! Silakan mengunjungi ^_^ Ada pun spot-spot untuk “Jalur Kelahiran Kota Bandung” yaitu:

  • Tugu 0 (nol) Kilometer yang menyimpan kisah tentang tongkat-nya Eyang Daendels;
  • Hotel Preanger yang menyimpan memori Soekarno sebagai Drafter-nya Schoemaker;
  • Hotel Savoy Homann yang jadi pilihan Charlie Chaplin untuk menginap setiap kali ke Bandung;
  • de Vries yang merupakan Mal pertama di Bandung pada zamannya;
  • Kawasan Regol yang konon merupakan tempat tinggal bagi para abdi dalem atau pelayan bangsawan Bandung;
  • Bioskop-bioskop Tua di sekitaran Alun-alun Bandung;
  • Pendopo yang menyimpan hasil karya Soekarno sebagai seorang Arsitek;
  • Makam Dalem Kaum yang merupakan makam dari R.A. Wiranatakusumah II;
  • Toko De Zon dengan ornamen Matahari di bagian depan gedungnya;
  • Bangunan Hotel Swarha yang menurut kisahnya menjadi tempat menginap para tamu dan wartawan Konferensi Asia Afrika;
  • Penjara Banceuy yang sempat mengurung kebebasan gerak seorang Soekarno dan saksi pengorbanan Ibu Inggit;
  • Sumur Bandung *psstt.. ini bukan Jalan Sumur Bandung loh yaaa.. lokasinya ada di Jalan Cikapundung..* yang ternyata masih dijadikan lokasi ritual oleh pribadi/kelompok tertentu; dan
  • Gedung Merdeka atau yang kini lebih dikenal sebagai Museum Asia-Afrika.
Beberapa Rute Latihan PemanduanBeberapa Rute Latihan Pemanduan 

Meski cerah kemudian berganti menjadi relatif-panas-terik dan diakhiri dengan hujan, para Aleutian tetap ceria dan semakin tak sabar menanti sesi Latihan Pemanduan berikutnya. Semangat berbagi dan menularkan belajar-sejarah-yang-menyenangkan itulah yang menjadi bahan bakar ^_^v

Sampai jumpa lagi di ngAleut berikutnya ^_^ Selamat segera bergabung bagi yang mulai-penasaran, sudah-mulai-penasaran, sudah-mulai-penasaran-dari-dulu, siapa sajalah yang penasaran *_* Jangan kuatir tidak ada teman! Kami semua menyambut teman-teman baru di sini!

tulisan asli : http://edukasi.kompasiana.com/2011/02/28/berjalan-belajar-bersuka-ria-bersama-komunitas-aleut/

Selayang Pandang Cina di Parijs van Java

 

Oleh : Mutiara Intan Permata

Mendengar kata Cina akan terbesit langsung dalam benak banyak orang termasuk penulis tentang karakter fisik orang cina yang tidak lain adalah berkulit kuning, mata sipit, dan berambut hitam lurus. selanjutnya hal itu diikuti dengan kenyataan bahwa bangsa cina unggul dalam bidang perekonomian, anda tentunya pernah mendengar lelucon lokal yang menyatakan “orang cina mah palalinter dagang nu matak beunghar (orang cina itu pintar dagang, sehingga mereka kaya)”, fakta unik tersebut membuat penulis melontarkan pertanyaan sederhana  “AADC (ada apa dengan cina?)

 

Sampai tanggal 19 februari 2011 penulis masih saja tidak memiliki ide yang cukup koheren dan signifikan untuk menjawab pertanyaan tersebut. Semua praduga dan hipotesis masih terletak di area abu-abu tanpa memiliki kejelasan untuk digali. Sampai keesokan paginya penulis yang kebetulan berdomisili di bandung ini berinisiatif meluangkan waktu untuk ikut serta ngaleut bersama rekan-rekan Komunitas Aleut, mulai dari Gedung Konferensi Asia Afrika hingga titik akhir di Vihara Hiap Thian Kiong. Tentunya banyak sekali kepingan puzzle yang akhirnya terkumpul dari celotehan-celotehan para pegiat Aleut yang datang hari ini (20 februari 2011). Salah satunya adalah informasi mengenai pecinan atau pemukiman cina yang terletak di kota Bandung, pecinan ternyata merupakan perkampungan cina yang sejak jaman walanda telah dikonstruksi sosial dengan tujuan untuk menekan kekuatan masyarakat Cina tersebut sehingga mampu diatur dengan mudah oleh pihak Kolonis Belanda. Dan yang lebih mengejutkan lagi, pihak walanda sendiri dengan briliannya telah menerapkan sistem tersebut bukan hanya terhadap masyarakat cina (Tiong Hoa) namun juga kepada masyarakat timur asing yang diisi oleh warga Arab, India, dan ras berwarna lainnya. Ide yang sangat luar biasa bukan? Mengatur sistem sosial dengan memisahkan masyarakat berdasarkan rasnya masing-masing, keuntungan dari sistem ini selain untuk mempermudah control, namun juga untuk mengisolasi masyarakat tersebut dari etnis lainnya, karena jika terjadi proses pembauran antara masyarakat etnis satu dengan etnis lainnya, dikhawatirkan akan menimbulkan rasa sepenanggungan yang muncul akibat kesamaan terjajah oleh pihak walanda. Jika sudah begitu, akan sulit sekali bukan mengatasi gelombang pemberontakan terhadap penjajahan walanda?

 

 

Selanjutnya fakta bahwa masyarakat Cina datang ke Parijs van Java melalui perniagaan merupakan hal yang tak terbantahkan, maka dengan cerdik pemerintah walanda memisahkan keberadaan mereka dari pribumi dan masyarakat timur asing, melokalisasi mereka di daerah-daerah konsentrasi (khusus untuk Bandung, ini terbentang di sekitar jalan Banceuy sampai jalan klenteng), padahal jelas-jelas mereka telah membantu pemerintah walanda dalam bidang perekonomian. Sekali lagi fakta sejarah menunjukan bahwa masyarakat Cina telah unggul di bidang ekonomi sejak dahulu kala!

 

 

Hal lainnya yang sangat identik dengan masyarakat Cina adalah kepercayaan mereka terhadap dewa-dewa dan dunia setelah kematian, temasuk proses reinkarnasi. Dimana hal tersebut telah diatur dalam ketetapan yang mereka yakini berputar layaknya roda. Namun kepercayaan masyarakat Cina di Indonesia telah mengalami proses sinkreitisme dengan Budha. Ini bukanlah tanpa sebab, hal ini terjadi tidak lain karena kebijakan Orde baru dengan jelas melarang segala jenis aktivitas berbau ‘Cina’ yang sebagian orang yakini sebagai indikasi ‘cina phobia’.  Inipun menimbulkan polemik berkepanjangan, sebab kebijakan tersebut menimbulkan Gap antara pribumi dan masyarakat keturunan Cina. Dampak lainnya adalah kepercayaan mereka pun (re: konghucu) dilarang. Dalam hal ini, Budha sebagai salah satu dari Agama yang diakui di Indonesia memberikan ‘sanctuary’ atau perlindungan berupa keleluasaan kepada masyarakat Cina untuk beribadah di dalam Vihara (tempat peribadatan orang Budha). Sisa-sisa sinkreitisme masih terlihat jelas sampai saat ini,jika tidak percaya! Coba tengoklah Klenteng atau Vihara di Indonesia, contohnya klenteng Hiap Thian Kiong di Bandung yang terletak di Jalan klenteng. Ketika berkeliling seputaran klenteng tersebut jangan terkejut bila menemukan patung Bodhisatva (nama lain Sidharta Gautama) berada disana, itulah bukti nyata dari proses sinkreitisme antara Konghuchu dan Cina.

 

Sampai saat inipun sisa-sisa peninggalan masyarakat cina terdahulu di Parijs van Java masih terlihat jelas, sepanjang jalan banceuy, jalan klenteng, pun asia afrika, masih dijumpai rumah-rumah tua yang dihuni oleh orang Cina, dapat dipastikan pula bahwa mereka telah menghuni rumah tersebut dalam waktu lama dengan sistem herediter (turun temurun) dari sang leluhur. Sehingga ketika tradisi imlek dirayakan, maka dapat dipastikan daerah-daerah yang telah disebutkan tadi menjadi pusat perhelatan hari raya agung untuk masyarakat Cina tersebut. Mereka hidup rukun saling menghormati, menghargai tanah yang mereka pijak, dan mengaku bahwa mereka pun berkebangsaan Indonesia.

Dari sedikit penjelasan diatas dapat terlihat betapa jelasnya isu akan china phobia yang pernah ada atau bahkan masih ada sampai saat ini. Seperti telah dipaparkan sebelumnya, ini bisa jadi merupakan opini publik yang terbentuk berdasarkan konstruksi sosial yang dibuat secara politis. Namun tak perlu jauh-jauh menganalisa sampai ranah tersebut, karena yang diperlukan disini adalah kesadaran bahwa setiap masyarakat dari belahan dunia manapun memiliki karateristik yang luar biasa sehingga mampu membangun peradaban yang luar biasa pula, dan salah satunya adalah masyarakat Cina. Dengan etos kerja serta kearifan budaya yang mereka miliki, mereka mampu menjadi pemegang kendali perekonomian dimanapun mereka berada, ini menjawab pertanyaan ‘mengapa orang cina pintar dan pandai berdagang?. Dan di Bandung, fenomena tersebut telah ada sejak jaman kompeni dan antek-anteknya menjajah Indonesia, mungkin hal tersebut pun terjadi pula di belahan Nusantara lainnya.

 

Melihat kenyataan tersebut rasanya tak seorang pun boleh membangun kembali tembok penghalang antara pribumi dengan masyarakat Cina, bukankah kita sudah bebas dari belenggu penjajahan kompeni? Oleh karena bukalah cakrawala pikiran seluas-luasnya dan tanamkanlah sikap toleransi juga menghargai semua perbedaan yang ada.  Dan satu lagi, setelah perjalanan aleut pecinan kali ini, tak ada salahnya jika kita mengadaptasi hal-hal baik yang telah ditunjukkan oleh masyarakat cina. Semoga perjalanan-perjalanan Aleut! berikutnya mampu memberikan pelajaran moral yang lebih baik lagi J