Oto Iskandar Dinata

Oleh : Asep Suryana

Beberapa hari tertunda menulis catatan perjalanan ini, karena majalah khusus mengenai organisasi Paguyuban Pasundan (PP) dan Oto Iskandar Dinata yang akan dijadikan rujukan utama tidak kunjung ditemukan.

 

Sebenarnya untuk mencapai Pasir Pahlawan yang berada di Km 15 Jl. Raya Bandung-Lembang dapat ditempuh dengan mudah naik kendaraan umum. Tapi itu bukan kebiasaan Aleut. Hari Minggu tanggal 13 Februari 2011 saya bersama Komunitas Aleut menempuhnya dengan berjalan kaki dari Puncrut (Punclut)-Ciumbuleuit Bandung melalui Jalan Wangunsari, kemudian Peneropongan Bintang, dan Pasir Pahlawan.

Berjalan menuju Pasir Pahlawan

 

Mengapa pasir (bukit kecil) ini disebut Pasir Pahlawan? Di bukit ini terdapat Monumen Pahlawan Nasional Oto Iskandar Dinata. Mungkin generasi sekarang lebih mengenal sutradara Nia Dinata yang merupakan cicit Otto Iskandar Dinata. Menurut data pada prasasti yang ada di monumen beliau dilahirkan tanggal 31 Maret 1887 dan wafat 20 Desember 1945. Tetapi dalam berbagai buku tahun kelahirannya banyak ditulis 1897. Sesungguhnya tidak sulit mengetahui wajah beliau, karena tertera pada uang kertas pecahan Rp 20.000,-

Gerbang Monumen

Prasasti

Monumen

 

Beliau dilahirkan di Bojongsoang Kabupaten Bandung. Pendidikan dasar ditempuh di HIS (Hollandsch-Inlandsche School) kemudian melanjutkan ke Kweekschool Onderbouw (Sekolah Guru pertama) di Bandung dan Hogere Kweekschool (Sekolagh Guru Atas) di Purworejo. Kegiatannya dalam pergerakan nasional a.l. menjadi Wakil ketua Budi Utomo cabang Bandung (1921-1924), kemudian ketika pindah mengajar di Pekalongan tahun 1924 beliau pun menjadi anggota Dewan Kota mewakili Budi Utomo. Di Dewan Kota beliau beberapa kali  membela rakyat tertindas bahkan pernah bertengkar dengan Residen Pekalongan. Tahun 1928 beliau dipindahkan ke Jakarta.

 

Semula Oto Iskandar Dinata enggan masuk Paguyuban Pasundan (PP), karena beliau mempunyai visi sebagai seorang nasionalis. Tetapi akhirnya masuk juga ke organisasi tersebut malah menjadi Ketuanya dari 1929-1942. Meskipun ruang lingkup kegiatan Paguyuban Pasundan dalam pendidikan, sosial , dan budayanya di Jawa Barat, tetapi dalam politik bersama organisasi pergerakan lainnya memperjuangkan Indonesia merdeka. Ini terbukti dengan masuknya PP ke dalam Permufakatan Perhimpunan Partai Politik Kebangsaan Indonesia (PPPKI) tahun 1927.

 

Oto Iskandar Dinata menjadi anggota Volksraad atau Dewan Rakyat semacam parlemen mewakili Paguyuban Pasundan dalam tiga periode dari 1931-1942. Di dalam dewan inilah beliau terkenal sangat keras dan vokal membela rakyat tertindas dan memperjuangkan ke arah Indonesia merdeka. Keberadaannya di dalam dewan menguntungkan saat banyak organisasi pergerakan di luar banyak diberangus oleh pemerintah Hindia-Belanda, sehingga perjuangan ke arah kemerdekaan tetap berjalan. Atas keberaniannya dan juga sebagai orator ulung di Volksraad , beliau dijuluki Si Jalak Harupat, suaranya nyaring dan tajam seperti burung jalak.

 

Dalam masa penjajahan Jepang semua surat kabar dan organisasi politik dibekukan tak terkecuali PP. Untuk menyelamatkan PP, maka Oto Iskandar Dinata mendirikan Badan Usaha Pasundan. Beliau juga mendukung gagasan Gatot Mangkoepradja yang mengusulkan dibentuknya barisan pemuda bersifat militer kepada penguasa Jepang. Kemudian terbentuklah PETA (Pembela Tanah Air). Usaha ini ditujukan agar kelak Indonesia sudah merdeka mempunyai tenaga terdidik dalam kemiliteran. Beliau tidak hanya menganjurkan orang lain masuk PETA, tetapi anaknya sendiri diminta masuk PETA yaitu anak sulung yang bernama Sentot. Padahal Sentot berniat melanjutkan ke Sekolah Tinggi Teknik (sekarang ITB). Namuh ayahnya mengatakan bahwa kepentingan bangsa harus didahulukan baru keluarga.  Banyak tokoh pergerakan meyakini apabila sudah terjadi Perang Asia Timur Raya, maka kemerdekaan Indonesia sudah dekat. Setelah Indonesia merdeka terbukti banyak mantan anggota PETA yang menjadi inti dari organisasi militer seperti BKR, TKR, TRI, dan akhirnya TNI. Pada kurun waktu 1942-1945 Oto Iskandar Dinata memimpin surat kabar Tjahaja dalam pengawasan Jepang. Sifat kooperatifnya dengan Jepang adalah untuk memengaruhi penguasa Jepang demi keuntungan perjuangan kemerdekaan Indonesia. Hal ini dilakukan juga oleh insan pergerakan lainnya dalam mendirikan Putera (Pusat Tenaga Rakyat) yang dipimpin empat serangkai Soekarno, Hatta, Ki Hajar Dewantoro,dan K.H. Mas Mansyur. Pada Tahun 1945 Oto Iskandar Dinata juga menjadi anggota BPUPKI (Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia) dan PPKI (Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia).

Makam Mayjen (Purn) R. Sentot Iskandar Dinata terletak di depan monumen bersama beberapa makam pejuang Bandung Utara

 

Pada waktu Indonesia merdeka beliau menjadi salah satu Menteri Negara Pertahanan dalam kabinet pertama. Beliau berperan dalam pembentukan BKR. Masih beberapa bulan umur kemerdekaan Indonesia, beliau mengalami fitnah dan diduga diculik oleh sebuah laskar rakyat yang disebut Laskar Hitam kemudian dibunuh di Pantai Mauk – Tangerang pada tanggal 20 Desember 1945. Jasadnya tidak pernah ditemukan. Masyarakat Jawa Barat tidak puas atas lambannya hasil penyelidikan pemerintah mengenai kasusu ini serta kurangnya perhatian dari pada tokoh-tokoh nasional saat itu. Pada tahun 1952 diambilah segenggam tanah dan sedikit air dari Pantai Mauk dan ditanam di atas bukit yang kini menjadi monumen. Menurut saksi mata iring-iringan yang mengantar pemakaman simbolik ini mengular beberapa kilometer di Jalan Raya Bandung-Lembang. Pada tahun masa Orde Baru tahun 1973 Oto Iskandar Dinata barulah diberi gelar Pahlawan Nasional, tidak pada masa Orde Lama.

 

Pada kesempatan ini kami berdiskusi apa yang kami ketahui mengenai kepahlawanan Oto Iskandar Dinata. Ternyata pengetahuan kami tidaklah memadai. Mudah-mudahan dengan mengunjungi langsung obyek sejarah perjuangan seperti ini lebih manarik minat untuk menggali lebih dalam nilai-nilai kejuangan yang telah dilakukan para pahlawan dan sedikitnya berpengaruh kepada kami dalam menapaki hidup berbangsa dan bernegara.

Berdiskusi

 

Sudah seringkali saya melewati Pasir Pahlawan ini, bahkan ketika masih kuliah untuk kerja praktek di Observatorium Bosscha, tak sekalipun menyempatkan untuk melihat dari dekat monumen ini. Meskipun sadar sejarah sudah agak terlambat beruntung saya menemukan Komunitas Aleut, wadah untuk belajar sejarah bukan hanya dengan membaca. Begitu pula dalam wadah ini ada apresiasi wisata dan perhatian pada lingkungan.

 

Rujukan:

“Oto Iskandar Dinata” http://id.wikipedia.org/wiki/Oto_Iskandar_di_Nata

“Misteri Si Jalak Harupat” http://majalah.tempointeraktif.com/id/arsip/2007/08/13/LU/mbm.20070813.LU124723.id.html

“Putera”, http://id.wikipedia.org/wiki/Putera

Pringgodigdo, A.K., “Sejarah Pergerakan Rakyat Indonesia”, Dian Rakyat, Cetakan ketiga belas, 1994

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s