Inggit Garnasih dan Runtuhnya Sebuah Stereotip

Oleh : Eka An Aqimuddin

Titik-titik air mulai merambat turun saat kami, aku dan dua orang teman, menghabiskan sisa hari selepas perkuliahan di sebuah kedai kopi. Suasana senja memang cocok untuk dilewati dengan berbagi tutur serta ditemani secangkir kopi hangat. Obrolan pun mengalir deras. Pada sebuah fragmen perbincangan itu, seorang temanku mengajukan sebuah usulan. “Kalian kalau cari istri atau pacar jangan pilih perempuan sunda!”. Mendengar itu aku hanya tersenyum. Kawanku yang lain bertanya balik. “Emang kenapa bu?” Rupa-rupanya ia gusar mendengar petuah itu. “Perempuan sunda itu matere alias pengeretan. Bisa-bisa bangkrut kalian dibuatnya.” Suara tawa pun kami pecah.

Tentu saja temanku itu tidak serius ketika mengajukan usulnya. Sebagai perantau di Bandung yang baru menghabiskan waktu dua tahun, asumsi yang dibangunya sudah tentu jauh dari valid. Tapi pertanyaannya adalah bagaimana ia bisa mengatakan itu? Bisa jadi ia punya pengalaman buruk dengan perempuan Sunda, kemungkinan lainnya adalah ia hanya meneruskan omongan orang lain. Premis yang kedua lebih masuk akal bagiku, sebab aku juga pernah mendengar cerita “buruk” tentang perempuan Sunda yang seperti itu.

Yang pasti adalah bahwa temanku sudah jatuh pada salah satu kesalahan nalar (logical fallacies) sewaktu mengucapkan pendapatnya yaitu: stereotip. Ia terlampau mengeneralisir bahwa semua perempuan Sunda memiliki perangai yang sama. Padahal bisa jadi faktanya jauh berbeda. Untuk menunjukkan kesalahan temanku itu sebenarnya cukup mudah. Dengan menggunakan metode falsifikasi dari Karl Popper, maka mengajukan nama Inggit Garnasih menjadi suatu yang sahih untuk meruntuhkan asumsi tersebut.

Siapakah Inggit Garnasih itu? sependek pengetahuanku beliau adalah salah satu mantan istri Bung Karno. Berhubung aku tidak begitu tertarik dengan Si Bung Besar itu, –dan lebih tertarik kepada Bung Kaca Mata dan Bung Kecil—maka pengetahuan tentang Inggit Garnasih pun sangat minim.

Beruntung ada Aleut! di Bandung. Berdasarkan cerita-cerita dari perjalanan Ngaleut minggu lalu ke tempat kediaman Inggit Garnasih, maka sedikit banyak terkuak latar kehidupan perempuan kelahiran Banjaran, Kab. Bandung, seratusduapuluhdua tahun yang lalu itu.

Relasi Inggit Garnasih dengan Soekarno dimulai ketika Soekarno berkuliah di Bandung dan dititipkan ke rumah H. Sanoesi oleh mertuanya, yaitu H.O.S Tjokroaminoto. Kondisinya pada saat itu adalah Soekarno dan Inggit Garnasih sama-sama telah memiliki pasangan. Soekarno beristrikan Oetari, putri dari H.O.S Tjokroaminoto sedangkan Inggit Garnasih bersuamikan H. Sanoesi, aktivis Sarekat Islam. Berdasarkan fakta itulah, aku tidak habis pikir, faktor apakah yang bisa membuat mereka akhirnya memutuskan untuk menikah dan menceraikan pasangannya masing-masing? jika alasan mereka bercerai hanya untuk melapangkan jalan agar mereka bisa menikah, bagiku itu cukup mengecewakan. Faktanya mereka menikah dan yang dapat diketahui bahwa alasanya adalah cinta. Rasanya memang percuma untuk menasehati orang yang sedang di mabuk cinta, bukan? cinta itu buta kata-kata orang dahulu tapi Efek Rumah Kaca punya jawaban atas proposisi itu. Kalu cinta itu buta maka para penempuhnya akan tersesat.

Saat Soekarno dan Inggit Garnasih menikah, usia mereka terpaut jauh. Soekarno berusia 22 tahun dan Inggit Garnasih 33 tahun. Suatu peristiwa yang mungkin tidak lazim pada waktu itu tapi toh mereka tetap melakoninya.

Inggit Garnasih mengambil banyak resiko ketika memutuskan untuk menikah dengan Soekarno. Lazimnya, perempuan seumur Inggit Garnasih, lebih memilih kemapanan dan ketenangan hidup yang bisa jadi telah ia dapatkan dalam pernikahanya dengan H. Sanoesi. Akan tetapi, ia mempertaruhkan nasibnya. Dengan menikahi Soekarno, seorang aktivis kemerdekaan, Inggit tahu bahwa jalan hidup mereka tak akan mulus. Benar saja, untuk membiayai hidup mereka saja, Inggit lah yang bekerja keras untuk mencari uang dengan membuat bedak dan jamu, sedangkan Soekarno berkonsentrasi untuk berjuang demi republik. Apa yang dilakukan oleh Inggit Garnasih itu dapat bercerita kepada kita bahwa beliau adalah perempuan mandiri yang tidak banyak menuntut kepada suami, khususnya urusan materi.

Tapi, apakah Inggit Garnasih paham bahwa apa yang mereka lakukan di awal sebelum pernikahan mereka (baca:bercerai) mungkin saja dapat terulang? bisa jadi ia telah memperhitungkan itu, buktinya adalah beliau bekerja keras mencari nafkah membiayai rumah tangga mereka sehingga tidak terlalu tergantung kepada Soekarno.

Oleh karena itu, saat Soekarno kembali “menyandungkan dirinya” dalam urusan cinta saat dibuang ke Bengkulu, Inggit Garnasih dengan tegas menolak untuk menggadai cintanya. Ia lebih memilih untuk bercerai dengan Soekarno. Bagiku, pilihan Inggit adalah contoh sebuah pilihan yang lahir dari kepercayaan diri yang tinggi. Ia paham bahwa cinta adalah urusan yang bersifat pribadi dan tidak mungkin dibagi. Dan baginya, mungkin saja pernikahan tidak sesakral yang didengung-dengungkan banyak orang. Jika landasan pernikahan (baca:cinta) mulai menguap apalagi digadai, maka pilihanya hanya satu. Cerai!!

Kisah Inggit Garnasih, menurutku, dapat dijadikan contoh yang baik untuk meruntuhkan stereotip perempuan Sunda yang diasumsikan materialistis dan menyerahkan hidup seluruhnya kepada suami. Iya! Inggit Garnasih adalah teladan yang bisa dimajukan bahwa perempuan Sunda juga mampu mandiri, kerja keras dan memiliki prinsip. Jika demikian, maka stereotip yang mungkin telah bersliweran di banyak tempat dapat digugurkan sebab stereotip itu tidak hanya salah akan tetapi sesat pikir.

@eka_aa

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s