catatan romantisme yang tercecer: Enggit – Kusno – Indonesia

Oleh : Ayu ‘Kuke’ Wulandari

30.01.2011 :: Rumah Bersejarah Inggit Garnasih

 

Aleutian di teras belakang rumah Ibu Inggit Garnasih

Rumah itu tertutup, terkunci. Mana bisa memaksa Pak Juru Kunci yang sedang sakit untuk tergopoh-terhuyung datang membukakan 🙂 Maka selazimnya Komunitas Aleut! yang aku kenal: tak ada rotan, akar pun jadi 😉 tak ada pintu yang terbuka, di teras belakang pun tak apa. Sergapan rasa nyaman yang sudah membaurkan diri dengan hasrat tubuhku yang ingin segera duduk sejak melalui gerbang besi di depan seperti sontak mendapatkan anugerah jawaban. Keinginan liarnya sih gugulingan di rumput halaman belakang 😛 untungnya si aku sedang cukup insyaf tidak melakukan “kegilaan” 🙂 jadi ya sudah, aku ikut duduk manis saja di pojokan antara 2 (dua) pintu (pintu belakang rumah dan ruang yang tak tahu berfungsi sebagai apa selain sebagai tempat penyimpan tampah anyaman). Tidak tidur, tidak juga mendengarkan Pak Tito (lengkapnya Tito Zeni Asmarahadi) yang bercerita dan berusaha menjawab pertanyaan kawan-kawan Aleutian. Ada sih sesekali malah ingin berlaku jail pada seseorang yang terkena dampak nikmat dari segelas Es Cendol Elizabeth dan seporsi Baso Tahu, tapi.. aahh.. biarlah 🙂 kapan lagi merasakan tidur siang di rumah bersejarah Ibu Inggit Garnasih kan?! *itu kata si korban kenikmatan itu sendiri loh.. beneurr..*

 

Rumah bersejarah Inggit Garnasih

Aaahh, sekelebatan detik aku mulai bisa merasakan ajakan bercakap-cakap dari Si Tanah 😀 iya, Tanah tempat rumah bersejarah ini berdiri. Masih, aku masih sekilas mendengarkan cerita mengalir dalam satu suara manusia, ditimpali suara-suara manusia lainnya. Hanya saja, Tanah bilang dia bisa membawaku lebih menyelami makna kisah cinta yang ia saksikan sendiri 🙂 apa aku bisa menolak? *kalo udah hapal kebiasaan si aku.. pasti ngerti.. heuheu..* Aku mengiyakan ajakan Tanah, sesekali ditimpali para Rumput muda, Pohon dan Tanaman dewasa. Aku sampai tak tahu harus memakai ekspresi yang mana dari sekian ekspresi yang Tuhan jadikan milikku sementara. Tanah membenarkan cerita Pak Tito, bahkan lebih 🙂 sangat lebih. Ingin menangis tak bisa. Senyum-senyum sendiri mungkin sudah tak sadar aku lakukan. Kalau lah boleh punya kesempatan belajar mencinta dengan segala kemewahan pengalaman seperti itu, sepertinya aku ingin meminta. Sekali, lalu mati bahagia 😀

 

Inggit Garnasih & Soekarno *sumber: google image

Coba lihat gambar potret pasangan di sebelah kiri ini. Apakah tampak jelas keduanya memiliki perbedaan usia 13 (tiga belas) tahun?? *perhitungan: Soekarno lahir 6 Juni 1901, Inggit Garnasih 17 Februari 1888, keduanya menikah 24 Maret 1923 * Karena, ya itulah faktanya. Inggit dan Soekarno bukanlah pasangan sebaya, bukan pula pasangan yang setara tingkat pendidikannya, berbeda latar keluarga , dan tak saling dalam keadaan bebas ketika tak sengaja terjerat cinta (Inggit masih berstatus istri Sanusi, Soekarno masih berstatus suami Oetari). Intens bertemu, bercakap-cakap saling tukar pikiran (yang anehnya tak timpang, saling menyesuaikan dengan seimbang), tampaknya Soekarno muda mulai merasa dan segera terbiasa dengan Inggit dewasa lalu yakin itulah “rumah” yang tepat untuknya. Bercerailah beliau dari Oetari, beberapa waktu kemudian tak ragu meminta Inggit pada Sanusi, sempat terkendala ketika akan melamar Inggit karena ayah Inggit melihat perbedaan yang terlalu timpang.

 

Ada yang tak masuk akal dengan kerelaan Sanusi akan Inggit. Inggit bukanlah seorang perempuan yang punya karakter “bergelantungan-mencekik”. Pasti tak mudah buat Sanusi. Beliau hanya manusia yang berjuang keras menyembunyikan getir dan pedih di balik senyum iklasnya menerima kejujuran dua anak manusia itu. Ketika beliau berhasil menempatkan cinta pada negara yang belum kenal pekik “merdeka” di atas kebutuhan cinta untuk dirinya sendiri, apa itu tidak luar biasa?!

 

Rasa kagum belum berhenti pada titik itu. Keluarbiasaan Sanusi, dijawab pula dengan keluarbiasaan lainnya oleh Inggit. Lihatlah betapa beliau mampu menyeimbangkan dan menempatkan dirinya dengan cerdas selama mendampingi Soekarno. Beliau tak punya waktu untuk minder dari perbedaan latar pendidikannya dengan Kusno kesayangannya itu. Inggit belajar, berusaha menyesuaikan diri. Romantisnya *heuheu.. menurutku ini romantis..* Soekarno muda pun paham bagaimana cara mengajari Enggit kesayangannya itu dan memperlakukannya tanpa merendahkan. Inggit pun seakan tak kenal berhenti menjadi perempuan yang pengasih dan mandiri, karena beliau paham betul Soekarno dan cita-citanya. Romantisnya *maap.. menurutku ini juga romantis..* Soekarno menjawab dengan bentuk kesungguhan berupaya mewujudkan cita-cita besar yang bukan hanya miliknya. Lalu ketika sang kekasih mulai mendapatkan cobaan tahanan dan pengasingan, Inggit tak pergi, beliau tetap ada ditempatnya sebagai istri, setia sekali. Lagi-lagi, romantisnya *biar bosan juga dah..* Soekarno menjawab dengan kesungguhan demi kesungguhan lagi, bisa mengusir keputusasaan yang tidak mungkin tidak pernah singgah dalam deraan keadaan saat itu. Bagaimana bisa untuk tidak mengatakan betapa luar biasanya itu semua?? Cinta yang seperti itu.

 

Aku terharu, tapi tak bisa mengeluarkan ekspresi yang bersesuaian dengan tepat. Cerita Tanah yang penuh visualisasi jauh lebih membekas dari apa yang disampaikan Pak Tito. Baru kali ini aku berhasil terserang rasa iri tingkat pembuka. Aku iri dengan apa yang dilalui Inggit! Perihal cintanya?? Bisa jadi.. iya 🙂 Perihal keiklasannya, mungkin itu yang lebih tepat mendekati.. iya 🙂 Kalaulah hati Inggit tak sepenuh cinta dengan kadar yang mungkin tak cukup muat sebumi ini, apa beliau akan sepenuhnya rela melepaskan Kusno kesayangannya menjadi pengumandang perdana kemerdekaan yang jadi cita-cita bersama justru didampingi perempuan lain? Inggit melakukan keluarbiasaan yang tak beda dengan apa yang sudah diterimanya dari Sanusi. Beliau merelakan tak jadi bagian pesta pora dari kelahiran buah cinta yang paling nyata, buah cinta murni Enggit & Kusno yang bernama Indonesia, buah cinta yang akhirnya menaungi banyak manusia ragam generasi hingga kini.

 

Ketika Tanah menutup ceritanya. Ketika sudah tiba giliran untuk menyampaikan apa yang membekas di hati dan kepala sebagaimana rutin dilakukan Aleutian. Adanya aku tak bisa mencegah untuk tak tergetar berkata,

 

“Aku makin bangga sebagai orang Indonesia. Karena ia lahir dari cinta yang sebesar itu.”

 

*maap.. dah ga kepikiran lagi gimana ini ending catatan ngaleut-nya.. mataku sudah membasah.. terharu..

 

P.S. : dimuat juga di http://kuke.wordpress.com/

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s