Air mata terakhir pemandian Tjihampelas

Oleh : M. Ryzki W.
Di sebuah foto berusia 80 tahun itu terlihat keluarga Vrijburg tengah ”Picknick” di kawasan Pemandian Cihampelas atau lebih dikenal sebagai Zwemband Tjihampelas pada masanya. Meisjes Vrijburg yang bersantap ria bersama anak-anaknya, sedangkan di foto yang lain terlihat sang ayah tengah berpose bersama team polo airnya di salah satu sisi pemandian Tjihampelas. Itulah sedikit dokumentasi yang memperlihatkan kejayaan pemandian cihampelas di masa lalu.

Beberapa tahun yang lalu, masih terlihat kemeriahan anak-anak muda yang mempraktikan materi pelajaran olahraga renangnya di sekolanya. Remaja-remaja nakal itu mencorat-coret dinding batu yang memagari pemandian tua ini, dengan harapan coretannya akan membekas abadi, menjadi tanda mata kenangan masa muda yang penuh dinamika.

Kini kondisinya lain, terlihat sebuah patung dewa Neptunus yang tampak muram namun masih setia mengucurkan airnya, dikelilingi reruntuhan batu yang merintih. Kondisinya bagai baru saja ditimpa sebuah bom. Jantungnya telah berhenti. Kolam tua ini telah menemui ajalnya di tangan anak cucunya yang tidak tahu malu.

Eugene Ruskin tahun 1898 pernah mengatakan ,”Membongkar bangunan kuno, apalagi yang bernilai sejarah, bukanlah dosa kecil…”. Dalam hal ini, Kota Bandung mungkin merupakan sebuah “Lokalisasi Pelacuran” besar, menyediakan godaan yang cukup banyak sehingga dosa besar tersebut dapat terjadi kapan saja, terutama apabila kota ini dikelola oleh seseorang bermoral rendah. Kini “Dosa Besar” tersebut terjadi lagi. Sebuah bangunan malang bernilai sejarah harus merelakan dirinya dilindas oleh suatu “kepentingan yang lebih besar”. Pemandian Tjihampelas yang legendaris akan digantikan oleh sebuah “Rusunami”.

Seperti biasa, sebuah dosa biasanya disertai dengan sebuah penyangkalan dari pelakunya. Ia yang meratakan bangunan bersejarah ini berkilah bahwa bangunan ini tidak memiliki nilai sejarah, “Pemandian itu tidak termasuk bangunan cagar budaya dari jumlah 99 yang nanti akan dibuat perdanya,” ujar walikota Bandung saat itu yang namanya saya lupa.

Pertama, dari aspek sejarah, bangunan ini merupakan kolam renang/pemandian pertama di Hindia Belanda, dibangun tahun 1902 atas prakarsa Ny. Homann, istri pemilik hotel Homann untuk melayani tamu-tamu Eropanya yang rindu dengan suasana kampung halaman mereka, setelah sebelumnya digunakan sebagai kolam ikan hias milik sang nyonya Homann. Tentunya orang-orang Eropa ini ogah bernenang di empang-empang yang biasa dipakai kaum pribumi. Jadilah kolam renang ini ekslusif untuk orang Eropa saja. Hotel Homann saat itu hingga bersedia menyediakan angkutan pedati yang akan mengantar tamunya yang ingin mandi di Cihampelas ini. Inilah yang salah satunya membuat turis-turis Eropa tertarik untuk mengunjungi Bandung.

Warga pribumi saat itu memang hanya dapat memandangi kemeriahan pemandian ini dari jauh. Kondisi ini merupakan fakta sejarah yang tidak dapat dihapus dan akan menjadi pengingat akan kondisi sosial saat itu dimana perlakuan penjajah yang sangat diskriminatif terhadap pribumi. Menghilangkan kolam ini tidak akan serta merta menghilangkan kenyataan bahwa kondisi pahit tersebut pernah terjadi.

Kemudian dari sisi arsitektur, kolam ini dibangun dalam konteks arsitektur abad 19 yang contoh bangunannya tidak banyak di Bandung. Penggunaan bentuk atap khas dan dinding batu kali yang masiv menunjukan adopsi asitektur lokal yang menarik. Kolam ini terhitung cukup lengkap pada masanya, menyediakan 3 buah kolam dengan standar internasional, pertama berukurang 25 X 50meter berkedalaman 1,2 hingga 2 meter, kemudian kolam kedua berukuran 12 X 12 meter, berkedalaman 1,1 meter, sedangkan kolam ketiga berukuran 8 X 3 meter berkedalam 80 CM khusus untuk anak-anak.

Di masa kejayaanya, menurut Voskuil, pendirian Bandoengse Zwem Bond atau Perserikatan Renang Bandung tahun 1917 turut mewarnai sejarah pemandian ini. Perserikatan ini membawahi 7 perkumpulan, diantaranya club-club renang sekolah seperti OSVIA, MULO dan KWEEKSCHOOL. Pada tahun 1936 Di kolam renang i ni seorang Hindia Belanda bernama Pet Stam berhasil mencatat rekor 0:59.9 untuk 100 meter gaya bebas dan, berhasil dikirim untuk ambil bagian dalam Olimpiade Berlin atas nama negeri Belanda. Selain renang, pada masa tersebut olahraga polo air diadakan setiap hari minggu di tempat ini.

Pasca kemerdekaan, menurut bapak Sudarsono Katam, kolam renang ini ikut mewarnai perkembangan olahraga Jawa Barat. Kolam ini menjadi tempat berlatih klub renang Aquarius sejak 1952. Kolam ini pernah melahirkan atlet-atlet renang Jabar yang berhasil unjuk kemampuan di tingkat nasional dan internasional, seperti Susanti Wangsawiguna dan Wijaya Aulia.

Dari uraian di atas, kolam Pemandian Cihampelas ternyata telah memenuhi aspek-aspek bangunan bersejarah menurut Snyder dan Catanes (1979), yaitu : Kelangkaan (tidak dimiliki daerah lain), Kesejarahan (lokasi peristiwa bersejarah), Estetika, Superlativas (keunikan), Kejamakan(mewakili ragam arsitektur tertentu) hingga pengaruh terhadap social (meningkatkan citra lingkungan sekitar). Jadi tidak ada lagi alasan bahwa bangunan ini tidak bernilai sejarah.

Dari sebuah spanduk yang saya temukan di area Pemandian ini, terlihat bahwa warga menentang pembongkaran pemandian serta pembangunan Rusunami ini atasnya. Pertanyaanya, ide siapakah yang membangun suatu rusunami di tengah kawasan padat tengah kota, yang hanya bisa dilalui jalan kecil padahal secara konsep bangunan2 ini seharusnya dibangun di pinggir kota ? Serta sejak kapan pengembang Ciwalk melirik pembangunan Rusunami ? Dilihat dari namanya saja, rusunami (rumah susun sederhana milik) jelas-jelas ditujukan bagi warga mampu, bukan warga miskin yang hanya kuat untuk menyewa. Terakhir, Apa yang ada di benak penata kota ini untuk menambah keramaian pada Jalanan Cihampelas yang setiap hari dilalui kendaraan secara padat merayap? Masih banyak pertanyaan-pertanyaan lain yang sangat logis ditanyakan kepada pemerintah kota sehingga begitu arogannya melepas bangunan cagar hanya untuk kepentingan pemodal yang hanya peduli pada profit semata sedangkan warga “pribumi” hanya bisa menonton, lalu apa bedanya mereka dengan penjajah?

Photographer : ATBH (Adri Teguh Bey Haqi)

Iklan

8 pemikiran pada “Air mata terakhir pemandian Tjihampelas

  1. Mantap tulisan ini memberi gambaran yang jelas atas nasib Pemandian Tjihampelas. Betul aneh kalau bangunan ini tidak dimasukkan ke dalam Cagar Budaya. Hee heu Ayan sampai “lupa” nama Walikota

  2. Tulisan yang bagus kang….!!!! keren….!!!! ngomong-ngomong banyak tanda tanya besar di kasus ini…. saya juga ingin sekali mendobrak ada apa di pemandian ciham[elas ini…. kalau boleh, saya mau nanya…. apa boleh saya ambil poto2-nya yang jadul itu untuk saya dokumentasikan dan saya kaji lebih dalam???? saya mau buat artikel besar-besaran tentang pemandian cihampelas ini…. makasih….
    Xp

  3. setelah membaca artikel ini, saya merasa tertarik, dengan cara penyajian maupun teknik liputannya. Saya mengundang saudara untuk mengisi artikel atau tulisan laporannya (sharing), dengan konsep citizen journalist ke situs kami: di redaksi@maklumat-independen.com dan bisa dilihat di http://www.maklumat-independen.com. Atau untuk komunikasi bisa email ke wawan.w@maklumat-independen.com
    Besar harapan saya untuk partisipasi saudara nanti. Terima kasih. (Wawan-Lembaga Kajian Independen)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s