Meretas Kampung Tua di Bandung Utara Bernama Coblong

Coblong saat ini adalah nama salah satu kecamatan di Kota Bandung, namun mungkin sedikit yang mengatahui jika Coblong di masa lalu adalah nama salah satu kampung tua di Bandung Utara. Berikut ini kisahnya.

Toponomi Coblong

Untuk memulai kisah Kampung Coblong, saya akan mulai dengan membahas toponimi nama Coblong karena akan berkaitan dengan nama daerah di sekitarnya. Baca lebih lanjut

Menghisap Candu di Bandung

Oleh: Irfan Teguh Pribadi (@irfanteguh)

    • Banyak teks fiksi dan memoar yang mengetengahkan fragmen tentang candu di Bandung.
    • Sebuah gang di Kampung Arab, persisnya Gang Aljabri, menjadi tempat madat di Kota Bandung.

Melacak keberadaan candu dan para pemadat di Kota Bandung.

tirto.id – Bandung tempo dulu tak hanya dibaluri julukan yang bertendensi pujian macam Parijs van Java, The Garden of Allah, Paradise in Exile, Europe in de Tropen, De Bloem der Indische Bergsteden, dll, namun juga menyisakan kisah tentang candu atau madat.

Seperti ditulis James R. Rush dalam Candu Tempo Doeloe, pemerintah kolonial Belanda pernah menjadikan candu sebagai pundi-pundi kas negara. Persebaran candu di Pulau Jawa ternyata masuk dan beredar di Bandung, kota pegunungan yang menjadi salah satu “anak emas” pemerintah kolonial.

Agak sulit sebetulnya mendapatkan catatan yang gamblang ihwal candu di Bandung, namun jika menilik beberapa teks fiksi dan memoar, akan banyak ditemukan fragmen-fragmen pendek yang setidaknya menjelaskan bahwa candu telah ada dan hidup dalam keseharian sebagian masyarakat Bandung. Baca lebih lanjut

#KelasResensi: Pekan ke-2

Oleh: Irfan Teguh Pribadi (@irfanteguh)

Memasuki pekan ke-2, peserta bertambah satu orang. Seperti pada pertemuan sebelumnya, kali pun buku-buku yang dibaca masih didominasi oleh teks-teks sastra; tiga kumpulan cerita pendek, dan dua novel. Sisanya tentang sejarah Kota Bandung dan kumpulan esai tentang budaya sehari-hari di Jepang.

Beberapa peserta, selain meresensinya secara lisan, juga mulai ada yang menuangkannya dalam bentuk tulisan. Belum banyak memang, tapi setidaknya menegaskan satu hal, bahwa membaca dan menulis adalah dua sisi yang tak bisa dipisahkan. Menulis kerap, atau bahkan selalu lahir dari proses membaca terlebih dahulu.

Berikut daftar buku yang diresensi pada pekan ke-2 itu :

  1. Sebuah Usaha Menulis Surat Cinta (Puthut EA)

Ini adalah buku kumpulan cerita pendek. Diterbitkan–salah satunya, dalam rangka memperingati 15 tahun kepengarangan penulisnya. Dari 15 cerita yang disajikan, pasangan hidup—setidaknya menurut Puthut, adalah pangkal dan muara luka. Dalam jenak hidup manusia, terutama yang sadar betul akan identitasnya sebagai makhluk sosial, mempunyai pasangan tentu bukan perkara aneh. Lumrah bahkan. Namun serupa barang pecah belah, hubungan antar manusia yang kerap didominasi oleh perasaan ini, pada perjalanannya acapkali rumit.

  1. Hidup Hanya Sekali (Remi Sylado)

Kisah dengan latar kota Bandung ini menceritakan tentang dua insan yang saling jatuh cinta, namun ternyata—setelah perjalanan panjang cerita, mereka adalah bersaudara. Mereka, dua orang yang saling jatuh cinta itu adalah Satria Sofiandi dan Madalena. Sepanjang cerita, penulis banyak membangun kebetulan-kebetulan antar peristiwa. Sulur ini terus mengalir sampai di penghujung. Selain itu, barangkali salah satu kebiasaan Remi, ia mengomentari banyak hal; mulai dari kebiasaan menganggukkan kepala, sampai kecenderungan anak muda yang menyukai filsafat eksistensialisme.

  1. Wajah Bandoeng Tempo Doeloe (Haryoto Kunto)

Dalam salah satu karya “Kuncen Bandung” ini termuat ihwal; latar belakang kelahiran kota, cerita-cerita nostalgia tempo dulu, pernik kejayaan kota, pudarnya wajah dan citra Bandung tempo dulu seiring berjalannya waktu, kisah dan nasib bangunan-bangunan bersejarah, serta Bandung dalam kerangka harapan dan kenyataan yang mesti dihadapi oleh warga kota. Cara penulis yang lancar dalam bertutur meski tak selalu kronologis, juga dilengkapi dengan kutipan-kutipan lagu dan puisi, serta ilustrasi yang menarik, membuat buku ini seolah naskah dongeng tentang perjalanan panjang sebuah kota.

 

  1. Semua Untuk Hindia (Iksana Banu)

Penulis kisah fiksi yang latar ceritanya seputar masa kolonial dan penjajahan, tak banyak yang bertutur dari sudut pandang “orang lain”. Di Indonesia, ketika sejarah ditulis dengan gelegak semangat nasionalisme, akhirnya hanya memposisikan dua kubu yang berlawanan secara abadi, yaitu kita (pribumi, si terjajah) dan mereka (orang asing, si penjajah, orang lain). Buku ini adalah sedikit dari pengecualian. Di tangan Iksana Banu, dengan menggunakan sudut pandang orang Belanda dan Indo, sejarah tak melulu sehimpun narasi hitam-putih, namun ada juga wilayah abu-abu yang kadang ditumbuhi oleh benih kemesraan kemanusiaan.

  1. Orang dan Bambu Jepang (Ajip Rosidi)

Ini adalah pengalaman dan pandangan Ajip Rosidi selama bertahun-tahun merantau di Jepang. Sebagai seorang gaijin atau orang asing, Ajip melihat dengan dekat kebudayaan sehari-hari masyarakat di sana. Buku berisi 28 esai ini, di satu sisi, bisa dijadikan semacam panduan bagi warga asing, khususnya Indonesia, yang hendak tinggal di Jepang. Namun di sisi lain, karena ada—sedikit banyak, laku membandingkan-bandingkan dengan budaya di Indonesia, maka buku ini jadi terkesan terlampau banyak menyindir.

  1. Cinta Tak Pernah Tua (Benny Arnas)

Antologi cerita pendek ini, dari satu kisah ke kisah berikutnya, tidak seperti antologi cerpen lain yang relatif mandiri antar cerita, di buku ini justru memiliki keterkaitan. 12 cerita yang dihimpun, semuanya menceritakan Tanjung Samin dan keluarganya. Poligami, cemburu, kehilangan anak, hingga kesetiaan; semuanya muncul dalam rangkaian cerita pendek ini. Diksi dan kiasan yang cenderung berlarat-larat, membuat antologi ini—bagi sebagian pembaca, agak sulit dipahami dan dinikmati.

  1. A Farewell to Arms (Ernest Hemingway)

Entah disengaja atau tidak, novel yang menurut beberapa pembacanya terasa membosankan, juga ternyata menceritakan prajurit yang sudah bosan dengan perang. Ia lalu melarikan diri dari pertempuran bersama kekasihnya. Semua peristiwa dari mula pertempuran, terluka di medan laga, melarikan diri dalam situasi peperangan, dan sampai kekasihnya meninggal—semua adegan yang mestinya subur dengan aroma ketegangan, luapan emosi, dan letupan kecemasan, justru dihamparkan dengan datar begitu saja. Seorang kawan pernah menulis, “gaya Hemingway terbaik di eranya, tapi pembaca dia di generasi setelahnya punya pandangan lain.” Sekali ini, ungkapan itu barangkali benar. [ ]

Komunitas Aleut: Mencintai Kota dari Dekat

Oleh: Irfan Teguh Pribadi (@irfanteguh)

“Kotamu nanti bakal mekar menjadi plaza raksasa

Banyak yang terasa baru, segala yang lama

mungkin akan tinggal cerita,

dan kita tak punya waktu untuk berduka.”

(Joko Pinurbo)

***

Karsa 1Seseorang datang ke kantor Pemkot Bandung hendak melihat dokumentasi catatan sejarah tentang kota tempat lahirnya, namun sayang sejarah yang dia cari hanya tersaji pada tiga lembar kertas folio. Tiga lembar saja! Dia adalah Haryoto Kunto (alm). Berangkat dari kekecewaan itulah akhirnya beliau menulis beberapa buku tentang Bandung yang sangat lengkap, di antaranya adalah Wajah Bandoeng Tempo Doeloe dan Semerbak Bunga di Bandung Raya, tak lama kemudian beliau ditasbihkan sebagai Kuncen Bandung.

Kelahiran Komunitas Aleut sedikit banyak dipengaruhi oleh buku-buku Sang Kuncen Bandung itu. Komunitas ini, satu dari beberapa komunitas lain yang—seperti sepenggal puisi Joko Pinurbo yang saya kutip di awal tulisan—merasakan kegelisahan terhadap kondisi kota yang semakin hari kian berubah. Pembangunan merangsek di segala penjuru, yang celakanya kadang kurang memperhatikan unsur sejarah yang menjadi ingatan kolektif warga kota.

Cikal bakal komunitas ini diawali ketika Direktur Program Radio Mestika FM Bandung, yaitu Ridwan Hutagalung, membuat satu program di radionya yang bernama “Afternoon Coffee”. Acara ini sepekan sekali disajikan untuk membahas sejarah Kota Bandung yang sumbernya sebagian besar diambil dari buku-buku Haryoto Kunto.

Ridwan–di tengah tahun 2005, kemudian dilibatkan oleh panitia ospek mahasiswa baru Jurusan Sejarah Universitas Padjadjaran untuk ikut dalam acara yang relatif segar, yaitu ospek tanpa kekerasan, dan sebagai gantinya adalah mengunjungi situs-situs bersejarah di Kota Bandung. Gagasan ini ternyata mendapatkan respon yang positif dari para peserta ospek. Dari situlah kemudian muncul ide untuk mendirikan sebuah komunitas yang fokus utamanya pada apresiasi sejarah kota. Maka pada tahun 2006 resmilah didirikan Komunitas Aleut. Baca lebih lanjut