Ringkasan Biografi Inggit Garnasih

Tulisan ini merupakan hasil latihan Kelas Menulis sebagai bagian dari Aleut Development Program 2020. Tulisan sudah merupakan hasil ringkasan dan tidak memuat data-data penyerta yang diminta dalam tugas.

Ditulis oleh: Deuis Raniarti

Buku: Senja di Ranah Bandung; Sejarah Singkat Inggit Garnasih.

Inggit Garnasih adalah seorang wanita yang perannya sangat besar bagi kesuksesan Sukarno, beliau adalah wanita yang mampu berperan sebagai teman, kekasih, serta ibu, bagi Sukarno. Ia menemani Sukarno dalam berbagai tahap kehidupan seperti membantunya menyelesaikan pendidikan, menemani perjalanan politiknya, hingga bertahan pada setiap masa sulit maupun senang.

Dalam perjalanannya menemani Sukarno, Inggit tidak ditakdirkan memasuki istana. Ia hanya mengantarkan Sukarno hingga gerbang kemerdekaan.

Sinopsis

Buku ini menceritakan biografi Inggit secara singkat. Inggit lahir di Kamasan, ia tumbuh dalam keluarga petani yang sederhana. Inggit dikenal sebagai gadis cantik yang dikagumi banyak pria, namun pilihan Inggit jatuh pada Sanusi, tapi kisah cinta mereka terhalang oleh status ekonomi, karena Sanusi adalah seorang keturunan kaya raya. “Waja harus dengan waja, besi harus dengan besi.” pada saat itu memang status dan kedudukan keluarga selalu menjadi pertimbangan manakala sebuah perkawinan akan dilangsungkan.

Akhirnya, pada usia 16 tahun ia menikah dengan seorang Kopral Residen Belanda bernama Nata Atmaja, namun pernikahan mereka hanya bertahan 4 tahun dan tanpa dikaruniai anak. Inggit bertemu kembali dan menikah dengan Sanusi yang statusnya sudah berubah menjadi duda anak dua, mereka tinggal di daerah Kebonjati. Sanusi adalah saudagar kaya, selama tinggal dengannya Inggit tidak pernah merasakan kesusahan.

HOS Cokroaminoto menitipkan menantunya, Sukarno, kepada Sanusi. Selama bersekolah, Sukarno tinggal di rumah Sanusi bersama Inggit. Rumah itu menjadi lebih sering kedatangan tamu karena Sukarno aktif dalam dunia politik. Sanusi lebih sering menghabiskan harinya di luar, dari sanalah kedekatan Sukarno dan Inggit semakin menjadi setiap harinya. Sanusi menyadari apa yang terjadi di antara keduanya, akhirnya ia memutuskan untuk bercerai dengan Inggit dan menitipkannya pada Sukarno. Sukarno pun menceraikan istri pertamanya, Utari.

Menjalani kehidupan setelah menikah dengan seorang mahasiswa tentu berbeda dengan kehidupannya sebelumnya. Inggit membuat bedak, lulur dan kutang untuk dijual. Hasil dagangnya ini ia gunakan untuk membiayai hidup sehari-hari dan untuk perjalanan politik Sukarno. Sukarno beberapa kali dipenjara dan diasingkan karena dianggap terlalu membahayakan Belanda. Inggit tetap setia mendampingi dan selalu bersiasat mengabarkan kondisi yang sedang terjadi ketika Sukarno di dalam bui. Ia rela berpuasa untuk menyembunyikan buku di perutnya dan berjalan kaki menempuh jarak beberapa kilometer untuk menemui Sukarno.

Suatu hari, Sukarno diasingkan ke Ende, lalu dipindahkan ke Bengkulu. Di sinilah ia bertemu dengan Fatmawati. Gadis itu mampu menarik perhatian Sukarno. Tak lama setelah itu, Sukarno pun ingin menikahi Fatmawati. Inggit enggan dimadu dan memilih bercerai. Inggit kembali ke Bandung. Dua tahun setelah perceraian mereka, Indonesia merdeka dan Sukarno menjadi presiden pertama Republik Indonesia.

  • Informasi Tambahan

Buku ini adalah buku untuk gerakan literasi sekolah dan tidak diperjualbelikan. Cerita lebih lengkap mengenai kisah Inggit Garnasih dan Sukarno dapat dibaca di buku Kuantar Ke Gerbang karya Ramadhan K.H.

Lacak Jejak Inggit Garnasih, Minggu, 14 April 2013

13 April adalah tanggal wafatnya Ibu Inggit Garnasih, seorang tokoh perempuan dari Bandung yang ikut mewarnai sejarah nasional mendampingi suaminya, Ir. Sukarno, yang kelak menjadi presiden pertama Republik Indonesia.

Inggit Garnasih berada di samping Sukarno sejak Sukarno masih menjadi mahasiswa di THS (ITB) di Bandung, membantu membiayai perkuliahannya, mengikuti setiap langkah perjuangannya mencapai kemerdekaan Indonesia, mendampingi bersama keluarganya ke pembuangan di Ende, Flores, hingga Bengkulu.

Inggit hanya mengantarkan Sukarno hingga gerbang kemerdekaan Republik Indonesia, tanpa pernah melewati gerbang tersebut. Inggit tidak menikmati semua yang mereka cita-citakan bersama selama di Bandung, Ende, dan Bengkulu.

Kegiatan Komunitas Aleut bekerjasama dengan mooibandoeng kali ini mencoba memperkenalkan ulang tokoh Inggit Garnasih kepada warga Bandung. Sebagai bekal pengetahuan, kami ringkaskan beberapa buku yang menulis tentang Inggit, terutama “Kuantar ke Gerbang” karya Ramadhan KH (Kiblat, Bandung, 2002) dan “Biografi Inggit Garnasih; Perempuan dalam Hidup Sukarno” karya Reni Nuryanti (Ombak, Yogyakarta, 2007).

Yang menarik dalam proses kegiatan ini kami malah menemukan beberapa hal baru yang tidak terduga sebelumnya, yaitu beberapa rumah yang pernah ditinggali oleh pasangan Inggit-Sukarno, rumah orang tua Dewi Sartika, bekas rumah tinggal Sosrokartono (kakak Kartini), dan lain-lain. Ternyata masih banyak cerita yang tersimpan di sudut-sudut Kota Bandung menanti generasi berikut mengungkapkannya kepada masyarakat..

ImagePin Lacak Jejak Inggit Garnasih

Image

 

Leaflet Lacak Jejak Inggit Garnasih

Image

 

Kartu Kelompok Lacak Jejak Inggit Garnasih

Image

 

Kolase foto objek yang harus ditemukan oleh semua peserta dalam Lacak Jejak Inggit Garnasih