Pabrik Teh Sedep

Oleh: Mooibandoeng (@mooibandoeng)

image

Pabrik Teh Sedep di lingkungan pergunungan yang bener-bener sedep. Selain pabrik, bangunan-bangunan sekitarnya yang selalu menggoda itu, akhirnya dapat terkunjungi juga.

Di dalam rumah Hoofdadministrateur ada plakat yang menyebutkan angka tahun 1930 untuk pabriknya, tetapi cap pada barang-barang rumah tangga menyebutkan angka tahun 1929. Sedangkan palakat khusus untuk hoofdaministrateur menyebut angka tahun 1907 (-1932). Jadi kapan sebenarnya perkebunan ini lahir? :-))

Peran Karel Frederik Holle dalam Perkembangan Literasi Sunda

Oleh: Irfan Teguh Pribadi (@irfanteguh)

Karel Frederik Holle adalah salah seorang yang ikut dalam rombongan pelayaran warga Belanda yang dipimpin oleh Guillaume Louis Jacques van der Hucth pada tanggal 25 September 1843. Rombongan yang berlayar dari Belanda itu hendak menuju tanah harapan di timur jauh, yaitu sebuah negeri koloni yang bernama Hindia Belanda. Ia yang waktu pelayaran masih berusia 14 tahun, pada perjalanannya menjadi salah seorang pengusaha perkebunan di Priangan atau Preangerplanters yang sukses.

Mula-mula ia menekuni pekerjaan sebagai seorang klerk di Kantor Residen Cianjur, kemudian di Kantor Directie van Middelen en Domeinen di Batavia. Setelah bekerja selama sepuluh tahun, ia rupanya tidak merasa puas. Maka kemudian ia memutuskan untuk berhenti dan meninggalkannya pekerjaannya. K.F. Holle lalu diangkat menjadi Administratur Perkebunan Teh di Cikajang, Garut. Setelah itu lalu membuka Perkebunan Teh dan Kina Waspada (Bellevue) di kaki Gunung Cikuray.

Dalam menjalankan pekerjaan barunya di bidang perkebunan, K.F. Holle ternyata tertarik dengan literasi dan kebudayaan Sunda. Dalam keseharian, seperti yang tertulis dalam buku Kisah Para Preangerplanters karya Her Suganda, K.F. Holle selalu berbicara dengan bahasa Sunda sebagai bahasa pengantar dalam pergaulannya sehari-hari dengan masyarakat dan penguasa setempat. Tak hanya itu, ia pun kerap berpakaian menyerupai kaum pribumi, seperti memakai sarung dan kerepus.

Di tempat barunya ia berteman dengan Moehamad Moesa (Hoofd Penghulu Limbangan), juga dengan R.A. Lasminingrat, salah seorang putri Moehamad Moesa yang kemudian menjadi tokoh pendidikan dan sastrawan wanita Sunda. Berkat dorongan K.F. Holle, Lasminingrat berhasil mengarang dan menerjemahkan beberapa buku. Selain itu, salah seorang murid K.F. Holle, yakni Hasan Mustapa (Hoofd Penghulu yang pernah bertugas di Aceh dan Bandung), kemudian menjadi sastrawan Sunda yang berhasil melahirkan banyak karya.

Salah satu langkah penting yang pernah dilakukan K.F. Holle yaitu mendorong kawan-kawan pribuminya untuk berkarya. Moehamad Moesa, berkat persahabatan dengannya berhasil membuat beberapa karya yang dituangkan dalam buku, di antaranya : “Wawatjan Woelangkrama” (1862), “Wawatjan Dongeng-dongeng Toeladan” (1862), “Woelang Tani” (1862), “Wawatjan Satja Nala” (1863), “Wawatjan Tjarios Ali Moehtar” (1864), “Elmoe Nyawah” (1864), “Wawatjan Woelang Moerid” (1865), “Wawatjan Woelang Goeroe” (1865), “Wawatjan Pandji Woeloeng” (1871), dan “Dongeng-dongeng Pieunteungeun” (1887).

Di bawah pengawasannya, selain karya Moehamad Moesa, ada juga penulis pribumi lain yang berhasil melahirkan karya, di antaranya; Adi Widjaja, patih daerah Limbangan di Priangan, dan Bratawidjaja, mantan patih daerah Galuh di Kabupaten Sukapura (Tasikmalaya). Produksi buku-buku berbahasa Sunda yang berada dalam pengawasan K.F. Holle kira-kira berlangsung sampai 1880-an. Buku terakhir yang terbit di bawah pengawasannya adalah “Pagoeneman Soenda djeung Walanda” (Buku Percakapan Sunda Belanda), terbit pada tahun 1883. Dan yang terakhir dieditnya adalah “Mitra noe Tani” (Sahabat Petani) terbit tahun 1896.

Di bidang sejarah, K.F. Holle pernah menulis karangan tentang Dipati Ukur. Dari beberapa versi cerita tentang Dipati Ukur yang beredar di masyarakat, ia menulis tentang bupati Imbanagara dan Bagus Sutapura yang diceritakan memegang peranan penting dalam penumpasan pemberontakan Dipati Ukur terhadap Kerajaan Mataram dan reorganisasi pemerintahan di wilayah Priangan.

Tahun 1877, ia mentranskripsikan Prasasti Geger Hanjuang di Tasikmalaya yang tertuang dalam tulisannya yang berjudul “Beschreven Steen uit de Afdeeling Tasikmalaja Residentie Preanger”. Tulisan-tulisan lainnya banyak dijumpai dalam majalah Tijchrift van het Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen, Indische Gids, dan Tijdschrift van Landbouw en Nijverheid, yakni majalah pertanian dan kerajinan.

Dengan kemampuannya membaca bahasa Sunda Kuna, Holle juga sempat berusaha membaca prasati Batutulis yang ada di Buitenzorg (Bogor). Tahun 1869, hasil penelitiannya ditulis dengan judul “De Batoe Toelis te Buitenzorg”. Dalam tulisannya ia menyimpulkan bahwa Pakuan didirikan oleh Sri Baduga.

Salah satu bukunya yang paling populer, yang ia tulis bersama A.W. Holle (adiknya) adalah “Tjarita koera-koera djeung monyet”. Cerita fabel ini kemudian menyebar secara luas di kalangan masyarakat Sunda dengan judul “Sakadang Kuya jeung Sakadang Monyet”. Cerita ini kerap didongengkan kepada anak-anak menjelang tidur. Buku tersebut dianggap sebagai pelopor buku pegangan siswa di Jawa Barat yang diterbitkan pada tahun 1851 oleh Lange & Co, sebuah penerbit swasta di Batavia.

Apa yang dilakukan K.F. Holle di bidang literasi, menurut Mikihiro Moriyama dalam buku “Semangat Baru; Kolonialisme, Budaya Cetak, Dan Kesastraan Sunda Abad ke-19” merupakan salah satu dari gerakan penemuan, pemurnian, dan pendayagunaan bahasa Sunda, setelah dua abad sebelumnya dianggap tidak ada karena pengaruh kekuasan Mataram. Sepanjang abad 17 dan 18, bahasa tulisan yang dipakai dan berkembang di Tatar Sunda adalah bahasa Jawa. Hal ini tak lepas dari dikuasainya tanah Priangan oleh Kerajaan Mataram dari Jawa, dampak “penjajahan” Mataram ini terjadi di berbagai lini kehidupan, salah satunya adalah bahasa. Maka tak mengherankan jika selama hampir dua abad kesastraan Sunda berkembang menurut estetika Jawa.

Kondisi terpinggirkannya bahasa Sunda akibat pengaruh Jawa tersebut, juga pernah dikeluhkan oleh Moehamad Moesa dalam sebuah tulisan :

“Basa Soenda noe kalipoet / tanda jén kalipoetan / boektina di Soenda sepi / hanteu aja boekoe woengkoel basa Soenda / Réja maké doewa basa / Nja éta salah-sahidji / Malajoe atawa Djawa.” (Moesa 1867: 5)

“Bahasa Sunda yang tersembunyi / tanda bahwa ia tersembunyi / adalah bahasa Sunda dipencilkan / tidak ada buku yang ditulis / hanya dalam bahasa Sunda / kebanyakan ditulis dalam dua bahasa / yaitu salah satu di antara / bahasa Melayu atau Jawa.”

Bahkan kenyataan ini membuat pemerintah kolonial Belanda pada mulanya menganggap bahwa di Pulau Jawa tidakak ada bahasa etnik lain selain bahasa Jawa. Barulah kemudian pada abad ke-19, para intelektual Belanda yang berstatus pejabat pemerintah kolonial, penginjil, dan partikelir yang hidup pada abad itu, menemukan bahasa Sunda sebagai sebuah bahasa mandiri yang memiliki kosa kata dan struktur tersendiri, yang artinya berbeda dengan bahasa Jawa yang sebelumnya dianggap sebagai bahasa tunggal.

Apa yang di lakukan K.F. Holle dalam pergaulan sehari-harinya yang banyak tercurahkan terhadap budaya dan literasi Sunda, terutama persahabatannya dengan Moehamad Moesa, juga karena ia sendiri menjabat sebagai penasehat kehormatan pemerintah Hindia Belanda untuk urusan pribumi, kemudian melahirkan prasangaka dan kecurigaan, baik dari kalangan pribumi maupun dari pihak Belanda. Mikihiro Moriyama menyebut hal ini dengan kalimat yang tepat, yaitu “paduan ganjil antara oportunisme, persahabatan, dan keingintahuan.”

Namun bagaimanapun, peran K.F. Holle dalam perkembangan literasi Sunda kiranya tak dapat diabaikan begitu saja. Ketika ia meninggal dunia pada tahun 1896, anak lelaki Haji Moehamad Moesa yang bernama Kartawinata, menulis satu buku kecil yang ternyata menandakan berakhirnya suatu zaman. Ya, zaman yang ditinggalkan K.F. Holle dengan segala kecintaan dan peranannya terhadap perkembangan literasi Sunda. [ ]

 

Tautan asli: http://wangihujan.blogspot.co.id/2016/03/peran-karel-frederik-holle-dalam.html

Keluyur Cianjur

IMG-20160114-WA0144

Berbarengan dengan kegiatan @sahabatbosscha @mooibandoeng @KomunitasAleut berupa tour Riwayat Preangerplanters ke Garut-Cikajang, hari Minggu, 17 Januari 2016 lalu, sebetulnya @KomunitasAleut juga menjalankan dua kegiatan lain di kota berbeda.

Yang pertama adalah Ngaleut Cianjur atau Sejarah Kota Tua Cianjur, untuk ini kami pilih nama Keluyur Cianjur dengan penggerak Rendi Marliyadi. Pendaftaran dibuka beberapa hari saja sebelum hari-H dan terkumpullah +50 orang peserta. Ngaleut Cianjur berlangsung dengan lancar dan mulus, bahkan memunculkan beberapa rencana ke depan. Semoga dapat berjalan konsisten.

Satu kegiatan lainnya berlangsung di Jakarta, yaitu sebuah persiapan untuk mengadakan Kelas Resensi mingguan seperti yang sudah dilakukan selama ini setiap hari Sabtu oleh @KomunitasAleut dengan tempat di @KedaiPreanger Jl. Solontongan No.20-D, Bandung 40264. Semoga kegiatan ini segera berjalan dan dapat konsisten juga untuk jangka panjang. Penggerak kegiatan ini adalah rekan kami, Indra Pratama.

Kontak dan info2 @KomunitasAleut: 0896-8095-4394

Sang Juragan Teh

Oleh : Hevi Fauzan* (@hevifauzan)

Buku ini menceritakan perjuangan seorang petani teh, Rudolf Eduard Kerkhoven, yang berhasil membuka lahan di Gambung, sebuah daerah di sebelah selatan kota Bandung. Mula-mula terbit tahun 1992.

Dalam bahasa Belanda, buku ini diberi judul “Heren Van de Thee”. Buku biografi ini disusun berdasarkan surat-surat koresponden sekitar pelaku utama, keluarga, dan para pemodal perkebunan. Walaupun berdasarkan fakta sejarah, namun uraian di buku ini mampu menghidupkan tokoh-tokohnya karena penuturannya lebih mendekati pada novel. Mungkin kita bisa menyebutkan buku ini sebagai novel sejarah non-fiksi.

Latar waktu peristiwa terjadi di sekitar akhir abad 19, ketika Priangan sedang beristirahat dari sistem Preanger Stelsel yang berlangsung selama 150 tahun. Di tahun 1870, UU Agraria yang mulai diberlakukan di Hindia Belanda membuat para pengusaha partikelir mulai memasuki Hindia, termasuk kawasan Priangan.

Priangan adalah daerah yang sangat cantik dan juga subur. Keadaan ini membuat Martinus Antonius Weselinus Brouwer mengatakan bahwa “Bumi Pasundan (Priangan) lahir ketika Tuhan sedang tersenyum”. Bagaimana tidak? Bagi Negeri Belanda, Priangan adalah anugerah. Sebelum menerapkan system tanam paksa (Cultuur Stelsel), VOC dan pemerintah Belanda terlebih dahulu mengeksploitasi Priangan lewat tanaman kopi dari tahun 1720.

Dalam buku disertasinya yang berjudul “Keuntungan Kolonial dari Kerja Paksa: Sistem Priangan Dari Tanam Paksa Kopi di Jawa 1720-1870”, Jan Breman menjelaskan bahwa keuntungan pemerintah Belanda dari tanam paksa di Jawa termasuk Priangan dari tahun  1831 sampai 1866 mencapai 500 juta Gulden, suatu jumlah yang mampu melunasi hutang sekaligus membuat Belanda mampu melakukan modernisasi dengan lebih leluasa.

Karena sangat mencintai Priangan dan daerah sekitarnya, pemerintah Hindia Belanda sangat memanjakan daerah ini. Misalnya saja, daerah ini merupakan daerah non-Pantai Utara yang dilalui Jalan Raya Pos Besar. Bandung, ibukota karesidenan Priangan dicalonkan sebagai bakal ibu kota Hindia menggantikan Batavia walaupun rencana ini kemudian gagal.

Bukti lainnya, provinsi Jawa Barat merupakan provinsi pertama yang dibuat pemerintah dibandingkan provinsi lainnya, terutama yang ada di Jawa, seperti Jawa Timur dan Jawa Tengah. Jawa Barat dibentuk pada tahun 1926, sedangkan Jawa Timur di tahun 1929, dan Jawa Tengah tahun 1930. Priangan pun menjadi daerah yang dikuasai Belanda pasca perjanjian Renville (1948) yang membuat pasukan Siliwangi harus hijrah ke barat.

Kembali ke buku “Sang Juragan Teh”, Hella S. Haase—sang penyusun, merupakan penulis Belanda yang lahir di Batavia. Bukunya yang semula berbahasa Belanda dan kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, dicetak oleh penerbit PT Gramedia Pustaka Utama di tahun 2015, dan mempunyai ketebalan 430 halaman. Sampulnya menggambarkan seorang pria dengan gagah berkuda melewati perkebunan teh, didominasi warna hijau dan coklat, dua kombinasi warna pepohonan dan tanah.

Perjalanan hidup Rudolf Eduard Kerkhoven setelah dia mendarat di Jawa, yaitu membuka perkebunan, membina keluarga dan mengurus anak-anaknya, sampai terakhir dia meninggalkan Gambung diceritakan dengan cukup baik dan informatif. Gaya penerjemahan buku ini pun sangat baik sehingga saya tidak mendapatkan kesulitan ketika membaca buku ini dalam edisi bahasa Indonesia.

Buku ini memupuskan bayangan saya bahwa orang Belanda yang datang ke Nusantara tinggal menikmati hasil alamnya, tanpa harus bekerja keras, terus berfoya menikmati harta hasil eksploitasi mereka. Bayangan ini pupus setelah membaca kehidupan pria yang lahir di Avereest, Belanda , 25 April 1847 itu, yang disusun penulis sebagai suami, ayah, dan pengusaha yang baik. Dia digambarkan sebagai sosok idealis yang menjauhi sifat hura-hura.

Selain itu, buku ini menggambarkan bagaimana sistem modal berjalan di perusahaan-perusahaan teh Priangan. Diceritakan, bahwa Rudolf Eduard Kerkhoven membangun perkebunan tehnya dengan tanaman modal dari rekan dan keluarganya, sehingga untuk melakukan perubahan struktur keuangan misalnya, suami dari Jenny Elisabeth Henriete Roosgaarde Bisschop–salah satu cicit Gubernur jendral Daendels ini, harus berusaha keras memperoleh ijin dari para pemodal.

Kehidupan masyarakat Sunda, terutama etos kerja mereka disinggung sedikit di buku ini, juga pemandangan alam sekitar Gambung. Buku ini juga bercerita bagaimana transportasi sebelum masuknya jalur kereta api di Priangan. Perjalanan dari Gambung ke Bogor dan Batavia harus dilalui dengan menggunakan kereta kuda menyusuri Jalan Raya Pos dalam waktu yang lama. Dalam buku ini diceritakan bagaimana jalur Bandung-Cianjur memakai kereta kuda menghabiskan waktu 16 jam perjalanan.

Buku ini cocok bagi pecinta sejarah, utamanya bagi pembaca yang mencari biografi seorang pengusaha teh di Hindia Belanda karena menceritakan perkembangan awal perkebunan teh. Selain itu, kisah ini layak untuk dijadikan bahan dalam mempelajari kehidupan sosial, ekonomi, bahkan transportasi Hindia Belanda sebelum masuknya jalur kereta api ke Priangan.

Di atas itu semua, buku “Sang Juragan Teh” kiranya bisa dinikmati oleh siapa saja; untuk sekadar mengusir kesepian, sambil menikmati secangkir teh, di malam yang berhiaskan rintik dan rintih hujan. [ ]

  • Hevi Fauzan lebih senang memposisikan dirinya sebagai Bobotoh Persib. Berminat pada dunia per-keretaapi-an, dan bergiat di Komunitas Aleut.

 

Tautan asli: https://pustakapreangerblog.wordpress.com/2015/12/17/sang-juragan-teh/

Rel Kereta Api memiliki Arti

Oleh: Alek alias @A13Xtriple

Semenjak suka ikut-ikutan jalan-jalan dengan @KomunitasAleut, saya jadi terpacu dan senang memperhatikan detail setiap benda, terutama benda-benda lama yang memiliki nilai sejarah. Benda-benda tersebut tak lagi hanya menjadi benda mati tanpa arti, namun memiliki cerita di dalamnya. Dalam beberapa minggu di akhir bulan September dan awal bulan Oktober 2013 @KomunitasAleut mengadakan rangkaian perjalanan yang juga berhubungan dengan sejarah perkembangan kereta api di Bandung dan wilayah sekitarnya.

Pada tanggal 21 September 2013 saya mengikuti survey untuk kegiatan reguler @KomunitasAleut, rutenya mulai dari Lapangan Sidolig (Stadion Persib), Kosambi, hingga Parapatan Lima, di rute ini kami melewati pintu perlintasan Kereta Api Kosambi. Pada pintu perlintasan tersebut ada sebuah pos penjaga yang halamannya dipagari menggunakan bilah rel kereta api bekas yang dicat dengan warna biru dan putih. Saya perhatikan pada bilah rel itu terukir tulisan nama dengan deretan angka. Pada pagar rel di pos perlintasan ini dapat kita temukan beberapa rel yang bertuliskan KRUPP 1883 dan KRUPP 1890. Tulisan yang serupa juga ditemukan pada potongan rel kereta yang digunakan sebagai tiang net lapangan volleyball di dekat bekas stasiun kereta api Soreang (KRUPP 1890). Yang terakhir ini adalah bagian dari kegiatan @KomunitasAleut menyusuri jalur rel kereta api Soreang-Banjaran pada tanggal 28 September 2013.

Dalam penyusuran itu, kami melewati daerah Citaliktik di sisi jalan raya Soreang-Banjaran. Di situ kami menemukan bekas rel kereta api yang menggantung di atas tanah. Saat saya perhatikan, terdapat tulisan CARNEGIE USA 1919 SS. Tulisan serupa juga ditemukan pada pagar pos perlintasan kereta api di Kosambi dalam kegiatan Jelajah Kawasan Kosambi pada tanggal 6 Oktober 2013, tulisannya CARNEGIE USA 1920 SS.

Saya juga menemukan tulisan CARNEGIE USA 1921 SS di sisa rel dekat bekas stasiun kereta api Cikajang (+1246m), Garut. Yang ini saya dapatkan saat mengikuti kegiatan Jelajah Kawasan Perkebunan di Priangan, tanggal 12-14 Oktober 2013. Pada sekitar daerah bekas stasiun kereta api Cikajang, Garut, ini juga ditemukan tiang dari bekas rel kereta api yang bertuliskan KRUPP 1890.

Perkembangan dan masuknya jalur-jalur kereta api khususnya di daerah Bandung dan Priangan lagi-lagi tidak bisa dilepaskan dari sumbangsih perkebunan-perkebunan di tanah Priangan. Beberapa tahun setelah keluarnya Undang-Undang Agraria (1870), daerah Priangan menjadi terbuka bagi para pemilik modal yang ingin membuka dan menanamkan modal mereka di sektor perkebunan swasta di Hindia. Hal ini tentu saja memacu laju pertumbuhan jumlah perkebunan. Priangan di masa itu memiliki sebanyak 150 perkebunan atau 80% dari jumlah total perkebunan di seluruh Hindia Belanda. Pada tahun 1902, di Hindia Belanda terdapat 100 pekebunan teh, 81 perkebunan terletak di Priangan. Sedangkan perkebunan kina ketika itu berjumlah 80 perkebunan, dan 60 di antaranya terletak di Priangan. Kebanyakan perkebunan-perkebunan tersebut berada di kawasan pergunungan Priangan.

Tentu bisa dibayangkan sumbangsih sektor perkebunan Priangan bagi pemasukkan pemerintah Belanda. Sebagai gambaran besarnya sumbangan sektor perkebunan Priangan, hasil ekspor produk perkebunan kina Priangan pada tahun 1939 sebanyak 12.391 ton atau 90% dari seluruh produksi kina dunia. Karena besarnya sumbangan sektor perkebunan daerah Priangan dengan produk-produk ekspor unggulan di pasar dunia seperti teh, kopi, kina, dan karet, tak heran bila daerah ini mendapatkan prioritas untuk pembukaan jalur kereta api. Jalur kereta api ini tentu saja untuk mempermudah, memperlancar dan mempercepat pergerakan barang dan modal di daerah ini.

Memang sebelumnya sudah ada jalur jalan Onderneming yang dibangun pemerintah Hindia sebagai sarana transportasi hasil-hasil bumi dari program Tanam Paksa atau Cultuurstelsel. Salah satu hasil Revolusi Industri adalah penemuan kereta api uap yang membuat sistem transportasi menjadi lebih cepat dan efisien. Akhirnya Bandung mendapatkan akses jalur kereta api pada tahun 1884, lalu Bandung-Ciwidey, dan jalur kereta api ke Cikajang pada tahun 1890. Jalur ke daerah Bandung selain memudahkan pengangkutan hasil-hasil perkebunan, juga dalam rencana jangka panjang adalah sebagai sarana pendukung pemekaran Gemeente Bandoeng pada tahun 1919.

Jalur kereta api ke Ciwidey dibangun juga untuk memfasilitasi transportasi hasil perkebunan di daerah pedalaman (hinterland), tempat perkebunan-perkebunan besar seperti N.V. Assam Thee Onderneming Malabar (milik Preangerplanter K.A.R. Bosscha), atau perkebunan teh “Gamboeng” dan “Ardjasari” milik sepupu K.A.R Bosscha, Ir. Rudolf Eduard Kerkhoven. Di Cikajang, Garut, ada perkebunan teh Waspada (Bellevue) milik K.F. Holle atau perkebunan karet Boenisari Lendra, dll.

Masa jaya perkebunan kolonial sudah berlalu, banyak lintasan kereta api saat ini sudah tidak lagi beroperasi. Banyak juga artefak sejarah kereta api yang tertinggal dan masih dapat ditemukan, misalnya bilah-bilah rel seperti yang sudah diceritakan di atas. Bilah-bilah rel termasuk yang masih mudah dan banyak ditemukan di sekitar jalur mati atau di pos-pos perlintasan seperti di Kosambi itu.

Lalu apa makna nama Krupp atau Carnegie yang tercetak pada bilah-bilah rel itu?

Krupp adalah nama pabrik pembuat rel tersebut, sedangkan 1883 adalah angka tahun pembuatan rel tersebut. Tahun yang sangat menarik karena bertepatan dengan meletusnya Gunung Krakatau. Krupp adalah perusahaan baja Jerman yang terkenal memproduksi seamless railway tires atau roda (rel) kereta api tanpa sambungan yang terkenal anti retak. Rel buatan Krupp sangat terkenal walaupun harganya tinggi. Kualitasnya sangat baik. Rel Krupp juga digunakan pada jaringan rel kereta api di Amerika Serikat sejak sebelum Perang Sipil, karena pada saat itu pabrik-pabrik di Amerika Serikat belum mampu memproduksi baja dalam kapasitas besar dan dengan kualitas yang sebaik itu.

Dari 100.000 ton jalur kereta yang digunakan di Amerka Serikat pada tahun 1869, hanya 5000 ton berasal dari pabrik-pabrik baja di Amerika, sisanya diproduksi oleh parik baja di Sheffield, Inggris, dan oleh pabrik Krupp, Jerman. Pemasukan pabrik baja Krupp pada tahun 1860-an, 92% diperoleh dari penjualan di luar negeri/ekspor. Tak heran jika jalur rel kereta api di Hindia Belanda, khususnya di Priangan, juga menggunakan rel dari Krupp.

Produk rel ini dikembangkan oleh Alfred Krupp (1812-1887), anak pendiri pabrik baja Krupp, Friedrich Krupp. Alfred harus berhenti sekolah pada usia 14 tahun untuk melanjutkan operasi pabrik baja Krupp setelah Friedrich meninggal pada tahun 1824. Alfred mengembangkan teknik cast steel pada tahun 1841 yang kemudian dia patenkan. Teknik ini sebelumnya dikenal hanya dikuasai oleh perusahaan-perusahaan baja di Inggiris, khususnya di perusahaan–perusahaan baja di daerah Sheffield.

Kemajuan produksi pabrik baja Krupp juga diuntungkan ketika Napoleon melakukan blokade laut terhadap Inggris. Sehingga Krupp menjadi pemasok baja utama di Eropa. Alfred mengembangkan perusahaannya dengan membeli peleburan-peleburan baja, tambang-tambang besi, dan membeli cadangan biji besi. Pada tahun 1858, Krupp membuat senjata ketika memperoleh kontrak dari Kerajaan Prusia.

Seperti sebagian Preangerplanters, Krupp juga sangat peduli pada kesejahteraan karyawannya. Krupp menyediakan perumahan bagi para pekerjanya atau bagi para pensiunan dari pabriknya. Krupp menyediakan asrama bagi pegawainya yang masih lajang, asuransi kesehatan, program tunjangan pensiun, koperasi, dan sekolah teknik untuk memperoleh tenaga kerja yang terampil.

Lalu ada CARNEGIE. Carnegie adalah nama perusahaan pembuat rel tersebut, USA adalah negara asal perusahaan, 1920 angka tahun pembuatan, sedangkan SS adalah singkatan dari Statspoorwagen/Perusahaan Kereta Api Negara. Statspoorwegen adalah perusahaan yang menjadi operator untuk transportasi kereta api di wilayah Priangan. Kantor pusat SS berada di Bandung pada tempat yang dulunya merupakan Grand National Hotel. Yang menarik adalah membahas perusahaan pembuat rel kereta api tersebut, Carnegie Steel Company.

Perusahaan ini didirikan tahun 1892 oleh Andrew Carnegie. Ia meraih sukses dengan menciptakan metode peleburan baja yang efisien dan menghasilkan baja dengan kualitas yang baik. Pada tahun 1900-an, produksi baja Amerika Serikat melampaui produksi baja Inggris, dan sebagian besar produksi tersebut berasal dari pabrik yang dimiliki oleh Andrew Carnegie. Pada tahun tahun 1901 Andrew Carnegie menjual perusahaannya senilai $480 juta, untuk kemudian menjadi perusahaan baja “US Steel”. Dari uang tersebut, Carnegie membuat donasi untuk berbagai kegiatan amal, perpustakaan, lembaga-lembaga ilmu pengetahuan, sekolah, universitas, hingga menyumbang bagi pembangunan Hooker Telescope di Observatorium Mount Wilson. Mirip dengan sifat dermawan K.A.R. Bosscha, pemilik perkebunan Malabar di Pangalengan, Bandung.

Dari kedua potongan rel kereta api tadi, dapat pula kita menyimpulkan perkembangan perusahan baja dunia. Bahwa sebelum tahun 1900, produksi baja dunia dikuasai oleh produk-produk baja dari Inggris (Sheffield) dan Eropa (Krupp). Baru setelah Perang Sipil Amerika, produksi baja negara tersebut mengalami kemajuan yang memuncak pada awal tahun 1900. Saat itu produksi baja Amerika Serikat dapat melampaui produksi baja Inggris.

Copy of SAM_1313

Copy of SAM_1309

Copy of SAM_1921

Copy of SAM_1919

Copy of SAM_1830

SAM_1815

Anda Kerkhoven: dari Bandung menjadi “Pahlawan Perempuan di Groningen”

Oleh: Alek alias @A13Xtriple

Cerita ini adalah tentang Anda Kerkhoven atau lengkapnya, Melisande Tatiana Marie Kerkhoven. Anda adalah anak ke 6 dari 8 bersaudara pasangan Ir. Adriaan Rudolph Willem (ARW) Kerkhoven (1868-1944) dengan Constanze Pauline Marie Bosscha (1885-1961). Constanze adalah keponakan K.AR. Bosscha, pemilik perkebunan teh Malabar.

Pasangan Adriaan dan Constanze menikah di Bandung, pada tanggal 22 Februari 1905. Dari perkawinan ini lahirlah:

  1. Adriaan Paul (penerima medali Broonze Cross atas aksi heroiknya pada PD II sebagai pilot pesawat tempur)
  2. Eduard Julius
  3. Joan Julian (tewas di kamp interniran di Fukuoka, Jepang, 24 Desember 1943. Sisa jasadnya di makamkan di pemakaman Menteng Pulo, Jakarta)
  4. Diana Arabella
  5. Carmen Mercedes
  6. Melisande Tatiana
  7. Rudolph Hector, dan
  8. Merlin Alexis Kerkhoven.

Image

Anda Kerkhoven lahir di St. Cloud, Perancis, pada 10 April 1919. Lalu dibawa ayahnya yang pada rapat umum pemegang saham tanggal 9 April 1929, ditugaskan menjadi komisaris utama perkebunan N.V. Assam Thee Onderneming Malabar. Perusahaan perkebunan besar itu baru saja ditinggalkan pengelolanya yang legendaris, K.A.R. Bosscha yang baru wafat pada 26 November 1928.

Pada saat A.R.W. Kerkhoven menjabat  sebagai Komisaris Utama di Perkebunan Malabar, Anda tinggal di perkebunan Panoembang, dan menyelesaikan pendidikannya di Sekolah Kristen Lyceum, Dago, Bandung, pada tahun 1937.

Sejak SMA, Anda dikenal sebagai pribadi yang kuat dan teguh memegang prinsip. Badannya kecil, namun tak pernah terlihat lelah atau sakit. Kulitnya putih dan parasnya seperti orang Cina, sehingga teman-teman sekolahnya menjuluki Anda dengan sebutan “Eskimo”. Hal ini dapat dimengerti karena dalam tubuh Anda mengalir darah keturunan Cina dari neneknya (ibunda A.R.W. Kerkhoven adalah Goey La Nio, seorang nyai dari Eduard Julius Kerkhoven pemilik perkebunan teh Sinagar, Sukabumi).

Anda dikenal sebagai seorang Kristen yang taat, vegetarian garis keras yang bahkan menyentuh telur pun tidak, dan sorang yang penuh kasih sayang. Dia bahkan  menentang pembedahan pada makhluk hidup (vivisection). Anda yang sedang menempuh pendidikan di Sekolah Kedokteran di Batavia kesulitan menghadapi masalah yang satu ini. Akhirnya dia memutuskan untuk keluar dari sekolah dan mencari gantinya di Belanda. Sebuah sekolah di Groningen, Belanda, ternyata dapat menerima keberatan Anda tentang vivisection, Anda pun bergabung dengan sekolah ini pada tahun 1938.

Dua tahun Anda berada di Negeri Belanda, Nazi menguasai Belanda. Kehidupan Anda yang sebelumnya damai berubah menjadi kehidupan dalam rezim yang penuh dengan tekanan, penderitaaan tanpa kebebasan apapun. Hingga ke makanan pun dijatah dengan menggunakan kupon. Pada saat ini Anda yang sangat penuh kasih sayang terhadap sesama, ingin membantu orang-orang yang hidup dalam kesulitan.

Seperti mahasiswa-mahasiswa lainnya, Anda bergabung dengan organisasi-organisasi perlawanan bawah tanah. Semasa kuliah Anda bergabung dengan Sociaal Democratische Studenten Club. Kemudian juga dengan organisasi L.O. dan sebuah kelompok yang bernama De Groot.

Kegiatan kelompok ini seperti juga kegiatan organisasai-organisasi perlawanan bawah tanah, bersifat sangat rahasia dan tertutup, tiap-tiap anggota memegang teguh sifat kerahasiaan kelompok ini, rata-rata anggota tidak saling mengenal, dan mengadakan pertemuan di tempat-tempat yang tak biasa. Semua ini demi menghindari penangkapan oleh Sicherheitsdienst (SD)/Polisi Rahasia Nazi yang di bantu organisasi orang Belanda simpatisan Nazi/NSB.

Aktivitas kelompok perlawanan ini adalah melakukan sabotase-sabotase, menyerang transportasi pada saat pemindahan tahanan untuk membebaskan mereka, menggalang dana untuk menyuap pejabat-pejabat Nazi dengan tujuan membebaskan para tahanan, memalsukan berbagai dokumen, dari surat keterangan hingga ke pemalsuan kupo-kupon jatah makanan, menyediakan tempat persembunyian, dan menyediakan kebutuhan mereka-mereka yang dicari-cari oleh pihak Nazi.

Walaupun kegiatan-kegiatan kelompok ini penuh dengan resiko, dari mulai di tangkap, dipenjarakan, dibuang, hingga diekseskusi mati, Anda Kerkhoven tanpa gentar terlibat aktif di dalamnya.

Nazi melakukan berbagai cara untuk menemukan para anggota organisasi perlawanan-perlawanan tersebut. Mulai dari menyebar mata-mata melalui organisasi NSB (orang2 Belanda yang pro Nazi) hingga melakukan trik-trik jebakan, seperti dengan mengirimkan mata-mata yang menyamar sebagai pilot tentara sekutu yang pesawatnya jatuh di sekitar Belanda, dan membutuhkan pertolongan untuk menghindari penangkapan Nazi.

 Image

Patung kepala Anda Kerkhoven hasil rancangan seniman Belanda, Sebastiaan (Bas) Galis. Patung ini sekarang berada di Afrika Selatan.

Anda Kerkhoven akhirnya tertangkap juga pada tanggal 27 Desember 1944, di rumah kerabatnya, pasangan Karel dan Else Hendriks, ketika pulang sehabis mengatarkan sebuah keluarga Yahudi ke tempat persembunyiannya. Sebelum tertangkap Anda berhasil memusnahkan daftar-daftar nama orang-orang yang membutuhkan pertolongan dengan cara memakannya.

Anda ditahan di tempat yang dinamakan Het Scholtenhuis. Dalam rumah tahanan ini, Anda mengalami berbagai siksaan, mulai dari dipukul menggunakan pentungan karet, hingga dimasukan ke dalam bak mandi yang dialiri listrik. Anda tetap tak mau memberikan informasi-informasi yang diinginkan oleh pihak Nazi, “Kalian semua tetap akan memancung kepala saya, jika saya bicara!” ujar Anda dalam suatu proses interogasi.  “Kamu pasti akan di pancung, tapi sebelumya kamu pasti akan bicara,” ujar para interogator memberi tekanan pada Anda.

Pernah suatu ketika Anda mengeluhkan kamar tahanannya yang dingin, mereka malah dengan sengaja memberikannya kamar tahanan di bagian rumah yang paling dingin. Anda harus tinggal di dalam kamar tahanan tersebut tanpa menggunakan alas kaki. Para penahan mengetahui bahwa Anda yang berasal dari daerah tropis tidak akan kuat dengan siksaan tersebut.

Namun Anda bertahan melewati berbagai siksaan dalam tahanan. Anda masih sanggup untuk selalu menyemangati dan menghibur tahan-tahanan lainnya. “Sungguh wanita yang luar biasa, dia mampu mengatasi apa yang sebagian pria tak mampu melaluinya,” ujar kesaksian salah satu teman sesama tahanan. Sekali waktu, Anda mencoba bunuh diri dengan cara melompat dari atap rumah tahanan tersebut, namun ajaibnya dia jatuh dengan posisi berdiri tanpa luka sedikitpun.

Akhirnya pada saat tentara Sekutu melakukan operasi ke Normandy, sebelum mereka melancarkan Operasi Market Garden untuk membebaskan Belanda, pihak Nazi yang sudah terdesak dan dalam persiapan mundur meninggalkan wilayah negara Belanda. Mereka berusaha menghilangkan segala jejak kejahatan mereka, bahkan dengan membakar semua bangunan dalam area seluas 4000 ha di derah Polder Dam Johannes Kerkhoven.

Dalam suasana penuh kegelisahan bagi pihak Nazi yang mulai mengalami kekalahan, Anda akhirnya diekseskusi mati pada tanggal 19 Maret 1945. Malam itu Anda dibawa dari rumah tahanan Het Scholtenhuis. Dengan mata ditutup, Anda bersama seorang tahanan laki-laki anggota pejuang perlawanan, Gerrit J. Boekhoven, digiring ke kawasan di sebelah selatan Groningen, sekitar perbatasan daerah Harenermolen-Glimmen (Oosterbroekweg).

Di tepian jalan tersebut, Anda Kerkhoven dieksekusi dengan cara ditembak di belakang kepala dari jarak dekat. Anda dikuburkan dalam satu lobang dengan Boekhoven yang juga dieksekusi pada saat yang sama. Liang kubur tersebut baru ditemukan setelah pasukan sekutu membebaskan Belanda bagian utara pada 16-19 April 1945, sekitar satu bulan sejak eksekusi Anda.

Bulan Juni 1945, atas petunjuk salah dua orang eksekutor anggota NSB yang tertangkap, liang tersebut dapat ditemukan. Jenazah Anda kemudian dipindahkan ke permakaman di Noorderbegraafplaats, Groningen, pada tanggal 23 Agustus 1945. Banyak sekali pelayat yang hadir. Semua tahu, Anda Kerkhoven adalah seorang perempuan berani yang banyak memberikan pertolongan bagi sesama warga kota yang membutuhkan. Karena itu warga kota menjuluki Anda Kerkhoven sebagai “Pahlawan Perempuan dari Groningen”.

Seluruh rangkaian upacara dan semua kebutuhan pembiayaan permakaman ini ditanggung sepenuhnya secara pribadi oleh seorang detektif bernama Jan Kerkhof. Dia juga secara tegas menolak keinginan keluarga Anda Kerkhoven untuk mengganti seluruh biaya yang telah dikeluarkannya.

 Image

Makam pertama di Groningen (1945-1967) hasil rancangan Bas Galis.

Sebagai epitaph, pada nisan Anda dituliskan puisi yang ditulisnya pada hari Natal 1943, “Baiklah kita timbang lagi dalam terang terakhir potongan sisa lilin kita, niat Kristus yang berani bertahan menghadapi semua dan segala sesuatu” dan “Tidak ada satu tujuan apapun yang dapat membenarkan kekejaman atau ketidakadilan berlangsung. Kita harus mampu melangkah terus mengikuti jalan kita sendiri, tanpa panduan apapun kecuali hati nurani kita sendiri.

Pada tahun 1967, atas persetujuan kerabat dan keluarganya yang masih hidup, makam Anda Kerkhoven dipindahkan ke Ereveld Loenen di sebelah utara kota Arnhem. Pada tahun 2003, beberapa kenangan tentang Anda Kerkhoven dibuat di Rijks Universiteit, Groningen, di antaranya lukisan karya Johan Djikstra, sebuah prasasti tentang korban2 PD II bersama Anda, sebuah serial perangko, dan sebuah prasasti kenangan untuk Anda di Haren. Nama Anda juga diabadikan menjadi nama sebuah asteroid yang ditemukan oleh E.W. Elst melalui European Southern Observatory pada 18 November 1990, “15735 Andakerkhoven.”

Image

Prasasti berisi nama Anda Kerkhoven di gerbang Universitas Groningen.

Image

Prasasti bagi Anda Kerkhoven didirikan juga di Haren.

Demikian ringkasan kisah hidup Anda Kerkhoven, salah seorang anggota klan Preangerplanters yang ternama “van der Hucht, Holle, Kerkhoven, & Bosscha” dan yang juga pernah berjejak di Bandung.

——————————————-

 

Cerita ini aslinya ditulis oleh Prof. Dr. Ir. Constant L.M. Kerkhoven, lalu dirapikan oleh Vincent J.J. Kerkhoven, dan dimuat dalam situs http://www.andakerkhoven.nl/

 Foto-foto diambil dari situs yang sama, http://www.andakerkhoven.nl/

de Koning der Thee (Sang Raja Teh)

Oleh: Alek alias @A13Xtriple

Tanah Priangan yang subur melahirkan banyak Preangerplanters yang kaya raya: Suiker Lords, Thee Jonkers, Koffie Baronnen, Kina Boeren, dan Tabaks Boeren. Boeren dalam bahasa Belanda berarti petani, namun boeren di sini tentunya bukan petani biasa melainkan petani kaya raya. Begitu pun dengan planters yang berarti pemilik perkebunan, mereka bergelimang harta.

Ada 8 keluarga planters yang termashur di Priangan: Van Der Hucht, De Kerkhovens, De Holles, Van Motmans, De Bosscha’s, Families Mundt, Denninghofs Stelling, Van Heeckeren van Walien. Dari 8 keluarga tadi, tiga diantaranya tercatat sebagai yang pertama mendirikan sekolah bagi anak-anak keluarga pekerja dan masyarakat di sekitar perkebunanya. Mereka adalah Keluarga Holle, Kerkhoven, dan Bosscha. Bosscha menguasai perkebunan teh “Malabar” di Pangalengan, Holle dan Kerkhoven memiliki beberapa perkebunan, di antaranya di Garut dan Sukabumi.

Upaya budidaya teh di Priangan mengalami kemajuan setelah didatangkan bibit teh unggulan dari  daerah Assam di India pada tahun 1878. Bibit-bibit teh tersebut tumbuh dan dikembangkan di perkebunan Parakan Salak dan Sinagar di daerah Sukabumi oleh Adriaan Walraven Holle, Albert Holle, dan Eduard Julius Kerkhoven. Lalu di perkebunan Gambung dan Arjasari oleh Ir. Rudolf Eduard Kerkhoven.

Di awal abad XX kualitas teh dari P. Jawa adalah yang terbaik mutunya di seluruh dunia, ini berkat jasa para Preangerplanters yang mengembangkannya. Teh menjadi komoditas eksport unggulan yang mendatangkan banyak keutungan besar dan tentu saja uang. Dengan uang, para pemilik perkebunan mampu melakukan apa saja, di antaranya ada yang lebih memilih untuk mendermakan sebagian hartanya bagi kemakmuran rakyat banyak. Seperti K.F. Holle pemilik perkebunan teh Waspada di Garut, yang mendirikan Kweekschool (Sakola Radja), yang bangunannya sekarang digunakan sebagai Mapolwiltabes Bandung. Holle juga menerbitkan buku-buku pelajaran berbahasa Sunda. Tak heran karena aktivitasnya tersebut K.F. Holle diangkat sebagai Penasihat Urusan Dalam Negeri Hindia Belanda. Bila di daerah sekitar Garut kita mengenal K.F. Holle, untuk daerah di sekitaran Bandung, tentu kita sudah tidak asing dengan nama Bosscha.

Image

Karel Albert Rudolf Bosscha (Gravenhage, 15-5-1865 – Pangalengan, 26-11-1928) adalah putra dari  pasangan Johannes Bosscha Jr., seorang ahli fisika, dengan Paulina Emilia Kerkhoven (anak dari Anna Jacob Kerkhoven terlahir dari keluarga Van der Hucht). Dari garis ibu, Ru Bosscha, demikian ia biasa dipanggil, adalah saudara sepupu dari Ir. Rudolf Eduard Kerkhoven (Ru Kerkhoven) pemilik perkebunan teh Assam Gambung dan Arjasari. Paman Ru Bosscha adalah Eduard Kerkhoven pemilik perkebunan teh Sinagar, selama 6 bulan setelah tiba di Hinda 1887, Ru Bosscha bekerja di perkebunan tersebut. Karena kurang menyenangi pekerjaan tersebut, Ru Bosscha bergabung degan kakaknya yang geolog, Jan Bosscha, di Borneo dalam kegiatan eksplorasi emas di daerah Sambas hingga tahun 1892. Pada tahun 1892, Ru Bosscha kembali ke perkebunan Sinagar dan bekerja hingga tahun 1895 sebagai Administrator.

Tahun 1895, Ru Bosscha merintis berdirinya Preanger Telefoon Maatschappij, yang diambil alih pemerintah Hindia Belanda pada tahun 1908. Kesuksesan Ru Bosscha datang ketika dia memiliki Perkebunan Teh Malabar sejak tahun 1896, atas dukungan keuangan dari R.E. Kerkhoven dan S.J.W. van Buuren. Berdasarkan pengamatannya, iklim daerah Pangalengan tempat perkebunan tehnya berada sangat mirip dengan daerah kaki pegunungan Himalaya di India. Ru Bosscha berkeyakinan bahwa daerah tersebut sangat cocok ditanami teh. Keyakinannya tersebut terbayar setelah dalam 10 tahun dari awal masa reklamasi, perkebunan N.V. Assam Tea Company ‘Malabar’ berhasil membayar deviden 80%. Perkebunan tersebut terus berkembang hingga luasnya lebih dari 1000Ha. Perkebunan Teh Malabar menjadi contoh bagi seluruh perkebunan teh di Hindia Belanda, karena tak pernah gagal dalam penerapan teknologi dalam bidang eksplorasi, eksploitasi, dan penanaman. Degan penggunaan teknologi tepat guna, Thee Onderneming “Malabar” menghasilkan laba terbesar di seluruh Hindia Belanda saat itu. Tak heran Ru Bosscha di juluki “de Koning der Thee atau Sang Raja Teh.

Dari kesuksesan finansialnya itu, Ru Bosscha, memberikan banyak sumbangsih bagi perkembangan masyarkat Bandung. Ru Bosscha adalah salah satu Preangerplanter yang pertama mendirikan sekolah untuk anak-anak keluarga pekerja perkebunan dan masyarakat sekitarnya. Ru Bosscha, mendirikan dan mendesain sendiri dam dan pembangkit listrik tenaga air dari sungai Tjilaki untuk tenaga listrik bagi perkebunannya sekaligus juga supply bagi listrik kota Bandung.

Keberhasilan Ru Bosscha dalam mengembangkan teh di perkebunannya mengantarkan dirinya terpilih menjadi Ketua “Perhimpunan Pengusah Perkebunan Teh” dari tahun 1910-1923. Dia juga mendirikan dan memimpin “Balai Penyelidikan Tanaman Teh” di Pangalengan dari  tahun 1917-1920 kemudian dari tahun 1922-1923. Keberhasilannya sebagai pengusaha perkebunan teh mengantarkan dirinya ikut mendirikan dan juga duduk sebagai komisaris di banyak perkebunan teh di Priangan diantaranya: Wanasoeka, Taloen, Sitiardja, Raja Mandala, Arjuna, Papandajan, Sindangwangi, dan Bukit Lawang.

Image

Sebagi pengusaha yang sukses, dia juga ikut mempromosikan dan mendirikan banyak perusahaan seperti : de Nederlandsch-Indische Escompto Mij., de Bandoengse Electriciteits Mij (Perusahaan Listrik Bandung), Technisch Bureau Soenda (Biro Teknik Sunda), de D.E.N.I.S.-hypotheekbank, de N.V. Eerste Ned.-Ind. Ziekten en Ongevallen Verzekering Mij., E.NI.ZOM (perusahaan asuransi jiwa dan kesehatan) di Batavia, de theezaadtuin ‘Selecta’ (kebun bibit teh), het Houtindustrie-Syndicaat (Sindikasi Industri Perkayuan), de Automobiel Import Mij. (perusahaan importir mobil), de Kistenfabriek, dan banyak perusahan lainnya.

Keberhasilan Ru Bosscha dalam mengembangkan perkebunanya tak lepas dari penerapaan ilmu pengetahuan dalam usahanya, seperti penggunaan tenaga air untuk pembangkit listrik bagi perkebunannya. Ru Bosscha juga merintis penggunaan ukuran/skala metrik (Metrisch Stelsel) di perkebunannya. Dia mengganti ukuran luas seperti “Bahu” (7096m2) menjadi Hektar. Jarak yang semula diukur menggunakan “Pal” (1 pal kurang lebih sama dengan 1.5 km) diganti menggunakan patokan Kilometer.

Dari keuntungan perkebunanya tersebut Ru Bosscha ikut menyumbang bagi pendirian lembaga-lembaga seperti mendirikan dan mensponsori bursa tahunan Jaarbeurs, menjadi donatur tetap untuk lembaga Bala Keselamatan (Leger de Heils), Lembaga Tuli Bisu (Doofstommen Instituut), mendirikan Lembaga Kanker(Kanker Instituut) dengan menyumbangkan 250gr Radium bromide. Dia juga membiayai perawatan pasien di panti perawatan lepra di Plantungan, Jawa Tengah. Bosscha menyumbang pula bagi pendirian komplek permukiman pensiunan KNIL di Bandung yang dikenal sebagai komplek Bronbeek. Dia ikut mendirikan dan duduk sebagai President Curator (Dewan Penyantun) Technische Hogeschool Bandung (sekarang ITB) hingga wafatnya di tahun 1928. Di perguraan tinggi teknik pertama di Hindia Belanda ini Ru Bosscha menyumbang Laboratorium Fisika. Plakat sumbangan tersebut masih terdapat di dinding gedung Laboratorium Fisika.

Image

Ketertarikan Ru Bosscha terhadap ilmu pengetahuan mungkin karena dalam darahnya mengalir darah ilmuwan dari garis keturunan ayah. Ayahnya, Johaness Bosscha Jr adalah seorang ahli fisika, sedang kakeknya Prof. Dr. J. Bosscha adalah yang merancang dan mengusulkan pendirian peneropongan bintang di Universitas Leidse di Belanda. Mengikuti jejak kakeknya Ru Bosscha dan sepupunya Ru Kerkhoven berinisiatif mendirikan peneropongan bintang (Sterrenwacht) modern pertama di Hindia Belanda. Pada Oktober 1922 pembangunan dimulai di atas tanah sumbangan dari keluarga peternak sapi di Lembang, Ursone Familie, dan diresmikan pada tanggal 1 Januari 1923. Pada tahun 1928 peneropongan ini resmi dinamakan Bosscha-Sterrenwacht sebagai penghargaan atas sumbangsihnya selama ini.

Atas perhatiannya yang besar bagi kemajuan masyarakat Bandung, Ru Bosscha mendapat beberapa penghargaan, di antaranya diangkat sebagai anggota Volksraad di Batavia, menjadi Ketua kehormataan seumur hidup lembaga Bandoeng Vooruit, dan penghargaan sebagai “Warga Utama Kota Bandung” (1921). Upacara penganugerahan gelar tersebut disertai upacara besar-besaran di Balai Kota oleh Gemeente Bandoeng. Ru Bosscha bahkan mungkin satu-satunya orang di Hindia Belanda yang pada masa hidupnya didirikan 6 buah monumen peringatan bagi jasa-jasanya. Sebuah jalan di bagian utara Bandung juga mengabadikan namanya, Jalan Bosscha.

Mungkin tanpa sifat kedermawanan Bosscha kita tidak akan memiliki peneropongan bintang, sekolah tinggi teknik terbaik, hingga ke perusahaan teh terbaik di Indonesia saat ini.

 Image

*disarikan dari: “Semerbak Bunga di Bandung Raya” (Haryoto Kunto)

Biografi singkat pada penjelasan koleksi Foto Tropen Museum