Kartini atau Dewi Sartika?

Oleh: Arif Abdurahman (@yeaharip)

“Aku juga berjuang,” bela Kartini, “ikut melawan tirani budaya yang feodalistis, tiranik dan hegemonis. Sama sepertimu.”

“Ya, ya, aku tak hendak mencibirmu atau apa. Maksudku-”

“Oke, jujur saja, tak perlu berputar-putar. Kau iri kan?”

“Hey!” Muka Dewi Sartika mendadak merah padam. Seakan ada sejuta sumpah serapah tercekat di kerongkongannya, memaksa ingin keluar. “Di Sumatera sana, Cut Nyak Dien dan Cut Nyak Meutia dengan gagah berani mengangkat senjata langsung. Ada pula Nyai Siti Ahmad Dahlan juga Maria Walanda Maramis yang sama-sama sepertiku, berjuang lewat pendidikan. Dan, ya, mungkin aku memang iri. Kenapa cuma kau yang namanya diabadikan jadi lagu dan ada hari peringatannya segala? Kami, paling banter cuma jadi nama jalan.”

Bayangan kedua perempuan yang kemudian silih jambak layaknya cewek-cewek belia yang bentrok karena rebutan pacar sungguh menyiksa pikiran saya—membuat saya ingin mati ketawa. Apalagi jika sampai saya  mengisahkan kalau mereka selain adu jotos, juga adu mulut dengan beragam umpatan dan kata-kata jorok, sungguh kualat benar saya. Maka, saya tak hendak melanjutkan kisah ini. Namun, masih ada pertanyaan yang masih tertinggal: “Kartini atau Dewi Sartika?”

***

Dalam sesi berbagi Ngaleut Dewi Sartika yang dilakukan tepat di depan pekuburan “Makam Para Boepati Bandoeng” (13/12/15), hampir semua peserta ngaleut menyinggung Kartini, bahkan membandingkannya. Bahwa Dewi Sartika kalah pamor ketimbang Gadis Jepara itu, padahal pahlawan perempuan dari Bandung ini jasanya ‘begitu nyata’.

dewi sartika tinder

“Nike atau Adidas?”, “Pepsi atau Coca-Cola?”, “Honda atau Toyota?”, “Airbus atau Boeing?” dan seterusnya. Saya tak akan menjawab pertanyaan-pertanyaan itu (kecuali mungkin jika salah satu di antara mereka membayar saya). Dan ini hampir sama kasusnya seperti ketika harus memilih antara Dewi Sartika atau Kartini. Ini juga berlaku ketika saya ditanya, “Devi Kinal Putri atau Viny?”, “Taeyeon atau Seohyun?”, “Camus atau Sartre?” Meski memang, untuk semacam tokoh ini, saya bisa saja memilih bahwa yang satu lebih saya sukai ketimbang yang lain. Saya akan memberanikan diri memilih, bahkan meskipun saya tak punya alasan yang memadai kenapa memilih.

Dan jujur, saya sebenarnya lebih suka Dewi Sartika. Salah satu alasannya, selain karena beliau begitu gigih memperjuangkan kaumnya lewat pendidikan, tentu saja karena tanpanya, tak akan lahir Raden Atot yang kemudian menginisiasi terbentuknya Persib. 😎

Pahlawan sendiri, berasal dari bahasa Sansakerta, yaitu “phala-wan” yang memiliki arti “orang yang dari dalam dirinya telah menghasilkan sesuatu (phala) yang berkualitas untuk bangsa, negara dan agama” atau bisa juga diartikan sebagai orang yang terkenal akan keberanian dan pengorbanannya dalam usaha untuk membela kebenaran. Meski kita tahu, soal-soal kepahlawanan masih diakuisisi institusi negara. Yang pasti, tanpa perlu membeda-bedakan, kedua perempuan pejuang tadi tentu saja pahlawan.

 

Tautan asli: http://yeaharip.com/2015/12/14/kartini-atau-dewi-sartika/

“Senangnya” Menjadi Guru Di Zaman Belanda

Oleh : Putri Socko Kayden

Bicara soal pendidikan, ternyata bukan hanya zaman sekarang saja SMP dan SMA dikenal dengan sekolah-sekolah yang bagus di Bandung. Ternyata sejak zaman dulu-pun, Bandung sudah terkenal dengan pendidikannya yang bagus. Namun yang membedakannya terletak pada ‘mau jadi apa lulusan dari sekolah-sekolah tersebutpada nantinya’. Semua ini akan diuraikan dalam catatan perjalanan di bawah ini, bagaimana penulis yang masih amatir ini mencoba mengungkapkan apa saja yang dia dapatkan dari kegiatan Aleut minggu ini.

Aleut, Minggu tanggal 7 April 2013 merupakan Aleut dengan tema kegiatan ‘Pendidikan’. Cukup banyak yang mengikuti kegiatan aleut hari ini, terlihat dari segerombolan orang yang tampak menunggudi depan Patung Badak Putih di dalam Taman Balai Kota. Ya, disitulah start point aleut untuk tema kali ini. Pada start point, dijelaskan bahwa hari itu, para pegiat aleut akan diajak menelusuri jalan bernama kepulauan seperti Jalan Jawa, Sumatera, dan Kalimantan dimana di jalan-jalan tersebut memang sering ditemukan sekolah-sekolah yang didirikan sejak Bandung Tempo Doeloe.

Dari balai kota, para pegiat Aleut menyebrang memakai jembatan penyebrangan untuk sampai di sekolah ST. Angela yang terletak di depan Balai Kota itu. Disitu dijelaskan bahwa ternyata sekolah tersebut dulunya merupakan sekolah khusus Biarawati saja. Sekolah tersebut bukan sekolah formal pada umumnya yang memfasilitasi muridnya untuk dapat calistung, namun lebih ke sekolah keterampilan. Konon katanya, hanya perempuan Belanda saja yang diperbolehkan untuk bersekolah di sekolah tersebut.

 Lanjut beberapa meter setelahsekolah ST. Angela terdapat Kantor Polwiltabes. Gedung yang sudah dialih fungsikan menjadi kantor polisi ini tadinya merupakan Sekolah Raja atau kweekschool. Sekolah ini merupakan sekolah pembibitan dimana lulusan dari sekolah ini akan menjadi guru. Lain dengan Sekolah ST. Angela, Sekolah Raja merupakan sekolah formal yang memfasilitasi muridnya untuk bisa calistung. Murid-murid disekolah ini yang notabene adalah kebangsaan Belanda dan sedikit saja pribumi yang kastanya tinggi (ningrat), diharuskan untuk menginap di sekolah ini.

Sekolah ini memang bersistem asrama dimana terdapat kamar-kamar yang memangdisediakan di bagian belakang gedung. Kembali ke soal lulusan sekolah ini, seperti yang telah dikatakan bahwa lulusan sekolah ini akan dipekerjakan sebagai guru. Nah, untuk praktek mengajarnya, disediakanlah gedung yang berbeda yang letaknya tepat dipinggir gedung Sekolah Raja ini. Gedung ini berfungsi sebagai tempat praktek. Sekarang, gedung tersebut adalah SDN Banjarsari. Nah, lulusan sekolah yang telah menjadi guru ini digaji oleh para bangsa Belanda. Lulusan dari Sekolah Raja ini kalau zaman sekarang disebut dengan PNS atau guru yang bekerja di sekolah negeri. Ironisnya, zaman dulu itu guru sekolah negeri gajinya lebih besar dari pada guru swasta. Jika guru sekolah negeri di gaji 70 gulden, guru sekolah swasta hanya digaji sebesar 45 gulden saja (8 gulden dapatdibelikan 100 kg beras). Hal ini berbeda sekali dengan kenyataan pada zamansekarang.

Oh ya, mengapa dinamakan SekolahRaja? Ternyata memang mempunyai alasan sendiri. Sejarahnya, dahulu saat para Raja berulang tahun, biasanya akan membangun sekolah-sekolah di wilayah yang menjadi tanah jajahannya. Maka itu sekolah yang dibangun tersebut dinamakan Sekolah Raja.

Kemudian, hal yang membuat miris adalah.. pada kenyataannya, sekolah-sekolah ini dibangun bukan untuk mensejahterakan rakyat Indonesia supaya lebih pintar dengan bersekolah. Namun… ternyata, para lulusan tersebut memang dijadikan pekerja, yaitu tadi sebagai guru. Karena jika mengambil guru dari luar negeri, harus menggaji dengan jumlah yang besar. Maka itu, para Belanda lebih memilih memperkerjakan para pribumi berkasta tinggi. Hmm.. miris sekali.. dipekerjakan di tanahsendiri.

Perjalanan pun dilanjutkan… dari Sekolah Raja, para pegiat Aleut berjalan dan berjalan hingga tiba di depan sebuah sekolah yang terletak di samping Gereja Katredal. Sekolah tersebut merupakan Sekolah Katolik. Sekolah tersebut dibangun karena ada gereja disebelahnya. Jadi memang Gereja Katredal terlebih dahulu yang zaman dahulu dibangun di daerah situ.

Lanjut, dari situ, Aleutian punberjalan menuju dua SMP favorit di Bandung yaitu SMP 5 dan 2. Kedua Sekolah Menengah Pertama ini dulunya merupakan sekolah lanjutan setelah Sekolah Dasar selama 7 tahun (saat zaman Belanda, SD memang 7 tahun. Sistem pendidikan SD menjadi 6 tahun lamanya berubah saat zaman penjajahan Jepang). Untuk melanjutkan ke sekolah lanjutan ini, berbeda dengan zaman sekarang yang ditentukan dengan NEM sekolah, diputuskan oleh Kepala Sekolahnya masing-masing. Jadi hanya anak-anak yang telah tamat belajar atau mendapatkan rekomendasi untuk meneruskan sekolah dari Sang Kepala Sekolah saja yang dapat masuksekolah-sekolah ini.

Hmm.. bicara soal gedung, ada yang unik dari tampilan gedung SMPN 2. Gedung yang dicat serba hijau ini di gedung sebelah kirinya tertulis ANNO, kemudian di gedung sebelah tengahnya SMP NEGERI 2 Bandung, dandi sebelah kanannya terdapat tahun 1913. Maksud dari tulisan di sebelah kiri dan kanan gedung adalah ‘Didirikan Tahun 1913’. Jadi ‘ANNO’ ini artinya ‘didirikan tahun’.. begitu ^^ (Penulis juga baru tahu, hehehe)

Aleut kali ini memang singkat. Setelah dari SMP 5 dan 2, para pegiat aleut langsung berjalan menuju titik finish kegiatan aleut kali ini, yaitu di SMAN 3 dan 5 Bandung. Disana, para pegiat aleut saling sharing mengenai pengalaman di sekolah SMP ataupun SMA-nya masing-masing. Setelah sharing pengalaman tersebut, kegiatan aleut hari itu punberakhir sudah. Meskipun sangat singkat, kegiatan Komunitas Aleut selalu memberikan hal yang informatif untuk penulis. Dari yang tadinya tidak tahu, menjadi tahu.. ilmu itu mahal, tapi di Aleut, segalanya menjadi terasa lebih mudah 🙂