Kosambi Pernah Jadi Pusat Hiburan di Bandung

Oleh: Arya Vidya Utama (@aryawasho)

Manusia adalah makkhluk hidup yang spesial. Berbeda dengan makhluk hidup lainnya, manusia membutuhkan hal-hal lain untuk tetap bertahan hidup dalam menjalani kehidupannya. Salah satu kebutuhan tersebut adalah hiburan.

Sejak dahulu, manusia menghibur diri mereka dengan berbagai macam hal, seperti musik, drama, dan olahraga. Dengan hiburan, manusia bisa kembali berpikiran jernih dan kembali segar dalam menjalani semua aktifitasnya.

Berbicara soal hiburan, saat ini Bandung menjadi salah satu pusat hiburan alternatif warga ibukota. Jaraknya yang kurang dari 160 km saja bisa ditempuh dalam waktu dua jam saja (dengan kondisi lalu-lintas normal). Bandung menawarkan banyak hal yang tidak dimiliki ibu kota, seperti wisata alam, wisata belanja, dan wisata kuliner. Tangkuban Parahu, Ciwidey, Jalan Dago, dan Jalan Riau akan dipenuhi para pencari hiburan asal ibukota di akhir pekan

Saking seringnya warga ibukota mencari hiburan di Bandung, wawasan mereka tentang dunia hiburan terkadang lebih luas dibanding warga Bandung sendiri. Beberapa bulan terakhir ini saya gelagapan saat ditanya kawan yang berdomisili di Jakarta tentang lokasi-lokasi wisata kuliner kekinian. Bahkan tren kue cubit green tea baru saya ketahui dari sepupu saya yang hampir setiap minggu rajin main ke Bandung.

*** Baca lebih lanjut

Wong Jawa di Bandung Tempo Dulu

datang poek teu diaku (Datang kemalaman tak dibukakan pintu)

Lagi – lagi bau kopi membangunkan saya dari lamunan siang hari. Saya baru ingat bahwa ada cerita yang harus ditulis. Cerita yang berasal dari satu pertanyaan kawan saya di Komunitas Aleut. Pertanyaan tentang orang Jawa di Bandung.

Babakan Surabaya, kampung wong Jawa

Babakan Surabaya pada peta Bandung tahun 1945

Babakan Surabaya pada peta Bandung tahun 1945

Saya akan mulai bercerita tentang satu kampung orang Jawa di Bandung. Kampung tersebut bernama Babakan Surabaya.

Cerita di Babakan Surabaya bermula dari pemindahan pabrik mesiu di Ngawi dan pabrik senjata di Surabaya ke Bandung. Lokasi yang dipilih bagi penempatan pabrik senjata terletak di Desa Kiaracondong. Saat itu, Desa Kiaracondong berada 5 km dari batas timur Kota Bandung.

Saat pemindahan pabrik, pekerja pabrik senjata beserta keluarganya ikut dipindahkan ke Bandung. Untuk menampung pekerja pabrik dan keluarganya, dibangun daerah yang disebut Babakan Surabaya. Babakan Surabaya berada di Kiaracondong, dekat dengan pabrik senjata.

Selain di Babakan Surabaya, kita akan menemukan satu kampung yang berisi orang Jawa. Kampung tersebut bernama Kampung Jawa. Kampung Jawa berlokasi dekat dengan Pabrik Gas yang berlokasi di daerah Kiaracondong.

Orang Jawa dan Pasar Kosambi

Pasar Kosambi

Pasar Kosambi

Sebetulnya Bandung tempo dulu memiliki banyak pasar. Pasar – pasar tersebut tersebar dari Bandung Barat hingga Bandung Timur. Setiap pasar adalah pusat kegiatan ekonomi penduduk yang dekat pasar tersebut. Salah satu pasar yang menjadi pusat kegiatan ekonomi orang Jawa adalah Pasar Kosambi.

Sebelum ada Pasar Cicadas dan Pasar Kiaracondong, pasar paling dekat dengan kediaman orang Jawa adalah Pasar Kosambi. Sehingga orang Jawa sangat sering mengunjungi Pasar Kosambi untuk menjual atau membeli kebutuhan mereka. Itulah sebabnya, penduduk Bandung tempo dulu bisa membeli segala macam makanan Jawa di Pasar Kosambi.

Selain makanan, orang Jawa sering mentas seni di Pasar Kosambi. Menurut kuncen makam Mbah Malim, orang Jawa sering mentas ludruk dan wayang kulit di Pasar Kosambi. Menurutnya, salah satu dalang yang bermain di Pasar Kosambi adalah warga Babakan Surabaya.

Sindiran untuk wong Jawa di Bandung

Eendaagsche dari Gambir ke Surabaya

Eendaagsche dari Gambir ke Surabaya

Para mbakyu dan kangmas yang daerah asalnya dari Jawa Tengah dan Jawa Timur, umumnya datang ke Bandung dengan Kereta Api Ekspres Surabaya – Bandung. Saat itu, waktu tempuh kereta tersebut adalah satu hari penuh.

Dikarenakan kedatangan mereka yang lewat larut malam, ada sindiran atau ejekan warga kota dalam bentuk sisindiran. Sindiran tersebut berbunyi “jawa koek maling apu, datang poek teu diaku.” Sindiran tersebut berarti orang jawa hendak mencuri kapur, datang kemalaman tak dibukakan pintu. Untungnya, sindiran ini tidak terjadi hingga pasca kemerdekaan.

Karena sampai di Bandung pada malam hari, orang Babakan Surabaya yang baru sampai mendapat kesulitan kendaraan pulang. Saat itu, kendaraan seperti sado dan delman jarang sekali ke Babakan Surabaya pada malam hari. Oleh karena itu, tidak jarang orang Babakan Surabaya menginap atau menunggu di Pasar Baru yang tak pernah tidur.

Wong Jawa di Bandung tempo kini

Menurut saya, sisa – sisa keberadaan orang Jawa di Bandung hanya terlihat dari bahasa dan makanan. Saya masih menemukan pemakaian bahasa Jawa saat orang Jawa berkumpul di Angkringan. Sedangkan untuk makanan, saya masih menjumpai makanan khas Jawa tapi diberi label asli Bandung seperti gudeg dan hasil olahan ayam khas Jawa Tengah.

Tidak bisa dipungkiri lagi kalau keberadaan orang Jawa sudah berbaur dengan orang Bandung. Saya mendapatkan hal tersebut setelah wawancara dengan kuncen makam Mbah Malim. Menurutnya, kita tidak bisa melihat garis tegas yang memisahkan orang Jawa dengan orang Bandung. Semuanya sudah tercampur seperti es campur.

 

Sumber Bacaan :

Semerbak Bunga di Bandung Raya karya Haryoto Kunto

Wajah Bandoeng Tempo Doeloe karya Haryoto Kunto

Sumber Foto :

Sepurwagen.blogspot.com

 

Tautan asli: https://catatanvecco.wordpress.com/2015/04/01/babakan-surabaya-babakan-wong-jawa-di-bandung/