Kereta Api, Cilembu, dan Candi

Ditulis oleh: Farly Mochamad

Sabtu, 30 Januari 2021 lau, saya ikut kegiatan Aleut Development Program (ADP) 2020 momotoran menyusuri jejak kereta api antara Bandung-Tanjungsari. Kami berangkat agak siang dari sekretariat Aleut menuju SPBU Cinunuk untuk bertemu dengan rekan lain yang akan bergabung.

Jembatan Cincin Cikuda di pagi hari  foto: Komunitas Aleut

Dari Cinunuk, kami beranjak ke Jatinangor, melewati kampus Unpad, untuk menuju lokasi pertama, yaitu Jembatan Cincin atau kadang disebut Jembatan Cikuda, sesuai dengan nama daerah di situ. Tidak butuh waktu lama sampai kami tiba di lokasi dan berjalan di atas bekas jembatan kereta api ini.

Dari atas jembatan ini saya bisa melihat Gedung Student Center Fakultas Ilmu Komunikasi (Fikom) Unpad, Asrama Kedokteran Unpad, dan di bawah jembatan terlihat area permakaman di tengah sawah. Di arah timur terlihat Apartemen Taman Melati dengan kolam renangnya. Waktu kami datang, ada beberapa pesepeda yang sedang foto-foto dan eksplorasi seputar jembatan ini juga. Seorang tua yang sedang berfoto sambil minum air dari cangkir menuturkan bahwa dia berangkat dari Setiabudi pagi tadi. Lumayan juga perjalanannya, sepedahan dari Bandung Utara sampai ke Jatinangor, dan entah akan ke mana lagi.

Dari atas jembatan kami mencari jalan untuk turun ke bawah, ke area persawahan dan permakaman. Pak Hepi yang menyertai kami bercerita bahwa jembatan ini memiliki 11 tiang dan 10 lengkungan yang membentuk rupa cincin. Pembangunannya dilakukan pada tahun 1918 dengan tujuan sebagai jalur pengangkutan hasil perkebunan kopi dan teh dari wilayah Jatinangor ke Rancaekek dan Bandung. Saat ini bekas jembatan masih digunakan warga sekitar sebagai jalur lalu lintas antarkampung.

Jembatan Cincin Kuta Mandiri foto: Komunitas Aleut

Tempat kedua yang kami datangi berada di perbatasan Kecamatan Jatinangor dan Kecamatan Tanjungsari, dan baru saya ketahui bahwa sebenarnya ada jembatan cincin lainnya di kawasan ini. Letaknya di tengah perkampungan agak jauh dari jalan raya dan cukup tersembunyi juga, tak heran kalo banyak yang engga tahu keberadaan jembatan ini. Nama jembatan ini Jembatan Kuta Mandiri. Saat ini hanya warga sekitar saja yang memanfaatkan jembatan ini sebagai jalur jalan perkampungan.

Gedung Juang 45 Tanjungsari (atas) Viaduct (bawah) di Tanjungsari Foto : Komuitas Aleut

Jejak kereta api berikutnya yang kami datangi adalah bekas Stasiun Tanjungsari yang saat ini digunakan sebagai Gedung Juang ’45 Tanjungsari. Jalan tempat bekas stasiun ini berada ternyata bernama Jalan Staatspoorwegen (SS) dan gedungnya bernomor 23. Yang masih tersisa di sini selain bangunannya adalah papan nama stasiun yang terdapat pada salah satu dinding luar luar, letaknya di bagian atas. Di situ tertulis nama dengan ejaan lama, Tandjoengsari.

Di sini Mang Alex bercerita bahwa jalan raya yang di depan itu adalah bagian dari De Grootepostweg atau Jalan Raya Pos yang dibangun pada masa Gubernur Jenderal Hindia Belanda ke-36 yaitu Herman Willem Daendels. Untuk pembangunan lintasan jalur kereta api Tanjungsari, ada bagian dari Jalan Raya Pos ini yang dibongkar dan dijadikan viaduct. Bagian atas dan bawah viaduct ini masih digunakan sampai sekarang sebagai jalur lalu lintas, sedangkan jalur rel kereta api sudah tidak terlihat lagi, katanya sudah tertimbun sekitar satu meteran di bawah tanah.

Struktur Jembatan Kereta Api di Citali foto: Komunitas Aleut

Dari Tanjungsari, kami ke Citali. Di sini kami berjalan ngaleut di tengah persawahan untuk menuju sebuah bekas bangunan fondasi jembatan yang tidak selesai dikerjakan. Konon karena masalah kesulitan ekonomi pada waktu itu. Selain itu ada juga dongengan soal kenapa jembatan ini tidak dapat diselesaikan, konon karena keberadaan kabut sangat tebal yang selalu menghambat pekerjaan di sana. Wah, kabut seperti apa ya itu sampai bisa menggagalkan pembangunan jembatan kereta api?

Sekitar pukul 12.30 kami beristirahat dan makan  di daerah Tanjungsari, yaitu di Warung Makan (Warman) Dua Saudara. Tempatnya sangat strategis karena berada di pinggir jalan dan kebetulan sedang kosong sehingga dapat menampung rombongan kami. Saya pikir  warman ini baru, terlihat dari catnya seperti baru dipulas, tapi warman ini sudah semi lama ternyata. Di warman ini saya memilih makanan yang sederhana saja karena taulah mahasiswa korona, paspasan kantongnya, hihihi. Saya mengambil lauknya jamur, tempe, tahu dan sambal, wait, satu lagi asin pemberian Dary yang sengaja di bagikan satu plastik olehnya, untung saja temen-temen yang lain pada gak ada yang ngambil, kecuali Pak Hepi, jadi saya bisa ambil satu lagi. Thanks ya Dary. Setelah makan selesai kami bercanda tawa.

foto bersama Ibu penjual warung (atas) Ibu penjual warung sedang bercerita (bawah) foto: Komunitas Aleut

Dari Tanjungsari, kami tidak putar balik kembali ke arah Bandung, tapi mampir dulu ke satu tempat yang namanya sangat khas dan terkenal, Cilembu. Tadinya saya pikir tempat ini masih berhubungan dengan sejarah kereta api, tapi ternyata engga. Ternyata oh ternyata, Aleut hanya ingin mengenalkan kawasan ini saja. Nama Ubi Cilembu memang sudah sangat terkenal, tapi banyak yang engga tahu di mana sebenarnya Cilembu itu. Nah, karena itulah ternyata kami diajak ke sini.

Kami berhenti di sebuah warung penjual Ubi Cilembu dekat Kantor Desa. Di sini kami ngobrol panjang sekali dengan ibu warung dan ada banyak sekali informasi yang kami dapatkan. Cerita seputar desa, berbagai jenis umbi-umbian, sampai ke pengolahan ubi yang sudah modern. Selain ubi oven yang sudah dikenal, di sini juga banyak diproduksi variasi olahan ubi, termasuk keripik yang banyak jenisnya dan sudah dipasarkan melalui marketplace. Sampai sekarang Desa Cilembu juga termasuk yang secara rutin menerima kelompok mahasiswa yang melakukan Kuliah Kerja Nyata di sini.

Situs Candi Bojong Menje. foto: Komunitas Aleut

Dari Cilembu kami pulang melewati Rancaekek dan tiba-tiba berhenti di tepi jalan. Di situ saya lihat ada sebuah plang kecil dengan tulisan Candi Bojong Menje. Oh, rupanya kami akan mampir melihat situs ini. Kam masuk melewati gang sempit di tengah kawasan pabrik dan permukiman. Di situs candi kami ketemu bapak penjaganya, Pak Ahmad, yang bercerita bahwa sebelum ditemukan bekas-bekas candi ini, dulunya wilayah itu adalah kompleks permakaman umum. Pak Ahmad menceritakan berbagai koleksi temuan yang tersimpan di situ sambil mengatakan juga bahwa sebetulnya di kawasan itu kalau diadakan penggalian maka masih dapat ditemukan banyak tinggalan kuno lainnya, tapi ya ada masalah soal pemilikan tanah sehingga penggalian tidak dapat dilakukan.

Ex Stasiun Penerima Radio Nirom foto: Komunitas Aleut.

Dari lokasi Candi Bojong Menje, kami masih mampir lagi ke tempat lain. Kali ini mengunjungi ex Stasiun Penerima  Radio Nederlands Indische Radio Omroep (Nirom). Gedung depannya terlihat sangat cantik sekali menjulang tinggi dengan ciri khas bangunan Eropa. Namun sayangnya  kondisi bangunan  tidak terawat dan bisa dibilang kumuh. Sekarang gedung bangunan tersebut dikelola oleh PT TELKOM.

Plang dan spanduk Candi Bojong Emas sobek (atas) Tumpukan bebatuan Candi Bojong Emas (bawah) foto: Komunitas Aleut.

Kami tidak terlalu lama berada di lokasi bekas stasiun radio itu karena hari sudah semakin sore. Sambil beranjak menuju pulang, kami masih sempatkan mampir ke satu lokasi lain di Sapan yang memang terlewati, yaitu situs Candi Bojong Emas. Lokasinya di pinggir Jl. Raya Sapan dekat sekali dengan Sungai Ci Tarum. Kondisi candi di sini sangat tidak terawat  dan  terkesan dibiarkan saja. Di sini terdapat pagar pembatas kayu lebih kurang satu meter dan plang spanduk yang sobek. Di bagian dalam terdapat banyak tumpukan batu kali.

Senang rasanya setiap kali momotoran bareng Aleut, apalagi hujan turun, serasa nostalgia masa kecil, hihihi. Apalagi ini adalah momotoran pertamaku di Aleut ke wilayah Timur. Di sini aku merasa pengetahuanku tentang sejarah perkeretaan apian lumayan bertambah. Dan aku baru tau juga ternyata di Bandung ada Candi,  jadi gak usah jauh-jauh deh cari candi ke daerah lain, hihihi. Pokoknya momororan kali ini enggak kalah menariknya. sampai jumpa di perjalanan momotoran selanjutnya.

***

Ngaleut Kareumbi-Citengah (sumedang)

By : Asep Nendi R.
Minggu, 19 Juli 2009

Ngaleut kali ini terasa berbeda karena dipastikan akan menemui beberapa sarana transportasi baru bagi Klab Aleut (sok tau nya, bae ah)…..

Bukan tanpa perencanaan, tapi, ngaleut kali ini memang dilakukan tanpa survei, tapi tidak juga tanpa persiapan yang matang tentunya… butuh waktu 1 bulan untuk merealisasikan perjalanan ini…

akhirnya,,, perjalanan ini…..

06.15
di depan stasiun Bandung sebalah utara, telah berkumpul 3 orang pegiat (ebi, candra, elgi) semuanya nampak berseri-seri menyambut perjalanan ini….

beberapa menit kemudian muncul ayan dan yanto,, kemudian adi, opik, BR,,,
setelah berkumpul 9 orang kami mulai menghubungi beberapa pegiat yang semalam konfirm untuk ikut tapi belum juga datang,,, teu baleg!!!!
di stasiun beberapa bule mulai berangkat ke Jakarta untuk kemudian pulang ke negaranya masing2, yah kejadian bom membuat negara2 asal pengunjung mulai menarik pulang warganya…

setelah membeli tiket, kami pun berangkat menuju cicalengka menggunakan kereta KRD ekonomi,,, padat bung,,, tapi inilah kesenangannya, belajar bersosialisasi cenah…
kereta yang kami tumpangi akan berangkat pukul 07.51, tapi setelah menunggu 10 menit barulah kereta berangkat… maklum Indonesia, eh Kareta Api ketang…
tarif Rp. 1000 per orang murah bukan…?

08.10
kereta berangkat, walau padat berdesakan, perjalanan tetap menyenangkan…
sampai 3 kali perhentian, hanya Bang BR saja yang kebagian duduk… yang lainnya berdiri, maklum mengalah pada yang tua… sampai pemberhentian gede bage semuanya duduk kecuali saya…

jangan tanyakan kondisi di dalam kereta, karena semua yang kita bayangkan benar2 terjadi… dari mulai penyanyi dangdut, penjual dvd, jeruk, pengamen, semuanya berlomba mengais rejeki di atas gerbong kereta…

09.30
kami tiba di stasiun cicalengka, dan mulai mencari2 angkot untuk dicarter, tapi….
dengan pertimbangan biaya dan tantangan, kami menaiki coolback (kol buntung) menuju kareumbi dengan tarif Rp. 5000 per orang..
jalur yang berbelok2, dengan jumlah penumpang yang membludak (lebay) membuat perjalanan jauh dari kesan nyaman…. sebenarnya angkutan tersebut khusus untuk mengangkut penumpang menuju Curug CInulang…

akhirnya kami tiba di ujung aspal, dan berjalan kaki memasuki jalanan koral menuju starting point perjalanan (wisata buru masigit kareumbi)..

10.20
dulunya kawasan kareumbi merupakan kawasan Wisata Buru Masigit Kareumbi (aneh karena letak Gn. Masigit yang jauh dari kareumbi).. kawasan ini konon, dikuasai Panglima Ibrahim Adjie…(diabadikan sbg jalan Kircon) memasuki tahun 1990an hewan disini mulai berkurang..
puncaknya pada tahun 2000an terjadi illegal logging, yang membuat kawasan ini tidak lagi tertutup..
beberapa fasilitas pun nampak hancur sampai pada tahun 2007an,, padahal kawasan ini dibawah BKSDA (balai besar konservasi sumber daya alam) Jabar.
dalam kawasan ini terdapat 2 desa yaitu, Cigumentong dan Cimulu… di sekitar karembi teradapat beberapa tempat yang layak dikunjungi, selain dua desa tersebut…
1. Batara Guru, kawasan hutan yang masih tertutup rapat (berkanopi) didalamnya bermacam2 hewan buas masih hidup…
2. Jalur Cimulu-Limbangan

untungnya pada akhir 2008, dan awal tahun 2009 wanadri mulai mengelola tempat ini dan mulai merekonstruksi beberapa bangunan dan beberapa kelengkapannya… mudah2an ini upaya baik untuk mengkonservasi kawasan kareumbi dan sekitarnya…

10.30
di kawasan kareumbi,
kami makan pagi untuk sekedar mengisi kekosongan perut, karena perjalanan ke depan tidak akan ditemui warung ataupun perkampungan…. mie rebus dan roti merupakan menu ideal bagi petualang aleut (pegiat)….

11.00
perjalanan dimulai,

dipersimpangan jalan menuu cigumentong kami menyempatkan membeli buah tomat dari petani yang sedang menimbang tomat…
Rp 5000 sakeresek, loba pisan jaba amis, sumpah….!

tujuan pertama adalah makam tuan blok (jansen) di desa Cigumentong… konon, beliau adalah pemilik kawasan ini pada jaman kolonial,,, makamnya sendiri baru ditemukan secara tidak sengaja pada tahun 2006an, padahal keluarganya sempat melakukan pencarian pada tahun sebelumnya, tapi tidak berhasil..
beliau dikubur bersama hartanya, yang sekarang entah dimana keberadaannya…
Desa Cigumentong sendiri terdapat 14 keluarga, yang ajaib desa ini sudah menggunakan panel surya untuk keperluan pemenuhan energi listriknya…

tidak lama dari Cigumentong, kami langsung melanjutkan perjalanan…
kesan pertama takut dan ragu, karena kita memasuki hutan yang masih tertutup rapat….
kami mulai menyusuri jalanan setapak yang ada, setelah sempat mengisi air di mata air yang mengalir jernih…
tawa dan canda merupakan hiburan tersendiri di tengah sunyinya hutan….
setelah lama berjalan kami beristirahat untuk berfoto dan mengganjal perut… perjalanan pun dilanjutkan, diiringi musik alam yang merdu, perpaduan teriakan binatang rimba dan riuhnya pepohonan…

13.38
kami istirahat kembali, untuk makan siang…
tapi hanya opik dan yanto yang membawa bekal, sementara yang lainnya hanya merokok dan ngemil tomat yang kami beli di jalan menuju CIgumentong… amiissss…
saat beristirahat kami dikelilingi burung elang yang berteriak histeris seolah memberi tanda pada kawanan yang lainnya, serem juga…

13.55
perjalanan dilanjutkan kembali, rute yang ditempuh didominasi turunan…. sehingga kami tidak kesulitan atau keletihan… letak citengah yang dibawah hutan kareumbi…
tidak terasa salah satu lembahan yang kita susuri adalah Gunung Gelung, dan pesawahan pun telah nampak dari kejauhan… tanpa ragu kami mulai menambah kecepatan menuju daerah pesawahan…

disana terdapat salah satu rumah, yang menurut informasi menjual lahang, tapi sayang penjualnya sedang tidak ada… untuk mengobati rasa dahaga kami menuju Curug Kancana mengikuti jalan yang telah ditunjukkan oleh warga yang sedang melintas…

setelah puas berfoto di curug kami melanjutkan perjalanan menuju CItengah……

16.04
kami tiba di Kampung Cijolang Desa Citengah, mulai tampak peradaban… lega….

16.35
menaiki angdes Citengah-Sumedang tarif Rp. 3000

setelah berkelilingdi sekitar alun2 sumedang, kami mulai berjalan (lagi) menuju pusat perbelanjaan tahu…

17.46
kami sampai di pusat pertahuan, namun tahunya sudah habis dari sore….parah…
beberapa tempat jualan tahu yang punya nama tutup, akhirnya kami ngemil tahu di pinggiran jalan, tapi tetep enak da,,,

kami menaiki angkot dengan tarif Rp. 2000 menuju polres… tempat nantinya kami akan memberhentikan bis (jiga supermen nya)

18.37
kami pulang ke Bandung (cicaheum) menggunakan bis Bandung-Cikijing dengan tarif Rp. 8000
dalam bis nampak kondisi pegiat yang mulai keletihan… sampai di terminal cicaheum, kami berpencar..
salut buat ebi (satu2nya pegiat perempuan yang ikut)

dengan tetap senyum, gambar keindahan hutan yang takkan bisa dilupakan…
sebuah memori petualangan yang penuh dengan kesan dan pesan….
pesan akan pentingnya bersinergi dengan alam, dan menjaga alam…

“Sebuah negara tidak pernah kekurangan seorang pemimpin apabila anak mudanya sering bertualang di hutan, gunung dan lautan”
-sir henry dunant-