#KelasResensi: Pekan ke-1

Oleh: Irfan Teguh Pribadi (@irfanteguh)

Sabtu depan, tepatnya tanggal 5 September 2015, Kelas Resensi Buku Komunitas Aleut akan memasuki pekan ke-10. Telah puluhan buku yang berhasil dibaca dan diceritakan ulang secara lisan. Ya, “berhasil”, sebab tak semua orang punya waktu dan minat yang cukup, untuk mengkhatamkan satu buku dalam waktu satu minggu.

Pada pekan ke-1, peserta kelas resensi buku hanya berjumlah enam orang. Awal yang kecil memang. Namun dari sini pula, ke depan, semangat yang telah ditabur oleh beberapa orang itu, bisa menular ke kawan-kawan yang lain. Adapun buku yang dibaca, meskipun Aleut adalah komunitas yang amat kental irisannya dengan sejarah, namun dalam kelas resensi ini, keragaman tema dan genre buku justru yang coba diangsurkan.

Ya, buku yang dibaca dan diceritakan ulang, tidak melulu tentang sejarah, namun ada pula buku tentang sastra, filsafat, budaya, dan lain-lain. Inilah catatan pendek dari beberapa buku yang dibaca pada pekan ke-1 itu :

  1. “Jalan Lain ke Tulehu” (Zen RS)

Kisah yang berlatar kerusuhan berbau agama di Timur Indonesia ini, bercerita tentang sepakbola dan kenangan yang berarak di tempurung kepala, serta ingatan yang mengejar. Gentur, seorang wartawan dari tanah Jawa terperangkap dalam kerusuhan yang pelik. Ia kemudian terdampar di sebuah perkampungan Muslim yang terlibat konflik tersebut. Dalam kondisi yang serba berbahaya, beberapa kali nyawanya sempat terancam. Namun pada akhirnya sepakbola berhasil membuka “jalan”. Sepakbola beberapakali meredakan ketegangan antar yang bertikai, juga Gentur dengan kenangannya.

  1. “Ayah” (Andrea Hirata)

Novel terbaru dari pengarang “Laskar Pelangi” ini bercerita tentang hubungan ayah-anak yang begitu karib. Namun karena hubungan ayah dan ibunya tidak mulus, terpaksa keduanya berpisah. Dengan gaya bertutur yang khas, penulis kembali menampilkan tokoh die hard yang begitu komikal. Namun justru di tokoh seperti itulah dia menyematkan pesan-pesannya.

  1. “Jugun Ianfu; Jangan Panggil Aku Miyako” (Rokajat Asura)

Kasus perbudakan seks di zaman Jepang, setidaknya di Indonesia, tidak terlalu banyak yang mengangkatnya ke dalam teks-teks fiksi. Novel berlatar sejarah ini mencoba mengetengahkan Jugun Ianfu dengan balutan kisah romantisme cinta segitiga di tengah kecamuk revolusi.

  1. Zaman Perang (Hendi Jo)

Narasi sejarah yang ditulis secara resmi oleh negara, jarang mengemukakan kisah tentang orang-orang kecil. Jutaan rakyat yang ikut berdenyut dalam pusaran sejarah, seolah hanya tokoh pinggiran yang kiprahnya tidak penting untuk diabadikan dalam catatan ingatan kolektif bangsa. Di titik ini, kumpulan kisah yang terbuhul dalam buku karya Hendi Jo, adalah sebuah ikhtiar untuk menimbang ulang; bahwa rupa sejarah bangsa, juga diwarnai oleh beragam kisah heroik orang-orang kecil. Mereka yang terpinggirkan dalam teks resmi itu, adalah–seperti kata penulisnya; “Orang biasa dalam sejarah luar biasa”.

  1. Burung Kecil Biru di Naha (Linda Chrystanti)

Kumpulan esai dan reportase berbentuk jurnalisme sastrawi ini mempunyai benang merah tentang kekerasan, konflik, dan tentu saja luka. Linda yang telah lama bergelut di dunia ini, lihai meramu fakta-fakta baru lalu menyajikannya dengan ketajaman dan kepekaan kemanusiaan. Dalam tulisannya, selain membibit semangat rekonlisiliasi, Linda juga menegaskan bahwa ketidakadilan bisa hadir dengan mengatasnamakan apa saja; suku, ras, agama, maupun ideologi. Bagi Linda semua isme hanyalah gagasan, yang bisa dinilai adalah praktek para pelakunya; apakah berguna bagi kemanusiaan atau malah sebaliknya.

  1. Dracula (Bram Stocker)

Inilah kisah vampir legendaris dari Rumania. Buku yang mula-mula terbit di tahun 1897 ini adalah cikal bakal bagi cerita-cerita drakula yang ditulis setelahnya. Drakula, sosok yang lemah di hadapan bawang putih, salib, dan roti sakramen ini hadir dalam beberapa fragmen kisah cinta manusia. “Dracula”, bisa jadi, adalah magnum opus-nya penulis yang meninggal di usia 64 tahun tersebut. [ ]

Jugun Ianfu: Seandainya Saya Dulu Jelek

oleh: Lorraine Riva (@yoyen)

Emah berkata “Seandainya saya dulu jelek. Gadis-gadis jelek dipulangkan kerumah setelah beberapa hari atau minggu. Orang Jepang tidak menginginkan mereka. Gadis-gadis cantik harus tinggal. Saya tetap tinggal disana. 3 tahun lamanya saya tinggal di bordil militer mulai dari 1945”.

Image

Emah (lahir tahun 1926 di Cimahi, Jawa – Barat) adalah seorang Jugun Ianfu atau bahasa Inggrisnya comfort women. Istilah comfort women biasanya ditujukan untuk gadis atau perempuan yang dipaksa melacur oleh Jepang selama Perang Dunia II. Setelah rape of Nanking tahun 1938 (http://www.historyplace.com/worldhistory/genocide/nanking.htm ) yang benar-benar mengerikan, beberapa petinggi militer Jepang menyarankan pimpinan militer Jepang untuk membuka pusat rekreasi untuk para tentara yang bertempur di lini depan. Mereka percaya hal ini berguna untuk menjaga tata tertib dan mental para tentara. Pusat rekreasi ini juga dipercaya dapat mencegah para tentara mengidap penyakit seksual. Sebenarnya pusat rekreasi ini adalah istilah halus untuk bordil militer.

Buku Schaamte en onschuld (rasa malu dan bersalah) karya antropolog Belanda, Hilde Janssen, dan portret para Jugun Ianfu yang mengesankan karya Jan Banning (http://www.janbanning.com/gallery/comfort-women/ ) sudah ada dalam daftar buku yang harus saya baca sejak terbitnya di bulan April 2010. Setelah membaca buku ini saya ingin berbagi cerita di sini supaya dunia tahu sejarah Jugun Ianfu. Jan Banning juga menerbitkan buku Comfort Women (http://www.uitgeverij-ipsofacto.nl/?m=25&p=2&s=0 ) dengan teks oleh Hilde Janssen, buku ini terbit dalam bahasa Belanda dan Inggris.

 

Awal mula
Jugun Ianfu yang pertama kali datang ke Indonesia tahun 1942 berasal dari Korea dan Cina. Sehubungan dengan naiknya permintaan untuk Jugun Ianfu dan kurangnya jumlah para wanita dari Korea dan Cina, militer Jepang mulai merekrut perempuan di Indonesia. Kebanyakan dari para perempuan ini diculik dari rumah, di jalan (Sanikem, lahir 1926 di Yogyakarta) bahkan di sawah  selagi bekerja. Ada yang dijual oleh kepala desa ke Jepang seperti Kasinem (lahir 1931 di Salatiga, Jawa-Tengah) dan Rosa (lahir 1929, Pulau Saumlaki Maluku-Selatan). Yang termuda berumur 11 tahun, masih anak-anak. Tentara Jepang merekrut anak dan laki-laki dewasa untuk dijadikan romusha atau heiho, sementara para perempuan dipaksa bekerja di bordil militer.

Walaupun inisiatif militer, tetapi pengelola bordil militer berbeda-beda. Ada beberapa bordil yang dikelola langsung di bawah pengawasan departemen militer, ada bordil kepunyaan swasta. Para Jugun Ianfu yang bekerja di bordil militer ini harus menggunakan nama Jepang mereka: Hana, Miko dsb. Para wanita ini bekerja tiap hari dari siang hingga malam. Beberapa dari mereka bekerja tanpa henti. Hari libur mereka dapat jika mereka menstruasi atau untuk tes medis tiap bulan. Hanya sedikit Jugun Ianfu yang hamil. Menurut Giyem (lahir 1930 di Jawa-Tengah) dokter militer memberikan resep obat puyer (catatan: mungkin sama seperti Morning After pil sekarang ini?) kepada semua Jugun Ianfu untuk mencegah supaya mereka tidak hamil.

Selama bekerja sebagai Jugun Ianfu beberapa wanita ini mengingat tamu-tamu bordil yang berlaku baik kepada mereka, tetapi mereka juga membenci tamu-tamu yang kasar. Beberapa tamu kasar itu menganiaya Jugun Ianfu. Tanpa ragu mereka mengancam akan menusuk Jugun Ianfu dengan bayonet tajamnya jika hasrat mereka tidak dituruti.

Ada sejumlah Jugun Ianfu yang tidak bekerja di bordil militer. Beberapa dari mereka ditawan di rumah seorang Jepang, sebagian dijemput di rumah mereka tiap sore dan dibawa ke rumah orang Jepang. di mana mereka diperkosa setiap hari 3 tahun lamanya.

Jugun_2

Akhirnya
Di akhir Perang Dunia II dan langsung setelah Jepang menyerah, bordil-bordil militer ditutup. Para Jugun Ianfu bebas untuk pulang ke tempat asal mereka. Beberapa memilih untuk tinggal di situ karena mereka takut menceritakan kejadian sebenarnya ke keluarga mereka..Yang kembali ke tempat asal diterima dengan baik oleh keluarga tetapi penduduk di sekitar mereka menghina dan menyebut mereka sebagai bekas Jepang. Hal ini membuat sakit hati para Jugun Ianfu. Ada juga Jugun Ianfu yang tidak bercerita ke seorang pun tentang pengalaman buruknya ini. Seperti Sarmi (lahir 1930 Jawa – Tengah), ia tidak pernah bercerita tentang ini, bahkan suaminya pun tidak tahu bahwa istrinya adalah eks Jugun Ianfu. Menurut Sarmi ini adalah pilihan terbaik untuk tidak membebani suaminya, anak-anak dan cucu-cucu mereka. Sarmi yakin bahwa dia sangat berdosa karena dia membiarkan Jepang memperkosanya. Selain Sarmi ada juga Jugun Ianfu yang tidak dapat mempunyai anak. Malu, segan dan trauma membuat banyak Jugun Ianfu enggan diwanwancara di rumah sendiri oleh penulis buku ini. Takut akan reaksi tetangga mereka hanya mau diwawancara di tempat lain.

Pengakuan
Menurut data statistik, terdapat 200.000 korban kejahatan seksual di negara-negara jajahan Jepang. Korban bukan hanya wanita dari Korea, Cina, Malaysia, Singapore, Philipina dan Indonesia tetapi juga dari Inggris, Australia dan Belanda. Wanita Eropa ini berada di wilayah jajahan Jepang pada waktu itu.

Tahun 1992 Jugun Ianfu di Korea dan Cina memulai lobby lewat Jugun Ianfu Advocacy Network untuk pengakuan resmi dari pemerintah Jepang tentang kejahatan seksual di masa perang ini. Tujuan utama mereka setelah pengakuan resmi adalah kompensasi untuk kerugian moral dan fisik yang mereka derita. LBH mengambil contoh dari Korea dan Cina dan mulai mendaftar Jugun Ianfu di Indonesia. Didaftar LBH ini tercantum 20.000 Jugun Ianfu berasal dari seluruh penjuru Indonesia (bukan hanya Jawa dan Sumatra). Yang mengejutkan untuk saya, pemerintah Indonesia ternyata menyarankan para Jugun Ianfu untuk tidak menuntut pemerintah Jepang mengeluarkan pernyataan resmi dan kompensasi. Menurut pejabat Indonesia akhir tahun 1990-an adalah tabu untuk menggali sisi gelap sejarah. Mereka menganjurkan para Jugun Ianfu berhenti menuntut pemerintah Jepang. Sikap pemerintah Indonesia yang mengecewakan ini sangat bertentangan dengan sikap pemerintah Korea dan Cina yang sepenuhnya mendukung para Jugun Ianfu di negara mereka.

Tidak peduli seberapa keras lobby ini, bahkan setelah kesaksian para Jugun Ianfu di Jepang akhir tahun 1990-an, pemerintah Jepang hingga sekarang pun tidak mengeluarkan pernyataan resmi tentang Jugun Ianfu. Saya bertanya-tanya sampai kapan Jepang mengelak untuk bertanggung jawab? Para Jugun Ianfu sekarang sudah sangat tua. Jika dalam jangka waktu dekat mereka tidak ada lagi, siapa yang akan menuntut Jepang untuk pengakuan resmi?

Ada sebuah film dokumenter Omdat wij mooi waren (Karena kami dulu cantik) ditayangkan di TV Belanda tanggal 15 Agustus 2010. Film ini dalam bahasa Belanda, Bahasa Indonesa, Bahasa Sunda dan Bahasa Jawa dengan terjemahan dan narasi dalam Bahasa Belanda. Di film ini kita melihat penulis buku, Hilde Janssen bersama dengan fotografer Jan Banning mewawancara dan memotret para Jugun Ianfu. Mengharukan cerita mereka dan sangat kejam, tidak berperikemanusiaan pengalaman mereka. (http://www.youtube.com/embed/Hx4vRRH7rhc)

Catatan saya
Menurut saya istilah Jugun Ianfu dalam bahasa Inggris, comfort women itu istilah yang menyesatkan karena Jugun Ianfu dipaksa untuk melacur bukan atas kemauan mereka sendiri. Mungkin sekarang ini Jugun Ianfu bisa dikategorikan sebagai jaringan pedofilia karena banyak Jugun Ianfu yang yang waktu itu berumur 11 tahun. Mereka itu masih anak-anak!

Kadang saya mengerti pilihan beberapa Jugun Ianfu di buku ini untuk berdiam tentang masa lalunya. Saya mengerti ini karena ada 3 Jugun Ianfu di keluarga saya dan suami saya. Mendengar cerita mereka sewaktu kecil dan setelah sekarang dewasa saya mengerti. Selama membaca buku ini hati saya miris membayangkan perasaan para Jugun Ianfu: malu, dipakai, kotor dan dikucilkan. Mudah-mudahan kekejaman seperti ini tidak terjadi lagi. Kita harus belajar dari sejarah bukan?