Ke Timur: Kereta Api, Ubi, Radio, sampai Candi

Ditulis oleh: Inas Qori Aina

Saya senang karena selalu ada cerita berbeda di setiap Momotoran. Diawali dengan keberangkatan yang agak siang dan perjalanan yang mengarah ke timur, terasa asing karena biasanya jalur selatan yang selalu menjadi jalur utama setiap kali momotoran.

Tema momotoran kali ini adalah Jejak Kereta Api Bandung-Tanjungsari. Sabtu, 30 Januari 2021, saya bersama teman-teman ADP 2020 menyambangi beberapa tempat yang berkaitan dengan jejak jalur Kereta Api Bandung-Tanjungsari yang sudah lama tidak aktif. Kami berangkat dari sekretariat Komunitas Aleut melalui jalur yang sering saya sebut sebagai jalur neraka, karena kemacetannya yang selalu menguji kesabaran, Jalan Soekarno Hatta lalu Cibiru-Cileunyi-Jatinangor.  

Atas: Plang Makam
Bawah: Jembatan Cincin diambil dari pemakaman
Foto: Inas Qori Aina

Tempat pertama yang kami tuju adalah Jembatan Cincin di Cikuda, Jatinangor. Jembatan ini biasanya hanya saya pandangi dari kampus tempat saya berkuliah. Baru kali ini saya menginjakkan kaki di atas jembatan ini. Bukan Cuma berjalan di atasnya, tapi kami pun menyempatkan untuk turun ke bawahnya dan mengamatinya dari area persawahan. Di bawah sini ada sebuah permakaman kecil yang katanya ada makam keramatnya, tapi entah makam yang mana. Dari pemakaman kecil ini kami dapat melihat secara utuh konstruksi jembatan itu.

Cukup lama kami eksplorasi di sekitar Jembatan Cincin Cikuda, sesekali kami juga menyimak berbagai informasi dan cerita yang disampaikan. Berikutnya, kami berangkat lagi menuju titik selanjutnya, yaitu Jembatan Cincin Kuta Mandiri. Untuk menuju jembatan ini kami melalui jalan perdesaan dengan pemandangan sawah yang terhampar di kiri dan kanan jalan. Jembatan ini terletak di tengah Desa Kuta Mandiri, Tanjungsari, sehingga tak heran masih menjadi jalur utama mobilitas warga desa. Ketika kami tiba di sana kami pun harus berhati-hati karena banyaknya kendaraan yang melintas di jembatan ini.

 Jembatan Cincin Kuta Mandiri Foto: Inas Qori Aina

Bentuk jembatan ini mirip dengan Jembatan Cincin Cikuda. Bedanya, di jembatan ini masih dapat dijumpai semacam tempat yang dulu digunakan untuk minggir (safety area) di saat kereta api melintas.

Setelah mendapatkan cerita tentang sejarah jembatan ini, kami bergegas menuju bekas Stasiun Tanjungsari. Bangunan bekas stasiun tersebut kini terletak di tengah permukiman warga yang cukup padat. Hanya sedikit peninggalan yang dapat saya lihat, yaitu papan nama stasiun serta bangunan bekas peron stasiun yang kini digunakan entah sebagai rumah atau taman kanak-kanak. Menurut Pa Hepi, bagian depan dari Stasiun Tanjungsari kini sudah tidak tersisa lagi.

Yang tersisa dari bekas Stasiun Tanjungsari foto: Inas Qori Aina

Tidak jauh dari Stasiun Tanjungsari, terdapat viaduct Tanjungsari yang dibangun melintasi Jalan Raya Pos. Bentuknya mirip dengan viaduct yang berada di Bandung. Hanya saja, Viaduct Tanjungsari tampak lebih sederhana dan lebih pendek.

Dari Tanjungsari kami melanjutkan perjalanan ke Citali. Saya dan teman-teman berhenti di pinggir jalan untuk memarkirkan kendaraan dan berjalan kaki, ngaleut, menuju area persawahan milik warga sana. Siapa sangka, di tengah area sawah milik warga terdapat dua buah struktur bekas fondasi jembatan yang tidak selesai dibangun. Kami hanya memandangi struktur tersebut dari kejauhan, karena tidak berani melintasi jembatan kayu kecil yang di bawahnya terdapat aliran sungai yang terlihat tenang tapi mungkin cukup dalam.

Jembatan kayu menuju bekas jembatan kereta api di Citali Foto:Inas Qori Aina

Perjalanan ini tidak cukup sampai di Citali, dan bukan hanya tentang kereta api. Satu yang tak kami lewatkan yaitu untuk mampir ke sentra ubi Cilembu yang berada di Desa Cilembu. Ketika memasuki gapura desa tampak kebun ubi yang terhampar di kiri dan kanan jalan. Kami pun menyempatkan untuk mampir ke sebuah warung ubi Cilembu milik seorang warga lokal. Di sini kami berbincang mengenai asal mula berkembangnya ubi Cilembu hingga menjadi oleh-oleh yang terkenal saat ini.

Kebun ubi Cilembu Foto: Inas Qori Aina

Oleh-oleh ubi Cilembu telah kami kantongi, saatnya kami melanjutkan perjalanan untuk pulang. Perjalan pulang kami melewati jalur yang berbeda dengan saat kami berangkat. Perjalanan kami melewati Parakan Muncang dan melewati jalur Cicalengka-Rancaekek. Di tengah jalan raya Rancaekek tampak plang yang tidak telalu besar bertuliskan “Situs Candi Bojong Menje”. Untuk menuju situs candi tersebut kami harus memasuki sebuah gang yang cukup kecil. Saya tak habis pikir ketika tiba di sini. Konstruksi batuan candi hanya dilindungi oleh sekeliling pagar yang sudah karatan serta atap yang rusak.

Berbincang dengan Pak Ahmad, kuncen Candi Bojong Menje Foto: Komunitas Aleut

Di sini kami berbincang dengan penjaga candi yaitu Pak Ahmad. Ia menceritakan bagaimana awal mula penemuan situs ini serta kemungkinan masih adanya struktur candi lain yang kini berada di tengah bangunan pabrik.

Tak lama, kami pun melanjutkan perjalanan lagi. Di tengah jalan kami berhenti di sebuah bangunan bekas Stasiun Penerima Radio Nederlands Indische Radio Omroep (Nirom). Kata Pa Hepi, bangunan tersebut kini digunakan sebagai bengkel entah oleh siapa dan masih dimiliki oleh PT Telkom.

Waktu semakin petang, kami mengejar waktu agar sempat untuk melihat satu lagi candi yang masih terletak di Kabupaten Bandung. Beruntungnya, matahari masih mau menemani kami sehingga saat kami tiba keadaan belum terlalu gelap. Candi terakhir yang kami singgahi adalah Candi Bojongemas. Keadaan di sini justru lebih parah daripada Candi Bojong Menje. Papan informasi sudah berkarat dengan tulisan yang tidak cukup jelas. Batuan candi pun hanya dikelilingi oleh pagar kayu yang sangat rentan untuk rusak.

Keadaan di sekitar Candi Bojongemas Foto: Inas Qori Aina

Hanya sebentar kami melakukan pengamatan, keadaan pun semakin gelap. Tandanya perjalanan kami hari itu selesai, dan harus segera pulang. Di perjalanan pulang, pikiran saya tak karuan merenungkan pengalaman dari perjalanan Momotoran ke kawasan timur yang baru saja saya lalui, seperti yang tidak asing karena sering dilalui, tapi ternyata punya banyak peninggalan masa lalu yang rasanya tidak terlalu populer dan jarang dibicarakan orang…

***

Momotoran Jejak Kereta Api Bandung-Tanjungsari

Ditulis oleh: Aditya Wijaya

Hana nguni hana mangke, tan hana nguni tan hana mangke,

Ada dahulu ada sekarang, bila tak ada dahulu tak akan ada sekarang.

Saya tak mengira bahwa Bandung Timur menyimpan kepingan sejarah masa lalu, dari mulai perkebunan, kereta api, hingga candi. Ternyata banyak juga bahan pembelajaran di sini dan saya mendapatkan sebagiannya ketika hari Sabtu lalu, 30 Januari 2021, saya mengikuti kegiatan momotoran bersama Aleut Development Program 2020.

Tema utama momotoran ini sebenarnya menyusuri jejak jalur kereta api mati antara Bandung-Tanjungsari. Tapi di bagian akhir, ada beberapa bonus yang mengejutkan.

Jembatan Cincin Cikuda

Lokasi pertama yang kami datangi yaitu Jembatan Cincin yang terletak dekat Jalan Raya Pos dan kampus Unpad. Setelah melewati satu jalur jalan sempit, kami tiba di atas bekas jembatan kereta api yang masih berdiri kokoh, seperti tak tergerus oleh waktu. Arah timur dari jembatan ini terlihat Gunung Geulis, namun sayang pemandangan tersebut terhalang gedung tinggi. Di sekitar jembatan pun terlihat tidak terawat, banyak tumpukan sampah di sana-sini.

Kereta api sedang melintasi Jembatan Cincin Cikuda, di belakangnya terlihat Gunung Geulis. Foto: nationaalarchief.nl

Lalu kami berjalan menuju bagian bawah jembatan, di sana terdapat komplek permakaman warga lokal. Dari bawah sini terlihat jelas bentuk jembatan, lingkaran bawah jembatan memang terlihat seperti cincin, mungkin itu sebabnya jembatan ini dinamai Jembatan Cincin. Eksplorasi di sekitar jembatan ini tidak terlalu lama karena kami akan bergerak menuju lokasi berikutnya.

Baca lebih lanjut

Naik-naik ke Puncak Gunung Geulis

By : Asri “Cici” Mustikaati

Spontan. Salah satu sifat yang khas sekali yang dimiliki Klab Aleut. Spontan dalam melakukan perjalanan, spontan menentukan jalan mana yang akan ditempuh, spontan dalam mengubah tujuan perjalanan. Ya ! Itu yang terjadi pada Klab Aleut di hari Minggu (28/06/09).

Pukul 8 pagi para pegiat yang berjumlah 13 orang sudah berkumpul di depan Dunkin Donuts samping ITC Kebon Kalapa. Rencananya kami akan melakukan pejalanan kota dengan judul Melihat Pemukiman Kolonial di Bandung Selatan. Perjalanan kota ini sudah kami rencanakan jauh hari dan Bey, Chandra, Elgy, BR sudah melakukan survey jalur pada hari sebelumnya. Namun apa yang terjadi, kami ubah haluan perjalanan kami dengan tujuan puncak Gunung Geulis. Weks !!

Tanpa persiapan dan perbekalan, kami langsung bertolak ke Jatinangor. Naik satu kali angkot ke arah tol Moh. Toha, dan dilanjutkan dengan menaiki bus Damri jurusan Tanjung Sari.

Setelah kurang lebih setengah jam perjalanan, sampailah kami di Jatinangor. Udara sejuk dan dingin dalam bis Damri ber-AC itu diganti dengan udara Jatinangor yang super panas, penuh debu dan polusi. Mulailah kami berjalan menyusuri kampus Unpad. Melewati pasar minggu pagi Jatinangor, gedung perkuliahan Unpad, melewati jembatan Cincin – jembatan kereta api yang dibangun tahun 1800-an oleh pemerintah Hindia Belanda (jembatannya bagus banget dan masih kokoh – katanya sih sudut yang paling bagus buat liat jembatan ini, liatnya dari gedung Fikom-Unpad), melewati pesawahan, perumahan warga, dan sampailah kami di Cisaladah.

Untuk menuju Gunung Geulis, masih harus melewati satu tahapan lagi. Naik angkutan umum menuju Jatiroke. Sesampainya di Jatiroke, saya harus lebih mempersiapkan mental dan fisik saya untuk mencapai puncak Gunung Geulis. Begitu juga dengan Endey yang harus berjuang dengan sendal tarumpahnya, Shela dengan sepatu yang udah pasti bikin kaki lecet-lecet, dan Budi dengan empat buah skripsinya … (hiks! Turut berduka Bud .. ^^)

Pukul 11 kami mulai menaiki kaki Gunung Geulis. Walaupun panas matahari sangat menyengat, kami tidak patah semangat. Allez !! Bon courage, mes amis !! Perjalanan kami memang penuh perjuangan. Walaupun sudah berada di gunung, pepohonan di Gunung Geulis ini sangat kering. Begitu juga dengan udaranya, kering dan panas. Fisik jadi cepat lelah, cepat dehidrasi padahal persediaan air minum terbatas. Tanah di jalan setapak yang kami lewati sangat berpasir sehingga harus ekstra hati-hati melewatinya. Apalagi sepatu yang saya pakai sepatu yang karetnya sudah tipiiis sekali. Hufff harus ekstra hati-hati kuadrat kali tiga deh jadinya. Perjalanan lumayan terhibur dengan sorak sorai nyanyian ‘ dadang .. dadang .. ‘ oleh Budi, Bey, Chandra ..

Satu setengah jam perjalanan kami lewati dengan penuh suka cita. Sampailah kami di puncak Gunung Cici .. eh salah .. Gunung Geulis !! Senangnyaaaa ….

Di puncak gunung ternyata ada satu bangunan permanen dan dua kuburan tidak dikenal yang sudah ditembok! Wah wah .. mengingat perjalanan kami tadi, jadi terbayang bagaimana mereka membangun bangunan ini. Ke puncak gunung dengan membawa semen, bata, pasir,dan bahan bangunan lainnya. Wuihhh …

Kami beristirahat di tugu Gunung Geulis sekitar satu jam. Tidak ada bekal, tidak ada air. Satu-satunya penyelamat kami adalah nasi kuning gigih dan ayam kecap-nya Achie, juga satu botol sedang air minumnya Fian (temen Achie). One for all … And all for one ..
Dari puncak gunung ini, dapat kami lihat dengan jelas pemandangan daerah Jatinangor, Rancaekek, Cileunyi, dan sekitarnya.

Turun gunung memang lebih sulit. Harus lebih konsentrasi, tidak boleh lengah, siap minta tolong orang yang di belakang untuk menarik badan guna mengurangi kecepatan dan orang yang di depan untuk menahan badan karena sulit menghentikan langkah. Lutut kaki sudah seperti getaran stick playstation saking curamnya turunan.

Pukul lima sore perut kami masih kosong. Tidak sanggup untuk melanjutkan perjalanan pulang ke Bandung dengan perut keroncongan begini. Untunglah ada Babang Mufti. Kami makan malam (sekaligus pagi, siang dan sore) di rumah babang Mufti di Cicalengka. Nasi liwet, ikan mas goreng, tahu, sambel dan lalap sangat cukup untuk mengisi perut yang sejak pagi hingga sore kami siksa karena belum diisi makanan apapun. Merci beaucoup ya mon cher …

Sampai di Bandung pukul 9 malam. Badan sudah terasa pegal-pegal, betis nyut-nyutan. Enak banget kalo dilanjutkan dengan berendam air panas. Dan perjalanan kali ini emang bikin tidur saya lebih nyenyak!
What a great trip !!!

Ngomong-ngomong tentang gunung Geulis, ada yang tau gak kenapa disebut Gunung Geulis ?

—– cici —–