Bertandang Ke Kampung Adat Cikondang

Oleh: Irfan Noormansyah (@fan_fin)

“Pami dipasihan widi, insya Allah bakal kengeng, pami teu aya widi ku gusti, moal ayaan eta potona” (Kalau dikasih ijin, insya Allah bakal dapat, kalau tidak direstui sama Tuhan, nggak akan itu fotonya), begitu ucap Ki Anom Juhana sang Juru Kunci Kampung Cikondang saat ditanya mengenai aturan memotret di Hutan Larangan. “Tapi ayeuna mah dinten kemis, pasti ayaan geura potona”(Tapi karena sekarang hari Kamis, pasti muncul hasil fotonya), lanjut beliau sambil mempersilahkan untuk memotret. Hutan Larangan atau forbidden forest ini seringkali saya baca dan tonton pada sebuah film fiksi seperti Harry Potter, namun tak pernah saya sangka Hutan Larangan benar-benar ada dalam dunia nyata.

Kamis (11/5) lalu, saya bersama-sama dengan Komunitas Aleut berkesempatan menginjakkan kaki ke dalam Hutan Larangan Kampung Adat Cikondang yang terletak di kawasan Lamajang, Pangalengan, Kabupaten Bandung. Kami diperbolehkan masuk ke dalam karena kebetulan hari tersebut bukan hari larangan kunjungan. Pada hari Selasa, Jumat dan Sabtu biasanya tak seorang pun dapat berkunjung ke Hutan Larangan, termasuk warga sekalipun. Selain itu, bagi yang beragama di luar muslim serta bagi wanita yang sedang datang bulan sama sekali tak diperbolehkan masuk ke dalam, walaupun pada hari diperbolehkannya kunjungan. Baca lebih lanjut

Kunjungan Singkat ke Kampung Adat Cireundeu

Oleh: @mooibandoeng

Hari ini (19 Oktober 2013), senang sekali berkesempatan melaksanakan salah satu rencana lama bersama @KomunitasAleut, yaitu berkunjung ke Kampung Adat Cireundeu di Cimahi.

Seminggu lalu, dua rekan @KomunitasAleut, Tony dan Yudhis, sudah melakukan pendahuluan mendatangi kampung itu dan mendapatkan izin untuk kunjungan pada hari Sabtu, 19 Oktober 2013 ini.

Pagi ini di Taman Otten, sebrang RSHS, sudah siap beberapa motor untuk menuju Cireundeu. Kami mengambil jalan pintas melalui Gunungbatu dan sekitar 45 menit kemudian kami sudah berada di gerbang masuk kampung.

Awalnya agak heran karena perkampungan dengan jalan2 utama berupa jalan gang yang di semen ini sama sekali tak menampakkan suasana perkampungan tradisional. Hampir semua bangunan yang ada adalah bangunan permanen dan modern.

Keterangannya akan kami dapatkan kemudian dari Kang Jajat, salah satu warga yang seharian ini akan menemani seluruh perjalanan kami di Cireundeu. Begitu masuk ke sebuah lapangan olahraga tempat kami parkir motor, langsung terlihat bangunan utama di kampung ini, yaitu Bale Saresehan. Di sebrang bale sedang ada kegiatan pembangunan sebuah panggung permanen untuk kegiatan warga. Di sini kami diterima oleh Kang Jajat.

Dari obrolan dengan Kang Jajat kami dapatkan bahwa rupanya adat di Cireundeu tidak terlalu ketat dalam hal penampakan fisik, mereka membolehkan banyak hal mengikuti perkembangan zaman, rumah modern, pakaian, kendaraan bermotor, atau gadget modern, samasekali tidak dimasalahkan. Namun dalam hal bermasyarakat, masih diberlakukan aturan2 adat secara turun temurun. Cara hidup ini bertolak dari filosofi hidup bermasyarakat di sini, yaitu Ngindung ka waktu, mibapa ka jaman.

Image

Bale Saresehan Kampung Adat Cireundeu.

Untuk berbagai aturan adat ini, tak ada bahan tertulis yang dapat dijadikan acuan, semua berlangsung dan diturunkan secara lisan antarpemuka-adat. Berbagai masalah dalam hubungan kemasyarakatan selalu dirundingkan di Bale Saresehan ini.

Aturan adat yang masih dipegang teguh tentu bukanlah hal dapat langsung terlihat oleh mata. Orang luar perlu tinggal beberapa lama agar dapat mengalami keberadaan aturan2 ini.

Lalu, selain aturan adat, apa lagi yang menarik dari kampung ini? Pemandangan dan suasana kampung yang sangat biasa dan mirip dengan kampung2 modern lainnya tentu memunculkan pertanyaan ini.

21 Februari 2005 terjadi sebuah peristiwa mengejutkan di kawasan Leuwigajah, Cimahi. Sebuah ledakan besar terjadi di lokasi pembuangan sampah yang timbunannya mencapai jutaan meter kubik. Ketinggian timbunan sampah sampai 30 meter. Akibat ledakan terjadi longsoran dahsyat yang menimpa permukiman di sekitarnya, paling tidak 81 rumah tertimbun dan 139 jiwa manusia menjadi korban oleh longsoran itu. Kerusakan terbanyak terjadi di Kampung Cilimus, Desa Batujajar (sekarang Kab. Bandung Barat) dan di Kelurahan Leuwigajah, Kota Cimahi. Konon peristiwa ini menjadi tragedi sampah terburuk nomor dua di dunia setelah kejadian serupa di Filipina pada tahun 2000.

Keramaian peliputan tragedi inilah yang kemudian membawa sejumlah wartawan menemukan keberadaan sekelompok warga di dekat lokasi bencana yang secara tradisional mengonsumsi singkong sebagai makanan pokoknya. Kemudian diketahui kelompok warga ini berasal dari sebuah kampung yang masih kuat mempertahankan adat-istiadat lama mereka, yaitu Cireundeu. Sejak itu kampung unik ini sering menjadi pemberitaan.

Kampung adat Cireundeu diyakini didirikan oleh seorang tokoh yang bernama Haji Ali. Makam tokoh ini masih dapat ditemukan di halaman belakang perkampungan ini. Menurut cerita Kang Jajat, Pada tahun 1918 Haji Ali menyarankan agar warga kampung mulai mencoba makanan lain sebagai pengganti beras sehubungan dengan krisis pangan saat itu. Kemudian tahun 1924, Ibu Omah Hasmanah (menantu Haji Ali), menemukan dan merintis pemanfaatan singkong sebagai bahan makanan utama dan sejak itulah warga Kampung Cireundeu mulai menjadikan singkong sebagai makanan pokok mereka.

Image     Image

Penampakan rasi mentah dan yang sudah ditanak.

Singkong diolah secara tradisional menjadi aci (sagu) yang biasanya mereka jual dan beras nasi atau rasi. Rasi sebetulnya adalah ampas hasil penggilingan singkong untuk membuat aci, ampas ini dijemur lalu dijadikan bahan pangan utama seperti beras bagi kelompok masyarakat lain. Semua bahan lauk dan sayur bisa saja serupa dengan yang kita ketahui sehari-hari, yang membedakan warga Cireundeu adalah rasi sebagai pengganti nasi.

Setiap kepala keluarga di Cireundeu memiliki lahan singkong dengan luas berbeda-beda. Selain ditanam untuk keperluan sendiri, warga juga memiliki lahan garapan bersama untuk keperluan kampung atau dibagi antarsesama penggarap. Pola penanaman diatur berdasarkan jeda waktu, agar panen singkong dapat berlangsung terus tanpa terputus sehingga kebutuhan makanan pokok dapat selalu terpenuhi.

Image

Pergunungan yang mengelilingi kampung Cireundeu. Di kejauhan sebelah kiriadalah Gunung Kunci, agak di bawahnya Pasir Panji, dan yang terdekat di sebelah kanan adalah Gunung Gajahlangu dengan hutan larangannya.

Lahan singkong dengan mudah ditemui di kawasan pinggiran kampung hingga ke lereng2 gunung yang mengelilingi, yaitu Gunung Cimenteng, Gunung Kunci, dan Gunung Gajahlangu. Yang terakhir ini sekaligus berfungsi sebagai hutan larangan bagi adat Kampung Cireundeu. Tidak sembarang orang atau sembarang waktu bisa memasuki hutan ini. Hutan kecil ini menjadi penyangga utama lingkungan hidup warga Kampung Cireundeu. Kebutuhan air utama di kampung ini juga didapatkan dari mata air di lereng gunung Gajahlangu selain dari beberapa mata air lain di gunung sekitar kampung.

Kembali ke Haji Ali, beliau sempat bertemu dengan pendiri ajaran Sunda Wiwitan (dulu sering disebut Agama Jawa-Sunda), Haji Madrais, di Cigugur, Kuningan. Ajaran Madrais melalui Haji Ali ini yang masih dipegang teguh oleh warga kampung Cireundeu sampai sekarang.

Minimal dalam satu kunjungan singkat kemarin, sudah ada beberapa hal unik yang kami dapatkan dari Kampung Adat Cireundeu. Adat-istiadat, makanan pokok, dan sistem kepercayaan. Tapi buat sementara, ini dulu yang saya catatkan.