Mengais Sampah Demi Rupiah

Oleh: Willy Akhdes (@willyakhdes)

Mengais sampah demi rupiah

Awan hitam yang sedari tadi menggantung di langit Kota Bandung akhirnya tumpah menjadi hujan. Bulir-bulirnya jatuh bergulir dari angkasa, mengencingi segala sesuatu di bawahnya, termasuk hamparan rumput sintetis Alun-Alun Kota Bandung. Seorang pria setengah baya yang dari tadi menggeledah tiap-tiap tong sampah yang ada di pinggir taman itu harus segera menepi ke sebuah bangunan untuk berteduh. Dengan bergegas, ia menyeret sebuah kantong plastik besar yang dari tadi dibawanya.
Heru Santoso, anggaplah namanya begitu, mulai membongkar kantong plastik besar bawaanya sambil menunggu hujan reda. Ia memilah barang-barang hasil pungutannya, memisahkan antara benda-benda plastik dengan kaleng dan kertas. Hasil pungutannya hari ini belum seberapa, tidak lebih dari 4 kilogram. Dengan harga beli barang bekas dan rongsokan plastik, kertas dan kaleng di pengepul sekitar Rp 2.000 – Rp 2.500 per kilogram, maka pendapatannya hari itu tidak lebih Rp 10.000. Jika tong dan bak sampah yang rutin tiap hari dibongkarnya itu sedang berbaik hati, biasanya ia mendapatkan penghasilan sekitar Rp 15.000 – Rp 20.000 tiap harinya. Musim liburan dan akhir pekan, disaat produksi sampah meningkat, adalah masa panen baginya. Namun, musim penghujan begini seringkali mempersingkat jam kerja, yang akhirnya ikut menurunkan produktivitasnya.

Baca lebih lanjut

Bangunan Swarha

image

Bangunan ini berada di Jl. Asia-Afrika, beroperasi sebagai hotel sekitar awal 1950-an. Pada saat perhelatan Konferensi Asia-Afrika 1955, gedung ini digunakan sebagai tempat menginap para kuli tinta. Setelah sekitar satu dekade beroperasi, hotel ini kemudian tutup.

Lantai dasar bangunan ini masih digunakan untuk berjualan kain, sedangkan 4 lantai ke atasnya dibiarkan kosong begitu saja. Sempat ada perbaikan di beberapa kamar untuk keperluan syuting film layar lebar.

Mengungkap dan Mengenal Kembali Alat Transportasi di Bandung Baheula

Oleh: Novan Herfiyana (@novanherfiyana)

Siang itu, Waktu Indonesia bagian Taman Lalu Lintas Ade Irma Suryani Nasution Bandung sudah menunjukkan pukul satu. Hitungan menitnya lebih sedikitlah tanpa tawar-menawar ala penjual dan pembeli di pasar tradisional. Dalam suasana siang itu, kami, pegiat Aleut di Komunitas Aleut, sudah menuntaskan acara #NgaleutTransportasi.

Di luar kawasan Taman Lalu Lintas Ade Irma Suryani Nasution Bandung yang berada di Jalan Belitung No. 1 Kota Bandung, ada pegiat Aleut yang hendak pulang menuju kawasan Alun-alun Bandung yang berada di Jalan Asia Afrika. Mereka mempertimbangkan antara naik angkot atau berjalan kaki sebagaimana sejak awal acara yang ngaleut. Soalnya, motornya diparkirkan di kawasan Alun-alun Bandung.

Ada juga pegiat Aleut yang tinggal naik motor karena motornya sudah diparkirkan di tempat parkir di kawasan Taman Lalu Lintas. Pegiat Aleut yang “semacam” ini sudah mencermati lokasi akhir tempat acara. (Bandingkan dengan kesempatan lain ketika lokasi akhir tempat acara yang direncanakan di kawasan Gasibu, ternyata “terpaksa” berakhir di salah satu halaman minimarket di Jalan Banda karena hujan deras). Jangan lupakan pula pegiat Aleut yang tinggal memboseh sepeda karena sepeda yang dimilikinya diajak ngaleut.

Bagaimana dengan penulis sendiri? Saya sendiri tinggal memilih angkot yang berada di kawasan Taman Lalu Lintas. Malah ada beberapa alternatif trayek angkot yang menuju tempat tinggal saya. Dalam ngaleut kali ini, saya memang lebih memilih naik angkot daripada naik kendaraan (motor) sendiri yang mesti diparkirkan di lokasi awal acara (Monumen Km Bandung 0 + 00). Alasannya, kalau membawa motor, saya mesti balik lagi menuju lokasi awal acara sebagaimana sebagian pegiat Aleut tadi. (Sebetulnya mah “pilih-pilih” untuk parkir). Baca lebih lanjut

#PernikRamadhan: Munding dan Alun-alun Tempo Dulu

Oleh: Vecco Suryahadi Saputro (@veccosuryahadi)

Pedati kerbau dari Padalarang ke Bandung

Pedati kerbau dari Padalarang ke Bandung (sumber : KITLV)

Coba kita berkeliling sekitar Alun-alun Bandung. Dengan kondisi sekarang, mungkin Alun-alun sangat nyaman untuk digunakan ngabuburit. Tapi, pernah membayangkan kalau sekitar satu setengah abad yang lalu, banyak munding atau kerbau berada di Alun-alun ? Tentu saja tidak! Karena kita hidup di tempo kini dan tidak pernah mengalami masa itu.

Lalu, kenapa ada kerbau di Alun-alun? Apa mereka ikut mudik bersama kerbau-kerbau lainnya? Baca lebih lanjut

#PojokKAA2015: Alun-alun yang Mulai Ditinggalkan

Oleh: Arya Vidya Utama (@aryawasho)

Ada pemandangan unik saat saya main lagi ke Alun-alun Bandung sore hari ini. Alun-alun terlihat lebih sepi, tak lagi terlihat penuh sesak seperti 3 bulan yang lalu saat baru diresmikan. Awalnya saya kira ini hanya terjadi di hari kerja saja, namun setelah saya ngobrol dengan salah satu teman, hal ini juga terjadi di akhir pekan. Meskipun masih terlihat penuh di akhir pekan, namun keramaiannya tetap tak seperti yang dulu.

Alun-alun yang sepi di siang hari

Alun-alun yang sepi di siang hari

Sekarang keramaian bergeser ke sekitar Gedung Merdeka dan Museum Konferensi Asia-Afrika. Banyak orang yang berfoto-foto di sekitar kawasan ini setelah ruas Jl. Asia-Afrika punya wajah baru. Bangku duduk, lampu jalan baru, pot bunga, dan trotoar yang polanya yang baru menjadi daya tarik tersendiri. Apalagi terhitung 15 April 2015 di sekitar kawasan ini sudah dipasang 109 bendera negara Asia-Afrika yang menambah daya tarik Gedung Merdeka dan Museum Konferensi Asia-Afrika Baca lebih lanjut

#PojokKAA2015: Perpustakaan Baru di Alun-alun

Oleh: Gita Diani Astari (@gitadine)

Ada pemandangan baru di area Alun-alun Bandung: sebuah rangka bangunan di samping hamparan rumput sintetis peningkat indeks kebahagiaan. Saya agak kaget, karena waktu ke Alun-alun Sabtu malam lalu lebih terdistraksi oleh kelap-kelip lampu mainan sehingga tidak menyadari adanya ‘calon’ bangunan itu. Kira-kira apa fungsinya? Apakah target penyelesaian bangunan ini harus sebelum rangkaian KAA dimulai? (By the way, kemarin pagi ternyata sudah dilaksanakan pengibaran 109 bendera negara peserta KAA 2015.)

Karena penasaran, akhirnya saya dan teman saya mengajak salah seorang pekerja yang sedang beristirahat untuk berbincang-bincang soal ini. Namanya Pak Wahyu. Sambil merokok dan sesekali menyeruput kopi, beliau dengan sabar menjawab pertanyaan-pertanyaan kami. Baca lebih lanjut

#PojokKAA2015: Gedung Swarha

Oleh: Mooibandoeng (@mooibandoeng)

Sumber foto: kitlv.nl

Sumber foto: kitlv.nl         

Foto ini menggambarkan suasana keramaian di Bandung saat merayakan Jubileum Ratu Wilhelmina pada tahun 1923. Foto diambil di sudut barat daya Alun-alun, di depan sebuah toko pakaian dan kelontong, Toko Tokyo. Pada gambar dapat dilihat plang nama Toko Tokyo di atas pintu gedung di sebelah kanan.

Toko Tokyo dibangun tahun 1914 dan hancur pada tahun 1940-an, kemungkinan pada sekitar peristiwa Bandung Lautan Api. Angka tahun pembangunan didapatkan dari angka yang tercetak besar pada atap gedung sebelah kanan. Dari sebuah foto udara yang dibuat oleh ML-KNIL tahun 1946 dan dimuat dalam buku karya RPGA Voskuil, “Bandung; Citra Sebuah Kota”, tampak lahan Toko Tokyo kosong dan belum ada bangunan penggantinya. Baca lebih lanjut

#PojokKAA2015: Hilangnya Ketan Bakar Setelah Munculnya Jiwa Nasionalis

Oleh: Deris Reinaldi

Ketan bakar adalah makanan khas Bandung dengan bentuk segi panjang yang dibakar, tengahnya diiris lalu dimasukkan sambel oncom. Ketan bakar menjadi makanan favorit warga Bandung. Selain harganya murah yaitu Rp 3000,00 ketan bakar juga mengenyangkan perut. Tetapi keseringan makan ketan bakar juga bisa menimbulkan panas perut.

Ketan bakar dijajakkan oleh para pedagang dengan cara ditanggung. Di tengah kota, biasanya penjual ketan bakar bisa dijumpai di sekitar Alun-alun meskipun ssi penjual harus petak umpet dengan Satpol PP.

Tetapi tersiar kabar kalau si emang tukang ketan bakar akan berhenti berjualan selama dua hari karena sekitar Alun-alun akan disterilkan untuk acara konferensi Asia-Afrika. Awalnya saya kira kabar itu hanyalah kabar burung semata. Setelah dikonfirmasi ternyata kabar itu benar adanya: si emang akan berhenti berjualan untuk sementara waktu dikarenakan akan ada acara KAA. Waduh, kemanakah saya harus mencari ketan bakar kalau di Alun-alun tidak berjualan?

Si emang bercerita kalau hal ini bertujuan untuk menghargai perhelatan akbar itu nanti. Tapi pernyataan tersebut memunculkan pertanyaan berikutnya: bagaimana si emang menafkahi keluarganya, mengingat dia tidak akan berjualan selama dua hari.

Saya pun mencoba memberanikan diri untuk bertanya. Menurutnya, tentulah rugi karena sebagai sumber utama pencaharian dan pendapatan dia tiap hari bukan tiap bulan. Ditambah lagi, sekarang kebutuhan pokok melonjak naik. Apakah dia terpaksa melakukan itu? Menurut si emang, hal ini tidak terpaksa. Ia lakukan ini untuk menuruti himbauan yang disampaikan pemerintah sebagai warga negara yang baik. Hal ini merupakan pengorbanan yang sangat kecil dibanding dengan para pahlawan dahulu yang mengangkat senjata bahkan merelakan nyawanya hilang demi untuk negara.

Lalu bagaimana untuk memenuhi kebutuhan hidupnya ini? Dia berkata, “Biarlah Tuhan akan mengatur rejeki umat-Nya. Maka janganlah gelisah, apalagi ini bisa dikatakan berjuang untuk negara.

Tercenganlah saya ketika mendengarnya ini, Jadi dengan tidak berjualan dua hari, bagi pedagang ketan bakar ini adalah sebagai bentuk penghargaan dan bakti terhadap negeri ini. Walaupun terbilang rakyat kecil, tetapi mampu berpikir kritis tentang bangsanya. Untuk berbakti kepada negara, tidak perlu seperti orang dahulu yang harus angkat senjata.

Sepertinya saya akan merindukan ketan bakar saat pelaksanaan KAA nanti karena bagi saya ketan bakar adalah segelintir dari jajanan murah di pusat kota yang mampu pengganjal perut namun harganya pas di dompet.