Alhta Ainayah Catatan perjalanan ini akan saya mulai dengan menceritakan sebuah fragmen perjalanan yang pernah dibukukan pada tahun 1915. Penulis dan pejalan itu adalah van Wulfften Palthe van Hengelo. ____________________ Kamis, 26 Februari 1914. Pukul 7 pagi, D.W. van Wulfften Palthe berangkat menuju Perkebunan Sedep. Ia mendapatkan undangan untuk menginap dan menikmati suasana di perkebunan … Lanjutkan membaca Catatan Perjalanan: Potongan Ingatan tentang Suzuki di Perkebunan Sedep (Bagian-1)
Perkebunan
Henk v.d. Meer dari Tanara, Malabar
Van der Meer dan Sukarno. Arsip Yayasan Teh dan Arsip Keluarga Hindia Belanda, Van der Hucht dkk (SITFA). Tulisan ini merupakan lanjutan tulisan dari “Arsitek Rumah Bosscha” dua tahun lalu. Rasa penasaran tentang Rumah Bosscha akhirnya menemukan jawaban melalui tesis magister Wijnt van Asselt Herinneringen bij de thee (2021). Ia menelusuri dinamika antara budaya ingatan … Lanjutkan membaca Henk v.d. Meer dari Tanara, Malabar
Catatan Perjalanan Cikajang Bagian 3: Perkebunan Waspada, Muhamad Musa, Lasminingrat
Oleh: Komunitas Aleut Perkebunan Waspada Lokasi terakhir yang kami kunjungi di wilayah Cikajang adalah Perkebunan Waspada yang didirikan oleh Karel Frederik Holle tahun 1865. Seperti sudah diceritakan sebelumnya, perkebunan terletak di atas sebuah kampung tua bernama Ciburuy, dan menempati lereng sebelah baratdaya Gunung Cikuray. Nama Waspada diartikan padan dengan istilah bellevue atau clear view. Nama … Lanjutkan membaca Catatan Perjalanan Cikajang Bagian 3: Perkebunan Waspada, Muhamad Musa, Lasminingrat
Catatan Perjalanan Cikajang Bagian 2: Baron Baud, Karel Frederik Holle, Prasasti Cikajang
Oleh: Komunitas Aleut Willem Abraham (Baron) Baud Seluruh kompleks pabrik dan bangunan-bangunan yang tergambar dalam foto itu telah hilang musnah dalam waktu kurang dari 100 tahun. Begitu juga nama pemiliknya, Baron Baud, hanya terdengar samar saja. Berdasarkan situs online genea.org, Baron Baud, atau lengkapnya, Willem Abraham Baud (1816-1879) adalah putra Jean Cretien Baud yang pernah … Lanjutkan membaca Catatan Perjalanan Cikajang Bagian 2: Baron Baud, Karel Frederik Holle, Prasasti Cikajang
Catatan Perjalanan Cikajang Bagian 1: Kamojang, Pamegatan
Oleh: Komunitas Aleut Mumudikan Salah satu pengalaman perjalanan nebeng mudik dan arus balik tahun 2015. Foto diambil di jalur turunan gunung di antara Guci, Tegal dan Bumiayu. Engga ketemu keterangan lokasi persisnya. Foto: Komunitas Aleut. Setiap momen Lebaran, biasanya sebagian penggiat Komunitas Aleut yang tinggal di Bandung dan tidak punya tempat mudik di luar kota, … Lanjutkan membaca Catatan Perjalanan Cikajang Bagian 1: Kamojang, Pamegatan
Momotoran Sinumbra-Cipelah: Cerita dari Pemetik Teh Kebun Sinumbra
Oleh: Irfan Pradana Plang Pabrik Teh di Kebun Sinumbra. Foto: Deuis Raniarti. Semalam sepulang bekerja saya sempatkan untuk membeli nasi goreng di tempat langganan sejak kecil. Sambil menunggu pesanan datang, saya disuguhi segelas besar teh tawar hangat. Gratis dan bisa diisi ulang sesuka hati. Saya jadi teringat pada masa-masa saya tinggal di Yogyakarta. Hampir di … Lanjutkan membaca Momotoran Sinumbra-Cipelah: Cerita dari Pemetik Teh Kebun Sinumbra
Peresmian Jalan Bandung – Kawah Papandayan (Jalan Tertinggi di Insulinde)
Oleh: Aditya Wijaya Titik tertinggi jalan Bandung – Kawah Papandayan (Algemeen Handelsblad) Beberapa waktu lalu seorang rekan di Aleut melontarkan sebuah pertanyaan terkait nama tempat di Gunung Papandayan. Dia menanyakan arti nama Ghober Hoet. Kemudian seorang rekan lainnya mencoba menjawab bahwa Ghober Hoet kemungkinan besar merupakan Bahasa Belanda di masa lalu tetapi cara penulisannya saat … Lanjutkan membaca Peresmian Jalan Bandung – Kawah Papandayan (Jalan Tertinggi di Insulinde)
Catatan Perjalanan: Momotoran Kertamanah (– Sedep) Bagian-2
Oleh Irfan Pradana Putra Ini tulisan lanjutan Catatan Momotoran Kertamanah yang bagian pertamanya bisa dibaca di sini. Memasuki jalan raya Pangalengan cuaca malah berubah jadi panas terik, padahal rasanya baru saja kami pakai jas hujan. Terlihat lucu juga, karena hanya kami iring-iringan motor yang mengenakan jas hujan. Walhasil badan pun terasa gerah. Jahil sekali langit … Lanjutkan membaca Catatan Perjalanan: Momotoran Kertamanah (– Sedep) Bagian-2
Sampai bertemu lagi, Willem Gerard Jongkindt Coninck
Oleh Deuis Raniarti Tak biasanya aku terbangun pagi sekali, aku melongok ke luar. Sudah ramai orang berjalan berbondong-bondong. Hari ini ada memang ada kegiatan besar, penganugrahan Ridder in de Orde van Oranje-Nassau yang akan diterima oleh administratur perkebunan Kertamanah. Aku pun bergegas, ingin segera bergabung dengan orang-orang. Aku berjalan perlahan, tatapanku tak hanya ke depan. … Lanjutkan membaca Sampai bertemu lagi, Willem Gerard Jongkindt Coninck
Catatan Momotoran; Pabrik Teh Santosa
Oleh: Fikri M Pamungkas Desir angin Pangalengan yang menerpa tubuh pagi ini sungguh terasa menggigit, padahal kali ini saya duduk di belakang, dibonceng oleh Reza, rekan di Komunitas Aleut. Hari ini kami mengadakan perjalanan momotoran ke kawasan Pangalengan untuk mengungjungi beberapa lokasi di sana. Rute yang sudah disusun adalah Cinyiruan/Kertamanah, Talun-Santosa, Sedep, dan Negla. Karena … Lanjutkan membaca Catatan Momotoran; Pabrik Teh Santosa
Catatan Perjalanan: Momotoran Kertamanah (– Sedep)
Oleh: Irfan Pradana Putra Pagi itu, 28 Januari 2024, kami memulai perjalanan pukul delapan pagi. Cuaca sedang sangat enak sekali, tidak panas, cenderung mendung. Udara nyaman ini ternyata hanya berlangsung sampai sekitar Banjaran-Arjasari, karena setelah itu hujan mulai turun. Memasuki jalur Cimaung kami harus berbagi jalan dengan iring-iringan bis pariwisata. Entah berapa kali saya harus … Lanjutkan membaca Catatan Perjalanan: Momotoran Kertamanah (– Sedep)
Di Sana… di Negla (Bagian 2/2)
Oleh Guriang (Bagian Pertama) Ketika Jerman masuk ke Bloemendal pada bulan September 1944 dan menganggap wilayah itu sebagai daerah Kamp, Carla dan Marga pun harus mengungsi ke Overveen, sementara ibu mereka dirawat di rumah sakit setelah operasi fibroid dan sedang mengidap trombosis paru. Carla kemudian tinggal terpisah walaupun masih tetap di Overveen, kemudian bersama pacarnya, … Lanjutkan membaca Di Sana… di Negla (Bagian 2/2)
Di Sana… di Negla (Bagian 1/2)
Oleh Guriang “Di sana!” kata Marga, sambil menunjuk ke arah topi yang berada di atas lemari pajangan di ruang tamu rumahnya di Belanda kepada Wijnt van Asselt. “Di sana”adalah di Hindia Belanda, di wilayah pergunungan perbatasan antara Pangalengan dengan Garut. Negla. Para pembaca novel Heeren van de Thee karya Hella S. Haase tentu ingat bagaimana … Lanjutkan membaca Di Sana… di Negla (Bagian 1/2)
Di Hujung Sana Tempatmu Bunga Melur
oleh: Aditya Wijaya Kabut merayap datang dari kejauhan. Hujan turun seperti malu-malu bersama hembusan angin dingin yang tak segan menunjukkan dirinya hadir menemani Momotoran kami siang itu. Kami melaju perlahan dari Nyalindung menuju jalanan perkebunan Bunga Melur. Jalannya mulus, tapi naik turun. Tak begitu lama, kami berhenti sebentar di tempat yang bernama Pasir Tulang. Tempatnya … Lanjutkan membaca Di Hujung Sana Tempatmu Bunga Melur
Senyum Terkembang di Subang: Sebuah Catatan Perjalanan (Bagian 2)
Oleh: Irfan Pradana Putra PLTA CIJAMBE PLTA Cijambe adalah salah satu Pembangkit Listrik Tenaga Air tertua yang ada di Jawa Barat, bahkan Indonesia. Usia sebenarnya bahkan jauh lebih tua dibanding PLTA Gunung Tua yang juga terletak di Subang. Rencananya jika sempat, kami juga akan berkunjung ke Gunung Tua. Air PLTA Cijambe bersumber dari dari kali … Lanjutkan membaca Senyum Terkembang di Subang: Sebuah Catatan Perjalanan (Bagian 2)