Hari ini, Tegar A. Bestari, salah seorang rekan kita di Komunitas Aleut, menjadi pemateri dalam kegiatan workshop Galaseni Batik Nusantara yang diselenggarakan di gedung Graha Manggala Siliwangi Bandung. Tegar menyampaikan berbagai macam informasi mengenai Batik Nusantara, salah satunya mengenai cara membedakan antara batik asli dan palsu. Banyak yang hadir, terutama adik-adik SMA yang tertarik dengan … Lanjutkan membaca Komunitas Aleut di Galaseni Batik Nusantara
Galeri
Rumah Tan Shio Tjhie dalam Roman Rasia Bandoeng
Dalam roman Rasia Bandoeng, Chabanneau menggambarkan rumah Tan Shio Tjhie sebagai rumah gedong besar di pinggir Groote Postweg (sekarang Jl. Jendral Sudirman), berhadapan dengan Gang Kapitan (sekarang Gang Wangsa) dan di sebelah timur rumah tersebut mengalir Kali Citepus. Sosok Tan Shio Tjhie digambarkan sebagai sosok yang progresif karena tidak menentang kehendak anaknya, Tan Tjin Hiaw, … Lanjutkan membaca Rumah Tan Shio Tjhie dalam Roman Rasia Bandoeng
Wawancara Komunitas Aleut dengan TVRI (Bagian II)
Perekaman paket kedua bersama TVRI Pusat dilakukan pada hari Jumat kemarin di situs Gua Pawon, Padalarang. Kali ini bersama @aryawasho dan @tiarahmi sebagai pengisi materi.
Wawancara Komunitas Aleut dengan TVRI (Bagian I)
Bung @irfanteguh dari Komunitas Aleut saat persiapan rekaman untuk salah satu program TVRI pusat pada hari Kamis minggu lalu. Bahasan paket televisi ini seputar keberadaan dan nasib situs Candi Bojongmenje di Cicalengka, termasuk bagaimana komunitas-komunitas muda di Bandung mengapresiasinya.
Idjon Djanbi
Oleh @vonkrueger School voor Opleiding van Parachutisten (Sekolah Penerjun Payung) dipindahkan dari Hollandia (Jayapura) ke Bandung pada tahun 1947. Tentu saja kepindahan ini diikuti oleh sang komandan, Letnan Rokus Bernardus Visser, yang pangkatnya dinaikkan menjadi Kapten tidak lama setelah pindah. Kapten Visser memimpin sekolah tersebut sampai tahun 1949. Setelah pengakuan kedaulatan, Kapten Visser yang sudah … Lanjutkan membaca Idjon Djanbi
Stasiun Cikajang +1.530
Di ruang depan kasur tanpa seprai menggeletak begitu saja, kain-kain serta pakaian bertebaran, sebuah lemari sederhana berdiri miring seperti menunggu runtuh.
Payen dan Sang Pangeran Jawa
Pada saat itu sebenarnya Payen bersama Raden Saleh sudah mulai tinggal di Bandung karena fokus perjalanannya kali ini masih di daerah Priangan. Tepatnya dia memusatkan perhatiannya di daerah Priangan sebelah selatan hingga ke pesisir Samudera Hindia.
Abdul Muis
Dari informasi yang terkumpul, Abdul Muis memang pernah tinggal di sebuah rumah kecil di Jl. Pungkur, tak jauh dari persimpangan dengan Jl. Ciateul.
Achdiat Karta Mihardja
Meskipun “Atheis” bukanlah satu-satunya karya yang Achdiat tulis, namun dari novel inilah ia dikenal luas sebagai sastrawan hingga mendapatkan banyak penghargaan.
Becak
Saya rasa ada peran pemerintah terhadap majunya becak sebagai moda transportasi wisata di Yogyakarta, dapat saya lihat di Jalan Malioboro, aparat hukum berdampingan dengan tukang becak dan delman di samping jalan.
Sosrokartono
Darussalam sering juga digunakan sebagai tempat berkumpul tokoh-tokoh pergerakan seperti Soekarno, dan Abdoel Rachim, kelak akan jadi mertua Mohamad Hatta. Partai Nasional Indonesia dan Indonesisch Nationale Padvinders Organisastie juga sering menggunakan gedung ini sebagai tempat pertemuan.
Gugum Gumbira
Kecantikan dan kemolekan mojang Priangan betul-betul ditunjukkan melalui busana tarinya.
Upit Sarimanah
Bagi warga Bandung baheula, lagu ini bisa jadi pengobat rindu suasana yang nyaman tentram pada masa itu, dapat juga mengembalikan kenangan saat udara masih begitu segar, sungai Ci Kapundung masih sangat jernih, dan di mana-mana dapat bertemu mojang Bandung yang cantik molek.
Kina Pertama
160 tahun yang lalu, Franz Wilhelm Junghuhn, menanam kina pertamanya di daerah Pangalengan.
Pasir Junghuhn
Di bawah, sebuah rumah tua yang tersambung dengan rumah dinas bergaya kolonial masih berdiri, namun tanpa penghuni. Warga pikir saya mau uji nyali di sana. Tidak. Saya jalan2 saja, lihat2 masa lalu.