Deuis Raniarti

Beberapa waktu lalu kami mendapatkan kontak dari seseorang yang (agak kabur informasinya) katanya mengenal nama kami dari seorang penyanyi yang namanya sangat dikenal di negeri ini. Katanya, mereka ingin kami menemani beberapa warga Italia yang akan berkunjung ke Bandung dan beberapa lokasi di sekitar untuk beberapa hari.
Ternyata mereka memang datang, bertiga saja, Monica, Giovanna dan Giampiero. Lalu kami membantu mencarikan penginapan yang hari itu cukup sulit karena long weekend dan hotel-hotel pada penuh. Dalam perjalanan ini Monica, yang paling banyak berbicara dengan kami, menyebutkan nama suaminya, Guido Corradi. Walaupun tidak terlalu paham apa yang dikatakannya, sekilas kami tangkap cerita bahwa suaminya cukup dikenal di Italia sebagai orang memopulerkan nama Indonesia di sana dan cukup banyak melakukan penelitian mengenai Indonesia. Sayangnya beliau sudah wafat pada tahun 2021 lalu dan Monica sempat juga menunjukkan foto makamnya.
Dalam perjalanan ke Ciwidey keesokan harinya kami coba mencari informasi lebih banyak tentang Guido Corradi, terutama didorong oleh rasa penasaran karena sebelumnya tidak pernah mendengar namanya. Di internet tidak mudah juga kami temukan informasi tentang pribadinya, hanya ada beberapa saja dan umumnya berbahasa Italia. Dari yang sedikit itu, kami coba tulis ulang di sini sekadar sebagai jejak perkenalan melalui istrinya, Monica.
Guido Corradi bersama rekannya, Emanuele Giordana dan Viviano Domenici, pernah menulis buku bersama dengan judul “The Indonesian Bet,” dan belakangan diterbitkan ulang dengan judul “The Indonesian Challenge.” Dalam catatan yang dapat kami temukan, buku ini pertama kali diterbitkan oleh Edizione Futuro pada tahun 1983 dengan judul “Indonesia” dan merupakan bagian dari seri I Paesi del Mondo atau Countries of the World. Lalu White Star menerbitkannya lagi pada tahun 1991, kemudian oleh Ipocan pada tahun 2022. Sepanjang yang dapat diingat, sebelumnya kami belum pernah mendengar nama Guido Corradi, dan akhirnya mengandalkan internet. Kami temukan sebuah memoar pendek yang ditulis oleh Emanuelle Giordana di website lettera22.it, di situ disebutkan bahwa Guido Corradi terserang kanker pada tahun 2020, saat mereka (Giordana dan Corradi) sedang sibuk mengerjakan buku La Sfida Indonesiana. Pada masa itu Corradi juga sedang sangat aktif dalam sejumlah kegiatan lain, mengajar geografi di Institut Vespucci di Milan, berkolaborasi dalam Geografi Pariwisata di Universitas Bicocca, dan berbagai kegiatan promosi budaya Indonesia di Italia yang sudah dilakukannya sejak tahun 1990-an dan terus berlanjut hingga akhir hayatnya pada 6 Juni 2021.
Giordana dan Corradi sudah bersahabat sejak akhir sekolah menengah pada tahun 1970-an. Mereka mengalami banyak perjalanan bersama, termasuk ke Amerika Selatan. Mereka lalu menjelajahi Asia. Setelah itu Giordana bekerja di perusahaan kereta api di India, dan Corradi mengadakan perjalanan ke Indonesia.
Corradi jatuh cinta pada Indonesia, dan dengan antusias ia bercerita pada Giordana, betapa Indonesia telah memikat hatinya: sebuah negeri yang besar, indah, beradab, ramah, dengan bahasa yang mudah untuk dipelajari. Corradi yakin, ia dan Giordana dapat berkembang di Indonesia. Giordana pun terkesan, setelah satu tahun ia melanjutkan studi di IsMEO (Istituto italiano per il Medio ed Estremo Oriente – Institut Italia untuk Timur Tengah dan Timur Jauh) di bawah arahan Giulio Soravia, mereka berangkat ke Jawa.
Lalu mereka bersama menulis tesis di Maluku, juga mempresentasikan laporan perjalanan mereka ke Kepulauan Kei di Kolokium Internasional Ketiga tentang studi Melayu-Indonesia yang diselenggarakan oleh Luigi Santamaria di Napoli. Event ini dihadiri oleh sejumlah tokoh Indonesianis lain, di antaranya Alessandro Bausani dan Denys Lombard yang namanya sudah sangat dikenal di Indonesia. Para Indonesianis ini memuji karya bersama Corradi dan Giordana.
Selanjutnya mereka mengajar di IsMEO untuk waktu yang cukup lama, dan bersama-sama menulis untuk edisi pertama Quaderni Asiatico dari Asosiasi Italia yang dipimpin oleh Sante Spadavecchia, juga menulis banyak esai dan artikel untuk jurnal ilmiah dan koran di sana, serta terus melakukan perjalanan ke Indonesia. Guido Corradi bahkan secara sukarela menjadi pemandu budaya untuk tour yang diselenggarakan oeh Viaggi di Cultura dan Kel12.
Projek terakhir mereka, penulisan buku La Sfida Indonesiana sedang menuju tahap akhir setelah melakukan berbagai revisi serta pembaruan bab. Corradi masih sempat menyelesaikan bab akhir yang membicarakan petualangan rempah-rempah Indonesia. Giordano yang membantu menulis bab akhir ini, mengaku masih kurang maksimal karena menurutnya, Guido Corradi masih jauh lebih memahami geografi ekonomi Indonesia dibanding dirinya.
Walaupun belum dapat membaca bukunya, tapi menyenangkan sekali hari ini kami dapat menemukan nama Guido Corradi. Ternyata di luar sana ada banyak orang yang begitu terkesan oleh Indonesia, lalu setia menaruh cintanya dan berkarya hingga berpuluh tahun. Sementara kami di sini seringkali bermimpi tentang luar negeri dengan bayangan yang jauh lebih indah ketimbang aslinya. ***
Sumber tulisan: https://www.lettera22.it/la-sfida-indonesiana-e-un-ricordo-di-corradi/
Foto: https://www.lettera22.it/la-sfida-indonesiana-e-un-ricordo-di-corradi/
