MAUSOLEUM URSONE: DOAKANLAH KAMI

Ditulis oleh: Deuis Raniarti

Rumah Keluarga Ursone di Lembang. Foto: Reza Khoerul Iman

Minggu lalu saya dan teman-teman mengunjungi bekas rumah tinggal keluarga Ursone di Jalan Baruajak, Lembang. Sedikit flashback ke tulisan saya sebelumnya yang berjudul Momotoran Lembang, kami mengunjungi rumah ini setelah Ngaleut ke beberapa tempat di kawasan Lembang. Rumah ini tampak bagus dan dilengkapi halaman luas yang bersih. Salah satu perbincangan saya dan teman-teman saat duduk santai di halaman adalah tentang makam Ursone yang berada di kompleks makam Pandu. Mang Alex menjelaskan bahwa yang dimakamkan di makam berbentuk mausoleum itu bukan hanya satu orang saja, melainkan ada beberapa anggota keluarga Ursone, juga dari generasi yang berbeda. Mang Alex juga menyinggung soal bagaimana cara membaca tanda angka-angka yang tertulis di mausoleum bagian depan mausoleum Ursone.

Pada hari Kamis, 13 Januari 2022, saya dan beberapa orang peserta terbatas Ngaleut ke Taman Makam Pandu. Menurut Mang Alex, sebagian isi Makam Pandu ini sebenarnya merupakan pindahan dari kompleks makam atau Kerkhof Kebon Jahe, yang dahulu lokasinya persis berada di GOR Pajajaran sekarang. Salah satu tujuan Ngaleut kami ini tentunya mausoleum Ursone yang sudah dibicarakan sebelumnya. Sampai saat ini belum ada informasi yang jelas apakah mausoleum ini adalah mausoleum yang sama dengan yang ada di Kebon Jahe atau merupakan buatan baru setelah pindah.

Mausoleum Ursone di Taman Makam Pandu

Mausoleum Ursone berlapis marmer dengan gaya barok. Di bagian atas mausoleum tertulis Orate Pro Nobis yang berarti “Doakanlah Kami”. Pilihan kata-kata yang sangat sederhana untuk sebuah mausoleum yang masih terlihat megah dan untuk satu keluarga besar yang pernah memberikan sumbangsih begitu banyak untuk perkembangan Kota Bandung di masa lalu. Kisah-kisah tentang keluarga Ursone mudah ditemukan dalam buku-buku yang membahas sejarah Kota Bandung, termasuk dalam sejumlah buku karya Kuncen Bandung, Pak Haryoto Kunto (alm).

Tepat di bawahnya, ada tulisan “FAM URSONE” yang berarti Keluarga Ursone. Keluarga Ursone merupakan keluarga berkebangsaan Italia yang sukses mendirikan dan mengelola perusahaan susu sapi di Lembang. Selain itu, keluarga ini juga memiliki banyak peran sosial untuk Hindia Belanda. Mereka menghibahkan tanahnya untuk pendirian Observatorium Bosscha, memainkan piano dan biola saat kongres Pengusaha Gula (Suikerplanters Congress) tahun 1896 sehingga mampu mencegah tercorengnya Bandung di mata petinggi pertanian Belanda yang kala itu tidak memiliki piano dengan kualitas baik dan pemusik yang handal. Mereka juga mewakafkan tanah untuk Masjid Cipaganti.

Ngaleut ke Mausoleum Ursone

“Coba siapa yang masih ingat, gimana cara bacanya?” tanya Mang Alex saat kami sampai di depan mausoleum dan langsung menunjuk relief angka-angka pada dinding mausoleum. Dalam hati saya berkata, “Duh, gimana ya? Lupa.” Rasanya ingin bersembunyi saja di balik nisan makam di sekitar sana, biar gak ditunjuk buat jawab, hehehe.

Terdapat 8 nama yang tertulis di mausoleum ini, lengkap dengan tanggal lahir dan meninggal yang ditulis mirip pecahan matematika. Setelah diingatkan gimana cara bacanya, beginilah cara baca tulisan di Mausoleum Ursone:

M. G. Ursone : Lahir 23-4-1839, meninggal 1-9-1897

P. A. Ursone : Lahir 1-1-1858, meninggal 29-5-1935

Antonio Domenico De Biasi : Lahir 12-1-1893, meninggal 26-12-1966

J.A.G. van Dijk : Geb 7 Sept 1855, Overl. 7 Nov 1914

A. C. Ursone v Dijk : lahir 28-4-1881, meninggal 10-8-1913

A. Ursone : lahir 14-4-1877, meninggal 20-4-1933

G. M. Ursone : lahir, 27-1-1864, meninggal 28-4-1945

Dr. C. G. Ursone : lahir, 8-12-1914, meninggal 23-5-1960

            Setelah mendengarkan berbagai kisah seputar keluarga dan kiprah keluarga Ursone di Bandung, kami melihat-lihat bagian dalam dan sekeliling mausoleum. Beginilah kondisi Mausoleum Ursone pada tanggal 13 Januari 2022.     

      Begitulah sedikit cerita pengalaman saya ketika mengunjungi Mausoleum Ursone. Perjalanan Ngaleut Makam Pandu masih terus berlanjut mengunjungi beberapa makam tokoh Bandung lainnya. Kami sempatkan juga mampir mengunjungi Ereveld Pandu. Cerita lengkapnya bisa dibaca di catatan perjalanan karya teman-teman lainnya, happy scrolling. 😀

* * *

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s