Maung dan Prabu Siliwangi: Mitos atau Fakta?

Oleh: Irfan Teguh Pribadi (@irfanteguh)

Maung atau harimau punya posisi yang cukup dalam bagi kesadaran orang Sunda. Kita bisa menemukan maung menjadi nama tempat di kawasan Jawa Barat, seperti Cimaung dan Cimacan yang bisa ditemukan di beberapa daerah (Garut, Subang, Banjaran, Cianjur, dll), lambang Kodam Siliwangi, sampai Persib—klub sepakbola kebanggaan warga Jawa Barat dan Sunda yang dijuluki Maung Bandung.

Simbol maung yang melekat dalam alam pikiran masyarakat Sunda pada umumnya dikaitkan dengan legenda nga-hyang atau menghilangnya Prabu Siliwangi di hutan Sancang ketika dikejar bala tentara Islam dari Kerajaan Banten dan Cirebon. Peristiwa ini mengisyaratkan mulai masuknya pengaruh Islam di tatar Sunda.

Dalam legenda ini juga disebutkan sebelum benar-benar menghilang, Prabu Siliwangi meninggalkan pesan atau amanat kepada para pengikutnya. Amanat yang dikenal dengan Uga Wangsit Siliwangi ini, di antaranya, memuat pesan Siliwangi tentang masa depan wacana Pajajaran di masa depan: Baca lebih lanjut

#PojokKAA2015: Kabar dari Jalan Pajajaran

Oleh: Deris Reinaldi

Para delegasi Konperensi Asia-Afrika 2015 akan tiba di Bandung pada hari Jum’at, 24 April 2015, baik melalui jalur darat ataupun jalur udara. Untuk delegasi yang melalui jalur udara dari Jakarta akan melewati Jl. Pajajaran. Jl. Pajajaran sudah berbenah diri, meskipun tidak seperti Jl. Asia Afrika dan sekitarnya. Meskipun begitu, jalanan nampak terlihat bersih karena setiap hari terlihat beberapa kelompok orang sedang membersihkan jalan. Sepertinya kalau Jl. Pajajaran dibenahi seperti di Jl. Asia Afrika, dipastikan suasana jalan akan ramai juga.

deris10

Terlihat dari sekitar patung Husein kini tampil rapi, tanaman hias pun ada yang baru ditanam karena terlihat masih segar. Dalam area taman patung Husein kondisinya bersih dan terawat, lalu di sisi kiri taman patung Husein ada yang terpajang berupa kata sambutan Welcome to Bandung. Di sekitar ini juga terdapat beberapa polisi dan polisi militer yang sedang bertugas mengamankan lalu lintas. Baca lebih lanjut

Di Bukit Tegak Lurus dengan Langit *)

Oleh: Irfan Teguh Pribadi (@irfanteguh)

DSCN8335

Di kampung saya–di Selatan Sukabumi, tak jauh dari rumah; berjajar beberapa bukit (Sunda : pasir) yang memanjang dari Timur ke Barat. Persis di belakang rumah ada Pasir Pogor, kemudian Pasir Gundul, Pasir Hiris, dan Pasir Hanjuang, lalu di akhiri dengan sebuah bukit yang melintang dari Selatan ke Utara, yang dinamai dengan Pasir Malang. Waktu Ahad kemarin (22/03/2015) mengunjungi bukit Munjul dan Culanagara di wilayah Bandung Selatan, tentu saja ingatan melayang ke bukit-bukit yang saya sebutkan tadi. Ada kesamaan yang sangat jelas, yaitu tentang tempat-tempat keramat yang berada di puncak bukit.

Di Pasir Hiris ada beberapa makam yang dikeramatkan, dan konon sering diziarahi oleh orang-orang dari luar kota (terutama Jakarta). Ditemani oleh sang juru kunci, mereka kerap melaksanakan ritual yang diisi dengan do’a-do’a. Saya sendiri baru menyadari kemudian ihwal makam keramat itu, sebab waktu kecil saya hanya menganggapnya tak lebih dari makam biasa saja. Hanya letaknya yang memang terasa ganjil. Di pasir yang lain sebenarnya ada juga beberapa makam, namun makam yang tadi adalah yang paling terkenal.

Kecenderungan tempat-tempat keramat di ketinggian bukan hanya ada di Tatar Priangan, sebab di Pulau Jawa bagian Tengah dan Timur banyak juga terdapat hal demikian. Di Cirebon pun, sebagai suatu wilayah yang kerap “enggan” disebut Sunda—bahasa dan catatan sejarah banyak menulis hal ini, terdapat juga tempat keramat yang letaknya di ketinggian. Dalam buku Ziarah & Wali di Dunia Islam yang naskahnya dikumpulkan oleh Henri Chambert-Loir dan Claude Guillot, terdapat keterangan sebagai berikut :

“Kompleks keramat Sunan Gunung Jati mencakupi dua bukit , yaitu Bukit Sembung dan Bukit Gunung Jati, yang hanya berjarak beberapa ratus meter. Bukit Gunung Jati bisa dipastikan sudah keramat pada jaman pra-Islam. Orang setempat masih mengenang bahwa api besar-besaran kadang-kadang di nyalakan di puncaknya, yang dianggap dan dikeramatkan sebagai puseur alam. Kepercayaan-kepercayaan kuno sedikit demi sedikit telah diintegrasikan dalam kerangka Islam, namun bukit ini tetap mempunyai ciri sakral.”

DSCN8300

Ada tiga kata yang bisa ditangkap dari kutipan tersebut. Pertama “bukit”, kedua “pra-Islam”, dan yang ketiga adalah “diintegrasikan”. Di beberapa petilasan yang diyakini sebagai rute pelarian Prabu Siliwangi sewaktu dikejar oleh Kian Santang—anaknya yang hendak meng-Islamkan sang bapak (salahsatunya di bukit Munjul), kepercayaan masyarakat terbelah dua; yang pro Siliwangi melakukan ritual dengan nuansa Hindu, sedangkan yang berpihak kepada Kian Santang dengan ritual bernuansa Islam. Entah bagaimana perbedaan ritualnya, mungkin terletak pada do’a.

Kutipan di atas pun menyatakan sebuah alur, bahwa kata “pra-Islam” menunjukan adanya kekuatan politik dan kepercayaan yang mendahului Islam sebagai pemenang selanjutnya. Sebagai pemenang tentu saja leluasa membuat narasi sejarah, dan atau menempel lalu menggantikan simbol-simbol si kalah. Kata “diintegrasikan”—bukan “terintegrasikan”, jelas adalah kata aktif, artinya sebagai bentuk penyengajaan. Hal ini mungkin juga berlaku pada perlakuan dan penamaan situs-situs, makam keramat, dan petilasan yang lain.

Selain itu, kalau kita amati, banyak juga komplek pemakaman Cina yang berada di dataran tinggi. Beberapa contoh antara lain; Sentiong di Sukabumi, Pasir Hayam di Cianjur, Lereng Tidar di Magelang, dan Cikadut di Bandung. Artinya pemilihan bukit sebagai tempat tinggi bukan kepercayaan yang dimonopoli oleh etnis dan kepercayaan tertentu saja. Bukit sebagai sebuah dataran tinggi, bahkan telah juga dituliskan pada teks-teks jaman kenabian. Bukankah bukit Tursina disebutkan dalam riwayat Nabi Musa?, dan Jabal (gunung) Nur ada dalam lintasan sejarah Nabi Muhammad?

Membahas kaitan antara tempat-tempat tinggi dengan kepercayaan manusia mungkin bisa ditulis dari ragam perspektif, namun saya hendak mencatatnya dari sudut pandang tempat tinggal dan budaya produksi pangan etnis Sunda jaman baheula.

Tapi sebelum masuk ke sana, mungkin ada baiknya kita sadari dulu sebuah kenyataan, bahwa fakta-fakta sejarah di negara kita—terutama era pra kolonial, seringkali dipadukan dan lebur bersama mitos dan legenda.  Dalam sebuah pengantar yang beraroma pujian di buku Bo’ Sangaji Kai-Catatan Kerajaan Bima–penyunting buku tersebut menulis hal berikut :

“Sumber-sumber Eropa terutama sumber Belanda umumnya dianggap lebih berguna daripada sumber-sumber lokal, oleh karena orang Eropa sudah lama mengembangkan satu usaha pendokumentasian yang tepat dan lengkap. Berbagai bentuk arsip yang dikembangkan oleh orang Eropa selama berabad-abad sarat dengan fakta, angka, nama, dan tanggal. Arsip jenis itulah yang menjawab pertanyaan para sejarawan modern, sedangkan sumber-sumber berbahasa Melayu, seperti juga sumber dalam bahasa-bahasa lain di Indonesia, seringkali mamadukan mitos, legenda, dan sejarah, sehingga sukar dimanfaatkan. Karya-karya sejarah yang ditulis dalam bahasa Melayu di Bima (Pulau Sumbawa) merupakan satu kekecualian yang gemilang.”

Anggaplah saya imperior dengan mengiyakan kutipan tersebut, tapi kenyataannya memang demikian.

***

DSCN8364

Menurut Drs. Saleh Danasasmita dalam buku berbahasa Sunda yang berjudul Nyukcruk Sajarah Pakuan Pajajaran jeung Prabu Siliwangi, beliau menjelaskan bahwa type masyarakat di Indonesia terbagi menjadi tiga, yaitu; masyarakat sawah, masyarakat ladang (huma), dan masyarakat pesisir. Pajajaran (Sunda) termasuk ke dalam type masyarakat ladang (huma).

Bukti-bukti sejarah mengenai hal ini bisa ditemukan pada beberapa catatan. Pertama,  dalam buku Priangan, de Haan menginformasikan bahwa system pertanian sawah di Jawa Barat dimulai oleh van Imhoff. Di Bogor, daerah pertama yang membuka lahan sawah adalah Cisarua, yang petaninya didatangkan dari Tegal dan Banyumas. Untuk selanjutnya daerah Bogor dijadikan “daerah bebas huma” oleh Yakob Mossel yang menggantikan van Imhoff pada tahun 1750. Selain itu, beberapa istilah yang digunakan oleh petani Sunda dalam ngawuluku dan ngagaru, umumnya bukan kosa kata Sunda, melainkan kosakata Jawa, seperti : kalen, mider, luput, sawed, arang, damping, dll.

Kedua, dalam Carita Parahiyangan—yang merupakan hasil sastra jaman Pajajaran, tidak terdapat istilah husus “patani”, tapi “pahuma”. Dalam naskah yang lain disebutkan bahwa perkakas yang disebut hanyalah kujang, baliung, patik, korěd, dan sadap; yang semuanya adalah perkakas untuk berladang.

Ketiga adalah dokumen tradisi seperti yang terdapat di suku Baduy kiwari. Orang Baduy yang masih memegang teguh adat kebiasaan leluhurnya cadu untuk bertani di sawah.

Dan yang terakhir adalah berdasarkan kepada dokumen lisan dalam bahasa Sunda yang terkait dengan bahasa Indonesia. Huma dalam bahasa Indonesia artinya rumah, sedangkan ladang dalam bahasa Sunda artinya hasil. Hal ini bisa menjadi petunjuk bahwa huma adalah ya rumah itu sendiri. Ini bisa juga diperkuat dengan kebiasaan orang tua dulu ketika melarang anaknya yang sedang bertengkar atau berselisih, mereka kerap berucap; “Ulah sok pasěa jeung dulur, bisi pajauh huma!” (Jangan bertengkar dengan saudara, nanti huma/rumah-nya berjauhan).

Dari keempat hal tersebut di atas, bisa ditarik kesimpulan bahwa masyarakat Sunda pada mulanya adalah masyarakat ladang/huma, yang secara geografis mayoritas berada di dataran tinggi (minimal lebih tinggi dari sawah)—umumnya disebut dengan bukit. Karakter tanah huma pada umumnya tidak bisa ditanami tumbuhan pangan secara berulang-ulang, oleh sebab itu para pehuma biasanya berpindah-pindah tempat ketika hendak menanam padi. Hal tentu berpengaruh juga dengan tempat tinggal, artinya perkampungan pun mesti pindah berkali-kali.

DSCN8387

Lalu apa kaitannya antara masyarakat huma dengan beberapa situs, makam keramat, dan petilasan yang berada di Priangan? Jika dilihat dari posisi, keberadaan tempat-tempat yang keramatkan sesuai dengan kebiasaan tempat tinggal orang Sunda baheula, yaitu di dataran tinggi. Selain itu, letaknya yang berjauhan danancal-ancalan, menandakan bahwa memang karakter masyarakat huma adalah nomaden.

Kita kerap mendengar beberapa ungkapan yang menunjukkan Tuhan (sesuatu/dzat yang tidak terjangkau kecuali dengan kepasrahan) dengan kata “di atas”, misalnya; “Kita serahkan kepada yang di atas”, atau “terserah yang di atas”. Dalam konteks ini, barangkali posisi beberapa situs, makam keramat, dan petilasan yang berada di ketinggian adalah simbol tentang dzat yang tidak terjangkau. Sesuatu yang tidak tergapai oleh logika, dan sumerah menjadi jalan pilihan.

Namun dalam masyarakat Sunda yang sudah Islam, agak sulit jika menganggap semua yang keramat-keramat itu sebagai Tuhan, bagi mereka mungkin lebih tepat sebagai batu pijakan menuju yang di atas yang lebih mutlak. Beberapa kelompok dalam masyarakat Sunda Islam (biasanya kaum nahdliyin/NU)–ketika berdo’a, kerap menyebut beberapa syekh dan atau wali yang disebut tawasul. Penyebutan ini bukan berarti menganggap orang-orang saleh itu Tuhan, namun sebagai jembatan menuju Tuhan.

Maka dengan meredakan sangka buruk (suudzon) tentang praktek kemusyrikan; keberadaan situs, makam keramat, dan petilasan di bukit adalah sebuah simbol agar bisa tegak lurus dengan langit. Ya, lurus ke atas—ke hadirat Tuhan. [ ]

 

*) Tegak Lurus dengan Langit adalah salahsatu judul cerpen Iwan Simatupang

 

Foto : Arsip Irfan TP

 

Tautan asli: http://wangihujan.blogspot.com/2015/03/di-bukit-tegak-lurus-dengan-langit.html

 

Menggali Sejarah Perkembangan Kota dari Permakaman di Kota Bandung

Oleh: Ariyono Wahyu

Permakaman merupakan salah satu fasilitas/perlengkapan sebuah kota yang penting. Bila mereka yang hidup membutuhkan kompleks permukiman sebagai tempat tinggal untuk bernaung, maka mereka yang telah “berpulang ke keabadian” juga membutuhkan tempat untuk move on menuju kehidupan selanjutnya.

Ternyata, melalui permakaman, kita juga dapat menggali sejarah perkembangan sebuah kota. Berikut ini adalah cerita mengenai permakaman yang saya baca di buku-buku yang membahas kota  Bandung. Dalam buku “Wajah Bandung Tempo Doeloe” karya Haryoto Kunto, ada disebutkan istilah kerkhof yang artinya kuburan. Kerkhof adalah kata kuno dalam bahasa Belanda untuk permakaman. Kerkhof Belanda tertua di kota Bandung terdapat di ruas Jl. Banceuy sekarang, dulu lokasinya disebut Sentiong. Ternyata kata Sentiong yang berasal dari bahasa Cina juga bermakna kuburan. Cukup lama bekas Sentiong di Jl. Banceuy ini ditempati oleh sebuah Pasar Besi, tapi sekarang lokasi itu sudah tidak ada dan di atasnya didirikan bangunan pertokoan baru. Sampai paruh pertama abad ke 19, batas utara kota Bandung baru sampai di daerah  Jl.  Suniaraja sekarang ini, jadi tidak mengherankan bila di pinggiran kota ini dulu terdapat permakaman.

Kerkhof di Jl. Banceuy sering disebut bergantian dengan Sentiong karena di dalamnya tidak hanya terdapat permakaman orang Belanda, melainkan juga orang keturunan Cina. Salah satu warga kota terkemuka yang dimakamkan di Sentiong adalah Asisten Residen Carl Wilhelm August Nagel. Ia tewas dalam huru-hara Munada pada akhir tahun 1845. Akibat kerusuhan ini pasar kota (pasar lama di Ciguriang) terbakar dan akibatnya kota Bandung tidak memiliki pasar hingga dibangunnya Pasar Baru di awal abad ke 20.

Kerkhof Sentiong di Jl. Banceuy eksis hingga akhir abad 19. Saat itu suasana sekitar permakaman sungguh sunyi, apalagi bila hari sudah malam. Warga yang bermukim di daerah utara kota, sepulang dari menikmati hiburan atau keramaian malam di sekitar Alun-alun akan menghindari daerah Jl. Banceuy tempat kerkhof berada. Suasana yang sepi dan gelap membuat tidak nyaman, mereka akan memilih melewati jalan yang agak memutar melalui daerah Pecinan di belakang Pasar Baru yang selalu ramai hingga pagi hari.

Dalam perkembangan berikutnya, batas utara kota Bandung bergeser ke daerah Jl. Pajajaran sekarang. Permakaman Sentiong harus dipindahkan untuk menyesuaikan dengan perkembangan kota. Kuburan-kuburan warga etnis Cina dipindahkan ke daerah Babakan Ciamis. Lalu ruas jalan lama bekas Sentiong dinamai Oudekerkhofweg atau Jalan Kuburan Lama.

Tampaknya hingga tahun 1950-an permakaman Cina di daerah Babakan Ciamis masih ada, seperti yang ditulis oleh Us Tiarsa dalam bukunya “Basa Bandung Halimunan”. Menurut Us, makam-makam Cina yang disebut dengan Bong terletak di lembah antara daerah Cicendo dengan Kebon Kawung. Di sana terdapat pintu air sungai Ci Kapundung yang sering dijadikan lokasi bermain dan berenang anak-anak dari daerah Cicendo dan Babakan Ciamis. Walaupun daerah Bong tersebut terkenal angker karena banyaknya anak-anak terbawa hanyut saat Sungai Ci Kapundung meluap, namun tetap saja menjadi tempat berenang favorit bagi anak-anak pada masa itu.

AstanaanyarSebuah makam keluarga di tengah kompleks permakaman Astanaanyar. Foto: mooibandoeng.

Sementara itu, kuburan-kuburan orang Eropa juga dipindahkan dari Sentiong ke kerkhof di Kebon Jahe, di lokasi yang sekarang ditempati oleh GOR Pajajaran. Periode ini berlangsung saat jabatan Asisten Residen Priangan dijabat oleh Pieter Sijthoff. Pada tahun 1898 ia mendirikan wadah untuk menyalurkan partisipasi serta aspirasi warga kota yaitu Vereeniging tot nut van Bandung en Omstreken atau Perkumpulan Kesejahteraan Masyarakat Bandung dan sekitarnya. Upaya organisasi ini adalah meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan pembangunan fasilitas kota, di antaranya adalah pembukaan jalur-jalur jalan, perumahan, pembangunan sarana pendidikan, dan pembangunan Pasar Baru. Di Bidang sosial, organisasi ini mendirikan perkumpulan yang bertugas untuk mengurusi masalah kematian, organisasi ini pula yang memindahkan Kerkhof Sentiong. Untuk permasalahan yang berhubungan degan kematian, perkumpulan ini menyediakan kereta jenazah. Kereta jenazah ini adalah kereta kuda beroda empat yang ditarik oleh empat ekor kuda putih. Model kereta jenazah ini seperti ranjang kuno dengan kelambu berwarna hitam.

Pada awal abad ke-20 kota Bandung sempat dikenal dengan julukan yang menyeramkan yaitu Kinderkerkhof (kuburan anak-anak), ini terutama akibat wabah kolera pada tahun 1910. Tingkat kematian anak terhitung tinggi jika dibandingkan dengan kota-kota lainnya. Suasana kota Bandung sebelum tahun 1917 pun tak kalah menyeramkan, kuburan atau makam dapat dengan mudah ditemukan di pekarangan, di samping, di belakang rumah atau di kebun-kebun warga. Praktis tak ada aturan mengenai makam-makam ini. Keadaan ini ditertibkan pada tahun 1917 dengan dikeluarkannya Bouwverrordening van Bandung (Undang-Undang Pembangunan Kota Bandung). Sejak dikeluarkannya aturan ini pemakaman jenazah harus dilakukan di tempat yang telah ditentukan, yaitu di komplek permakaman, seperti untuk warga muslim yang ditempatkan di permakaman Astana Anyar (Kuburan Baru).

101_0062Sebuah makam di tengah gang umum di kawasan Cihampelas. Foto: Hani Septia Rahmi.

Sebenarnya urusan permakaman telah menjadi tugas dan kewajiban pemerintah kota setelah Bandung memperoleh status Gemeente (Kotapraja) yang berarti menjadi daerah otonomi, kota yang dapat mengurus, mengatur, dan mengelola beberapa macam wewenang sebagaimana rumah tangga sendiri. Pengesahan tersebut terjadi pada tanggal 1 April 1906, melalui perundang-undangan tanggal 21 Februari 1906 dan 1 Maret 1906. Pengesahan dilakukan oleh Gubernur Jenderal J.B. van Heutz. Saat itu Residen Priangan dijabat oleh G.A.F.J. Oosthout, Asisten Residen oleh E.A. Maurenbrechter, dan bupati dijabat oleh R.A.A. Martanagara. Semuanya berkedudukan di Bandung.

Dalam perundang-undangan itu diatur mengenai tugas dan kewajiban Gemeente, di antaranya adalah: pembuatan dan pemeliharaan perkuburan umum Islam maupun Kristen di dalam wilayah Gemeente Bandung. Juga menyelenggarakan kuburan Cina di luar kota (Gemeente). Setelah status kota Bandung diubah menjadi Stadsgemeente dengan Surat Keputusan Gubernur Jenderal Hindia Belanda tertanggal 27 Agustus 1926 No.3 (Staatsblad 1926 No. 369), kota Bandung tidak lagi dikepalai oleh Asisten Residen, ini terhitung mulai tanggal 1 Oktober 1926. Sejak saat itu yang menjadi pemimpin dalam mengurus kota adalah seorang walikota/Burgemeester.

Dalam menjalankan tugas-tugasnya walikota membaginya kepada 3 orang Pembantu Walikota/Wethouders, yang terdiri dari seorang berkebangsaan Belanda, Bumiputra dan Cina. Salah satu tugas Wethouder adalah mengurus kuburan bagi bangsa mereka, maksudnya untuk Wethouder berkebangasaan Belanda kebagian tugas mengurus kuburan Kristen/Eropa (Europeesche begraafplaatsen), bagi Wethouder Bumiputera mengurus kuburan Islam (Mohammedaansche begraafplaatsen), demikian pula dengan pembantu walikota beretnis Cina memiliki tugas mengurus kuburan Cina (Chineesche begraafplaatsen).

IMG-20140312-WA0017Makam keluarga Ursone di Pandu. Foto: Wisnu Setialengkana.

Kerkhof Kebon Jahe didirikan dalam masa yang sama degan Pabrik Kina yang terletak di sebelah timurnya. Kira-kira tahun 1896. Ada banyak tokoh kota dimakamkan di sini, salah satunya adalah  Dr. C.H. Westhoff (pendiri Rumah Buta yang lokasinya berada di seberang kerkhof), familie Ursone dengan mausoleumnya yang bergaya barok berlapis batu marmer Carrara. Tak mengherankan, salah satu anggota keluarga pemilik peternakan sapi Ajax di Lembang ini juga memiliki perusahaan Carrara Marmerhandel en–bewerking. Pengelola perusahaan yang terletak di Bantjeuj itu adalah  A. Ursone.

Setidaknya ada 16 orang lainnya yang memiliki hubungan dengan perkembangan kota Bandung dimakamkan di Kerkhof Kebon Jahe. Siapa saja ya?

Cerita mengenai kerkhof Kebon Jahe, juga ditulis dalam buku “Basa Bandung Halimunan” karya Us Tiarsa. Buku ini berkisah mengenai pengalamannya hidup di Bandung pada tahun 1950-60an. Dalam buku yang berbahasa Sunda ini Pak Us bercerita tentang pembagian kelas-kelas makam. Kelas 1 makamnya besar-besar dan terletak paling utara, dekat dengan ke jalan raya (Jl. Pajajaran). Makam-makam dihiasi porselen serba mengilap. Makam lain dilapisi marmer yang tebal berbagai warna, ada yang putih, kehijauan, atau kekuningan. Makam-makam di kelas 1 dilengkapi hisan berupa patung malaikat, bidadari, atau patung Yesus. Ukurannya beragam, mulai dari sebesar orang dewasa hingga ke ukuran terkecil seukuran tangan anak kecil. Pot dan vas kembangnya bagus terbuat  dari bahan porselen, gelas, marmer, atau kuningan. Tak ada yang berbahan gerabah.

Makam kelas 2 terletak agak ke sebelah selatan, kebanyakan hanya menggunakan batu granit dan tanpa penutup. Kadang ada yang ditutupi memakai beton namun tak sekokoh penutup beton yang menaungi makam-makam di kelas 1. Sedangkan makam kelas 3 terletak paling selatan. Makam-makam di area ini kebanyakan bahkan tanpa nisan.

Di tahun 1950an-60an Pak Us Tiarsa tinggal di Kebon Kawung, tak jauh dari kerkhof tersebut. Katanya, setelah masa kemerdekaan pun kerkhof Kebon Jahe adalah permakaman yang tetap terpelihara dan bersih, rumputnya tertata rapi dan dipotong secara teratur. Di dalam area permakaman terdapat jalan berbatu, malah ada juga yang menggunakan marmer. Tanamannya mulai dari kacapiring, cempaka gondok dan cempaka cina, serta pohon kamboja. Tak heran bila warga yang bermukim di derah Kebon Kawung, Nangkasuni, Torpedo, Merdeka Lio, Cicendo, atau Rumah Buta, kerkhof Kebon Jahe menjadi tempat bermain dan bersantai. Tak hanya anak-anak kecil, bahkan hingga orang dewasa meluangkan waktu senggangnya dengan bercengkrama di dalam area permakaman ini.

Salah satu kegiatan anak-anak adalah mengumpulkan potongan marmer dari makam. Potongan marmer yang besarnya seukuran jempol kaki dibuat kelereng dengan membentuknya menggunakan golok yang tumpul. Walaupun pada akhirnya kelereng tersebut tidak sepenuhnya bundar, namun sudah cukup bagi anak-anak untuk menggunakannya dalam permainan poces. Kegiatan lainnya yang dilakukan anak-anak kecil dalam area permakaman ini adalah mengumpulkan bubuk marmer yang kemudian dihaluskan menggunakan palu. Bubuk ini digunakan untuk mengilapkan kerajinan tangan dari buah kenari atau tempurung buah kelapa.

Aturan di permakaman ini sebenarnya melarang warga umum masuk ke dalam area kerkhof. Sekeliling area kerkhof dipagari dengan kawat berduri dan pagar hidup dari tanaman seperti kembang sepatu, pringgandani, kacapiring, dan enteh-entehan. Kerkhof Kebon Jahe dijaga oleh banyak penjaga dan dikepalai oleh seorang mandor yang terkenal galak, namanya Mandor Atma. Ia tinggal dekat gapura pintu masuk permakaman di sisi sebelah utara kerkhof (Jl. Pajajaran).

Kerkhof Kebon Jahe akhirnya digusur pada akhir tahun 1973. Sayang pembongkarannya tidak sistemastis, asal bongkar dan kadang dengan membuldoser makam-makam yang ada, akibatnya banyak artefak bersejarah yang hilang. Padahal sebetulnya banyak yang bisa dipelajari dari peninggalan-peninggalan di permakaman. Sebagai contohnya adalah bukti otentik kedatangan orang Belanda di daerah sekitar Bandung pada pertengahan tahun 1700-an dapat dilihat dari batu nisan Anna Maria de Groote, putri Sersan de Groote. Anna meninggal saat masih berusia 1 tahun, yaitu pada tangal 28 Desember 1756. Nisan makamnya pernah ditemukan di Dayeuh Kolot. Tapi sayangnya, makam ini pun entah bagaimana nasibnya sekarang.

Tahun 1932, kota Bandung memiliki kompleks permakaman baru bagi orang Eropa (Nieuwe Europeesche Begraafplaats) yaitu kompleks permakaman yang kini lebih kita kenal dengan sebutan Permakaman Pandu. Bila kita cermati, permakaman Pandu masih menyimpan banyak cerita, di antaranya makam laci. Makam ini berbentuk layaknya laci-laci dikamar jenazah/koroner. Lalu ada makam penerbang yang meninggal karena pesawatnya jatuh, ini juga menandakan masih begitu berbahayanya transportasi udara kala itu.

IMG-20140312-WA0014Makam penerbang di Pandu. Foto: Wisnu Setialengkana.

Copy of SAM_5620BMakam Raymond Kennedy di Pandu. Foto: A13Xtriple.

Banyak makam tokoh yang memilliki hubungan dengan sejarah perkembangan kota Bandung seperti Ir. C.P. Wolf Schoemaker, mausoleum keluarga Ursone yang merupakan pindahan dari kherkhof Kebon Jahe, atau makam Profesor Raymond Kennedy, sorang guru besar dari Universitas Yale yang memiliki kepedulian tinggi terhadap perjuangan bangsa Indonesia. Raymond Kennedy dibunuh oleh kelompok tak dikenal di daerah Tomo, Sumedang, dalam perjalanan penelitiannya ke Jawa Tengah bersama Robert Doyle, sorang koresponden bagi  majalah Times dan Life. Pembunuhan kedua warga negara Amerika ini menarik perhatian hingga ke pucuk pimpinan Indonesia, salah satunya adalah Bung Hatta yang berjanji akan menemukan kedua pembunuh warga negara Amerika ini. Di kompleks permakaman Pandu terdapat pula kompleks permakaman terpisah khusus bagi tentara KNIL, Ereveld Pandu. Wilayah permakaman ini merupakan wilayah dari Negeri Belanda.

Copy of SAM_5357BMakam Elisabeth Adriana Hinse Rieman di Ciguriang. Foto: A13Xtriple.

Pembongkaran Oude Europeesche Begraafplaats atau Kerkhof Kebon Jahe pada tahun 1970an berlangsung tidak sistematis, banyak kuburan didalam kompleks permakaman Kerkhof Kebon Jahe yang asal saja dibongkar. Sebagian memang dipindahkan ke Permakaman Pandu, tapi sebagian lain rusak begitu saja. Mungkin bukti tidak tertibnya proses pembokaran makam ini dapat kita lihat pada sebuah nisan batu granit atas nama Elisabeth Adriana Hinse Rieman. Nisan berusia 110 tahun ini dipakai penduduk sekitar mata air Ciguriang sebagai batu alas mencuci pakaian.

Copy of SAM_5321BMulut jalan H. Mesrie. Foto: A13Xtriple.

Tak jauh dari mata air Ciguriang terdapat pula makam keluarga saudagar Pasar Baru dan tuan tanah di daerah Kebon Kawung, keluarga H. Moh. Mesrie. Nama Mesrie diabadikan menjadi nama jalan menggantikan Rozenlaan. Kekayaan yang didapat dari usahanya dibelikan tanah-tanah persil di daerah Kebon Kawung. Makam-makam keluarga saudagar Pasar Baru lainnya tersebar di daerah Cipaganti, Sukajadi, Jl. Siti Munigar, Jl. Karanganyar, dan Jl. Kresna.

Kota Bandung tidak memiliki Taman Prasasti seperti yang terdapat di Jakarta, di bekas permakaman lama yang juga bernama Kebon Jahe. Kedua tempat dengan nama sama ini ternyata memiliki nasib yang berbeda. Setelah tidak berfungsi lagi, kerkhof Kebon Jahe Jakarta naik derajatnya menjadi museum bagi nisan-nisan dari masa lalu kota Jakarta. Dari tempat yang sebelumnya ditakuti menjadi tempat bergengsi untuk berfoto, sedangkan nisan-nisan makam di kherkhof Kebon Jahe Bandung hilang ditelan bumi.

Sumber :
Haryoto Kunto “Wajah Bandoeng Tempo Doeloe” (1984) Pernerbit PT Granesia Bandung
Haryoto Kunto “Semerbak Bunga di Bandung Raya” (1986) Pernerbit PT Granesia Bandung
Us Tiarsa R “Basa Bandung Halimunan” (2011), Penerbit Kiblat
Sudarsono Katam “Bandung; Kilas Peristiwa di Mata Filatelis”(2006),  Penerbit Kiblat