Coretan dari Ciletuh

Oleh: Audya Amalia

Di atas lapisan bumi itu

Dua jenis lempeng bertemu

Atas keniscayaan waktu

Mereka bergusur tak teratur

Mereka bertekstur

***

Awalnya yang saya kira, dengan menyaksikan langsung hasil pergerakan lempeng bumi, saya akan lebih menggali teori tektonika lempeng dan serangkaian pengetahuan geologi lainnya. Alih-alih demikian, ketika melihat langsung bebatuan di Ciletuh, pikiran saya malah melayang jauh pada salah satu konsep estetika Timur yang disebut dengan “Wabi-Sabi”. Konsep tersebut merupakan cara pandang dalam memaknai ketidaksempurnaan. Wabi-sabi mengajarkan bahwa hal-hal dalam hidup ini tidak ada yang bertahan kekal, semuanya berproses dan berkembang bersama waktu. Itulah yang saya temukan dalam perjalan Ciletuh pada 8-10 November 2019 bersama Komunitas Aleut Mania Mantap.

Apa hubungannya wabi-sabi dengan Ciletuh?

Jawabannya ada di catatan perjalanan suka-suka* ini.

*) Catatan ini sudah melewati beberapa kali revisi dan berisi banyak coretan yang sebetulnya akan lebih tampak rapi jika dihilangkan. Namun atas nama wabi-sabi, lebih baik coretannya dibiarkan terlihat. Dan sejalan dengan prinsip estetika kontemporer: Anything goes~

Baca lebih lanjut

Susur Pantai #5 Ciletuh: Dimulai dari Solontongan, Berakhir pula di Solontongan

Ciletuh

Susur Pantai #5 Ciletuh | Foto Hendi Abburahman

Oleh: Hendi “Akay” Abdurahman (@akayberkoar)

Minggu malam yang dingin. Jalan Solontongan 20-D yang beberapa hari ke belakang sepi tiba-tiba kembali ramai dengan berderetnya beberapa motor dan tampang orang-orang yang kelelahan. Mereka selonjoran sambil menceritakan pengalaman-pengalaman seru yang telah mereka lewati. Meski dengan muka letih, gelak tawa masih saja berhamburan. Sebagian membuka handphone, sebagian menyulut rokok, dan sebagian lainnya menunggu makanan yang sedang dipesan. Sedangkan motor-motor yang terparkir sudah tak ingin lagi bergerak. “Cukup 544 kilometer yang kami tempuh,” begitu ujarnya. Meski sebagian motor-motor itu sadar, kilometer akan Baca lebih lanjut

Kepingan Perjalanan Susur Pantai Geopark Ciletuh

Susur pantai Geopark Ciletuh

Susur Pantai Geopark Ciletuh | Foto Komunitas Aleut

Oleh : Ervan Masoem (@Ervan)

Stop crying your heart out

stop crying your heart out

stop crying your heart out

Begitulah akhir lagu dari band Oasis yang berjudul “Stop Crying Your Heart Out.” Bukan saya sedang patah hati, kebetulan saja lagu tersebut berada pada playlist saya ketika itu. Saya mendengarkan lagu ini sembari menunggu hujan berhenti. Dalam hati saya berkata “berhentilah menangis” tentu saja yang saya tuju adalah langit. Langit sore itu terus menjatuhkan tetesan air yang membasahi bumi, padahal pada saat itu juga saya harus segera berangkat ke Kedai Preanger yang menjadi titik kumpul untuk susur pantai Geopark Ciletuh pukul 7.00 malam.

Waktu sudah  menunjukan pukul 6.30 sore tapi tak ada tanda-tanda hujan akan berhenti. Haruskah saya menembus derasnya hujan dengan balutan jas hujan, dan menarik tuas gas lebih kencang dari biasanya sebab Riung Bandung-Buahbatu lumayan memakan waktu, belum lagi dengan kemungkinan macet dan lamanya lampu merah perempatan Carrefour Kircon. Jika saya menunggu sampai hujan reda, saya tak tahu hujan akan berhenti sampai pukul berapa, mungkin saja hujan bisa berlangsung hingga malam dan  mungkin saja saya akan sangat terlambat atau tertinggal rombongan. Baca lebih lanjut