Susur Pantai 5 – Ciletuh

P_20180127_154736_PN

Susur Pantai 5 | Foto Tegar Bestari

Oleh : Tegar Bestari (@teg_art)

Hari itu adalah perjuangan bagi Persib Bandung yang harus memenangkan pertandingan sedikitnya tiga gol tanpa balas jika ingin lolos ke babak berikutnya dalam gelaran Piala Presiden 2018. Sore menjelang malam cuaca sudah mendung, bahkan ketika saya memacu Si Kuda Besi Imut menuju Kedai Preanger – cuaca hujan.

Sesampainya di Kedai Preanger, beberapa kawan sudah berkumpul menunggu kick off pertandingan. Sejatinya kami berkumpul di Kedai Preanger ini bukan untuk menonton Persib yang yang sedang dibawah performanya, kami berkumpul untuk melakukan perjalanan #susurpantai5 menuju Ciletuh. Tapi sambil menunggu kawan lain

Baca lebih lanjut

Karst Citatah, Riwayatmu Kini

By : Yanstri M.
<11 Oktober 2009>

Oahhmmm, rasanya mata ini masih ingin terpejam. Empuknya kasur dan hangatnya selimut masih melenakanku, tapi aku harus segera bangun. Ya, pagi ini Aleut akan mulai penjelajahan lagi. Kali ini Pegiat Aleut akan berkunjung kembali ke Gua Pawon untuk kedua kalinya di tahun ini. Hanya saja kali ini kami tidak berkunjung ke Gunung Hawu dahulu seperti perjalanan di bulan Maret, langsung menuju Pasir Pawon dan Gua Pawon. Gua Pawon terletak di Kawasan Karst Citatah, Jl. Raya Gn. Masigit, Cipatat, Kabupaten Bandung Barat. Dengan kepala yang masih terasa sedikit pusing akibat kurang tidur, aku bergegas menuju ke Gedung Merdeka tempat meeting point kami. Kala itu waktu menunjukkan pukul 07:10. Baru ada beberapa Pegiat Aleut dan rombongan penggemar sepeda onthel yang berkumpul di depan Gedung Merdeka. Sambil menunggu pegiat yang lain, kami menikmati aktivitas yang ada di sekitar Gedung Merdeka. Beberapa kali mataku sempat terpejam, tak kuat menahan kantuk.

Kami masih menunggu satu orang teman yang masih dalam perjalanan. Akhirnya, sekitar pukul 8 kami mulai perjalanan dengan menggunakan Bis Damri jurusan Alun-Alun – Ciburuy. Kali ini kami memilih menggunakan bus AC supaya pegiat yang ingin beristirahat (tidur) sebelum memulai petualangan bisa merasa nyaman. Karena kami terbiasa menggunakan bis Non AC, beberapa teman bergegas menggunakan jaket untuk menahan hawa dingin yang cukup menggigit. Entah karena AC-nya memang kencang atau karena hanya ada sedikit penumpang yang bersama kami kala itu sehingga dinginnya cukup terasa.
Setelah menempuh perjalanan sekitar 1 jam, tibalah kami di pemberhentian terakhir bus yaitu di Situ Ciburuy. Beberapa teman yang tidak membawa bekal makan siang bergegas mampir ke warung makan yang ada di sekitar situ (kata BR sayur buncisnya yahud, patut dicoba tuch!). Lainnya berkunjung ke Alfamart untuk membeli minuman. Ternyata ada yang berbeda dari terakhir kali ketika aku berkunjung ke sana. Dahulu di depan Situ Ciburuy belum berdiri gerai Alfamart. Setelah semua pegiat berkumpul kembali, perjalanan dilanjutkan menggunakan angkutan umum bertarif Rp. 1.500,-/orang.
Taman Batu (Stone Garden)
Pemberhentian kami selanjutnya adalah mesjid yang berada di dekat jalan yang menuju Taman Batu. Jalanan berbatu mulai menanjak. Melewati sebuah pabrik dan perkebunan singkong penduduk di sisi kiri dan pohon cemara di sisi kanan. Jalanan semakin terjal, melewati gugusan batu-batu kapur, kami terus naik menuju puncak Taman Batu.

Terasa sekali perbedaan suasana di sekitar Taman Batu. Saat kami berkunjung ke sana di bulan Maret masih terdapat banyak batu-batu besar yang membuat kami agak kesulitan untuk menuju puncak Taman Batu. Saat ini, sebagian batu besar tersebut sudah hilang digantikan dengan ladang penduduk. Selain itu, terlihat saung-saung tempat peladang beristirahat. Kami sempat ditegur oleh penduduk setempat akibat menginjak ladang mereka yang baru dicangkul.
Di Taman Batu kami sempat melihat sebuah kuburan yang menurut keterangan BR baru ada di sana setelah Kemerdekaan Republik Indonesia. Di sana BR juga sempat memberi sedikit penjelasan mengenai proses terbentuknya kawasan Pasir Pawon dan mengenai guratan-guratan yang terdapat di batu-batuan yang ternyata berasal dari sisa-sisa plankton. Ternyata kawasan Pawon dahulu merupakan bagian dari Danau Bandung Purba.
Puas berfoto-foto kami turun melalui samping ladang penduduk. Kami sempat melewati pabrik pengolahan batu gamping dan melewati tempat pembakaran karet yang asapnya sangat pekat membuat kami harus menutup hidung agar tidak terlalu banyak menghirup asap tersebut. Di kanan terlihat bukit kapur terjal yang mulai hilang sebagian sisinya akibat terus diambil oleh pelaku industri. Hal tersebut bisa terlihat dari perbedaan warna bukit tersebut. Bukit yang masih asli, belum terjamah tangan manusia, berwarna kehitaman. Sedangkan bukit yang sudah dikeruk oleh manusia berwarna coklat kemerahan. Malang nian nasib karst citatah. Perlahan tetapi pasti menuju kepunahannya.
Perjalanan diteruskan menuruni “tanjakan frustasi”. Kondisi menuju tanjakan tersebut juga sudah berubah. Sepertinya ada truk yang pernah melewati jalur tersebut terlihat dari bekas-bekas ban dan hilangnya sebagian gundukan tanah di pinggir jalan menuju tanjakan frustasi. Kami juga sempat mencari bibit pohon yang pernah kami tanam. Ternyata sebagian besar bibit tersebut sudah tidak ada wujudnya.
Akhirnya, tibalah kami di saung yang terletak di bawah gua pawon. Situasi di sini pun sudah berbeda. Dahulu di sini ada 2 buah saung, sekarang hanya tertinggal satu buah. Ada pemandangan baru yang cukup menarik, di sana terdapat satu buah pendopo yang seingat saya belum ada ketika saya berkunjung ke sana pertama kali. Selain itu, terdapat 2 buah sarana wc umum yang sayangnya dalam keadaan terkunci sehingga kami sebagai pengunjung Gua Pawon tidak dapat memanfaatkan sarana tersebut. Setelah berisitirahat sejenak sambil mengisi perut yang mulai keroncongan, kami melanjutkan perjalanan menuju Gua Pawon.
Gua Pawon
Baru mulai menapaki tanjakan menuju Gua Pawon kami sudah disambut bau tidak sedap yang berasal dari guano (kotoran kelelawar) yang membuat perut saya terasa mual. Bergegas saya mencari ruang terbuka di sisi Gua Pawon. Berjalan sedikit ke dalam, di sebuah ceruk kita bisa menikmati sekumpulan kelelawar yang asyik berputar tiada henti.
Untuk masuk lebih dalam kami harus melewati ceruk yang cukup rendah, yang membuat kami terpaksa membungkuk dan memanjat untuk melewatinya. Di dalam gua kami menemukan pagar besi yang di dalamnya terdapat replika manusia pawon. Menurut keterangan yang saya baca di salah satu blog, manusia Pawon kemungkinan adalah manusia tertua di Bandung.
Tempat ditemukannya Manusia Pawon
Replika Manusia Pawon
Kami terus turun ke Bawah. Di sana kami bertemu dengan sekelompok pencinta alam yang sedang bersiap-siap untuk mendaki tebing di dalam Gua Pawon. Dari jendela yang ada di Gua Pawon kita bisa memandangi kawasan Cibukur. Pemandangan dari puncak tersebut sangat indah. Tapi kita harus berhati-hati agar tidak tergelincir yang bisa berakibat fatal.
Pemandangan Lembah Cibukur dilihat dari atas Gua Pawon
Puas berfoto ala manusia Pawon, kami menuju warung yang ada di sekitar rumah penduduk. Untuk mencapai warung tersebut kita harus melalui jalanan menurun di samping pendopo. Kami berhenti sejenak untuk melepas dahaga dengan minuman dingin yang menyegarkan. Beberapa peserta berdoa semoga turun hujan, karena suhu udara saat itu cukup panas, matahari bersinar sangat terik. Sayangnya doa tersebut tidak terkabul. Sehingga kami tetap harus berjalan dalam naungan teriknya sang surya.
Perjalanan pulang dilanjutkan melintasi rumah penduduk dan sawah-sawah. Seorang peserta sempat ketakutan ketika kami melewati kandang kambing yang ada di sebelah rumah penduduk. Usut punya usut ternyata dia trauma dengan kambing.
Setelah melewati sawah, kami masuk ke kebun jambu biji. Buahnya sangat menggoda kami, seakan memanggil-manggil untuk dipetik.
Kami terus berjalan melewati rumah penduduk, melalui jalanan berbatu yang mulai menanjak. Rasanya energi benar-benar terkuras. Kami masih harus berjalan sekitar 500m untuk mencapai jalan raya.
Akhirnya, sampai juga kami di tepi jalan raya dengan perasaan lega. Perjalanan pulang menggunakan rute yang sama dengan saat berangkat. Sungguh pengalaman yang tidak terlupakan.

Sayang sekali keindahan alam yang terbentuk jutaan tahun yang lalu musnah hanya dalam sekejap mata. Tak bolehkah generasi masa depan menikmati keindahan tersebut. Tak bolehkah mereka merasakan apa yang bisa kita nikmati sekarang. Apakah di masa depan mereka hanya dapat melihat bentuk batu kapur dari selembar foto, dari sebongkah batu yang tersimpan di museum. Atau mereka harus pergi ke negeri orang hanya untuk merasakan dan melihat rupa batu kapur. Tegakah kita membiarkan mereka hanya mengenal yang namanya hutan beton tanpa pernah merasakan nikmatnya berpetualang sambil menikmati keindahan alam?