Panen Padi di Cianjur

Oleh: Deuis Raniarti

Lahir dan besar di salah satu daerah yang dikenal sebagai salahsatu penghasil beras, membuat saya akrab dengan kondisi alam seperti hamparan sawah yang hijau, sungai-sungai kecil dan perbukitan. Semuanya adalah pemandangan yang dapat saya saksikan dengan mudah.

Saya tinggal di Kampung Gombong, Kecamatan Gekbrong, Kabupaten Cianjur. Rumah saya berada dekat dengan persawahan. Momen yang paling menyenangkan di rumah adalah menunggu musim panen tiba. Saya bisa bermain bebas di sawah yang padinya sedang diambil oleh alat bernama arit, segenggam tangkai padi kemudian digebug pada sebuah bidang miring bergelombang berbahan kayu yang disebut rekal agar butiran padi terlepas dari tangkainya. Selanjutnya padi dikumpulkan dan dijemur sampai kering. Biasanya saya akan sangat senang membolak-balikkan padi sambil sibuk mengusir kawanan burung yang mencoba memakan hasil panen saya.

Tidak berhenti sampai di sana, saya juga akan membantu nenek menyiapkan lisung dan halu yang akan digunakan untuk menumbuk butiran padi hasil panen. Di masa panen, menumbuk padi tidak dilakukan oleh satu orang, biasanya akan berjajar 3 sampai 4 orang ibu-ibu yang berdiri di samping lisung sambil memegang halunya masing-masing. Saya akan memasang posisi jongkok sembari mendengarkan mereka bersenandung, ah, tapi saya lupa apa yang mereka ucapkan.

Sawah Gekbrong-1

Sawah di Kampung Gombong. Foto: Deuis Raniarti.

Dalam upaya membantu mempermudah kegiatan manusia, sekitar akhir 1980-an di Kampung Gombong sudah ada pabrik penggilingan beras, mesin yang digunakan tentu bisa mempermudah proses memisahkan padi dengan bangsal atau gabah. Bangsal padi pun dapat kembali digiling menjadi butiran halus mirip tepung yang disebut huut atau dedak, nantinya bisa menjadi pakan untuk ternak. Namun, kehadiran pabrik beras pada saat itu tidak menghilangkan kebiasaan warga untuk menumbuk padi dengan lisung dan halu. Menumbuk padi memang sudah menjadi tradisi turun temurun.

Sawah Gekbrong-2

Pabrik Penggilingan Beras. Foto: Deuis Raniarti.

Zaman berubah, semakin ke sini, semakin sedikit orang yang menggunakan lisung dan halu untuk menumbuk padi. Selain membutuhkan waktu yang lebih lama, menumbuk padi dalam jumlah banyak juga bisa membuat penumbuk merasa pegal, kondisi yang berbeda jika dibandingkan dengan para sesepuh pada zaman dahulu yang dengan sabar dan kuat menahan pegal saat menumbuk hasil panen. Kini, lisung dan halu hanya akan digunakan untuk menumbuk padi dalam jumlah sedikit dan hanya akan ada seorang saja yang menumbuk padi, lisung dan halu yang digunakan pun ukurannya lebih kecil. Lirik yang disenandungkan para ibu ketika sedang bersama-sama menumbuk pun sudah tidak pernah saya dengar lagi.

Ketika saya masih kelas 5 SD (Sekitar tahun 2008) saya masih bisa menjumpai lisung dan halu milik nenek saya di belakang rumah. Nenek sudah lama meninggal, uwa saya pun sudah semakin tua, sementara ibu saya sudah bekerja, tak ada lagi anggota keluarga saya yang meneruskan tradisi menumbuk padi dengan halu dan lisung. Begitu pun tetangga yang lain, setelah satu persatu sesepuh meninggal dunia, tradisi ini pun perlahan seperti akan menghilang. Lisung dan halu yang dulu sempat jadi pemandangan biasa, kini sudah sangat jarang ditemui. Bahkan lisung dan halu milik nenek saya pun sudah tidak ada, katanya sudah dijadikan kayu bakar karena kondisinya yang sudah tidak layak pakai.

Saya pergi merantau sejak 2016 lalu, dan kini, empat tahun kemudian, saya sudah tidak lagi menemukan tradisi menumbuk padi. Kondisi persawahan di sekitar rumah pun sudah berangsur berubah setelah banyak pabrik didirikan, beberapa orang bahkan sudah mengubah sawahnya menjadi lahan untuk rumah dan kos-kosan. Pemandangan sawah, gunung dan perbukitan yang dulu bisa dengan mudah dilihat dari depan rumah kini hanya tinggal kenangan, karena sudah terhalang oleh atap-atap rumah yang tinggi.

***


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s