#ngaleutjkt : Sebuah Cerita di Sisi Timur Gambir

Oleh : Anggi Aldila (@anggicau)

Sekitar pukul 7.40 saya sudah duduk manis nunggu teman – teman dari @komunitasaleut yang bekerja di Jakarta. Satu demi satu teman yang memang sudah lama pengen ngerasain ngaleut di Jakarta sudah mulai berdatangan di meeting point, sebuah restoran cepat saji di kawasan Tugu Tani Jakarta. Teman yang paling jauh dateng dari Bogor (dalam hati “gokil juga nih demi #ngaleutjkt doi nyubuh dari Bogor pake kereta api”.). Sambil sarapan kami mulai berdiskusi untuk rute #ngaleutjkt kali ini. Maklum semuanya  baru pertama kali #ngaleutjkt soalnya kemarin itu yang datang bukan orang Jakarta asli semua , meski mungkin ada beberapa teman yang sudah pernah berwisata ke beberapa objek sejarah Jakarta . Berhubung saat itu Indra bawa  dua buku  “panduan” buat #ngaleutjkt (1. Gereja – Gereja tua di Jakarta, 2.Historical Places of Jakarta) pengarangnya seorang pastor Jerman yang sudah menjadi WNI yaitu A. Heuken.

                                        Tugu Tani           Tugu Tani (foto : courtessy triposo.com)

Berbekal buku tersebut dimulailah #ngaleutjkt ini. Karena lokasi berkumpul kami di Tugu Tani, maka diambilah rute di seputaran Tugu Tani tersebut. Kami mulai di lokasi pertama yaitu Gereja Anglikan (Gereja All Saints) yang letak nya di Jl. Arief Rachman Hakim, persis di depan tugu tan. Di gereja yang dibangun tahun 1819 ini (saya baru tahu kalo disini itu termasuk salah satu gereja tertua yang ada di Jakarta, meski setiap hari saya melewati gerbang gereja tersebut) terdapat beberapa prasasti makam prajurit Britania (Inggris raya) yang meninggal disaat Inggris menduduki Hindia Belanda. Salah satunya adalah prasasti William Campbell, seorang prajurit Inggris yang tewas pada saat itu. Juga terdapat prasasti seorang kapten yang umurnya masih 16 tahun tapi saya lupa namanya J. Meski terdapat banyak prasasti tapi jasad dari para prajurit yang meninggal itu tidak semua dibawa ke gereja ini,  jadi disini hanya terdapat prasastinya saja.

Setelah mendapatkan informasi yang cukup dari penjaga keamanan gereja dan berhubung itu masih di sekitar kawasan Tugu Tani, jadi sekalian saja kami bercerita tentang  Tugu Tani sendiri yang ternyata merupakan sumbangan dari Uni Soviet. Soviet yang kala itu masih berteman dengan pemerintahan Orde Lama mengirim dua orang pematungnya ke Indonesia. Untuk mendapatkan inspirasi berkelilinglah kedua pematung tersebut ke beberapa wilayah Indonesia, dan menurut cerita kedua pematung itu mendapatkan inspirasi ketika mereka berkunjung di Jawa Barat,  melihat seorang ibu yang akan mengantarkan anak nya ke peperangan.

Gereja Anglikan
Will Campbell

                  Gereja Anglikan (atas), Prasasti prajurit Inggris (bawah) (dok. komunitas aleut)

Menyusuri jalan Ridwan Rais kami menuju ke arah Pejambon, yaitu ke arah Gereja Immanuel, gereja yang di bangun di tahun 1834 ini adalah rancangan J.H. Horst yang katanya beliau itu bukanlah seorang arsitek hanya seorang pegawai biasa. Gereja yang oleh masyarakat sekamir sering disebut gereja bundar ini setelah selesai dibangun pada tahun 1839 dan diresmikan untuk menghormati raja Willem 1 (Raja Belanda periode 1813 – 1840). Namun sayang kami tidak bisa melihat gereja ini lebih dekat karena gereja sedang dalam tahap renovasi dan sedang ada orang yang disemayamkan disana, karena terlihat ada bendera kuning di gerbang halaman gereja. Lalu berhenti kami sejenak di terusan Kali Ciliwung. Di samping gereja, Indra mulai bercerita tentang Nyai Dasimah, yaitu cerita rakyat Jakarta. Cerita ini bisa dilihat dari dua sisi yang berbeda terutama dari pihak kolonial (Francis Gijsbert) dan pihak pribumi (SM Ardan).

                                                 Immanuel

Gereja Immanuel (dok.komunitas aleut)

Selanjutnya kami melangkah ke Gedung Pancasila (Kemenlu sekarang). Meskipun tidak bisa masuk ke dalamnya, kami tetap bercerita tentang sejarah gedung yang dibangun tahun 1830 ini. Gedung yang pada awalnya bernama Residence of Dutch Royal Army Commander  ini berubah menjadi Volksraad  (Dewan Rakyat) pada tahun 1918, kemudian berubah lagi menjadi tempat  Badan Penyidik Usaha – usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia yang lalu berubah lagi menjadi Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia. Pada saat akan merumuskan  naskah proklamasi rombongan Soekarno sedang menuju ke gedung ini, namun karena gedung ini masih dijaga oleh beberapa tentara Jepang, maka kemudian dipilihlah rumah Laksamana Maeda di Jalan Imam Bonjol menjadi tempat perumusan naskah proklamasi.

Katedral Jakarta, gereja yang sebenarnya bernama gereja “ Bunda Maria Diangkat ke Surga”. Menurut saya ini adalah bangunan yang sangat menakjubkan arsitekturnya.  Ciri khas bangunan gotik sangat kelihatan. Hanya sayang kami tidak bisa masuk ke dalam museumnya, yang sedang direnovasi. Setelah ngobrol dan istirahat sejenak di Katedral, kami lanjut perjalanan kearah Departemen Keuangan yang dulunya merupakan istana Gubernur Jendral Daendels.  Pada saat itu gedung yang dikenal juga dengan nama Gedung Putih (Het Witte Huis) ini dirancang oleh JC Schultze. Namun sayang Daendels sendiri tidak pernah menempati Istananya, sedangkan di samping istana tersebut berdiri sebuah bangunan organisasi Freemason yaitu Loji Bintang Timur yang oleh penduduk sekamir biasa disebut “Gedung setan”. Untuk Lapangan Banteng sendiri dulunya bernama Waterlooplein, yang dilapangan tersebut terdapat patung Napoleon, lalu ketika pemerintahan Orde Lama patung itu diganti lagi dengan Patung Pembebasan Irian Barat yang sketsanya dibikin oleh Henk Ngantung .

Depkeu Loji

Istana Daendels (atas) , Bawah : Loji Bintang Timur (dok. komunitas aleut)

Puas menikmati kawasan Lapangan Banteng, perjalanan kami dilanjut ke RSPAD Gatot Subroto. Bangunan yang dulunya sempat ditempati istana milik Gubernur Jenderal Van Der Parra ini sekarang hanya sedikit sekali terlihat sisa – sisa bangunan aslinya. Hanya beberapa bagian yang terlihat masih bernuansa bangunan kolonial. Tidak banyak cerita yang bisa di dapatkan di RSPAD ini. Maka setelah sholat Dzuhur kami lanjut perjalanan ke Museum Kebangkamin Nasional, yang mana pada masa pergerakan gedung ini dikenal dengan nama STOVIA, yang kemudian melahirkan organisasi Boedi Oetomo. Disini banyak sekali foto – foto para pendiri Boedi Oetomo, beberapa teks di era pergerakan, dan alat – alat kedokteran pada jaman itu. Namun sayang karena hari libur semua ruangan museum tertutup rapat. Tapi kami masih bisa menikmati bangunan – bangunan itu dari dalam, menikmati ruang – ruang asrama para mahasiswa STOVIA, juga melihat ruang konserpasi.

Itulah rangkaian #ngaleutjkt kemarin. Memang masih banyak objek sejarah yang belum sempat kami datangi. Mungkin di lain waktu kalau ada libur weekdays lagi #ngaleutjkt akan ada lagi. Hasil dari #ngaleutjkt kemarin, yang jelas menambah teman dan yang pasti after ngaleut saya ngaringkuk di kosan karena sudah lama banget saya tidak berjalan kaki rada jauh…gracias..hatur nuhun.

Kamis, 07 November 2013

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s